Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Figur Ayah dan Ibu


__ADS_3

“Bolehkah Aksara memanggil Om dan Tante dengan sebutan Ayah dan Ibu?” pertanyaan itu lolos juga dari bibir Aksara.


Anak yang berusia 4 tahun itu rasanya melihat figur Ayah dan Ibu dalam diri Khaira dan Radit. Sehingga anak berusia 4 tahun itu seakan terdorong untuk memanggil keduanya Ayah dan Ibu.


Khaira yang masih memangku Aksara pun tersenyum, “Iya boleh … jangan merasa sendirian ya Aksara, sekarang kamu memiliki Ayah dan Ibu. Kami akan mengunjungimu setiap bulan yah,” balas Khaira.


“Iya Ibu … terima kasih sudah mau menjadi Ibu bagi Aksara,” sahut Aksara.


“Nama kamu siapa Nak?” tanya Radit.


“Aksara Adhi Narotama, Ayah,” jawabnya.


“Wah, kamu memiliki nama yang bagus. Aksara mau sekolah tidak? Mulai masuk ke Playgrup dulu. Ayah dan Ibu akan menyekolahkan Aksara mau tidak?” tawar pria itu kepada Aksara.


“Mau - mau, Ayah. Aksara mau sekolah,” sahutnya.


Sebab anak-anak yang berusia 4 tahun bisa mulai memasuki pra TK atau Playgrup, Radit terdorong untuk bisa menyekolahkan Aksara. Tentu dengan bersekolah, setidaknya Aksara akan belajar untuk bermain dengan teman sebayanya karena di Panti Asuhan ini kebanyakan anak-anak sudah berusia SD. Selain itu, Aksara bisa belajar dengan baik.


Khaira lantas menatap suaminya itu, “Baru saja aku berpikir untuk menyekolahkan Aksara, tetapi kamu sudah berinisiatif duluan. Kita sekolahkan Aksara ya Mas, aku berdoa suatu hari nanti Aksara bisa menjadi anak yang berhasil dan mungkin dia bisa menemukan kembali orang kandungnya,” sahut Khaira.


“Benar Sayang … kita sama-sama sekolahkan Aksara ya,” balas Radit.


“Kenapa rasanya baru kali pertama bertemu, rasanya aku sayang sama Aksara. Aku berharap hidupnya akan berhasil di kemudian hari,” ucap Khaira lagi kepada suaminya.


Radit pun tersenyum dan menatap istrinya itu, “Iya … aku juga sayang sama dia,” balasnya.


“Ayah, Ibu … tadi Ayah dan Ibu membawa adik yah?” tanya Aksara dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Radit dan Khaira pun sama-sama mengangguk, “Iya Sayang … itu ada adik bayi. Kamu mau lihat?” tawar Khaira kepada Aksara.


Tidak disangka rupanya Aksara pun mengangguk, dia seakan begitu ingin melihat adik bayi itu. Khaira menggandeng tangan Aksara dan membawanya untuk mendekat ke bayi Arsyilla yang saat itu sedang berada dalam pangkuan Eyangnya.


Aksara tampak melihat dengan kagum bayi yang masih kecil itu, tangannya terulur dan menggenggam tangan Arsyilla.


“Namanya siapa Ibu?” tanya Aksara.


“Namanya Arsyilla Kirana Putri Raditya, kami memanggilnya Syilla,” balas Khaira.


Senyuman di sudut bibir Aksara pun mengembang begitu saja, “Hei Syilla … aku Kakak. Kakak Aksara,” sahut Aksara yang seolah-olah tengah memperkenalkan dirinya kepada Arsyilla bahwa dirinya adalah seorang Kakak.


“Tuh Syilla, kamu sekarang punya Kakak,” balas Radit.


Terasa lucu memang, tetapi sejak saat itu Radit dan Khaira memang menganggap bahwa Aksara adalah kakak bagi putri kecilnya itu. Lagipula, Aksara sendiri seolah tahu bahwa dirinya lebih besar dari Arsyilla, sehingga Aksara menyebut dirinya sendiri sebagai Kakak.


“Ada Ayah, ada Ibu, ada Adik Syilla, dan ada Kakak,” ucap Aksara dengan tiba-tiba.


“Benar Nak … kamu sekarang punya Ayah, Ibu, dan Adik. Walaupun Aksara tinggal di sini tidak apa-apa yah? Ibu berjanji akan sering-sering mengunjungi Aksara. Okey?” tanya Khaira.


“Iya okey … yeay, Aksara suka sekarang. Aksara punya keluarga. Aksara punya orang tua, punya Ayah dan Ibu,” teriaknya dengan senang.


Khaira lantas membuka kedua tangannya, seakan menjadi isyarat ingin memeluk Aksara. “Mau dipeluk Ibu?” tanyanya.


Tidak menunggu waktu lama, Aksara pun menghambur ke dalam pelukan Khaira dan memeluk wanita muda itu.


“Ibu … Ibu … sekarang Aksara punya Ibu,” ucap Aksara dengan masih memeluk Khaira.

__ADS_1


“Iya Nak … Ibu juga sekarang memiliki Aksara,” balas Khaira.


Setelah itu, Aksara kecil pun mengurai pelukannya dan berlari untuk mengambil camilan yang sudah disediakan. Aksara lantas duduk di dekat Arsyilla.


“Adiknya cantik ya Eyang?” tanya Aksara kecil kepada Bunda Dyah yang adalah ibu dari Khaira.


Wanita paruh baya itu pun tertawa, “Aksara sudah tahu anak cantik yah? Pinter yah Aksara,” balas Bunda Dyah.


“Iya … adiknya cantik,” balas Aksara lagi.


Dari jarak beberapa meter, Radit dan Khaira pun saling pandang. “Kasihan ya Mas, anak sekecil itu jauh dari orang tua kandungnya. Pasti orang tua kandungnya sedih banget jauh dari Aksara. Mana Aksara lucu dan cakep gitu,” ucap Khaira.


“Iya Sayang … semoga saja ya, jika Aksara memang masih memiliki orang tua, semoga dia segera bertemu dengan orang tuanya. Sekarang, kita sudah sepakat kan untuk menyekolahkan Aksara?” tanya Radit kepada istrinya.


“Iya … jika nanti Mas Radit keberatan, biar aku saja yang akan menyekolahkan Aksara. Lagipula, gajiku sebagai Dosen kan juga ada. Jadi, tidak masalah jika dipakai untuk sekolah Aksara,” ucap Khaira.


Khaira sendiri adalah seorang Dosen Teknologi Pendidikan di salah satu Universitas terbaik di Ibukota. Dia adalah lulusan S2 dari University of Manchester, usai lulus, pihak kampus menawarkan kepada Khaira untuk kembali ke kampus dan mengajar di sana. Sementara, Radit sendiri adalah seorang Auditor Keuangan yang kini bekerja untuk perusahaan Ayahnya yang bergerak di bidang Finance. Dulu, Radit adalah salah satu tim auditor di Jaya Corp. Akan tetapi, tidak berselang lama dari kasus korupsi dan suap yang menyeret nama Darren Jaya Wardhana, Radit memilih untuk resign dari Jaya Corp dan kemudian bekerja di bank.


Rumah tangga pasangan muda itu sendiri juga telah menghadapi berbagai badai cobaan, tetapi waktu seakan memulihkan keduanya. Membuat keduanya kembali bersama, hingga akhirnya mereka dianugerahi dengan seorang bayi mungil bernama Arsyilla.


“Tidak perlu Sayang … pakai gajiku saja. Lagipula, aku masih bisa jika menyekolahkan Aksara. Tenang saja, uangku juga uangmu,” balas Radit.


Dalam hatinya, Khaira pun merasa sangat bersyukur. Suaminya begitu baik, tidak mempermasalahkan perihal keuangan. Justru suaminya itu memiliki hati yang besar dan mau untuk menyekolahkan Aksara.


“Baik Mas … usai ini kita datang ke Bu Lisa dan menyampaikan niat baik kita. Selain itu, setiap bulan kita jenguk Aksara di sini ya Mas? Setidaknya dia tidak sendiri, dia sekarang punya kita berdua,” balas Khaira.


“Iya Sayang … hati kamu besar banget. Aksara di kemudian hari akan sangat bersyukur karena mengenalmu,” sahut Radit.

__ADS_1


Akan tetapi, Khaira segera menggelengkan kepalanya, “Tidak … untuk setiap kebaikan yang kita tabur, tidak perlu dikenang orang. Biarkanlah Allah yang akan mengingat dan memperhitungkannya. Aku hanya berdoa, Aksara di kemudian hari akan menjadi anak yang berhasil dan membanggakan. Amin,” sahut Khaira.


Di saat orang tua kandung Aksara berdoa dan memohon kepada Allah supaya mengirimkan orang-orang yang baik untuk anaknya, rupanya Allah mendengar doa Kanaya dan Bisma. Di lain tempat dan waktu, Tuhan menggerakkan hati Radit dan Khaira, pasangan muda itu seakan telah menyayangi Aksara dan ingin menyekolahkan Aksara. Tentu ini adalah jawaban doa yang dilantunkan Kanaya dan Bisma setiap harinya.


__ADS_2