Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Pemeriksaan Pertama


__ADS_3

Seolah tidak ingin menunda terlalu lama, keesokan harinya Bisma sudah mendaftarkan istrinya itu untuk melakukan pemeriksaan kehamilan untuk pertama kalinya di Rumah Sakit tempatnya bekerja. Sebagaimana permintaan Kanaya, pemeriksaan akan dilangsungkan saat sore hari. 


Tengah hari, saat jam makan siang tiba, Bisma buru-buru mengambil handphonenya guna menghubungi istrinya itu.


“Halo Sayang …” sapanya begitu telepon itu sudah berdering.


“Iya, halo Mas … ada apa?” tanya Kanaya sembari wanita itu meregangkan leher dan pinggangnya sejenak setelah duduk berjam-jam lamanya dengan menghadap PC (Personal Computer) di meja kerjanya.


“Aku sudah daftarkan kamu untuk pemeriksaan hari ini ya, sore aku jemput ke kantor ya, abis itu periksanya di Rumah Sakit tempatku bekerja.” ucapnya yang hendak memberitahu istrinya.


Merasa bahwa suaminya harus bolak-balik dari rumah sakit, kantornya, dan menuju rumah sakit lagi, keliatannya akan membuang banyak waktu. “Euhm, aku naik taksi online saja dari kantor boleh enggak Mas?” tanyanya perlahan.


“Kenapa? Kan aku bisa jemput kamu.” tanya Bisma di seberang sana.


Kanaya pun tersenyum dan berjalan menuju kaca jendela di ruangannya yang menghadap langsung ke jalanan ibukota itu, “Kasihan kamunya kecapean Mas … aku naik taksi saja ya. Aman kok.” ucap Kanaya lagi.


“Enggak, aku jemput saja. Aku tunggu di lobby ya. Jam 4 aku sudah sampai di sana.” ucap Bisma seakan tidak menerima penolakan.


...🌺🌺🌺...


Beberapa jam setelahnya …


Dokter ganteng itu benar-benar on time, jam 16.00 tepat dia sudah berada di lobby Jaya Corp, menunggu istrinya yang segera tiba. Beberapa kali pria itu melihat waktu di jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, juga melihat-lihat barang kali istrinya juga keluar dari lift bersamaan dengan staf Jaya Corp yang lainnya.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Kanaya pun keluar dari lift. Wanita itu tersenyum saat melihat suaminya yang sudah berdiri di lobby untuk menunggunya.


“Sudah lama Mas?” tanyanya begitu sudah berdiri beberapa langkah di depan suaminya itu.


“Lumayan lah, yuk …” pria itu lantas menggenggam tangan Kanaya dan segera membawanya untuk keluar dari perusahaan itu. Menuntun wanita untuk segera memasuki mobil, membiarkan beberapa pasangan mata menatap mereka. Dengan tenang, Bisma terus berjalan dan menggenggam erat tangan istrinya itu. Hingga sampai di depan mobilnya, Bisma terlebih dahulu membukakan pintunya untuk Kanaya, “Hati-hati Sayang …,” ucapnya sembari mengangkat satu tangannya di atas pintu mobil, berjaga-jaga supaya kepala istrinya tidak sampai terantuk mobil.


Setelahnya, barulah dia berjalan mengelilingi mobil dan berjalan menuju kursi kemudi. Dengan tenang, dia mengemudikan mobilnya itu, lantaran istrinya juga sedang berbadan dua, sehingga Bisma pun mengurangi kecepatan mengemudinya.


“Kenapa nyetirnya jadi sepelan ini sih Mas?” tanya Kanaya kepada suaminya itu. Sebab, Bisma benar-benar mengemudikan mobilnya begitu pelan.


“Bawa Ibu Hamil itu kan harus hati-hati Sayang … kamu mau aku nyetirnya asal serobot, terus berbahaya untuk kamu?” tanyanya sembari tersenyum dan sesekali melirik istrinya itu.


“Buruan dikit, Mas … biar kita enggak telat periksanya. Sudah daftar belum Mas?” tanyanya lagi kepada suaminya itu.

__ADS_1


“Sudah dong … aku sudah daftar kok. Dapat antrian nomor empat sih, semoga saja enggak terlalu lama nunggu.” jawabnya dengan tenang.


Kurang lebih dua puluh menit kemudian, mereka telah tiba di Rumah Sakit, lantaran Bisma adalah seorang Dokter di Rumah Sakit tersebut, maka dia pun memarkirkan mobilnya di area parkir Dokter. Setelahnya, dia keluar dan membukakan pintu bagi istrinya itu. Menggandeng tangannya untuk memasuki bagian Poli Kandungan. Lantaran, Bisma cukup terkenal di tempat itu, beberapa perawat dan petugas Rumah Sakit pun menyapanya.


“Selamat Sore Dokter Bisma.”


“Mari, Dok.”


“Sore Pak Dokter.” dan berbagai sapaan lainnya.


Mendengar banyaknya perawat dan pegawai Rumah Sakit yang menyapa Bisma membuat Kanaya melihat suaminya yang masih berjalan di sampingnya itu, “Kamu populer banget ya Mas di sini?” tanyanya.


“Populer sih enggak, cuma mungkin mereka sudah pada kenal aja sih sama aku. Jadi, ya saling menyapa.” sahutnya dengan tenang.


Setelahnya, mereka telah tiba poli kandungan. Lantaran baru pertama kali periksa, maka seorang perawat mendata Kanaya terlebih dahulu. 


“Sore, dengan Ibu siapa?” tanya seorang perawat kepada Kanaya.


“Iya sore, saya Kanaya.” jawab Kanaya dengan sopan.


“Bu Kanaya, usianya berapa?” tanya perawat tersebut.


“26 tahun.” jawab Kanaya dengan singkat.


“Hari terakhir menstruasi?” pertanyaan ini sering ditanyakan kepada calon ibu yang melakukan pemeriksanaan kandungan untuk pertama kalinya, karena bisa digunakan memperkirakan usia kehamilan.


“Bulan terakhir, tanggal 25.” jawab Kanaya sembari menunjukkan aplikasi menstruasinya di handphonenya.


“Sekarang kita akan menimbang berat badan Ibu dan mengukur tekanan darahnya ya Bu.” instruksi selanjutnya dari perawat tersebut.


Maka, Kanaya pun menimbang, di sebuah timbangan yang berada tidak jauh dari tempat itu. 


“57 kilogram ya Bu.” ucap perawat itu dan menuliskannya di sebuah buku pemeriksaan untuk pasien.


“80/100 untuk tekanan darahnya.” ucap pasien tersebut. “Sudah semua Bu, silakan ditunggu ya. Nanti akan dipanggil berdasarkan antrian.” sambung perawat tersebut.


Keduanya lantas menunggu, Kanaya sembari mengamati beberapa ibu-ibu muda yang juga menunggu untuk melakukan pemeriksaan rutin. Wanita itu tiba-tiba tersenyum, saat melihat seorang wanita yang datang dengan perutnya yang sudah begitu membuncit. “Hamil itu lucu ya Mas, perutnya bisa bulat dan menyembul kayak gitu.” ucapnya sembari satu tangannya mengusap sendiri bagian perutnya.

__ADS_1


Bisma pun mengangguk, “Iya, seolah-olah perut manusia ini elastis ya Sayang … bisa mengembang dan mengecil.” sahut pria itu dengan lirih.


Setelahnya mulailah, nama Kanaya dipanggil. Mereka berdua bersama-sama memasuki ruangan pemeriksaan kehamilan itu.


“Selamat sore, dengan Ibu Kanaya ya? Perkenalkan saya Dokter Indri, spesialis kandungan di Rumah Sakit ini.” salam perkenalan dari Dokter Indri. (Sengaja Dokternya samaan dengan Dokternya Khaira ya^^)


“Halo, selamat sore, Dok … saya Kanaya.” ucap Kanaya memperkenalkan dirinya.


Melihat Dokter Bisma, Dokter Indri yang merupakan rekan sesama Dokter pun seakan terkejut. “Ibu, istrinya Dokter Bisma ya? Wah, keliatannya pengantin baru ini datang ke sini dengan membawa kabar baik nih.” ucap Dokter Indri sembari tersenyum kepada Bisma dan Kanaya.


Bisma pun mengangguk, “Iya Dok … saya mengantar Istri.” jawabnya dengan sejenak melirik pada wajah istrinya itu.


“Baik, kita akan periksa terlebih dahulu ya Bu … wah, saya jadi tidak enak karena memeriksa Istri seorang Dokter,” ucap Dokter Indri yang sungkan sebenarnya.


Sementara Kanaya kini mulai berbaring di atas brankar, seorang perawat membantu mengangkat kemeja yang dia kenakan, memperlihatkan perutnya yang masih rata di sana dan kemudian mengoleskan USG Gell yang memberikan kesan dingin di permukaan kulit di perut Kanaya.


“Kapan terakhir kali menstruasi, Bu?” tanya Dokter tersebut kepada Kanaya.


“Bulan yang lalu, tanggal 25, Dok.” jawab Kanaya.


Kemudian mulailah Dokter Indri menggerakkan Transduser dengan tangannya, gerakan memutar seolah mencari-cari organ yang dikirimkan oleh gelombang ultrasond dan terlihat di monitor USG. 


“Nah, ini dia. Masih kecil sekali ya Bu. Jadi kalau, kemarin Ibu melakukan test dengan menggunakan test pack dan hasilnya positif, maka benar Bu. Di Monitor Ibu bisa melihat ya, bagian kecil yang bergerak-gerak ini adalah janin Ibu, atau biasa disebut embrio. Tempat tumbuhnya janin ini disebut rahim, Bu.” ucap Dokter Indri yang menjelaskan begitu detail kepada Kanaya.


“Sekarang kita ukur ya Bu. Untuk panjang janin ini masih sangat kecil Bu, baru 2 milimeter. Kendati masih berukuran kecil, tetapi sistem dan struktur tubuh bayi mulai terbentuk, seperti jantung, otak, dan sumsum tulang belakang. Gejala kehamilan juga sudah mulai terasa ya Bu seperti mual, muntah, lemas, sering buang air kecil, pusing, perubahan suasana hati yang disebabkan oleh hormon kehamilan. Sejauh ini ada keluhan?” tanya Dokter Indri kepada Kanaya.


“Mungkin belum terlalu ya Dok, karena baru dua hari yang lalu testnya, cuma waktu itu merasa mual waktu mencium bau duren dan citronella saja Dok.” jawab Kanaya.


“Benar Bu, Ibu Hamil lebih sensitif indera penciumannya, jadi jika memang bau tersebut membuat mual dan muntah, sebaiknya dihindari. Nah, di kehamilan 5 minggu ini sebaiknya jangan naik turun tangga dulu ya Bu, karena embrio ini belum ada plasentanya, tunggu sampai janin benar-benar kuat dahulu. Jika mau berhubungan suami istri boleh, asalkan harus hati-hati jangan sampai terlalu banyak penekanan yang bisa memanipulasi mulut rahim.” penjelasan Dokter Indri kepada Kanaya.


Setelah selesai pemeriksanaan, Kanaya pun merapikan kemeja yang dia gunakan dan bergabung untuk duduk dengan suaminya di depan meja Dokter Indri.


“Sebenarnya seperti ini Dokter Bisma juga tahu, karena seorang Dokter sebelum mengambil program spesialisasi kan menjadi Dokter umum terlebih dahulu.” ucap Dokter Indri yang saat itu tengah menuliskan resep untuk Kanaya.


“Sebatas tahu saja Dok, tetapi kan tetap yang spesialisasi jauh lebih tahu.” jawab Bisma dengan sopan.


“Baik, saya resepkan penguat rahim untuk Bu Kanaya, vitamin, dan penambah darah. Di sini tekanan darah Ibu agak rendah, jadi harus ditambah dengan penambah darah ya Bu.” ucap Dokter tersebut sembari menyerahkan resep dan buku pemeriksanaan rutin kepada Kanaya.

__ADS_1


__ADS_2