
“Maafkan aku, Mas,” ucap Kanaya begitu dia sudah tiba di kamar suaminya.
Ada perasaan bersalah dalam hatinya lantaran tidak melakukan apa yang disampaikan Bunda Hesti barusan. Memang saat ini terjadi pergolakan dalam hatinya, tetapi tentu Kanaya memiliki pertimbangannya sendiri.
“Kamu tidak perlu minta maaf, Sayang … yakin saja, Bunda mengatakan barusan karena memiliki pertimbangan tersendiri. Tidak apa-apa,” balas Bisma.
Tanpa perlu waktu lama, Kanaya pun masuk ke dalam pelukan suaminya itu. Mencerukkan wajahnya dengan linangan air mata di sana ke dada bidang suaminya. Wanita itu terisak.
“Rasanya, aku seperti menantu yang durhaka dan tidak mengikuti apa yang menjadi keinginan mertuaku. Hanya saja, jujur … aku belum siap memiliki buah hati lagi. Semua rasa di dalam hatiku begitu bergejolak. Kehilangan Aksara membuatku ketakutan untuk memiliki anak jika pada akhirnya harus kembali kehilangan,” sahut Kanaya.
Ya, sebagai seorang Ibu yang kehilangan anaknya tidak bisa lagi dilukiskan bagaimana rasa sakit dan perih di dalam hatinya. Sebanyak apa pun air mata yang keluar, sebanyak apa pun malam-malam panjang yang dia lalui tanpa bisa memejamkan matanya, seolah tak cukup untuk menggambarkan bagaimana perihnya perasaannya kali ini.
Kanaya masih beruntung, sekalipun dia begitu tertekan, tetapi dia bisa bertahan. Jika tidak, mungkin saja Kanaya bisa mengalami gangguan jiwa. Tidak bisa lagi bangkit seperti sekarang ini, dan Kanaya akui bahwa dirinya bisa sampai di tahap ini karena suaminya. Ya, Bisma adalah pria yang begitu luar biasa bagi Kanaya. Pria itu yang terus memotivasi Kanaya untuk bangkit, menuntun Kanaya untuk lebih banyak mengadu dan bersandar kepada Allah semata. Tidak terbayangkan bagaimana jadinya jika bukan Bisma yang mendampinginya.
“Tidak Sayang … kamu pun hanya mengutarakan perasaanmu saja. Bunda memiliki pandangannya sendiri, kamu pun sama. Jadi, tidak masalah. Semua masalah bisa kita lewati bersama bukan?” sahut Bisma.
“Iya, Mas … terima kasih sudah selalu memahamiku. Di saat aku terlarut dengan kepedihanku pun, kamu selalu berdiri dan memahamiku. Bahkan di saat aku seolah tak memahamimu, kamu tetap berdiri di sampingku dan memahamiku dengan segala kekurangan dan kelemahanku ini,” ucap Kanaya.
__ADS_1
Kanaya menyadari bagaimana rumah tangganya yang berselimut kelabu sejak hilangnya Aksara. Ada hari-hari di mana Kanaya larut dalam kepedihan mendalam, ada hari-hari di mana rumah tangga keduanya tak lagi hangat, ada hari-hari di mana kepalanya terasa begitu pecah dan hatinya terasa begitu sesak, tetapi yang pasti sepanjang hari Bisma selalu berdiri di sisi Kanaya, mendampingi istrinya itu. Menerima semua kekurangan dan kelemahan Kanaya.
Bisma pun menggelengkan kepalanya perlahan, “Tidak masalah Sayang … bukankah aku sudah berjanji bahwa aku akan selalu berada di sampingmu, menemanimu. Aku akan buktikan semuanya itu. Dengan saling bergandengan tangan, kita akan bisa melewati semua ini. Percaya saja bahwa semu akan indah pada waktu-Nya,” balas Bisma.
“Maafkan aku yang penuh kekurangan ini. Maafkan aku karena terlalu larut dengan kepedihanku dan luka kehilangan ini membuatku abai dengan kewajibanku sebagai seorang istri,” sahut Kanaya.
Kanaya sangat sadar diri bahwa beberapa waktu terakhir, dirinya cukup abai. Beruntunglah Kanaya karena Bisma sangat sabar untuk mendampinginya. Bisma bukannya tidak menuntut, hanya saja menuntut di kala hati begitu pedih dan kalut, rasanya justru kian membuat istrinya itu tersungkur dalam lubang yang begitu dalam. Alih-alih menekan Kanaya, Bisma justru memilih untuk mengorbankan dirinya dan terus mendampingi Kanaya.
“Tidak Sayang … kamu tidak pernah abai. Aku menyadari bahwa kita masih memerlukan banyak waktu untuk menata hati dan pikiran kita. Tidak masalah, aku tidak pernah keberatan sama sekali. Asal bisa selalu bersamamu, menjalani hari-hari dengan saling memiliki seperti ini, sudah begitu cukup bagiku,” sahut Bisma.
Lagi-lagi Bisma menunjukkan bahwa pria itu begitu sabar, ya Bisma memiliki hati yang seluas samudra. Bisa menerima apa pun tentang Kanaya, bahkan pria itu pun tak pernah mengeluh. Bisma selalu memposisikan dirinya untuk mendukung istrinya.
Rasanya Kanaya begitu menyesal. Untuk semua itulah, Kanaya meminta maaf kepada suaminya saat itu juga. Selagi ada waktu untuk meminta maaf, maka Kanaya dengan tulus hati meminta maaf kepada suaminya itu.
“Iya Sayang … maafkan aku. Hanya ini yang bisa kulakukan. Aku masih belum bisa menemukan Aksara kita. Namun, aku berjanji bahwa aku akan segera menemukannya,” ucap Bisma dengan sungguh-sungguh.
“Iya Mas … kita akan terus mencari dan mendapatkan informasi mengenai Aksara. Semoga saja segera terdapat titik terang di mana putra kita berada,” sahut Kanaya.
__ADS_1
Bisma menghela nafasnya, tangannya bergerak untuk mengusapi punggung Kanaya. Ya, sekalipun hanya sentuhan dan pelukannya, Bisma sungguh berharap bahwa semuanya bisa melegakan Kanaya, sedikit mengurangi rasa sesak yang menghimpit Kanaya.
“Aku berharap, Aksara akan sehat dan bahagia di luar sana. Jika, nanti kita bisa bertemu dengan Aksara, aku sungguh berharap bahwa Aksara akan memiliki sifat dan karakter sepertimu. Kamu adalah pria yang sangat baik, begitu penyabar, dan seolah Tuhan menganugerahkan semua kebaikan dalam dirimu,” balas Kanaya.
Memiliki Bisma sebagai suaminya sungguh anugerah tersendiri bagi Kanaya. Untuk itu, Kanaya pun berharap bahwa putranya kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang mewarisi semua sifat dan karakter baik yang dimiliki oleh suaminya itu.
Perlahan Bisma pun tersenyum, “Kamu memujiku terlalu berlebihan Sayang … faktanya aku tidak sebaik itu,” sahut Bisma.
“Di mataku, kamu tetap yang terbaik, Mas,” sahut Kanaya dengan cepat.
“Aku berharap Aksara tumbuh menjadi pribadi yang baik tentunya, peka dengan orang di sekitarnya, dan paling penting dia bisa menjadi pria yang bertanggung jawab,” imbuh Bisma.
“Amin. Semoga saja. Huhh, rasanya aku selalu menghitung hari-hari yang berlalu. Bermimpi bahwa Aksara datang kepadaku, menghambur dalam pelukanku. Mas bayi Aksara sudah tidak bayi lagi, tetapi sudah besar pasti sekarang ini,” balas Kanaya.
“Iya Sayang … kita sama-sama menghitung hari bersama. Jika tidak hari ini berarti lusa, jika tidak luas ya berarti pekan depannya lagi, kita akan menunggu bersama. Okey?” Bisma menjawab.
“Iya Mas … selalu menunggu waktu terbaik itu dan berharap Aksara kita akan segera ditemukan. Amin,” balas Kanaya.
__ADS_1
Sungguh berharap menjadi support system bagi satu sama lain. Cobaan dalam hidup bisa datang dan silih berganti. Akan tetapi, suami dan istri bisa saling mengisi satu sama lain, mensupport, dan terus mendampingi. Dengan demikian, apa pun yang ada di depan, apa pun aral yang melintang bisa terus diatasi. Memiliki hati yang sama-sama terbuka, berpasrah kepada Allah, dan terus bertawakal dalam doa, sama seperti yang dilakukan Kanaya dan Bisma sekarang ini.