
“Naya, aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Bisma yang kini duduk bersama Kanaya di ruang tamu Kanaya yang masih berhiaskan berbagai ornamen lampu dan bunga-bunga itu.
Perlahan Kanaya menganggukkan kepalanya, “tentu saja boleh. Ada apa?” tanyanya kepada Bisma.
“Ayah dan Bunda kamu kan sudah tiada Nay, untuk pernikahan nanti siapa yang akan menjadi wali nikahmu Nay? Aku harus mengunjungi mereka dan meminta restu, sekaligus meminta izin untuk mau menjadi wali nikahmu.” tanya Bisma yang memang sebagai orang yang sangat logis.
Bisma sangat tahu bahwa Kanaya adalah yatim piatu, sementara saat pernikahan nanti sebagai seorang wanita, diperlukan seorang wali nikah yang akan menikahkan Kanaya saat ijab kabul nanti.
Mendengar pertanyaan dari Bisma, jujur saja Kanaya merasa kebingungan. Selama dia hidup di Jakarta, nyaris tidak pernah ada sanak keluarga atau kerabat, jika pun ada itu adalah saat dirinya masih kecil. Bahkan kabar terakhir yang dia terima, Kakak dari Ayahnya, atau Pamannya sudah tiada. Kakeknya juga sudah tiada. Dalam diam, Kanaya tampak berpikir dengan sangat keras. Dia baru tersadar, siapakah yang akan menjadi wali nikahnya.
“Dalam hukum Islam, jika sang Ayah sudah tiada, maka walinya adalah kerabat dari mempelai perempuan, tetapi dari pihak laki-laki. Wali diwakilkan oleh garis keturunan laki-laki dari Ayah, seperti Kakek, Paman, atau lainnya. Sayangnya, kabar terakhir yang aku tahu, Kakek dan Paman juga sudah meninggal dunia.” jawab Kanaya.
Perlahan Kanaya diam, dan berpikir siapa yang akan menjadi wali nikahnya nanti. Sebab, apa yang diucapkan oleh Bisma benar adanya. Dirinya juga perlu menyampaikan rencananya yang ingin menikah dan meminta supaya kerabat yang bersangkutan sudi untuk menjadi wali nikahnya. Sementara kini yang terjadi, Kanaya justru benar-benar sebatang kara, tidak ada orang tua, tidak ada saudara kandung, dan kerabat juga tidak ada.
“Kalau hubungannya dengan Pak Jaya, Nay?” tanya Bisma kemudian kepada Kanaya.
“Usai perceraianku dulu, Papa Jaya menjadikan aku sebagai anak angkatnya. Beliau yang memasukkanku ke Kartu Keluarga mereka, menjadikan aku ini anak angkatnya. Miris sekali ya, dari mantan menantu kemudian dijadikan anak angkat. Kendati demikian, aku pantas bersyukur karena Papa Jaya dan Mama Sasmita terlihat menyayangiku,” kenangnya sembari tersenyum menatap Bisma.
__ADS_1
Mendengar ucapan Kanaya, Bisma pun diam dan mulai berpikir, “Nay, tidakkah seharusnya aku juga meminta izin kepada Keluarga Jaya? Bisakah kita meminta kepada Pak Jaya supaya beliau berkenan menikahkan kita?” tanyanya.
Kanaya pun mengangguk setuju, “Baiklah … besok kita mengunjungi Papa Jaya dan Mama Sasmita ke kediamannya. Aku akan menelpon dahulu dan memberitahu bahwa aku akan mengunjungi mereka.” ucap Kanaya, dalam hatinya mungkin memang dia harus meminta tolong kepada Papa Jaya supaya berkenan menjadi wali nikahnya.
Keesokan Harinya di Kediaman Jaya Wardhana …
Kanaya dan Bisma saat ini tengah berada di kediaman keluarga Jaya, keduanya disambut baik oleh Papa Jaya dan Mama Sasmita.
“Sore Pa, Ma … kenalkan dia Dokter Bisma.” Sapa Kanaya yang sekaligus mengenalkan Bisma kepada Papa Jaya dan Mama Sasmita.
Ini adalah kali pertama bagi Kanaya mengunjungi kediaman keluarga Jaya usai Darren mendekam di dalam jeruji besi. Sekaligus, menjadi kali pertama bagi Kanaya datang ke kediaman mereka dengan seorang pria.
“Ya, silakan duduk. Tumben Nay, sudah lama sekali kamu tidak datang kemari dan mengunjungi kami, ada apa?” tanya Mama Sasmita kepada Kanaya. Wanita paruh baya itu tetap sama baiknya dengan Kanaya, selalu memperlakukan Kanaya dengan baik.
Kanaya perlahan menatap Papa Jaya dan Mama Sasmita bergantian, sesungguhnya terasa aneh, tetapi karena mereka sudah seperti keluarga bagi Kanaya, maka Kanaya pun mulai membuka suaranya.
“Papa, Mama … ke sini, Naya datang untuk menyapa Papa dan Mama, tetapi juga Naya ingin menyampaikan bahwa Bisma ini adalah pria yang baik, pria yang mencintai Naya, dan … Naya pun memiliki perasaan yang sama dengannya. Bisma memiliki niat baik untuk meminang Naya, Pa … tetapi, sudah tidak ada lagi kerabat dari pihak Ayah yang Naya miliki.” ucap Kanaya sesaat.
__ADS_1
Mengetahui dengan niatan Kanaya, perlahan Papa Jaya dan Mama Sasmita pun tersenyum menatap Bisma dan Kanaya bergantian. “Jadi, kamu ingin Papamu ini yang menikahkan kamu ya Nay?” tanya Papa Jaya secara terang-terangan kepada Kanaya.
Hingga akhirnya, Bisma merasa harus turut mengeluarkan suaranya, “Om, Tante … dari cerita Kanaya, dia sudah tidak memiliki orang tua, dan kerabat dari pihak sang Ayah yaitu Paman dan Kakeknya juga sudah tiada, karena itu kami datang kemari untuk meminta restu dari Om Jaya dan Tante Sasmita. Dari cerita yang Naya sampaikan, Om Jaya sudah mengangkat Naya sebagai seorang anak dan sah di mata hukum. Oleh karena itu, bolehkah dengan kerendahan hati, saya pribadi meminta kepada Om Jaya untuk bisa menjadi wali nikah bagi Kanaya nanti.” Bisma menyampaikan niatannya, pria itu juga berbicara dengan begitu sopan kepada Papa Jaya.
Papa Jaya kemudian tergelak dalam tawa, “kamu tenang saja, Naya … Papamu ini yang akan menikahkanmu nanti. Jangan khawatir. Kamu cukup mempersiapkan hari bahagiamu ini. Kapan kalian ingin menikah?” tanya Papa Jaya kepada Kanaya dan Bisma.
“Tiga bulan lagi, Om … usai program spesialisasi yang saya ambil selesai, saya ingin segera meminang Kanaya.” ucap Bisma dengan sungguh-sungguh.
Terasa lucu, tetapi keinginan terbesarnya pasca menyelesaikan program spesialisasinya adalah menikahi Kanaya. Mengikat wanita yang dicintainya itu dalam ikatan suci pernikahan. Bisma berkeyakinan teguh bahwa menikahi Kanaya adalah salah satu mimpi dalam hidupnya.
Mendengar ucapan Bisma, Papa Jaya pun mengangguk, “baiklah Bisma, biar Om yang akan menikahkan Naya … untuk acara lamaran dan lainnya, juga biar Om yang akan siapkan ya. Jadi, usai selesai program spesialisasi, kamu akan bekerja di mana?” Tanya Papa Jaya kepada Bisma.
“Sekarang saya bekerja di salah satu Rumah Sakit Swasta di Batam, Om … tetapi, usai lulus nanti, saya akan kembali ke Jakarta. Saat ini saya sedang mengajukan mutasi ke Jakarta lagi. Berharapnya sih prosesnya semua lancar.” jelas Bisma kepada Papa Jaya.
“Baiklah … lebih baik acara lamaran dan lainnya, kita gelar di rumah ini saja. Papa yang akan mengurusnya. Sementara untuk Akad dan Resepsi, Papa serahkan kepada kalian berdua.” ucap Papa Jaya yang menatap Kanaya dan Bisma.
“Pa, sebelumnya Kanaya minta maaf, tidak bisakah bila kami cukup menggelar akad nikah saja? Bagaimana Dok? Jujur, rasanya sangat memalukan jika harus menggelar resepsi.” ucap Kanaya.
__ADS_1
Tidak dipungkiri bahwa sebagai wanita yang pernah menikah, menggelar pernikahan secara besar-besaran rasanya tidak elok. Dia pernah menjadi ratu sehari dalam resepsi kelabu bersama Darren, dan Kanaya tidak ingin para undangan yang dulu pernah hadir di pernikahan pertamanya akan turut menyaksikan resepsi keduanya dengan pengantin pria yang berbeda. Entah, rasanya terasa tidak elok di dalam hati Kanaya.
Bisma pun mengangguk, “Apa pun mau kamu, Nay … semoga bisa ya. Nanti aku bicarakan juga kepada Ayah dan Bunda, semoga Beliau tidak keberatan.” ucap Bisma yang terlihat begitu tenang menjawab Kanaya.