
Usai pergulatan keduanya di atas sofa yang berada di kamar mereka, mereka memutuskan untuk mandi berdua. Saling menuangkan sabun dan kian mempererat hubungan keduanya. Sebatas menggosok punggung, sebenarnya bukan sekadar tindakan untuk memulai sebuah pergulatan. Akan tetapi menyalurkan bentuk perhatian pada pasangan, memberi tangan kita untuk menjangkau dan membersihkan area badan pasangan yang tak terjangkau dengan tangan mereka sendiri.
Kurang lebih berada di dalam kamar mandi, kini keduanya keluar dalam keadaan badan yang sudah bersih dan juga waktu. Semua peluh sudah mereka basuh dengan air hangat dan wanginya sabun yang kini terasa begitu menyegarkan.
“Mau ngopi Mas?” tanya Kanaya kepada suaminya itu.
Bisma tersenyum, tetapi pria itu justru menyuruh istrinya untuk duduk.
“Kamu di sini saja, aku buatkan minuman segar buat kamu,” ucapnya sembari berlalu meninggalkan kamar mereka.
Tidak sampai sepuluh menit, Bisma kembali dengan minuman cokelat dingin yang dia buat sendiri dengan tangannya.
“Cokelat, biar makin bahagia,” ucapnya sembari menyodorkan segelas cokelat itu kepada Kanaya.
Kanaya pun menggelengkan kepalanya dan tertawa, “Enggak perlu cokelat, aku hidup bersamamu saja sudah bahagia.”
Memang bagi Kanaya saat ini, kebahagiaannya adalah hidup bersama dengan suaminya. Terlebih mereka kini juga memiliki Aksara yang seolah kian menambahkan berbagai warna dalam hidupnya yang semula berwarna kelabu.
Bisma kemudian tertawa, “Serius? Kalau bahagia, nanti lagi yah,” ucapnya dengan mengedipkan matanya kepada istrinya itu.
Kanaya pun menggeleng, “Berarti buatin cokelat ini enggak tulus dong? Ada maunya,” sahutnya kesal.
“Tulus dong, tulus banget malahan. Ahh, lega … setelah berpuasa lebih dari satu bulan. Akhirnya bisa berbuka dengan yang manis.” Bisma berbicara dengan tertawa. Wajah pria itu itu seolah penuh dengan kebahagiaan.
Baru satu kali menuju peraduan cinta, dan kini pria itu lebih banyak tersenyum. Seolah, dia benar-benar usai mendapatkan mood booster yang ampuh.
“Seenak itu ya Mas?” tanya Kanaya kepada suaminya itu.
Kepala Bisma pun mengangguk, “Iya … banget malahan. Pengen nambah lagi. Nanti yah,” pintanya lagi kepada istrinya.
__ADS_1
“Kamu kalau sudah dapat yang enak langsung deh good mood. Kalau enggak dapat, pasti bad mood.” Kanaya berbicara sembari meminum cokelat dingin yang rasanya bahkan sampai dengan yang dijual di salah satu Coffe Shop terkenal Ibukota.
Bisma kemudian terkekeh, “Yah, kalau dapat yang enak-enak kan ya otomatis good mood dong, Sayang. Emang kamu enggak merasa enak?” tanya Bisma menyelidik kepada istrinya.
Jangan sampai hanya dialah yang merasakan semua rasa enak berbalut dengan kesan hangat dan basah yang seolah membuatnya candu dan ingin merasakan lagi, lagi, dan lagi itu.
Dalam keadaan tengah meminum es cokelat, Kanaya pun nyaris tersedak.
“Uhuk!” wanita itu pun terbatuk, dan Bisma segera menepuki punggung istrinya itu.
“Tuh, ditanyain aja batuk-batuk loh,” godanya dengan terus menepuki punggung istrinya.
“Abis … kamu tanyanya aneh-aneh sih.” Kanaya menjawab dengan menaruh gelas berisi cokelat itu di atas nakas.
“Lah, ya bukan aneh dong. Kan aku tanya. Jangan sampai aku yang keenakan, tetapi kamu enggak merasakan apa yang aku rasakan. Harusnya kita berdua sama-sama merasakan betapa enak dan nikmat hubungan kita berdua.” Bisma kali ini berbicara dengan serius.
“Menurutmu, aku gimana Mas?” tanya Kanaya kali ini kepada suaminya.
Bisma perlahan menatap wajah istrinya itu, “Kamu juga menikmatinya,” jawabnya dengan menyentuh sisi wajah Kanaya.
Mendapat jawaban dan juga ditatap dengan sebegitu dalamnya oleh suaminya membuat Kanaya tak bergeming, yang dia lakukan saat ini adalah tersenyum begitu saja. Jawaban suaminya memang tepat, sejak kali pertama merasakan puncak asmara bersama suaminya, dirinya merasa kepuasan, sekalipun badannya remuk redam, tetapi ada mata air yang terpancar dan terus membuatnya untuk meneguk mata air itu.
Tak mampu merespons ucapan suaminya, Kanaya justru menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
“Makasih buat semuanya Mas,” ucapnya kali ini.
“Buat?” tanya Bisma singkat.
“Buat semuanya, semua yang kulalui denganmu indah banget. Seolah ada percikan kembang api yang hanya terlihat oleh kedua mataku setiap kali kita berdua melakukannya.” Kanaya akhirnya mengungkapkan bahwa dirinya juga merasakan hal yang sama dengan suaminya itu.
__ADS_1
Bisma tersenyum, dia merasa lega saat istrinya pun merasakan bahwa turut merasakan euforia yang begitu hebat dan meriah. Euforia yang tentunya hanya mereka berdua saja yang merasakannya.
“Aku lega … jadi kalau moodku bagus, kamu pun harus mendapatkan itu juga. Makasih, sudah bikin aku good mood,” ucap Bisma dengan mendaratkan kecupannya di kening sang istri.
“Kenapa bisa good mood?” tanya Kanaya lagi.
“Karena aku bisa melepaskan semua stress, dan kemudian bahagia. Percaya enggak, hubungan suami istri yang berupa kontak fisik yang intens bisa membuat bahagia?” tanya Bisma perlahan kepada istrinya.
Perlahan Kanaya mengangkat kepalanya dari bahu suaminya, kini dia bisa menatap suaminya dengan kedua matanya.
“Bisa sih, aku pernah baca juga begitu,” jawabnya.
Bisma kemudian mengangguk, “Bener banget. Kontak fisik, tindakan afeksi (kasih sayang) seperti pelukan, ciuman, belaian bisa membuat menurunkan stress, menurunkan tekanan darah, dan membuat bahagia,” jelasnya kepada Kanaya.
“O … makanya karena menurunkan stress, jadi good mood ya Mas?” tanya Kanaya lagi.
“Bener banget. Itu kamu bisa menghubungkannya. Mood boosterku itu kamu, Sayang.” Bisma berbicara dengan menatap lekat wajah istrinya itu.
Kanaya tersenyum, sesungguhnya sangat malu mendengarkan ucapan demi ucapan yang dikeluarkan oleh mulut suaminya itu. Akan tetapi, sekaligus ada perasaan lega yang mengiringi saat suaminya merasa bahagia bersama.
“Gombal,” jawabnya dengan mengerucutkan bibirnya.
Sementara Bisma dengan cepat mengecup bibir istrinya yang tengah mengerucut itu, seolah menghisapnya dengan dalam.
Cup!
“No gombal-gombal club,” jawabnya sembari mengusap bibir bawah istrinya. “Rasa cokelat,” tambahnya lagi dan kini meraba bibirnya sendiri.
“Makanya kalau mau bikin aku selalu good mood, rutin ya Sayang.” Bisma kembali berkata dan menggerakkan satu alisnya.
__ADS_1