Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Eid Mubarak


__ADS_3

Tidak terasa sebulan penuh telah berlalu, itu tandanya Bulan Ramadhan sekaligus menjadi bulan yang dijalani Bisma untuk menjalankan ibadah puasa pun bisa dijalani dengan penuh syukur. Ya, dia bersyukur karena sosok Kanaya yang selalu menemaninya selama menjalani puasa, selain itu dia bersyukur dengan berakhirnya bulan Ramadhan itu artinya semakin dekat waktunya bagi dia dan Kanaya untuk menjadi orang tua, karena hari perkiraan lahir bagi anaknya akan segera tiba.


Malam ini menjadi malam perayaan takbir. Akan tetapi, keduanya memilih berdiam di dalam apartemen mereka. Merayakan malam menyambut hari raya Idul Fitri berdua.


“Kamu dulu sering ikut takbiran enggak Mas?” tanya Kanaya kepada suaminya itu.


“Pernahlah, waktu kecil. Setelah aku SMA, keliatannya aku sudah enggak mengikuti takbiran keliling lagi.” kenangnya sembari mengingat memorinya waktu kecil.


Kanaya kemudian tersenyum, “Aku jadi bayangin gimana kamu waktu kecil. Pasti lucu ya, pakai baju koko, pakai sarung, pakai peci di kepala terus ikutan takbiran keliling.” ucap wanita itu sembari mengelusi perutnya yang hampir berusia 9 bulan itu.


Bisma kemudian tertawa, “Aku waktu kecil sih cakep, Sayang … pas SMP kelas tiga itu aku mulai gemuk. Terus puncaknya di SMA aku jadi gemuk banget.” ceritanya lagi kepada istrinya. Mengingat betapa gemuknya dia waktu SMA dulu.


“Walau pun gemuk, kamu kan tetap pandai kan Mas waktu SMA dulu. Baik juga. Itu yang lebih penting. Buktinya kamu berhasil mendapatkan badan yang proporsional dan juga menjadi Dokter.” jawab Kanaya.


“Satu lagi Sayang, aku berhasil menjadi suamimu. Cinta pertamaku waktu SMA dulu.” sahut Bisma dengan tiba-tiba. Sebuah pengakuan yang membuat pipi chubby Kanaya merona karena malu dengan ucapan tiba-tiba dari suaminya itu.


“Agenda kita besok gimana Mas?” tanya Kanaya.


Sebuah pertanyaan yang wajar karena ini menjadi Hari Raya Idul Fitri pertamanya dengan suami dan mertuanya, sehingga Kanaya pun bertanya perihal agendanya besok.


“Besok kita Sholat Ied bersama di depan apartemen itu saja ya Sayang … abis itu kita merayakan lebaran di rumah Ayah dan Bunda. Jangan lupa bawa baju ganti, jaga-jaga kalau nanti Bunda meminta kamu untuk menginap.” ucap Bisma.


***


Keesokan harinya, Kanaya dan Bisma bangun. Keduanya sama-sama tersenyum menamati penampilan masing-masing. Kanaya bersiap dengan membawa mukena dan sajadah. Pun demikian dengan Bisma, pria itu sudah mengenakan peci di kepalanya dan mengenakan baju koko berwarna biru muda.

__ADS_1


“Yuk Sayang …” ajaknya kepada istrinya itu untuk bersama-sama turun dan melaksanakan Sholat Idul Fitri di depan apartemennya.


Keduanya sama-sama menyambut lebaran dengan menjalankan Sholat Idul Fitri berdua, mendengarkan kajian yang disampaikan oleh pemuka agama. Begitu Sholat selesai, keduanya pun kembali memasuki apartemennya dan bersiap untuk menuju kediaman Bunda Hesti dan Ayah Tirta.


Sebagai anak menantu, Kanaya datang di Hari Raya ini dengan membawa buah tangan berupa kue-kue kering khas lebaran yang sengaja dia buat sendiri. Sekalipun Kanaya memang tidak handal dalam memasak, tetapi dia berusaha membuat berbagai macam kue seperti Nastar, Kastangel, dan Lidah Mertua. Tidak lupa dia membuat Putri Salju yang merupakan kue favorit Ayah Tirta.


Suasana hari raya di Ibukota justru membuat jalanan begitu lengang, itu semua karena banyaknya pemudik yang memilih meninggalkan Jakarta dan merayakan lebaran di kampung halaman. Sehingga Bisma dengan lebih cepat menuju kediaman Ayah Tirta dan Bunda Hesti. Keduanya memasuki kediaman Bunda Hesti dan Ayah Tirta dengan bergandengan tangan dan saling melemparkan senyuman.


Begitu tiba, hal pertama yang mereka lakukan adalah melakukan tradisi sungkeman, memohon maaf lahir dan batin kepada kedua orang tua mereka. Didahului oleh Bunda Hesti terlebih dahulu yang meminta maaf kepada suaminya, kemudian dilanjutkan oleh Bisma dan Kanaya.


“Selamat Hari Raya Idul Fitri, Yah … mohon maaf lahir dan batin. Maafkan jika Bisma ada salah dengan Ayah, semoga kita kembali ke fitri di hari yang diberkahi Tuhan ini.” ucap Bisma dalam sungkemannya kali ini kepada Ayah Tirta.


Pria paruh baya itu memeluk putra tunggalnya itu, “Sama-sama, Bisma … Ayah juga minta maaf, orang tua bukan selalu benar, orang tua juga menjadi tempatnya salah. Kita sama-sama kembali ke fitri ya.”


Hal yang sama juga dilakukan Kanaya kepada Ayah Tirta dan Bunda Hesti, memohon maaf lahir dan batin kepada kedua mertuanya itu. Selanjutnya kini, dalam keadaan sungkem (sujud) dia meminta maaf kepada suaminya sendiri.


Bisma pun setengah berdiri dari duduknya dan mengangkat bahu istrinya itu. “Sama-sama Sayang … aku juga minta maaf lahir dan batin ya.” ucap pria itu sembari memeluk istrinya dan mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya.


Melihat Bisma dan Kanaya justru Bunda Hesti dan Ayah Tirta pun merasa terharu, hingga Bunda Hesti menepuk-nepuk bahu menantunya itu. “Sudah Naya … kok malahan jadi nangis kayak gini sih.” ucap Bunda Hesti mencoba menenangkan Kanaya.


Dalam hatinya, Kanaya tahu bahwa dia bukan istri yang sempurna. Terlebih saat Bisma diam karena dia menemui Darren dulu masih membuatnya merasa bersalah kepada suaminya itu. Akan tetapi, Kanaya tahu bahwa suaminya benar-benar adalah pria yang sangat baik. Pria yang memaafkan dan tulus mencintainya.


Perlahan Kanaya mengangguk dan menyeka air mata yang membasahi pipinya itu, “Naya jadi emosional karena ingat mendiang Ayah dan Bunda … Naya bahagia karena Bisma selalu mengisi hari-hari Naya dengan kebaikan.” akunya dengan jujur.


Pengakuan dari Kanaya membuat Bunda Hesti dan Ayah Tirta pun tersenyum dan membantu menantunya itu untuk berdiri dan duduk di samping suaminya.

__ADS_1


“Alhamdulillah … Ayah merasa senang jika anak Ayah, Bisma bisa menjadi suami yang mengisi hari-harimu dengan kebaikan. Salah satu doa Ayah dulu, Ayah ingin anak Ayah bisa menjadi orang yang bermanfaat dan baik hatinya. Puji Syukur, jika Bisma adalah sosok yang demikian.” Ayah Tirta berbicara dengan menepuki bahu Bisma.


“Benar Naya … sudah jangan sedih lagi. Lebaran kali ini kamu harus bahagia, kamu sekarang memiliki keluarga yang utuh lagi. Ada suamimu, dan juga kami orang tuamuyang menyayangimu.” ucap Bunda Hesti.


Kanaya mengangguk, kemudian menatap suaminya itu. “Terima kasih banyak buat semuanya ya Mas …” ucapnya.


Bisma juga mengangguk, “Iya Sayang … I Love U.” sahut Bisma dengan kembali melabuhkan kecupannya di kening istrinya.


Tindakan spontanitas yang membuat Bunda Hesti dan Ayah Tirta pun tersenyum. Ayah Tirta kemudian berdehem, “Pengantin baru memang beda ya Bund ….”


Apa yang diucapkan Ayah Tirta sontak saja membuat Kanaya menunduk malu. Bisma justru bersikap biasa saja. “Ayah kayak gak pernah muda aja sih …” gerutu Bisma kepada Ayahnya itu.


“Sudah-sudah, sekarang kita makan bersama ya … Bunda sudah membuat Ketupat, Sambal Goreng, dan Opor Ayam.” ucap Bunda Hesti yang mengajak Kanaya dan Bisma untuk makan bersama.


Lebaran memang identik dengan berbagai menu khas Idul Fitri seperti Ketupat, Opor Ayam, dan Sambal Goreng. Di beberapa daerah bahkan ada pula yang membuat Rendang hingga Gulai Ayam atau Kambing di hari raya. Sementara saat itu Bunda Hesti sudah menyiapkan Ketupat, Opor Ayam, dan juga Sambal Goreng.


Mendengar masakan yang diucapkan Bunda Hesti, perlahan Kanaya kembali membuka suaranya. “Duh, rasanya Naya kayak kembali menjalani Idul Fitri saat mendiang Bunda masih ada. Dulu ketiga masakan tersebut selalu ada di meja makan setiap Idul Fitri tiba.” kenangnya dengan tersenyum.


Bunda Hesti juga tersenyum menatap Kanaya, “Ya sudah … yuk, makan. Makan yang banyak Naya … biar sehat kamunya.” ucap Bunda sembari meraih tangan Kanaya dan mengajaknya segera menuju ke meja makan.


***


Dear All Bestie,


Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi seluruh pembaca Pembalasan Istri yang Tersakiti yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin. Selalu dukung dan ikuti selalu kisahnya Bisma dan Kanaya ya.

__ADS_1


Love U.^^


__ADS_2