
Menjadi orang tua baru sungguh merupakan pengalaman yang indah bagi Kanaya dan Bisma. Keduanya seolah bahu membahu untuk merawat dan mengasuh putranya itu. Sekalipun terkadang masih kikuk dan ada rasa takut, tetapi perlahan-lahan bisa merawat Aksara dengan tangannya sendiri justru menjadi aktivitas yang begitu menyenangkan bagi Kanaya dan Bisma.
Pagi hari, saat matahari hendak menyingsing, Kanaya akan menjemur bayi Aksara sebentar di depan jendela kaca utama yang berada di depan ruang tamu. Pagi menjadi waktu bagi si bayi mandi matahari bersama Ayah Bisma. Bayi Aksara akan dilepaskan pakaiannya, dan hanya mengenakan diapers. Kanaya untuk menambahkan sebuah kacamata yang akan melindungi mata bayi Aksara dari sinar matahari langsung. Sementara Bisma akan dengan tenang menggendong Aksara kurang lebih selama 15 menit.
“Berjemur dulu, biar kamu sehat dan kuat ya Nak,” ucap Bisma sembari sesekali mendaratkan kecupannya di keningnya bayinya itu.
Kanaya yang melihat suaminya dan Aksara pun tersenyum bahagia. Dia berharap bahwa suami dan anaknya akan bisa saling menyayangi. Perlahan Kanaya pun juga mendekati suami dan anaknya.
“Kalian berdua kalau baru berjemur gini keliatan kompak banget sih?” tanya Kanaya sembari merangkul bahu suaminya dan juga menatap gemas pada Aksara yang saat ini dengan digendong suaminya.
“Kami akan kompak terus, Bunda …,” jawab Bisma dengan tersenyum menatap istrinya itu.
Perlahan Kanaya membenarkan posisi diapers Aksara, kemudian mengusap lembut kepala putranya itu, “Kamu baru bonding dengan Ayah, ya Sayang?” tanya Kanaya dengan lembut.
Bisma kemudian mengangguk, “Iya … bonding time, Sayang. Biar ikatan emosional antara orang tua dan anak semakin kuat. Sebenarnya kan banyak cara bagi kita buat bonding.” Bisma menjawab dengan menaruh Aksara di atas stroller bayi.
“Oh, ya … apa aja cara bonding itu Mas?” tanya Kanaya yang tampak tertarik dengan Bonding Time.
“Bonding itu sudah harus dimulai saat si baby berada di dalam kandungan dengan cara mengajak dia mengobrol, secara psikologis sih kalau baby sering diajak ngobrol, jalinan hati antara anak dan orang tua itu terjalin kuat. Terus kalau sudah lahir gini kan kita bisa menimang sembari mengalunkan lagu untuknya, memeluknya, menciumnya, nanti kalau semakin besar cara bondingnya juga beda lagi Sayang. Kalau semakin besar, ajak berbicara, dengarkan ceritanya, ajak bermain paling tidak 15 menit tanpa mengkritiknya.” Lagi Bisma menjelaskan dengan begitu detail kepada istrinya itu.
Kanaya pun mengangguk dan mendengarkan penjelasan dari suaminya dengan sungguh-sungguh. Seputar anak dan tumbuh kembang anaknya nanti, agaknya Kanaya cukup tenang karena dia memiliki suaminya sebagai narasumber yang bisa ditanyai kapan pun.
__ADS_1
“O, jadi bonding itu cara-cara mengikuti usia dan tahapan perkembangan anak ya Mas?” tanya Kanaya lagi.
“Bener banget. Cara kita merawat bayi dan beda dengan cara kita merawat anak toddler berusia 2-3 tahun. Juga nanti kalau Aksara sudah remaja, beda lagi kan cara menjalin kedekatannya dengannya,” jawab Bisma lagi.
Lagi-lagi Kanaya mengangguk, dia menyetujui penjelasan dari suaminya itu. Ya, memang benar cara kita merawat bayi tentu akan berusaha dengan cara merawat anak-anak batita atau toddler. Saat anak semakin bertumbuh, cara kita memberikan treatment juga berubah.
“Terus, manfaat bonding itu apa Mas?” tanya Kanaya lagi kepada suaminya.
“Banyak Sayang … anak bisa lebih beradaptasi dengan lingkungannya, lebih berani, lebih percaya diri, berani menyelesaikan masalah, dan tentunya ikatan orang tua dengan anak juga semakin kuat,” jawab Bisma.
Benar sekali yang disampaikan oleh Mas Dokter bahwa saat kita merawat bayi bukan sekadar kita memandikannya, mengganti diapersnya, memberikan ASI, MPASI, dan sebagainya. Lebih dari itu, ada keterikatan yang tengah kita bangun dengan anak kita. Keterikatan secara hati dan emosi. Itulah manfaat dari melakukan bonding.
Setelah itu, Bisma tersenyum melihat istrinya yang beberapa kali terlihat mengangguk itu, “Sudah ya … kamu sudah dapat materi kuliah berapa SKS tuh? Sini bayar dulu.” Bisma menggodai istrinya yang pagi itu begitu banyak bertanya kepadanya.
“Bercanda Sayang …,” sahut Bisma. “Ya sudah, ini sudah 15 menit, sekarang Aksara minum ASI dulu, aku siapkan air hangat buat Aksara mandi ya.” Bisma kembali melanjutkan ucapannya dan kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk mandi Aksara.
***
Satu jam setelahnya …
Bayi Aksara sudah selesai dimandikan dan sekarang Kanaya sedang memakaikan baju untuk putrannya itu. Dengan telaten, Kanaya memakaian mengoleskan sedikit minyak telon di badan Aksara, supaya memberikan rasa hangat untuk bayinya itu. Setelahnya Kanaya bersiap memakaikan diapers perekat bagi bayinya. Akan tetapi, sebelum Kanaya hendak menyelesaikan memasang diapers itu rupanya Aksara buang air kecil dan airnya memancur cukup tinggi hingga mengenai Kanaya. Nyaris saja urine si bayi mengenai wajah Bunda.
__ADS_1
Rasa kaget dari Kanaya bercampur tawa, melihat bagaimana bayi kecilnya yang buang air kecil layaknya air mancur. Wanita itu pun terkekeh, hingga meneteskan air matanya.
“Ya ampun, Mas … anak Ayah ini.” Kanaya berbicara dengan tergelak dalam tawa.
“Kenapa Sayang?” tanya Bisma kepada istrinya itu.
“Lihat nih anaknya Ayah, air urinenya sampai udah kayak air mancur basahin Bunda,” ucapnya dengan memperlihatkan bagian depan bajunya yang basah lantaran terkena urine dari Aksara.
Rupanya Bisma pun justru tertawa, tidak menyangka dengan kejadian pagi itu. “Kamu pipisnya kayak air mancur ya Nak?” tanya Bisma kepada putranya itu.
Kanaya masih tertawa, hingga air matanya keluar. “Ya ampun, aku beneran enggak mengira kalau bayi pipisnya sampai kayak air mancur,” ucap Kanaya lagi.
“Kalau bayinya cowok memang begitu Sayang … kalau bayi cowok itu seperti air mancur, sementara kalau bayinya cewek itu urine merembes. Itu terlihat dari diapers bayi cewek itu akan penuh dari depan ke belakang. Sementara diapers bayi laki-laki itu yang penuh hanya bagian depannya saja.” Bisma kembali menjelaskan hal tersebut kepada Kanaya.
“Ya, mancur sih boleh aja sih Mas … cuma jangan sampai mengenai wajah Bundanya dong,” sahut Kanaya.
Perlahan Kanaya segera membersihkan lagi kaki Aksara yang sempat terkena urine, kemudian wanita itu memberikan satu diapers perekat kepada suaminya. “Ayah, yang makein diapersnya ya … aku mau ganti baju dulu. Basah semua kena pipisnya Aksara.”
Bisma mengangguk, kemudian pria itu segera memakaikan diapers tipe perekat dengan ukuran newborn itu untuk Aksara. Pria itu pun tertawa memperhatikan putranya, “Kamu lucu, Nak … bisa-bisanya kamu buang urine hingga nyaris mengenai wajah Bunda kamu. Anak Ayah ini memang lucu.”
Hingga akhirnya, Bisma tidak hanya mengenakan diapers untuk putranya, tetapi dia juga sekaligus memakaikan baju bayi berukuran newborn dengan celana pop bermotif senada itu kepada bayinya. Setelahnya dia merapikan rambut putranya yang hitam dan tebal.
__ADS_1
“Nah, sekarang putranya Ayah sudah cakep,” gumam pria itu sembari menggendong putranya dengan senyuman di wajahnya.