
Di satu sisi, Kanaya masih terbaring di atas brankar di Rumah Sakit itu. Wanita itu terlihat memejamkan matanya, tetapi beberapa kali air mata berlinang begitu saja dari sudut matanya. Hati Bisma merasa begitu iba saat ini. Pria itu tengah terpuruk saat ini, kian terpuruk lantaran Kanaya yang tak sadarkan diri seperti ini.
“Ayo Sayang … bangunlah. Aku membutuhkan kamu,” ucap pria itu.
Sudah beberapa jam Bisma menunggu nyatanya Kanaya juga sama sekali tidak merespons. Dalam hatinya, Bisma berdoa kiranya Tuhan yang akan menolong putranya di luar sana, sementara dia juga memohon kepada Tuhan untuk menyembuhkan Kanaya.
Hingga beberapa jam berlalu, akhirnya jari-jari tangan Kanaya pun bergerak, itu hanya saja pupil matanya juga tampak bergerak. Jantung Bisma rasanya berdebar-debar kali ini dan berharap penuh bahwa istrinya itu akan segera sadarkan diri.
“Aksara … Mas Bayi Aksara …,” terdengar igauan lirih dari bibir Kanaya.
Ya, wanita itu masih memejamkan matanya, tetapi di alam bawah sadarnya rupanya masih terdapat memorinya akan Aksara. Putranya yang hilang, hingga sedih yang berlarut membuat wanita itu mengigau dengan begitu lirih dan terdengar pilu di telinga Bisma.
Kedua mata pria itu tampak berkaca-kaca, “Bukan hanya kamu yang sedih, Sayang … aku juga sedih. Aku juga mencari dan sangat merindukan Aksara. Sadarlah Sayang, dan kita akan mencari Aksara bersama-sama. Membawa putra kita pulang bersama-sama dengan kita,” ucap Bisma sembari menggenggam tangan Kanaya yang terasa dingin dalam genggamannya.
Waktu yang dinantikan pun tiba, perlahan-lahan kelopak mata Kanaya bergerak, sedikit demi sedikit terbuka hingga akhirnya wanita itu bisa melihat langit-langit putih di atas kepalanya. Pandangannya yang masih kabur, perlahan bisa menangkap sosok Bisma yang berada di depannya. Air mata Kanaya kembali berlinang.
“Mas … Aksara … Aksara kita,” ucap Kanaya dengan lemah. Suara itu terasa begitu menyayat hati seorang Bisma.
Bisma pun menggenggam tangan Kanaya, “Orang-orang kepercayaan Papa Jaya masih bergerak untuk mencarinya Sayang … segeralah sehat, kita akan turut mencari Aksara,” pinta Bisma kali ini.
Kanaya pun mengangguk, “Iya.” Hanya itu ucapan yang bisa diucapkan Kanaya saat ini,
Kurang lebih dua hari berada di Rumah Sakit, Kanaya sudah diperbolehkan untuk pulang. Kendati demikian, kesehatannya harus diperhatikan. Dokter mengatakan bahwa emosi yang dimiliki Kanaya harus dikelola dengan benar, jika tidak bisa mengarah ke depresi.
__ADS_1
Tiba di rumah, Kanaya segera memasuki kamar Aksara. Wanita itu tak kuasa menahan air matanya yang dengan begitu mudahnya berderai tiap kali mengingat tentang Aksara. Bisma segera mendekap istrinya itu dari belakang, memeluknya erat.
“Sabar Sayang … Aksara pasti berada di tempat yang aman,” ucap Bisma yang menguatkan hati istrinya. Selain itu, Bisma pun percaya bahwa saat ini Aksara berada di tempat yang aman.
Bisma berharap bahwa ada orang yang baik hati dan mau menolong Aksara. Semoga saja kali ini Tuhan masih berbelas kasihan kepadanya. Sehingga, sekali pun terpisah dari orang tuanya, tetapi ada orang-orang yang berbaik hati dan merawat Aksara.
“Kapan Aksara akan ditemukan Mas?” tanya Kanaya kini.
“Kita sama-sama berdoa ya Sayang … semoga Aksara segera ditemukan. Orang-orang kita dan dari Papa Jaya tetap melakukan pencarian terhadap Aksara. Aku juga akan mengunggah iklan di surat kabar terkait hilangnya Aksara,” jelas Bisma.
Kanaya pun mengangguk, “Iya Mas … aku berharap bahwa Aksara akan segera ditemukan,” sahut Kanaya.
Setelahnya, Bisma masih memeluk tubuh istrinya yang begitu rapuh itu, “Yuk, duduk dulu. Kamu mau makan? Aku akan menyuapi kamu,” tawar pria itu.
Membayangkan bagaimana putranya yang masih hilang, di luar sana apakah putranya mendapatkan tempat untuk berlindung, apakah putranya mendapatkan makanan untuk mengisi perutnya, apakah putranya mendapatkan susu untuk minumnya, benar-benar membuat Kanaya kian terpuruk dan rasa laparnya hilang begitu saja.
Kedua matanya kembali berkaca-kaca, “Kita di sini memiliki hunian yang bagus dan nyaman, tetapi bagaimana dengan Aksara? Kita bisa makan semua makanan yang sehat dan enak, tetapi apakah Aksara bisa mengisi perutnya sekadar dengan nasi satu suap?,” ucapnya. Tangis Kanaya kembali pecah.
“Aku kangen Aksara, Mas …,” aku Kanaya dengan tulus.
“Iya Sayang … aku juga,” ucap Bisma pada akhirnya.
Seolah tak bisa lagi menyimbunyikan perasaannya, Bisma pun turut meneteskan air matanya. Kabar Aksara sampai hari ini belum didapatkan. Hanya saja hatinya terus meminta kepada Allah semoga di mana pun Aksara berada, anaknya mendapatkan kasih sayang dari Allah, ada orang baik yang mau merawat Aksara.
__ADS_1
“Seorang istri yang kehilangan suaminya akan disebut janda. Sementara seorang pria yang kehilangan istrinya akan disebut duda. Anak pun jika kehilangan orang tuanya akan disebut yatim piatu. Akan tetapi, tidak ada kata untuk menyebut orang tua yang kehilangan anaknya karena kasih pedih yang mendalam yang dirasakan orang tua,” ucap Kanaya dengan terisak pilu.
Bisma pun mengangguk, “Iya Sayang … benar. Allah sedang menguji kita sekarang ini, aku percaya usai hari berselimut mendung ini, Allah akan berikan busur ajaibnya yang penuh warna untuk kita berdua,” ucap Bisma.
Sejoli itu saling memeluk dan berlinangan air mata. Di saat rapuh dan terpuruk keduanya saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Sekali pun air matanya terkuras habis, hatinya begitu pilu dan sesak, tetapi keduanya sama-sama ingin menguatkan satu sama lain. Menjalani hari penuh badai dalam hidup mereka dengan saling menguatkan.
Bisma menghela nafas panjang, dan dia menyeka air matanya sendiri. Setelahnya, dia menyeka air mata Kanaya, “Makan yuk Sayang … kita butuh kekuatan, butuh berpikir untuk mencari Aksara. Kita boleh sedih, tetapi harus berusaha,” ucap Bisma kali ini.
Kanaya pun mengangguk, ya apa yang diucapkan suaminya benar. Mereka perlu makan untuk mendapatkan kekuatan supaya bisa mencari Aksara. Mereka memerlukan nutrisi untuk bisa berpikir dengan jernih.
Bisma kemudian membawa Kanaya menuju meja makan, di sana sudah ada ART-nya yang menyiapkan nasi lengkap sayuran dan lauk. Bisma hanya mengambil satu piring, mengisinya dengan nasi putih, lauk, dan sayuran. Pria itu lantas mengambil sendok dan membawanya di depan bibir Kanaya.
“Ayo Sayang … aku suapin,” ucapnya.
Dengan menangis, Kanaya membuka mulutnya, menerima suapan dari tangan suaminya. Mengunyah makanan itu dengan air mata yang terus berderai. Melihat Bisma yang tidak makan, Kanaya lantas mengambil sendok yang lain, mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, kemudian menyuapkannya untuk suaminya.
Keduanya sama-sama menyuapi, sama-sama makan dengan air mata yang terus berlinangan. Segala rasa yang memenuhi dada tak bisa terbendung lagi.
“Aksara di sana bisa makan kan Mas?” tanya Kanaya tiba-tiba.
Bisma mengangguk samar, “Iya … Allah semoga mengirimkan orang baik yang mau memberikan makan dan tempat berteduh untuk Aksara kita,” jawabnya.
“Amin … Amin ya Allah,” seru Kanaya dengan pilu.
__ADS_1
Jauh di dalam hatinya, dia pun mengaminkan apa yang diucapkan oleh suaminya. Semoga saja ada orang-orang berhati malaikat yang akan menolong Aksara di luar sana. Tidak muluk-muluk, Kanaya berharap di mana Aksara berada, doa yang dia kirimkan kepada Allah akan didengarkan oleh Allah. Menjauhkan anaknya dari segala marabahaya dan mengumpulkan mereka bertiga kembali dalam keadaan yang sehat. Amin.