Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Memiliki Anak Lagi


__ADS_3

Sementara itu, di tempat yang berbeda Bisma dan Kanaya tampak mengunjungi kediaman Bunda Hesti dan Ayah Tirta. Di akhir pekan, untuk mengisi kekosongan, keduanya sering kali mengunjungi kediaman orang tua mereka, dan terkadang mereka mengitari jalanan di ibukota hanya untuk menemukan Aksara.


Sepasangan suami istri itu datang mengunjungi kediaman Bunda Hesti dan Ayah Tirta dengan membawa buah tangan berupa sebuah kue yang sudah dibuat sendiri oleh Kanaya.


"Selamat sore Ayah dan Bunda," sapa keduanya saat memasuki kediaman Bunda Hesti.


Pasangan paruh baya itu tersenyum dan menyambut kedatangan Bisma dan Kanaya. Bunda Hesti berdiri dan memeluk anak dan menantunya itu satu per satu.


"Akhirnya kalian ke mari," ucap Bunda Hesti.


"Iya Bunda, mumpung akhir pekan," balas Kanaya.


Sebab sekarang kesibukan Kanaya di Jaya Corps kian bertambah, selain itu Kanaya kembali mengisi waktu luangnya dengan menulis novel online, sehingga Kanaya banyak menghabiskan waktu untuk semua itu.


"Tidak apa-apa, Naya … yang penting kamu dan Bisma sehat," sahut Bunda Hesti.


Ya, sebagai orang tua tidak ada yang diharapkan selain mendapati anak dan menantunya sehat. Sebab, tidak ada yang jauh lebih penting selain kesehatan Kanaya dan Bisma.


"Ayah dan Bunda bagaimana kabarnya?" tanya Bisma kemudian.


"Baik, kami baik," balas Ayah Tirta.


"Alhamdulillah, Bisma dan Kanaya juga lega kalau Ayah dan Bunda sehat," sahut Bisma.


"Sekarang kalian sibuk apa?" tanya Ayah Bisma.


"Seperti biasa Ayah, Bisma sibuk di Rumah Sakit dan di Klinik. Sementara Kanaya dengan pekerjaannya," balas Bisma.

__ADS_1


Bunda Hesti tampak meninggalkan mereka sejenak. Wanita paruh baya itu lantas menuju dapur membuatkan minuman dan membawa toples berisi kue kering untuk Kanaya dan Bisma.


"Bunda, tidak perlu repot-repot. Biar Naya saja," ucap Kanaya yang seketika berdiri dan membawakan nampan berisi minuman dan camilan itu.


Bunda Hesti pun tersenyum, "Tidak apa-apa, Naya. Cuma nampan dan tidak berat. Kamu duduk aja sama Ayah dan suamimu," balas Bunda Hesti.


"Sini, biar Naya saja Bunda … justru Bunda yang harus banyak istirahat," jawab Kanaya.


Lantas mereka berempat duduk dan bercengkrama di ruang keluarga itu. Jujur saja perasaan Ayah Tirta dan Bunda Hesti begitu sedih. Akan tetapi, melihat Bisma dan Kanaya yang sama-sama kuat justru membuat Ayah Tirta dan Bunda Hesti belajar dari keduanya untuk juga kuat dalam menghadapi cobaan yang belum berakhir ini.


"Masih belum ada kabar dari Aksara yah?" tanya Ayah Tirta dengan tiba-tiba.


"Belum, Ayah," sahut Bisma.


"Kenapa begitu lama dan tidak ada jejak dari Aksara yah, bagaimana kalau kita sewa detektif saja Bisma?" tawar Ayah Tirta kemudian.


"Iya Ayah … lagipula orang-orang yang disebar Papa Jaya masih bekerja sampai sekarang ini. Bisma sih hanya percaya dan berharap, di dunia yang begitu luas ini semoga saja ada orang yang berbelas kasihan kepada Aksara," balasnya.


"Kalian yang sabar dan berusaha ya. Percayalah bahwa pintu akan dibukakan bagi mereka yang mau berusaha," imbuh Bunda Hesti.


Mendengar perkataan Bunda Hesti, Kanaya pun mengangguk, "Benar Bunda. Kami sedang menunggu sekarang. Kami percaya akan bertemu dengan Aksara satu hari nanti," balas Kanaya.


Pijar harapan di dalam hatinya belum padam. Ya, Kanaya dan Bisma sama-sama percaya bahwa mereka akan kembali bertemu dengan Aksara satu hari nanti. Mereka sedang menunggu. Sekalipun seakan tidak pasti. Akan tetapi, keduanya mau sama-sama bersabar dan menunggu.


"Sudah dia tahun berlalu, Naya," balas Bunda Hesti.


Kanaya dan Bisma pun tahu bahwa waktu telah berlalu. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Dua tahun terbilang lama. Selama dua tahun juga sama sekali tidak ada kabar dari Aksara.

__ADS_1


Berbicara mengenai Aksara, kedua mata Bunda Hesti pun berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu menggenggam tangan Kanaya.


"Naya, apa kamu tidak berkeinginan memiliki momongan lagi? Mungkin dia bisa menyembuhkan luka di hati kalian berdua," ucap Bunda Hesti.


Mendengar apa yang diucapkan Bunda Hesti, air mata Kanaya berlinang begitu saja. Jujur saja, jika memiliki anak dan berakhir dengan kehilangan seperti ini membuat hatinya begitu pilu. Hingga air matanya berkaca-kaca, berlinang begitu saja. Seakan ada trauma yang menghinggapi hatinya begitu membicarakan tentang buah hati.


Kanaya sadar bahwa maksud Bunda Hesti tidaklah salah. Hanya saja, dirinya yang belum siap untuk semuanya. Kanaya masih dalam tahap menunggu.


"Maaf Bunda … hanya saja, Kanaya belum siap untuk memiliki momongan lagi," balas Kanaya.


Luka dan teriris perih di hatinya menyayat pilu dan getir. Seakan Kanaya tak ingin lagi memiliki momongan. Lebih baik, dia menunggu hingga mendapatkan kepastian keberadaan Aksara.


"Tidak apa-apa, Naya … Bunda juga hanya sebatas menyampaikan apa yang ada di dalam hati Bunda. Bunda tahu kepedihan di hatimu. Jangan jadikan semua ini sebagai beban ya Naya. Hanya saja Bunda begitu kasihan melihat kalian berdua,” sahut Bunda Hesti.


“Iya Bunda … tidak apa-apa. Bisma tahu pasti Bunda mengatakan semuanya itu juga karena Bunda menyayangi kami berdua. Bunda berpikir bahwa kehadiran seorang anak bisa menyembuhkan luka. Hanya saja, kami masih ingin menunggu Aksara. Tidak masalah jika kami berdua harus menunggu untuk waktu yang lama,” balas Bisma.


Bisma hanya ingin menengahi sebenarnya antara Bundanya dan istrinya. Bisma tahu bagaimana perasaan Bunda Hesti dan juga bagaimana perasaan istrinya. Hanya saja, Bisma mencoba berdiri sebagai seorang anak bagi Bunda Hesti dan sebagai suami bagi Kanaya.


Ayah Tirta yang turut mendengarkan pun mengangguk, “Iya … semuanya kembali ke kalian berdua. Hanya saja, jika memang kalian berdua yakin bahwa suatu saat nanti Aksara akan ketemu, berdoa dan berusaha. Semoga Allah menjabah doa kalian berdua, mempertemukan kalian dan kita semua dengan Aksara,” sambung Ayah Tirta.


“Amin Ayah … sudah pasti dalam setiap sujud dan syukur kami, kami berdua selalu berdoa kepada Allah untuk Aksara dan berharap bahwa Aksara akan baik-baik saja di mana pun dia berada,” sahut Bisma.


“Ya sudah … sana kalian berdua istirahat dulu. Naya, maafkan Bunda yah … sekali lagi bukan maksud Bunda untuk mendesakmu,” ucap Bunda Hesti lagi.


“Iya Bunda … tidak apa-apa. Justru Kanaya bersyukur karena Bunda pasti memperhatikan kami berdua. Terima kasih banyak Bunda,” sahutnya.


Usai itu, Bisma membawa istrinya ke kamarnya yang berada di kediaman orang tuanya. Yang diucapkan Bunda Hesti benar, lebih baik Kanaya bisa beristirahat dan menenangkan hati dan pikirannya terlebih dahulu. Bisma sangat tahu bahwa semua orang masih membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikirannya, menata hatinya. Jika bagi orang lain, waktu dua tahun terlalu lama, sementara bagi Kanaya dan Bisma waktu selama itu saja, mereka tidak pernah memadamkan pijar harapan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2