Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Wacana Cuti Panjang


__ADS_3

Tidak terasa waktu telah berjalan nyaris sudah sampai empat tahun waktu berlalu. Banyak yang telah terjadi. Akan tetapi, yang pasti Bisma dan Kanaya masih sama-sama menunggu di mana keberadaan putranya itu.


"Sayang, aku mau ke Singapura. Ada program lagi mengenai kedokteran yang mau ku ambil. Mau menemaniku ke sana?" tanya Bisma kepada istrinya itu.


Sebenarnya sudah beberapa hari terakhir, Bisma memikirkan perihal rencananya. Akan tetapi, melihat Kanaya dengan segala aktivitas dan pekerjaannya membuat Bisma harus mencari waktu yang tepat untuk bisa berbicara dengan Kanaya.


"Berapa lama Mas?" tanya Kanaya.


"Satu bulan. Gimana kamu mau enggak dampingi aku? Satu bulan saja," pinta Bisma.


Bisma berpikir bahwa jika Kanaya mengikutinya ke Singapura, sedikit waktu yang mereka lewati bersama bisa sedikit menyembuhkan luka di hati keduanya. Berharap kekosongan di hati keduanya akan benar-benar sembuh.


"Aku perlu membicarakan dengan Papa Jaya terlebih dahulu, Mas,” jawab Kanaya.


Sekalipun posisinya saat ini di Jaya Corp terbilang tinggi yaitu sebagai Direktur Keuangan, tetapi mengambil cuti untuk satu bulan agaknya perlu berbicara dengan sang CEO terlebih dahulu. Bagaimana pun, Papa Jaya memiliki pertimbangan lainnya.


Bisma pun mengangguk. Sebab, Bisma sendiri tidak ingin menekan istrinya itu, terlebih lagi Bisma tahu bahwa Kanaya tetap merasakan terguncang secara mental. Untuk itu, Bisma lebih memilih menunggu dan membiarkan istrinya itu untuk menentukan pilihannya.


“Iya … aku tunggu keputusan kamu. Apa pun keputusan kamu, aku menerimanya,” balas Bisma.

__ADS_1


Kanaya pun mengangguk dan menatap suaminya itu, “Iya Mas … makasih banyak. Besok aku perlu mengobrol dengan Papa Jaya terlebih dahulu,” sahut Kanaya.


***


Keesokan Harinya …


Menjelang makan siang, Kanaya berjalan menuju ruangan CEO Jaya Corp yang tak lain adalah Papa Jaya. Kali ini, Kanaya datang untuk menyampaikan tujuannya mengambil cuti besar kurang lebih satu bulan penuh. Begitu sampai di depan ruangan Papa Jaya, Kanaya pun mengetuk pintu itu perlahan.


“Masuk,” sahutan dari dalam ruangan yang tak lain adalah suara dari Papa Jaya yang mempersilaka Kanaya untuk masuk.


“Siang Pa,” sapa Kanaya kepada Papa Jaya.


“Iya, Naya … ada apa?” tanya Papa Jaya.


“Begini Pa … ada yang ingin Naya sampaikan,” balas Kanaya.


Hingga akhirnya Papa Jaya mengangguk dan menyuruh Kanaya untuk menyampaikan maksud kedatangannya siang itu ke ruangannya.


“Pa, bolehkah Naya mengambil cuti besar selama satu bulan? Naya ingin mendampingi Mas Bisma ke Singapura selama satu bulan. Rasanya, Kanaya egois jika memilih cuti besar di saat pekerjaan di Jaya Corp sedang begitu banyak, tetapi yang Naya miliki sekarang hanya Mas Bisma dan Naya ingin selalu mendampinginya,” cerita Kanaya.

__ADS_1


Papa Jaya pun mendengarkan cerita Kanaya, mencoba melihat dari sisi Kanaya. Memang bahwa hanya Bisma yang Kanaya miliki saat ini. Papa Jaya sangat tahu akan hal itu. Akan tetapi, bagian finansial di perusahaan itu terlalu penting. Maka dari itu, Papa Jaya akan menawarkan opsi lainnya kepada Kanaya.


“Bagaimana jika bekerja jarak jauh saja, Naya? Sekarang semua terkoneksi dengan internet. Dari Singapura saja, kamu bisa tetap bekerja jarak jauh. Bagaimana?” tawar Papa Jaya.


"Namun, Kanaya tidak di Jakarta, Pa … selama sebulan, Naya akan tinggal di Singapura dan mendampingi Mas Bisma di sana," balas Kanaya lagi.


"Iya Papa tahu… tidak masalah kamu berada di Singapura. Internet memangkas semua jarak itu. Lagipula, untuk rapat Dewan Direksi, kamu juga bisa mengikutinya secara online. Bagaimana?" tawar Papa Jaya.


"Apa tidak masalah Pa?" tanya Kanaya lagi.


Sejujurnya, Kanaya terlalu sungkan. Terlebih dia tidak enak apabila dinilai mendapatkan semua privileged itu karena kedekatannya dengan CEO Jaya Corp. Lagipula, Kanaya juga tidak keberatan jika pada akhirnya harus mengambil cuti besar.


Papa Jaya pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Tidak apa-apa Naya … justru bagus. Lingkungan yang baru bisa mengobati kepedihan hatimu. Jangan khawatirkan tentang Aksara karena orang-orang kepercayaan Papa tetap mencarinya," ucap Papa Jaya.


Mendengar ucapan Papa Jaya, Kanaya pun tersenyum kecut. Wanita itu menundukkan kepalanya perlahan, "Sudah empat tahun berlalu, Pa … mungkinkah Aksara akan ditemukan," sahut Kanaya dengan lirih.


"Jangan putus harapanmu, Naya … selama apa pun itu, Papa janji akan menemukan Aksara bagimu. Percaya saja." Papa Jaya menjawab dan menegaskan bahwa sebanyak apa pun waktu yang mereka butuhkan, Papa Jaya akan tetap berusaha untuk bisa menemukan Aksara kembali.


"Iya Pa … Kanaya dan Mas Bisma akan selalu menunggu saat-saat itu," balasnya.

__ADS_1


Usai membicarakan terkait keputusannya mengambil cuti besar, Kanaya pun berpamitan dengan Papa Jaya. Tinggal nanti sore dia akan menyampaikan kepada Suaminya secara langsung. Kanaya yakin pasti Bisma akan begitu bahagia karena dirinya justru tidak perlu cuti besar, tetapi bisa bekerja jarak jauh dari Singapura.


__ADS_2