
Beberapa saat sebelum pulang ke apartemen, Bisma sebenarnya ragu. Haruskah dia mengatakan terus terang berkata kepada Kanaya bahwa dia sudah mengetahui semuanya. Bahkan kejadian di rumah tahanan pun, Bisma tahu semuanya. Mungkin sikapnya tidak benar karena sudah bersikap layaknya seorang penguntit. Namun, Bisma memiliki alasan tersendiri mengapa dia melakukan semua itu.
Merasa bahwa Kanaya belum bisa jujur dan terbuka dengannya, pria itu pun memilih untuk diam. Dalam hal ini, Bisma pun punya alasan sendiri kenapa dia diam setidaknya dia memberinya dirinya sendiri waktu dan sekaligus dia memberi Kanaya waktu untuk jujur kepadanya. Maka dari itulah, Bisma memilih memasuki apartemen dengan dingin dan diam, bahkan pria itu berpura-pura memejamkan matanya di tempat tidurnya. Tanpa dia sadari, hanya beberapa saat dia bersikap dingin dan mendiamkan istrinya, ternyata istrinya sudah terisak.
Hatinya merasa lega, saat Kanaya menahan tangannya, pria yang sudah berdiri itu pun akhirnya kembali duduk di sisi tempat tidurnya, dengan pergelangan tangannya yang masih dipegang oleh Kanaya.
“Maafkan aku, Mas … aku sudah salah.” ucap Kanaya dengan bibir yang bergetar.
Sungguh Bisma pun tidak kuasa melihat istrinya yang menangis dan terisak, pria itu masih memilih diam. Kendati demikian, Bisma tetap merespons ucapan Kanaya, “Salah kenapa?” tanyanya singkat.
Pertanyaan itu pun layaknya sebuah stimulasi hanya demi istrinya bisa berkata jujur kepadanya.
“Aku sudah berbohong padamu, Mas …” ucap Kanaya lagi.
Rupanya Kanaya menyadari kesalahannya, hati Bisma terasa tenang, karena istrinya masih berkata jujur walaupun kejujurannya menyakitkan.
“Aku cerita semuanya … tempo hari waktu aku menerima telepon dari Mama Sasmita itu benar adanya. Namun, saat itu Mama Sasmita menelpon karena memintaku untuk menemaninya mengunjungi Darren di rumah tahanan. Tadi aku abis dari tahanan menemani Mama Sasmita untuk menjenguk dia.” cerita Kanaya dengan terisak.
__ADS_1
“Aku tahu …” jawab Bisma pada akhirnya.
Hati Kanaya begitu sesak dan seakan diremas-remas di dalam sana saat suaminya ternyata tahu semuanya. Yang membuat dia terisak dan kian sesak adalah suaminya tahu semuanya, tetapi justru memilih diam. Itu sangat membuatnya sakit.
“Kenapa kalau kamu tahu semuanya, justru diam. Kamu sudah melakukan silent treatment, Mas.” sahut Kanaya dengan terisak.
Saat berkonflik dengan pasangan atau orang lain dan kita memilih diam, itulah bentuk silent treatment. Silent treatment adalah sikap saat seseorang lebih memilih diam dan mengabaikan orang yang sedang berkonflik dengannya. Biasanya orang melakukan silent treatment untuk meredam emosi, padahal sebenarnya melakukan silent treatment pun berdampak negatif yaitu justru perselisihan dengan pasangan tidak akan pernah usai karena masing-masing pribadi memilih diam.
Hati Bisma berdenyut nyeri saat istrinya itu mengungkapkan tentang Silent Treatment. Ya, sebagai seorang Dokter, dia sangat tahu apa itu silent treatment dan juga dampaknya. Bisma pun menghela napasnya dengan panjang, “Maaf … itu semua karena kamu tidak jujur padaku.”
Dengan sesegukan Kanaya pun berbicara, “Aku jujur, walaupun terlambat.” ucapnya. Tangannya yang semula memegangi pergelangan tangan suaminya pun luruh sudah. Di satu sisi dirinya bersalah, tetapi di satu sisi dia tidak suka dengan cara suaminya yang justru memilih mendiamkannya. Yang Kanaya mau, jika dia bersalah lebih baik ditegur saat itu juga, jangan didiamkan begitu saja.
Sekalipun duduk membelakangi Bisma, tetapi Kanaya tampak mengangguk. Ya, dia takut sebenarnya jika suaminya tidak memberinya izin.
Bisma lantas tersenyum getir, “Percayai aku … aku tidak mungkin menerimamu dengan setengah-tengah, semua konsekuensinya sudah aku perhitungkan. Jika kamu meminta dengan baik-baik, tentu aku akan mengizinkannya. Aku sudah berkata kan, aku bisa menerima semua tentangmu, termasuk masa lalumu itu.” ucap Bisma pada akhirnya. Dia begitu lega, karena uneg-unegnya dalam hatinya bisa terucapkan.
Seakan tidak ada jawaban dari Kanaya, Bisma pun mengikir jaraknya, pria itu kembali melakukan kebiasaannya yaitu memeluk Kanaya dari belakang. Mendekapnya dengan begitu erat dan hangat. Pria itu juga menaruh puncak dagunya di bahu Kanaya, “Berjanjilah, lain kali setidaknya kasih tahu ini. Aku bukan suami otoriter yang mengukung istrinya. Lebih baik kamu berbicara jujur, sakitnya langsung terasa. Daripada kamu bersikap diam-diam, itu justru semakin menyakitiku.” ucap Bisma dengan semakin mengeratkan dekapannya.
__ADS_1
Perlahan Kanaya pun mengangguk, dan menumpukan kedua tangannya di atas tangan suaminya yang melingkari dada hingga perutnya itu. “Maafkan aku ya Mas … aku bersalah dalam hal ini, tetapi kamu juga salah karena kamu mendiamkan aku. Tegur aku secara langsung jika aku salah. Jangan mendiamkanku. Kamu suamiku, kamu berhak menegurku.” ucapnya sembari sesegukan.
Bisma pun mengangguk, pria itu lantas beringsut dan kini duduk di depan istrinya itu, tangannya bergerak untuk mengusap air mata yang masih berderai di wajah istrinya itu. Mengusapnya dengan lembut, pria itu menatap Kanaya dengan begitu lekat, “Aku pun tahu kalau dia tadi memelukmu.” ucap Bisma sembari tangannya terus bergerak menyeka air matanya yang masih saja mengalir dari kedua mata istrinya itu.
Kedua bola Kanaya membelalak dengan sempurna, tidak menyangka bahwa suaminya akan tahu sebanyak itu. “Maaf …,” hanya kata maaf saja yang mampu Kanaya ucapkan.
Bisma pun akhirnya mengangguk, “Iya … aku maafkan. Jangan diulangi lagi. Percayalah, jika kamu berbicara dengan baik-baik kepadaku, jujur dari awal, tidak mungkin aku tidak memberikanmu izin. Aku bukan suami otoriter dan diktator yang memaksakan kehendaknya.” ucap Bisma.
Kanaya pun turut mengangguk, “Jangan juga mendiamkan aku seperti ini. Tegur aku jika aku salah. Jangan lagi-lagi melakukan silent treatment seperti ini. Diam tidak akan menyelesaikan perselisihan. Mendiamkan pasangan itu termasuk jenis kekerasan dalam rumah tangga loh Mas … kamu tidak menghargai keberadaan pasanganmu sebagai sosok pribadi yang harus dihargai.” ucap Kanaya.
Bisma pun merasa bersalah dengan pilihannya diam dan menunggu istrinya itu untuk berkata jujur. Pria itu akhirnya menunduk sesaat, “Maaf … aku hanya menunggumu untuk jujur padamu. Maafkan aku ya.” Bisma pun meminta maaf dengan tulus.
“Janji ya … sama semarah apa pun, jangan memanggilku dengan namaku. Panggilan sayangnya masak hilang sih.” ucap Kanaya dengan mengerucutkan bibirnya.
Bisma pun mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Kanaya, “Aku janji …” ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Kanaya pun tersenyum dan turut mengangkat jari kelingkingnya dan menautkannya dengan jari kelingking suaminya itu, “Janji …”
__ADS_1
Lega rasanya, bahwa perselisihan di antara mereka berdua bisa dilewati. Sebab memang tidak ada rumah tangga yang sempurna. Terlebih hubungan Bisma dan Kanaya masih bersifat baru, tidak dipungkiri keduanya masih perlu sama-sama mengenal satu sama lain dan semakin kompak menghadapi setiap cobaan yang mungkin saja akan selalu mewarnai kehidupan rumah tangga keduanya.