
Saat anak masih kecil, rumah akan terasa ramai dengan tangisan dan tawa anak-anak. Sementara, saat seorang anak telah memutuskan menikah, berumahtangga, tidak jarang rumah orang tua terasa sepi karena anak yang telah menikah akan membina rumah tangganya sendiri bersama istri atau suaminya. Belajar hidup mandiri dan mewujudkan rumah tangga yang diimpikan bersama. Oleh karena itu, begitu anak yang telah menikah datang ke rumah orang tuanya, para orang tua akan merasa begitu bahagia.
Sama seperti Ayah Tirta dan Bunda Hesti, keduanya begitu berbahagia saat Bisma datang dengan membawa Kanaya ke rumah. Rasa bahagia mereka kian bertambah saat mendengar bahwa menantunya itu tengah hamil.
“Alhamdulillah …” ucap Bunda Hesti dan Ayah Tirta bersamaan.
Ya, kehamilan Kanaya saat ini adalah sesuatu yang harus mereka syukurin. Bahkan pernikahan Bisma dan Kanaya tergolong baru saja, tetapi rupanya Allah terlebih dahulu berbaik hati dengan menganugerahkan kebahagiaan untuk melengkapi kebahagiaan pasangan suami istri itu.
Bukan bermaksud menggurui, tetapi profesi Bunda Hesti sebagai bidan pun, beliau juga mendorong Kanaya untuk tidak menunda-nunda periksa ke Dokter Spesialis Kandungan.
“Bunda bisa juga cek kehamilan kamu, Naya … Sebab Bunda kan juga Bidan, tenaga ahli yang terlatih. Cuma memang Bidan itu menganggap kehamilan hingga persalinan itu adalah proses biologis yang alami, Bidan yang akan mendukung semua tahapannya, dan tidak boleh diintervensi. Metode yang ditetapkan oleh Bidan juga biasanya bersifat non-medis. Akan tetapi, Bunda sarankan kamu cek ke Spesialis Kandungan dulu. Merasakan bagaimana di-USG. Kalau Bidan memperkirakan usia janin ya dari hari terakhir menstruasi, mengukur perut kamu, dan ada alat untuk mendengar detak jantung bayinya." cerita Bunda Hesti kepada Kanaya.
Sementara Kanaya pun mengangguk, mendengar semua penjelasan dari Bunda Hesti itu. "Iya Bunda … biar Mas Bisma yang daftarkan Naya untuk periksa di Rumah Sakit tempat Mas Bisma bekerja saja." sahutnya dengan melirik suaminya itu.
Ayah Tirta pun mengangguk, "Dulu kamu enggak ambil obgynologi saja, Bisma … jadi kan kalau istrimu hamil bisa kamu periksa sendiri, nanti melahirkan yang membantu persalinannya juga kamu sendiri." ucap Ayah Tirta dengan terkekeh. Mungkin saja pria paruh baya membayangkan bagaimana seorang suami sekaligus berperan sebagai Dokter Kandungan istrinya sendiri.
__ADS_1
Bisma pun menggelengkan kepalanya, "Membantu melahirkan itu serem, Yah … keliatannya Bisma enggak bakalan kuat. Jadi, biar nanti Naya dibantu Obgyn yang bagus di Rumah Sakit tempat Bisma bekerja saja. Ada Obgyn yang bagus di sana, namanya Dokter Indri." ucap pria itu yang juga merekomendasikan Dokter Spesialis Kandungan untuk istrinya sendiri.
"Benar … mendampingi seorang wanita melahirkan itu ikut tertawa dengan mereka dan ikut menangis dengan mereka. Bunda sudah berpengalaman selama puluhan tahun membantu calon Ibu melahirkan." cerita Bunda Hesti.
Ya, memang tidak dipungkiri bahwa setiap melahirkan memiliki cerita sendiri. Ada seorang ibu yang baru masuk ke Bidan atau Rumah Sakit dan tidak perlu menunggu lama bayinya sudah lahir, tetapi ada juga yang harus diinduksi untuk memacu proses kelahiran, ada juga yang harus Caesar lantaran posisi janin sungsang dan lain-lain. Saat calon ibu akan melahirkan, tenaga medis turut menangis menikmati setiap proses pembukaan di mana banyak wanita menangis, kesakitan, hingga meraung sejadi-jadinya. Akan tetapi, saat bayi tersebut telah lahir, Bidan dan juga Dokter Kandungan yang juga turut tersenyum bahagia karena bisa membantu seorang Ibu melahirkan buah hatinya.
Ungkapan yang disampaikan Bunda Hesti sangat tepat. Maka dari itu, Bisma pun mengangguk pelan, "Benar Bunda … intinya sebagai suami, Bisma akan tetap mendampingi Kanaya kok. Lagipula, setidaknya Bisma tahu lah teorinya. Mendampingi istri yang tengah hamil, Bisma juga tahu harus apa dan bagaimana. Pelajarannya dulu waktu di kampus kan ya dapat, sekarang tinggal praktik langsung buat mendampingi Naya." ucap pria itu sembari menggenggam tangan istrinya.
Genggaman tangan yang membuktikan bahwa setidaknya Bisma bukanlah pria atau suami yang benar-benar awam terhadap masalah kehamilan. Dia juga pernah mendapat teorinya, setidaknya kali ini dia akan benar-benar menjaga istrinya itu.
“Boleh enggak kalau malam ini kalian menginap di sini, sejak pindah ke apartemen kan kalian belum pernah menginap di sini. Jadi bagaimana kalau malam ini, kalian berdua bisa menginap di sini?" tanya Bunda Hesti kepada Bisma dan Kanaya.
Tidak langsung memutuskan, Bisma terlebih dahulu menatap wajah istrinya saat Kanaya mengangguk, barulah Bisma membuka suaranya, "Baik Bunda … malam ini kami akan menginap di sini." sahutnya.
"Ya sudah, sekarang istirahat saja di kamar. Naya, kalau perlu apa-apa tidak usah sungkan. Anggap di rumah sendiri, jangan sungkan juga kepada Ayah dan Bunda. Kami kan orang tuamu juga." pesan Bunda Hesti kepada menantunya itu.
__ADS_1
Merasa sudah mendapat lampu hijau, Bisma pun mengajak Kanaya untuk masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang sudah dia tempati dari kecil hingga lajangnya. Tentu sudah banyak kenangan juga yang terukir di kamar itu.
"Istirahat Sayang ... malam ini kamu tidak keberatan kan menginap di kamarku ini?" tanya kepada istrinya itu.
Kanaya pun menggeleng, "Enggak ... mungkin Bunda masih kangen sama anaknya, jadi meminta kita untuk menginap di sini." ucapnya sembari duduk di kursi kayu di dekat meja belajar Bisma itu.
"Mungkin saja. Sebab setelah menikah, anak itu terkadang menjadi seperti tamu di rumah orang tuanya sendiri." ucap pria itu sembari menghela napas.
Ungkapan yang benar karena anak-anak akan lebih fokus dengan pasangan dan anak-anak mereka, berkunjung ke rumah orang tua hanya saat libur saja. Mereka layaknya bertamu, kendati demikian semua anak akan merasa bahagia ketika bisa kembali ke rumah orang tuanya. Semua memori masa kecil, masa bersama orang tua akan selalu teringat.
"Setidaknya kamu masih bersyukur karena masih memiliki orang tua lengkap, ada tempat untukmu pulang. Sementara aku hanya seorang diri, yatim piatu." sahut Kanaya dengan tertunduk.
Perasaan yang mengharu biru, bahkan orang tuanya tidak memiliki kesempatan untuk menyambut menantunya itu. Semua dalam hidup harus Kanaya hadapi seorang diri.
Mendengar ucapan Kanaya, Bisma pun berjalan perlahan dan merengkuh tubuh istrinya itu dalam pelukannya, memeluknya dengan begitu erat. Kemudian pria itu membisikkan ucapannya kepada istrinya, "Kamu sekarang tidak sendiri Sayang ... kamu punya aku. Jangan pernah merasa sendirian dan sebatang kara lagi. Tempat untukmu pulang adalah aku."
__ADS_1