
Sore ini menjadi sebuah acara berkumpul keluarga Jaya Wardhana. Kanaya, Bisma, dan Aksara pun turut hadir atas undangan Papa Jaya sebelumnya. Sekali pun enggan, tetapi Kanaya tetap menghadiri acara itu.
"Berangkat sekarang, Mas?" tanyanya kepada sang suami yang tengah mengenakan jam tangan di tangannya.
Bisma kemudian mengangguk, "Iya, sekarang aja Sayang ... biar nanti kita pulangnya gak kemalaman," sahut Bisma.
Kemudian Kanaya mulai merapikan pakaian Aksara dan memakaikan sepatu kepada putranya itu. "Kita ke rumah Opa dan Oma ya, Mas Aksara," ucap Kanaya yang tengah memberitahu Aksara itu.
"Opa dan Oma, Nda?" tanya Aksara dengan cepat.
"Iya Sayang ... ke rumahnya Opa Jaya sebentar yah," balas Kanaya.
"Oke, Nda," jawab Aksara sembari menganggukkan kepalanya.
Setelahnya ketiga mulai keluar dari rumah dan segera menuju ke kediaman Wardhana. Mobil yang mereka tumpangi mulai berjalan dan menebus macetnya Ibukota sore itu. Hingga kurang lebih setengah jam, mereka telah tiba di kediaman Wardhana.
"Selamat sore Opa dan Oma," sapa Kanaya yang mewakili Aksara tentunya.
Papa Jaya, Mama Sasmita, dan anggota keluarga yang berkumpul dalam posisi lengkap itu tampak menoleh dan melihat kehadiran keluarga Kanaya.
"Eh, halo.... cucunya Opa dan Oma sudah besar ya. Coba nih, namanya siapa ini Mas Cakep," sahut Mama Sasmita.
"Aksala," ucap Aksara dengan cepat.
"Oh, namanya Aksara ya. Cakepnya cucu Oma," balas Oma Sasmita sembari mengecup pipi Aksara.
Setelahnya mata Kanaya beradu pandang dengan sosok Sandra. Pertemuan Kanaya dengan Sandra terakhir kali saat Kanaya datang menjenguk lahirnya Ravendra. Sudah beberapa bulan berlalu, Kanaya seolah tidak mengenali Sandra. Sebab, wanita itu kini bertubuh gemuk, sehingga beberapa saat Kanaya sempat tertegun. Kemudian ada sosok Darren juga yang hanya diam dan mengamati interaksi keluarga Kanaya.
Dalam hatinya pria itu mendengkus kesal, wanita yang dulu dia benci habis-habisan, lalu dia mulai menaruh perasaan pada wanita itu, tetapi tak pernah bisa memiliki Kanaya. Dan sekarang lihatlah, bagaimana Kanaya yang makin cantik setiap harinya membuat Darren benar-benar merutuki dirinya sendiri.
Merasa bahwa suaminya terpaku menatap Kanaya, Sandra kemudian menepuk bahu suaminya itu, "Ada apa?" tanya Sandra dengan lirih.
Dengan cepat Darren menggelengkan kepalanya, "Ah, tidak ada," jawabnya. Tentu saja itu hanya sebuah kebohongan semata. Sebab dalam hatinya, Darren merutuki dirinya sendiri, dia seakan terpana dengan sosok Kanaya yang kian cantik.
Bisma lantas mengambilkan minum untuk istrinya itu, "Minum dulu Sayang," ucapnya dengan lembut.
__ADS_1
Kanaya pun tersenyum, “Makasih Mas,” jawabnya.
Setelahnya giliran Gibran dan Giselle yang mendekati Kanaya dan Bisma, hubungan mereka berempat memang akrab, sehingga keduanya bisa langsung mengobrol dengan lancar.
“Wah, ketemu lagi nih. Aku seneng banget tiap bisa ketemu Kak Naya dan Mas Bisma,” sapa Giselle dengan raut wajah yang begitu bahagia.
Padahal mereka berempat sebelumnya telah bertemu di Bandung beberapa bulan yang lalu, dan sekarang bertemu kembali rasanya menyenangkan.
“Dari Bandung?” tanya Bisma kepada Giselle dan Gibran.
“Iya Mas, baru sampai sore tadi,” sahut Gibran.
Kemudian tampak Giselle yang mulai menggodai Aksara, terlebih dengan bicara Aksara yang belum jelas justru membuat Giselle kian gemas kepada Aksara. Rasanya Giselle juga ingin memiliki putra seperti Aksara yang lucu dan menggemaskan.
“Mas Aksara bobok sini ya, mau tidak bobok sama Onty di sini?” tanya Giselle kepada Aksara.
Akan tetapi, Aksara dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Ndak … Aksala bobok ma Nda,” sahutnya dengan cepat.
“Iya Nak, nanti bobok sama Ayah dan Bunda yah,” sahut Kanaya.
Suasana yang semula riuh itu tiba-tiba hening, saat Papa Jaya hendak berbicara.
Kemudian Papa Jaya mulai mengamati keluarganya satu per satu, kemudian senyuman terulas di wajahnya.
“Kita berkumpul kali ini sebagai bentuk syukur karena bebasnya Darren. Lagipula, sudah lama juga kita tidak berkumpul. Papa dengan Kanaya pun yang sama-sama bekerja di satu gedung pun juga belum tentu dalam satu minggu bisa bertemu, itu semua karena banyaknya projek yang sedang dikerjakan Jaya Corp saat ini. Nah, Papa hanya ingin sedikit memberi nasihat kepada kalian, anak-anak Papa. Darren, Giselle, dan juga Kanaya, Papa harap kalian bisa rukun, mempedulikan sebagai saudara karena kalian bertiga adalah anak-anak Papa dan Mama. Terkait dengan masa lalu Darren, mari kita lupakan semoga itu bisa menjadi pelajaran berharga bagi Darren. Papa juga berharap, di masa yang akan datang tidak ada perbuatan gelap seperti ini ya Darr?”
Merasa ditodong dengan pertanyaan oleh Papanya, Darren kemudian mengangguk, “Iya, Pa,” jawabnya lirih.
“Nah, selain itu, Papa dan Mama juga bahagia karena keluarga kita ada anggota baru yaitu Ravendra. Semoga cucu-cucu Papa dan Mama, baik Ravendra dan Aksara akan tumbuh sehat, dan kuat. Untuk Gibran dan Giselle supaya bisa segera mendapatkan keturunan, seperti Kakak-kakaknya,” ucap Papa Jaya lagi.
“Amin,” sahut Gading dan Giselle bersamaan.
Keduanya memang sangat ingin mendapatkan keturunan, tetapi apa daya jika sampai sekarang nyatanya Tuhan belum menganugerahkan keturunan kepadanya. Selain itu, juga Giselle yang ternyata mengidap PCOS dan harus berobat rutin, jalan keduanya untuk mendapatkan keturunan masih panjang. Kendati demikian, doa yang baik dari Papa Jaya tetap mereka aminkan, kata-kata adalah doa, karena itu Giselle dan Gibran juga berharap doa dari papanya akan segera Tuhan kabulkan.
Usai nasihat dari Papa Jaya, acara pun dilanjutkan dengan mengobrol bersama. Akan tetapi, nyatanya keluarga Bisma dan keluarga Darren masih terlihat terpisah. Seolah-olah ada tembok pembatas yang membatasi keduanya. Akan tetapi, saat itu Sandra tiba-tiba saja duduk di sebelah Kanaya.
__ADS_1
“Gimana kabarmu, Nay?” tanya Sandra.
Merasa namanya dipanggil, Kanaya kemudian mengangguk, “Oh, hai … aku baik,” jawabnya.
Rasanya memang canggung, tetapi karena Sandra yang menyapanya sehingga Kanaya pun membalasnya dengan baik juga.
Sandra seketika tersenyum getir, “Dulu aku yang mengejekmu, sekarang justru badanku sebesar badanmu dulu ya, Nay,” ucapnya dengan mendengus kesal.
Akan tetapi, Kanaya hanya tersenyum, “Mungkin karena masih menyusui jadi belum berkurang. Akan tetapi, tidak apa-apa, kan Vendra masih minum ASI kan? meng-ASI-hi baby bisa membakar lemak dalam tubuh juga kok,” jawabnya.
Apa yang Kanaya ucapkan benar karena memberikan ASI kepada bayi bisa membakar lemak dalam tubuh. Beberapa wanita bahkan membuktikan bahwa mereka bisa mengalami penurunan berat badan usai menyusui bayi mereka.
“Mungkin ini karmaku sih, Nay … dulu aku yang mengejekmu karena fisikmu. Sekarang aku sendiri yang mengalami. Bagaimanapun, sorry untuk perbuatanku di masa lalu yah,” ucap Sandra.
Kanaya pun mengangguk, “Iya … tidak masalah. Semua hanya masa lalu,” sahut Kanaya.
Kanaya memang sudah melupakan masa lalu, baginya masa lalu adalah torehan di belakangnya. Boleh untuk dikenang, tetapi tidak untuk diungkit-ungkit lagi. Biarkan menjadi masa lalu. Lagipula, sebelumnya suaminya juga telah mengatakan kepadanya untuk melupakan dendamnya, Bisma meminta Kanaya untuk hidup bahagia tanpa menyimpan akar pahit di dalam hatinya. Maka dari itu, Kanaya terus berusaha untuk melupakan apa yang sudah terjadi di belakangnya dan menyongsong masa depan bersama dengan suami dan anaknya.
...🍃🍃🍃...
Dear My Bestie,
Mampir juga yuk ke karya temannya Author. Silakan kepoin karya berikut ya:
Sekadar Istri Siri karya Aisy Arbia
Duda vs Anak Perawan karya Santi Suki
__ADS_1