Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Buka Puasa Bersama


__ADS_3

Tak jarang, bulan puasa menjadi momen untuk bisa menggelar acara buka puasa bersama. Bukan hanya di kalangan para staf dan pekerjaan di sebuah perusahaan, tetapi para Dokter pun juga menggelar buka puasa di bulan Ramadhan. Beberapa hari, sebelum hari H, Bisma memberitahu istrinya terlebih dahulu bahwa dia akan mengajak Kanaya untuk berbuka puasa bersama.


“Sayang, nanti hari jumat sore temani aku ya. Ada acara berbuka puasa bersama dengan rekan-rekan Dokter dan Perawat dari Rumah Sakit.” ucapnya yang memberitahu istrinya itu.


“Emang pasangan boleh ikut Mas?” tanya Kanaya kepada suaminya itu.


Bisma mengangguk, “Iya, boleh kok. Bahkan yang sudah punya anak pun juga boleh diajak anaknya. Jadi, mau kan mendampingi suamimu ini?” tanya Bisma lagi. Sebab dirinya membutuhkan jawaban dari istrinya itu.


Kanaya masih terlihat diam, tetapi Kanaya terlihat berpikir sebenarnya. “Aku malu sebenarnya, Mas …” akunya kali ini.


“Malu kenapa? Hmm.” tanya Bisma lagi, apa yang membuat istrinya itu malu.


“Pertama, aku enggak kenal dengan rekan-rekan Dokter kamu. Terus juga, aku baru hamil dan sekarang aku baru gendut-gendutnya. Kayak badut.” ungkap memperhatikan tubuhnya yang memang sudah melebar ke samping.


Bisma lantas beringsut dan menggenggam tangan istrinya itu, “Tidak masalah … kamu cantik.” ucapnya dengan serius. Beberapa kali sebenarnya Bisma merasa heran karena semakin bertambahnya usia kehamilan istrinya itu, seolah-olah rasa insecure yang dulu dihadapi Kanaya kini seolah kembali lagi. Kendati demikian, Bisma tetap sabar menghadapi Kanaya.


“Serius?” tanya Kanaya yang seolah tak percaya.


“Serius, apa aku pernah bohong sih sama kamu. Kita datang sebentar saja, nanti langsung balik kalau kamu tidak nyaman atau kecapean. Biar teman-temanku juga kenal sama kamu.” ucap Bisma lagi.


Perlahan Kanaya pun mengangguk, “Oke … aku temani.” usai itu Kanaya terlihat mengambil handphone dari atas nakas dan melihat sebuah aplikasi belanja di sana. Sejenak menghiraukan suaminya itu.


Wanita hamil itu terlihat asyik berselancar di aplikasi belanja itu. Melihat-lihat barang yang mungkin saja bisa dia kenakan saat buka puasa bersama nanti. Merasa, istrinya abai. Bisma pun mengintip apa yang sedang dilihat istrinya di layar gadgetnya.


“Tumben kamu lihat-lihat aplikasi belanja?” tanyanya kepada Kanaya.


Kanaya mengangguk, “Iya … aku mau beli dress dengan warna gelap aja deh Mas. Yang bisa kupakai waktu buka puasa bersama nanti. Warna navy keliatannya bagus ya Mas, membuatku enggak terlalu terlihat gendut.” ucapnya.


Bisma tersenyum mendengar jawaban dari istrinya itu, “Beli saja Sayang … mau warna apa saja tidak masalah kok. Toh kamu kan juga baru hamil, kalau terlihat sedikit lebih gemuk kan tidak apa-apa.” jawabnya sembari turut melihat dress apa saja yang dilihat oleh istrinya itu.

__ADS_1


“Mas, warna navy dan kuning kunyit ini bagusan mana sih?” tanya Kanaya kepada suaminya dengan menggeser layar di gadgetnya.


Bisma tampak mengamati sejenak, “Beli aja dua-duanya Sayang …” ucapnya dengan begitu gampang.


Setelah itu, Bisma pun mengambil handphonenya, dan mulai menansfer sejumlah uang di akun aplikasi belanja milik istrinya itu.


Kanaya pun membelalak melihat notifikasi transferan dari suaminya itu. Wanita lantas menunjukkan layar handphonenya kepada suaminya. “Banyak banget Mas? Enggak salah nih?” tanyanya seolah tak percaya dengan jumlah nominal yang ditransferkan suaminya itu.


“Enggak … kurang yah? Aku tambahin lagi, sebentar.” sahut Bisma.


Dengan cepat Kanaya menggelengkan kepalanya, “Eh, enggak … kebanyakan malahan Mas. Cuma beli dress floral ini aja dikasih sebanyak ini.”


“Aku Dokter, Sayang … sudah pakai saja, kalau kurang minta lagi.” pesannya kepada sang istri.


Lantaran bimbang, akhirnya pun Kanaya benar-benar membeli dress dengan motif floral dengan warna navy dan kuning kunyit yang dia tunjukkan kepada suaminya tadi.


“Iya, beli saja. Mau lagi? Aku transferin lagi ya.” sahut Bisma dengan cepat.


“Enggak, ini aja masih sisa banyak kok.” Kanaya menyahut dengan cepat, dan meminta suaminya itu tidak menansfer lagi.


***


Hari Jumat …


Saat waktu berbuka puasa tiba, Kanaya menyiapkan dirinya dengan dress bermotif floral yang dia beli di salah satu aplikasi belanja online. Kini, ibu hamil itu tengah merias dirinya di depan cermin. Seperti biasa, hanya riasan dengan kesan flawless dan sentuhan lipstik Kiss proof berwarna pink yang dibelikan suaminya saat di Dubai dulu.


Sementara Bisma menunggu istrinya itu berias, dengan duduk di ranjang dan sesekali memperhatikan bagaimana tangan-tangan istrinya yang terlihat terlatih memoleskan serangkaian produk make up di wajahnya. Pria itu diam-diam tersenyum saat Kanaya memoleskan lipstik yang dia belikan saat transit di Dubai dulu.


Perlahan Bisma berdiri, dan kini pria itu berdiri di belakang istrinya dan memegangi kedua bahu istrinya itu.

__ADS_1


“Cantik banget sih … istrinya siapa ini?” tanya Bisma yang berniat menggoda Kanaya.


“Istrinya Mas Dokter dong.” jawab Kanaya dengan tersenyum.


“Kamu pakai lipstik yang kiss proof ya Sayang? Jadi, pengen uji coba deh, tetapi takut kalau puasanya batal. Nanti aja deh, usai berbuka puasa.” ucapnya dengan beberapa kali menepuk bahu istrinya.


Kanaya pun mengerucutkan bibirnya, “Tuh … Ayah mulai nakal deh. Berangkat sekarang aja yuk, Mas … takut telat nanti. Kurang apa Mas?” tanyanya kepada sang suami, bertanya apakah penampilan saat ini sudah pas dan tidak berlebihan.


“Sudah … sudah cantik. Cantik banget malahan.” ucap Bisma dengan tersenyum. Bukan sekadar bualan, tetapi di matanya Kanaya memang wanita tercantik baginya.


Setelah keduanya benar-benar siap, lantas Kanaya dan Bisma bersama-sama menuju salah satu restoran milik salah satu chef terkenal yang sudah dipesan sebelumnya untuk melakukan buka puasa. Kali ini ketika mereka tiba di restoran itu, beberapa rekan sesama Dokter dan perawat sudah terlebih dahulu tiba.


Bisma pun mengenalkan istrinya itu kepada beberapa rekannya di sana.


“Kenalkan ya, istriku … namanya Kanaya.” pria itu mengenalkan Kanaya kepada beberapa temannya.


Akan tetapi, beberapa Dokter dan Koas yang masih baru masuk di Rumah Sakit terheran-heran. Sebab mereka pikir, Bisma masih lajang.


“Serius istrinya ya Dok? Aku kiranya Dokter Bisma masih lajang.” ucap para Koas yang kebanyakan gadis-gadis muda itu.


“Iya, aku sudah menikah.” ucap Bisma dengan tenang.


Setelahnya pria itu menuntun istrinya untuk duduk, “Mau makan apa, biar aku ambilkan?” tanya Bisma perlahan.


Kanaya menggeleng, “Nanti saja, Mas … belum waktunya berbuka kok.” jawabnya. Kanaya memang tidak ingin makan terlebih dahulu, dia lebih senang makan bersama dengan suaminya itu.


Sementara itu, menunggu waktu berbuka Bisma pun beramah tamah dengan sesama Dokter, Koas, dan beberapa perawat yang juga hadir. Tidak lupa dia memperkenalkan Kanaya sebagai istrinya. Kanaya pun turut terlibat obrolan sebisanya, karena dirinya memang awan dengan dunia medis dan kedokteran.


Sekalipun tidak tahu dengan apa yang dibicarakan, setidaknya Kanaya turut mendengarkan dan sesekali tersenyum. Hingga akhirnya ada seorang Dokter yang begitu cantik, tubuhnya yang seksi layaknya gitar Spanyol, seolah mencuri perhatian dari seluruh orang yang ada di restoran itu. Sayangnya, si Dokter itu sejak datang justru terlihat seolah-olah menatap Bisma dari jauh. Kanaya begitu peka, dia tahu dari jarak sekian meter ada sepasang mata yang menatap pada suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2