
Setelah seharian beraktivitas di luar, menjelang petang akhirnya Bisma dan Kanaya telah kembali lagi ke hotel mereka. Maka dari itu, begitu sampai di hotel, Kanaya segera memandikan Aksara terlebih dahulu kemudian menyuapi putranya itu untuk makan. Sementara Bisma pun juga memilih segera mandi, karena saat Aksara selesai makan nanti, dirinya yang akan mengasuh Aksara dan giliran Kanaya untuk mandi.
Bepergian tanpa membawa seorang babysitter jadi memang semuanya harus dilakukan sendiri. Bisma dan Kanaya pun harus membagi tugas masing-masing. Kendati demikian, tetap saja hal itu menjadi begitu seru bagi mereka berdua.
Malam harinya, mungkin karena juga telah beraktivitas seharian di luar, Aksara malam ini tidur lebih cepat. Bayi yang sedang bertumbuh itu tampak terlelap di atas tempat tidur. Kanaya mengamati wajah Aksara dan sesekali melabuhkan ciuman di kening Aksara, “Met bobo Putranya Bunda … sehat-sehat selalu ya Sayang,” ucapnya dengan mengusapi rambut Aksara yang tebal dan berwarna hitam itu.
Bisma kemudian tersenyum melihat istrinya. Begitu terlihat bahwa Kanaya sangat mencintai putranya itu, “Jangan cuma Aksara yang diciumi dong Sayang … Ayahnya Aksara juga minta dicium nih,” godanya dengan mengerlingkan satu matanya kepada Kanaya.
“Ah, kamu kalau gitu genit deh, Mas,” sahut Kanaya dengan tiba-tiba.
Bisma terkekeh geli mendengar suara istrinya itu. Padahal niatnya memang hanya sekadar menggoda istrinya saja. Lantas pria itu mengulurkan satu tangannya dan mengajak Kanaya untuk duduk di sofa yang berada di kamar hotel itu. Tanpa basa-basi, Bisma langsung membawa Kanaya dalam pangkuannya.
“Kangen sama kamu,” ucapnya kali ini kepada Kanaya.
“Padahal ya seharian ketemu masak masih kangen sih,” jawab Kanaya sembari menggerak-gerakkan kakinya, karena saat ini dirinya duduk dengan posisi menyamping. Kakinya berada di atas sofa, hanya pantatnya saja yang berada di atas paha suaminya.
Bisma kemudian mengangguk, “Iya, tiap hari ketemu saja masih kangen,” jawabnya. Sementara itu, Bisma mulai menelisipkan untaian rambut Kanaya ke belakang telinga, dan bibirnya mulai mencium pipi Kanaya yang berada tepat di depan bibirnya itu.
“Emang kamu enggak kangen sama aku?” tanyanya kini kepada Kanaya.
Kanaya hanya menatap suaminya itu dengan mengutas senyuman di wajahnya, wanita itu juga melingkarkan kedua tangannya di leher Bisma, “I Miss U, everyday,” jawab Kanaya dengan menatap wajah suaminya yang hanya berada sejengkal jaraknya dari wajahnya.
Wanita itu kemudian bergerak untuk menyapa bibir suaminya, mengecupnya perlahan. Membiarkan bibirnya untuk bertengger sejenak di bibir hangat suaminya. Wanita itu memejamkan matanya, seolah memang tengah menyalurkan kerinduannya kepada suaminya itu. Aneh memang, mereka berdua setiap hari bertemu, tetapi rasanya masih terasa bongkahan rindu yang memenuhi hati keduanya.
Setelahnya, Kanaya menarik wajahnya, wanita itu tersenyum menatap wajah Bisma yang juga nyatanya dengan menatapnya begitu lekat.
“I Love U, Ayah,” ucap Kanaya kali ini dengan bulu matanya yang seolah tengah berkedip-kedip.
Bisma pun tersenyum, dan pria itu segera mendekatkan wajahnya. Rasanya jika bibirnya hanya sebatas menempel rasanya masih kurang dan belum puas, untuk itu kali ini Bisma memagut bibir Kanaya dengan begitu lembut. Merasai manisnya bibir yang seolah-olah menariknya untuk mengecupinya. Menggigit sedikit bibir Kanaya untuk menerobos masuk dan bermain-main dengan lidah Kanaya, membelitnya dan keduanya saling mereguk manisnya rasa yang selalu hadir saat bibir dan lidah mereka saling bertaut.
__ADS_1
Tangan Bisma lantas mulai bergerilya dan melepaskan kemeja yang Kanaya kenakan. Melepas kancing-kancing itu secara perlahan, dan cumbuan bibirnya turun menjelajahi leher jenjang Kanaya.
“Jangan dicupang ya Mas,” pinta Kanaya kali ini dengan nafas yang terengah.
Bisma menarik sejenak wajahnya, “Kenapa? Biasanya boleh?” tanyanya dengan menyeringai.
“Jangan, baru wisata juga. Malu kalau ada orang lain yang lihat,” ucapnya.
Jari telunjuk Bisma lantas bergerak turun dari leher, turun ke tulang selangka wanitanya, lalu turun lagi menuju area atas dada Kanaya. “Di sini boleh?” tanyanya dengan meninggalkan kecupan hangat dan basah di sana.
Kanaya hanya menggelengkan kepalanya sejenaknya, “Nakal banget sih,” balasnya.
“Sayang, sambil berendam di Bath up yuk?” ajak Bisma kepada Kanaya.
Wanita itu mengerjap, “Serius, nanti kalau Aksara ke bangun gimana?” tanyanya.
Kanaya pun tersenyum, tidak mengira bahwa suaminya itu memikirkan sampai sejauh itu. Kanaya lantas mengangguk, “Ya sudah, tetapi jangan lama-lama yah, takutnya nanti Aksara kebangun terus nangis,” jawabnya.
Merasa mendapat lampu hijau, Bisma lantas menurunkan Kanaya dari pangkuannya, kemudian dia berjalan terlebih dahulu menuju kamar madu. Memenuhi bath up itu dengan air hangat, kemudian memasukkan bath bomb beraroma bunga dan memasukkan essensial oils beberapa tetes. Setelahnya, Bisma kembali keluar. Pria itu segera menggendong istrinya memasuki kamar mandi.
Bak pengantin baru, keduanya saling melepaskan pakaian yang menempel di tubuh mereka bergantian, kemudian Bisma masuk terlebih dahulu ke dalam bath up dan bersandar di sana. Lalu, Bisma mengulurkan tangannya dan mengajak Kanaya untuk bergabung dengannya. Saat Kanaya meraih tangan itu dan turut bergabung memasuki bath up, wanita itu pun tersenyum, tidak mengira akan merasakan pengalaman manis dan begitu hangat dengan suaminya.
Perlahan Bisma mengusapi punggung polos Kanaya dan membubuhkan busa di sana. Pria itu juga bertingkah nakal dengan mengecupi puncak bahu Kanaya. Meraba setiap permukaan kulit istrinya yang basah dan licin lantaran perpaduan busa sabun dan essensial oils itu. Sensasi yang ditimbulkan benar-benar berbeda, hingga Kanaya membawa kedua kakinya dan memelukinya.
“Mas, jangan nakal dong,” ucapnya kali ini.
“Nikmati saja Sayang,” ucap Bisma yang justru kian bergerilya menjelajahi setiap permukaan kulit Kanaya.
Pria itu lantas menyibak rambut Kanaya yang mulai basah, kemudian dari belakang dia meremas gundakan buah persik milik Kanaya. Meremas perlahan, memilin ujungnya secara berputar, dan juga memijatnya sedikit menekan perlahan. Hingga Kanaya melenguh merasakan sentuhan tangan suaminya di tubuhnya itu.
__ADS_1
“Ah, Mas Bisma …,” racaunya kali ini sembari menggigit bibir bagian dalamnya.
“Ucapanmu yang merdu, membangkitkan sesuatu di bawah sana Sayang,” ucapnya kali ini.
Tanpa menunggu lama, Bisma kemudian memutar posisi duduk Kanaya. Mata mereka saling bertemu, pria itu tersenyum dan segera menyapa bibir Kanaya. Menciumnya dengan nafas yang memburu, dan dalam sekali gerakan tangannya, Bisma mengangkat tubuh Kanaya dan menyatukan dirinya. Pergerakan perlahan, sekali pun gerakan keduanya justru mengoyak air dan busa mandi dalam bath up itu.
“Lihat aku, Sayang,” ucap Bisma kali ini.
Kanaya justru menggelengkan kepalanya, wanita itu kian memejamkan matanya. Seolah memang tidak kuasa bersitatap dengan suaminya.
“Ah, Mas,” racau Kanaya saat ini yang benar-benar merasa tidak tahan dengan sengatan yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Bisma hanya bisa menatap istrinya itu dengan begitu lekat. Lantas pria itu bergerak kian cepat, hentakan yang diiringi koyakan air membuat suasana kian panas rasanya, hingga akhirnya Bisma menggeram dan membawa tubuh Kanaya untuk menempel dengannya kian erat. Keduanya sama-sama meraih puncak asmara di waktu yang bersama.
Menetralkan sejenak deru nafasnya, lantas Bisma mengecupi bibir Kanaya beberapa kali. "I Love U, Sayang…" ucapnya dengan penuh kasih sayang.
"I Love U too, Mas," jawab Kanaya yang masih memejamkan matanya.
Beberapa saat pun berlalu, kini Bisma dan Kanaya telah sama-sama keluar dari kamar mandi. Keduanya lantas berbaring di atas tempat tidur dengan memeluk Aksara yang sudah terlebih dahulu tertidur lelap di sana.
"Mau langsung bobok?" tanya Bisma kali ini.
"Iya, ngantuk. Ditambah ACnya dingin kayak gini. Enaknya bobok sih Mas," jawab Kanaya.
Bisma pun lantas mengangguk, "Ya sudah, bobok saja. Lagian besok juga kita sudah balik ke Jakarta. Sudah senang belum liburannya kali ini?" tanya Bisma.
"Iya senang banget, liburan berhadiah plus-plus," jawabnya.
Bisma terkekeh geli di sana, pria itu lantas mengecupi kening Kanaya, "Ya sudah, met bobo istriku. I Love U," ucapnya dengan berusaha memejamkan matanya.
__ADS_1