Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Tak Ingin Berpisah


__ADS_3

Pagi ini regan sengaja bangun pagi untuk menemui istri dan anak-anaknya yang berada di bandung.


Pikirannya sudah tak karuan jauh dari istri dan anak-anaknya.


Ia segera bersiap dan berjalan ke depan untuk mengambil mobilnya.


"Regan kamu mau kemana sudah rapi begini, biasanya kamu ke kantor pukul tujuh pagi?"tanya siti berpapasan dengan sang putra.


"Aku mau pergi ke bandung mah?"jawab regan menghentikan langkahnya.


"Untuk apa kamu ke bandung?".


"Aku mau membujuk seva dan membawa mereka untuk tinggal sini lagi?"jawab regan mantap.


"Apa kamu pikir seva semudah itu memaafkan kamu regan.


Tindakan kamu itu sudah keterlaluan, berselingkuh itu adalah kesalahan terbesar dan pasti sulit untuk di maafkan.


Seperti mamah gak akan memaafkan papah kalau dia berselingkuh dengan wanita lain.


Tapi untuk saat ini mamah tidak khawatir lagi karena papah kamu gak bisa kemana-mana tanpa mamah yang menemani"terang siti tersenyum getir.


"Ya papah sudah banyak berubah sejak ia lumpuh.


Regan pergi dulu mah?"pamit regan lantas mencium punggung tangan ibunya.


Di dalam mobil regan memikirkan apa yang di katakan oleh ibunya memang benar dua kali ia mengkhianati seva dengan wanita lain.


Kemungkinan kecil seva akan memaafkannya.


"Aku gak boleh putus asa dulu, sebelum berusaha membujukmu seva?"gumam regan lalu melihat ponselnya ada foto kedua putrinya sebagai wallpaper.


"Papah sangat merindukanmu nak?"gumam regan sampai tak sadar air matanya menetes begitu saja.


Tak ingin terus larut dalam kesedihan regan sengaja mampir lebih dulu ke sebuah toko mainan dan toko makanan untuk membelikan beberapa mainan dan makanan kesukaan kedua putrinya.


Tak lupa ia membelikan sebuket bunga sebagai tanda permintaan maaf dirinya pada sang istri.


Setelah dua jam lebih menempuh perjalanan jakarta bandung,regan telah sampai di sebuah rumah sederhana yang cukup besar.


Regan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan karena rumah itu tertutup dengan gerbang dengan halaman yang luas.


Sebelum turun ia tak lupa mengambil apa yang ia beli di perjalanan tadi.


"Permisi"teriak regan dari luar pagar.


Beberapa saat kemudian datanglah seorang pria paruh baya mendekati pagar.


"Regan,masih ingat kamu punya anak dan istri?"ucap pria itu ketus.


"Ayah tolong bukakan gerbangnya,aku ingin bertemu dengan seva dan anak-anakku di dalam?"pinta regan lembut.


"Aku tidak mengijinkan mu menemui mereka.


Lebih baik kamu pergi,aku akan mengurus perpisahan kalian secepatnya"ucap pria tua itu sebelum pergi.


Melihat pintu gerbang tak terkunci regan lantas segera membuka dan ikut masuk ke dalam.

__ADS_1


"Siapa yang mengijinkan kamu masuk ke rumahku.


Aku bilang pergi ya pergi,dasar pria gak tau diri pengkhianat"umpat pria itu yaitu ayah dari seva yang merasa murka.


"Ijinkan aku menemui mereka sebentar yah,regan ingin memperbaiki semuanya"pinta regan memohon.


"Kamu pikir saya percaya dengan kata-kata pria buaya seperti kamu.


Aku salah telah mempercayakan seva kepadamu regan.


Kamu telah menyakiti hati dan perasaan anak saya"terang ayah seva menatap tajam ke arah regan.


"LEBIH BAIK KAMU KELUAR DARI SINI!.


Sebelum aku panggil pak rt dan para warga untuk mengusir kamu"bentak ayah mertuanya.


Regan tak menyerah begitu saja sebelum ia dapat menemui istri dan anaknya.


"Aku tidak takut yah mereka akan mengusirku,aku hanya ingin menemui istri dan anak kandungku saja"jawab regan yang bebal.


"Kurang ajar,berani kamu menjawab ku ya?".


"Ada apa ini ribut-ribut?"tanya seorang perempuan paruh baya yaitu ibu seva yang keluar dari dapur karena mendengar keributan dari luar.


"Regan".


"Iya bunda,regan ke sini untuk menemui seva dan anak-anakku"ucap regan lirih.


"Biarkan regan masuk mas,gak enak pagi-pagi ribut di dengar sama tetangga"pinta sang istri pada suaminya.


Lantas ayah seva mengangguk dan memperbolehkan regan untuk masuk.


"Risma sayang"jawab regan mendekati putri kecilnya lalu memeluknya erat.


"Papah kenapa baru kesini,aku kangen papah?"ucap risma menatap ke arah sang ayah.


"Maafkan papah ya sayang,papah juga kangen banget sama risma?"ucap regan mengelus pipi gembul milik putri kecilnya.


Seva melihat interaksi regan dengan anaknya merasa hatinya tak tega memisahkan mereka.


Tapi hatinya terlanjur sakit dan memutuskan untuk berpisah dengan regan.


Ia akan meminta hak asuh kedua anaknya kepadanya dan regan tetap boleh menemui anak-anaknya juga.


"Papah bawakan kamu mainan dan makanan kesukaan kamu,mana kakakmu?"tanya regan sambil menyerahkan beberapa kresek berisi mainan dan makanan pada risma.


"Kakak masih di dalam kamarnya, biar risma ke kamar kakak saja.


Risma ingin mainan bersama dengan kakak.


Kakak pasti senang,terima kasih ayah.


Nanti papah akan menginap di sini juga kan bacakan dongeng untuk aku"cerocos gadis kecil itu.


Regan hanya mengangguk lemah sejujurnya ia ingin melakukan itu semua seperti kebiasaan yang ia selalu lakukan bersama putri kecilnya itu.


"Asyik,terima kasih papah"teriak risma girang lalu mencium pipi sang ayah.

__ADS_1


"Biar mamah bantu bawakan ya nak?"ucap seva membantu risma membawa kresek itu.


"Seva tunggu?"panggil regan mengetahui istrinya akan pergi.


"Risma kamu duluan ke kamar kakak ya, hati-hati ini cukup banyak?"pinta seva pada putri bungsunya.


Seva membalikkan badan lalu regan mendekati seva dengan menyodorkan bunga mawar putih yang sangat harum.


"Ini untukmu sayang, maafkan aku ya?"ucap regan lirih lalu meraih tangan istrinya.


Seva hanya diam matanya melirik bunga yang di bawa regan.


Merasa tak tega seva mengambil bunga mawar putih itu.


"Aku sudah memaafkan kamu mas,tapi aku ingin kita tetap berpisah"ucap seva lirih.


"Seva aku mohon jangan lakukan itu,kamu tau perceraian itu di benci oleh tuhan"ujar regan.


"Tapi kalau perpisahan itu yang terbaik,tuhan tidak melarang mas.


Daripada aku terus sakit hati kalau terus bersamamu"terang seva berusaha menahan airmata agar tak jatuh.


Seva menepis tangan regan perlahan lalu menjatuhkan bunga pemberian regan di lantai.


Ia jadi teringat pengkhianatan yang di lakukan suaminya itu.


"Seperti ini mas rasanya perasaanku sekarang,hancur seperti bunga yang aku injak?"terang seva sengaja menginjak-injak bunga itu sampai rusak tak berbentuk.


"Hatiku hancur mas,akan sulit untuk di sembuhkan.


Kamu benar-benar jahat mas, kamu egois?"ucap seva mengangkat tangannya hampir menampar pipi regan.


"Tampar aku seva kalau itu membuat kamu lega,tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaikinya.


Kamu boleh cek ponsel aku sepuasnya seva kalau aku sudah lama tidak berhubungan dengan perempuan lain".


Regan mengeluarkan ponselnya lalu menyodorkan kepada sang istri.


"Tidak perlu mas,kamu pikir aku bodoh.


Siapa tahu kamu sudah menghapus kontak dan pesan dari perempuan itu lebih dulu.


Sudahlah keputusanku sudah bulat,tunggu saja surat panggilan dari pengadilan mas"ucap seva lalu beranjak meninggalkan regan sendiri di ruang tamu.


Sang ayah dan ibu seva sedari tadi mendengar percakapan anak dan menantunya di balik pintu.


Sebenarnya sang ayah sudah geram ingin mengusir mantunya yang tidak tau diri itu namun istrinya mencegahnya.


Agar tak mencampuri urusan masalah anak menantunya.


Setelah seva pergi barulah sang ayah menemui regan yang sendirian.


"Kamu sudah mendengar apa yang di katakan seva tadi,ayah sangat mendukung keputusan seva untuk berpisah denganmu.


Biarkan mereka tinggal di sini denganku,aku masih sanggup membiayai hidup dan sekolah cucu-cucuku.


Untuk apa kamu masih di sini, cepat pergi?".

__ADS_1


"Tapi yah..


CEPAT PERGI!


__ADS_2