
Dengan tergopoh-gopoh Bisma membawa Kanaya menuju Rumah Sakit. Istrinya pingsan, diagnosis dari Bisma sementara mungkin Kanaya terlalu tertekan dan kelelahan, sehingga istrinya itu pingsan begitu saja.
Kini, di sebuah kamar perawatan, sebuah jarum infus dimasukkan ke dalam pembuluh darah Kanaya. Beberapa obat juga disuntikkan melalui selang infus. Kanaya terbaring lemah di atas ranjang kesakitan. Sementara Bisma sendiri begitu kalut, memikirkan keberadaan Aksara dan sekaligus memikirkan keadaan Kanaya saat ini.
"Naya, kumohon … berjuanglah. Kita hadapi bersama-sama," ucap Bisma.
Pria itu bergumam lirih dengan menggenggam tangan Kanaya. Berharap bahwa Kanaya akan mendengarkan suaranya saat ini, walaupun itu mustahil karena Kanaya masih belum sadarkan diri.
"Dokter Bisma, hasil pemeriksaan secara fisik Istri Anda hanya kelelahan dan mengalami tekanan darah rendah. Hanya saja secara psikis, terjadi guncangan secara mental yang bisa mengarah ke depresi. Apabila tidak ditolong dengan baik bisa sangat berbahaya," jelas seorang Dokter yang baru saja memeriksa Kanaya.
Bisma pun mengangguk, "Baik Dok, terima kasih," ucap Bisma.
Sebagai seorang suami, Bisma sangat tahu bahwa istrinya terguncang mentalnya dan semua berkaitan dengan hilangnya Aksara. Hanya saja, kini hanya bisa menunggu dari orang-orang yang sudah disewa Bisma dan Papa Jaya. Berharap akan segera ada kabar dari Aksara.
Pria itu kemudian memilih duduk dengan pandangan mata yang kosong, dirinya sendiri kalut, seakan tak bisa lagi berpikir. Cobaan yang terjadi kali ini benar-benar di luar akal dan pikirannya.
__ADS_1
Hingga tidak berselang lama, Bunda Hesti dan Ayah Tirta datang ke Rumah Sakit untuk menjenguk Kanaya dan Bisma.
"Bagaimana kabar Kanaya, Bisma?" tanya Bunda Hesti.
"Kanaya terguncang secara mental, Bunda," sahutnya kali ini. Lagi-lagi Bisma terlihat sangat tidak bersemangat.
Bunda Hesti pun memeluk putranya itu, mengusapi punggungnya. Hingga tidak membutuhkan waktu lama tangisan Bisma pun pecah juga. Ya, pria itu menangis dalam pelukan Bunda Hesti.
"Bisma gagal menjadi seorang Ayah yang baik, Bunda. Bahkan di mana Aksara berada, Bisma benar-benar tidak tahu. Bisma terlalu teledor, Bunda." Bisma merutuki dirinya sendiri.
Dia benar-benar merasa menjadi seorang Ayah yang tak berguna, Ayah yang gagal, seorang Ayah yang tidak bisa melindungi putranya sendiri. Tidak dipungkiri Bisma pun berada di dalam titik terendahnya, dan bersama Bunda Hesti, Bisma bisa mengakui segala isi hatinya.
"Mungkinkah Bisma bisa menemukan Aksara ya Bunda?" tanya Bisma kemudian.
Bunda Hesti pun mengangguk, "Bisa … Bunda yakin saat ini Aksara berada di tempat yang aman. Hanya saja kalian memang belum menemukannya. Teruslah mencari, Bunda yakin Aksara akan kalian temukan," jelas Bunda Hesti.
__ADS_1
"Tanpa Aksara, hidup Bisma benar-benar hancur, Bunda. Tanpa Aksara, Bisma seolah kehilangan kekuatan Bisma," akunya lagi kepada Bunda Hesti.
Bunda Hesti mengangguk, "Bunda tahu perasaan kamu. Hanya saja, jika kamu rapuh, siapa yang akan menguatkan istrimu yang lebih rapuh darimu? Siapa yang akan menjaga hatinya, memegang tangannya, dan menyalakan lilin pengharapan baginya?" tanya Bunda Hesti.
Bisma pun mengurai pelukannya dari Bunda Hesti, pria dewasa itu kemudian mengangguk, "Benar Bunda. Yang Kanaya miliki hanya Bisma sekarang ini," sahutnya.
"Lalu, sebaiknya bagaimana Bisma harus bersikap Bunda? Sebab, pada kenyataannya Bisma pun juga rapuh sebenarnya. Untuk itu, Bisma meminta nasihat dan saran dari Bundanya.
Ayah Tirta kemudian menepuki punggung putranya itu, "Tidak masalah. Jika kamu lemah, tunjukkan saja kelemahanmu. Hanya saja, tetap dukung dan kuatkan Kanaya. Sebab, dia sangat membutuhkan kamu. Ayah yakin, sembari menunggu, sembari berdoa, dan waktu akan memulihkan semuanya. Ayah berharap kalian berdua semakin dikuatkan Allah. Peristiwa ini semakin mengikat rasa cinta kalian, hati kalian berdua untuk Aksara juga kian melekat. Benar yang dikatakan Bundamu, Aksara pasti akan ditemukan. Hanya saja kita membutuhkan waktu untuk bisa bertemu kembali dengannya," nasihat Ayah Tirta kini.
Lagi-lagi wajah Bisma pun memerah, pria itu kembali terisak pilu. Tidak menyangka Tuhan akan membuatnya jauh dengan Aksara, putra semata wayangnya. Jika tempo hari Kanaya takut kehilangannya, kini justru keduanya kehilangan Aksara. Kehilangan akan sesuatu yang menusuk hati mereka dengan begitu perih dan dalam. Kehilangan terbesar dalam hidup.
"Ya Ayah," jawab Bisma pada akhirnya.
"Tidak apa-apa, kamu pasti kuat. Kamu dan Kanaya pasti bisa melewati semuanya ini. Ayah percaya bahwa kalian berdua bisa menjalani semuanya ini dengan lapang dada," ucap Ayah Tirta ini.
__ADS_1
Bisma kemudian mengangguk, "Jika lapang dada, sebenarnya tidak, Yah ... hanya saja Bisma harus menguatkan Istri Bisma sekarang ini. Bisma tak bisa membiarkan Kanaya larut-larut dalam kesedihannya. Kami akan saling mengobati luka di hati kami satu sama lain," ucap Bisma.
Bunda Hesti dan Ayah Tirta pun mengangguk, keduanya sama-sama memeluk Bisma. Satu peristiwa yang begitu tragis dan juga membuat keduanya sangat hancur. Hanya saja, Ayah Tirta dan Bunda Hesti yakin bahwa putranya dan Kanaya akan bisa melewati semuanya ini. Mereka pun berharap proses pencarian Aksara bisa menemukan titik terang dan cucunya itu bisa kembali berkumpul bersamanya.