
Pihak petugas rumah tahanan rupanya tidak hanya menghubungi keluarga Wardhana, tetapi petugas rumah tahanan juga memberitahukan bahwa Darren yang sedang sakit itu kepada Sandra. Hal itu dilatar belakangi karena Sandra adalah sering kali datang ke rumah tahanan untuk mengunjungi Darren. Oleh karena itu, wanita itu juga mengetahui bahwa Darren sedang dirawat di rumah sakit.
Saat mendapatkan kabar tersebut, sebenarnya Sandra ingin segera berlari ke rumah sakit untuk menjenguk Darren dan memastikan kondisi dari pria itu. Akan tetapi, karena hari ini dirinya masih ada sessi pemotretan, maka Sandra pun mengurungikan niat. Mungkin keesokan harinya atau lusa, dia akan mencari waktu untuk mengunjungi Darren.
***
Dua Hari Kemudian …
Merasa bahwa hari ini, Sandra tidak ada sessi pemotretan maka wanita itu berniat untuk bisa mengunjungi Darren di rumah sakit. Sandra datang tidak dengan tangan kosong, tetapi dia membawa buah-buah di tangannya. Setidaknya buah-buah kaya dengan vitamin dan mineral yang baik untuk menyembuhkan kondisi Darren.
Begitu sampai di rumah sakit, Sandra berjalan perlahan menuju kamar tempat Darren dirawat. Wanita itu memasuki kamar Darren setelah lebih dulu mengabarkan kepada petugas rumah tahanan perihal hubungan dengan pasien. Sehingga, Sandra pun diizinkan untuk masuk.
“Hei, Darren … kamu sudah lebih baik?” sapanya kepada Darren yang masih terbaring di atas brankar.
Jika dua hari yang lalu saat Mama Sasmita datang, kondisi Darren sangat lemah. Kali ini, pria itu sudah lebih sehat. Dengan semakin membaiknya kondisi Darren, maka akan semakin dekat pula waktunya untuk kembali ke hotel prodeo. Tempat yang dingin, dan juga jauh dari keluarga. Dia harus kembali layaknya ke tempat pengasing.
“Kamu datang?” tanyanya kali ini kepada Sandra.
Sandra mengangguk, dan wanita itu mengambil tempat duduk di tepi brankar Darren. “Iya, sudah pasti aku akan datang. Maaf baru datang, karena dua hari ini pekerjaanku banyak,” ucapnya sembari tangannya bergerak untuk menyentuh tangan Darren yang tidak dipasangi selang infus.
“Aku peduli padamu, Darren … aku masih sayang kamu, karena itulah aku datang,” lanjutnya kembali berbicara dan menatap Darren.
Pria itu pun tersenyum kecil, tidak menyangka jika Sandra akan datang untuk menjenguknya. Ada rasa yang seolah mengetuk hatinya, sebuah perasaan yang menyadarkan bahwa ada seseorang yang mempedulikannya dan juga menyayangimu. Seolah rasa yang dahulu tertimbun, perlahan kembali menyeruak ke permukaan.
“Makasih ya,” ucapnya yang masih membiarkan Sandra untuk menggenggam tangannya.
Sandra mengangguk dan tersenyum. Perasaannya pun lebih senang karena Darren kali ini lebih lembut, dibandingkan yang biasanya. Tidak dipungkiri, Sandra pun cukup bahagia dengan perasaan sikap Darren.
“Aku kangen kamu, Darren.” Sebuah kalimat pernyataan itu keluar begitu saja dari bibir Sandra. “Boleh, aku memeluk sebentar?” tanyanya kepada pria yang dahulu adalah kekasihnya dan sekaligus partner ranjangnya itu.
__ADS_1
Tidak disangka, rupanya Darren pun mengangguk. Maka, tidak membutuhkan waktu lama Sandra segera mendekat dan memeluk tubuh pria itu. Sekalipun, tubuh Darren lebih kurus, tetapi tidak dipungkiri kembali ke pelukan Darren selalu dirindukan oleh Sandra.
Sementara Darren sendiri, sekian lama baru kali ini dia merasakan sebuah pelukan dari lawan jenis. Lebih berbahaya, karena sebatas pelukan dan berbalut dengan aroma vanilla yang manis dari tubuh Sandra membuat Darren memejamkan matanya, tanpa sengaja pria itu justru mengecup bagian pundak dan sisi leher Sandra.
Masih terlintas dalam ingatannya, bahwa dulu aroma vanilla yang begitu harum dan menampilkan sisi feminim seorang Sandra sangat memabukkannya, dan kali ini lagi-lagi agaknya aroma vanilla itu menghipnotisnya.
Merasa bahwa Sandra diam dan tidak menolaknya, maka Darren mengikis pelukan wanita itu dan segera menyambar bibir merah Sandra. Menciumnya begitu menggebu dan dengan napas yang memburu. Berbalut kehampaan dan tanpa sentuhan nyaris 2 tahun waktu berjalan, kali ini agaknya Darren benar-benar gila.
Bukan sekadar ciuman di bibir, tetapi tangannya yang tidak terpasang selang infus juga bergerak untuk meraba puncak bukit Sandra yang begitu pas di dalam genggamannya. Remasannya kencang, hingga membuat wanita itu memekik.
“Darr,” ucapnya di sela-sela, invansi yang dilakukan Darren atasnya.
“Naiklah di sini,” perintah Darren sembari menepuk pahanya, meminta Sandra untuk menaiki pahanya. Duduk di pangkuannya.
Sandra menggeleng, “Tidak, di luar ada petugas yang berjaga.” jawabnya.
“Kuncilah pintunya dari dalam sebentar, sepuluh menit saja,” pintanya kali ini dengan pikirannya yang sudah menggelap. Seakan pria itu tak mampu berpikir jernih lagi.
“Naiklah kemari …”
Lagi Darren menginstruksikan kepada Sandra untuk naik di pahanya, dalam pangkuannya.
Wanita saat itu tengah mengenakan midi dress pun mengangguk, dengan segera dia menaiki paha Darren, berusaha supaya dia tidak menyakiti pria itu.
Kembali Darren menyambar bibir Sandra dengan hasrat yang kian menggebu, menggigit bibirnya, dan memperdalam ciumannya dengan satu tangannya yang bebas bergerak meraba dan meremas gundukan buah persik milik Sandra.
Seolah waktu yang mereka miliki singkat, tidak bisa berlama-lama. Tangan Darren turun, menginvansi lembah yang berada di bawah sana. Membawa tiga jarinya untuk mengusap dan keluar masuk dengan titik pusat yang berada di bawah sana. Hingga kemudian, terjadilah penyatuan yang tidak direncanakan sebelumnya.
Di atas brankar rumah sakit, dengan satu tangan yang terpasang selang infus, hanya menurun ****** ***** mereka, keduanya bersatu. Waktu yang singkat bukan berarti hubungan itu tidak bisa dilakukan. Justru dalam waktu yang singkat itu, seolah kabut menyelimuti keduanya, membiarkan hasrat yang bergelora seolah tak mampu tertahan lagi.
__ADS_1
***
15 Menit kemudian …
Sandra merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan juga mengenakan kembali celana renda yang semula hanya menggantung di satu kakinya. Pun sama halnya dengan Darren, yang menarik ke atas celana training berwarna abu-abu yang kali ini dia kenakan. Kegiatan tergila yang pernah Darren lakukan. Tidak menyangka dia akan melakukan hubungan itu di atas brankar rumah sakit.
Rasanya akal pria itu benar-benar hilang, gila. Definisi yang terbantahkan dari keduanya. Hanya membutuhkan waktu 15 menit dan pergulatan panas itu terjadi.
Usai hubungan yang seharusnya tidak terjadi itu, Sandra kembali mengendap-endap dan membuka kunci pintu kamar Darren. Wanita itu kemudian kembali duduk di tepi brankar Darren.
Pria itu menatap Sandra yang kali ini menunduk, bingung mengekspresikan bagaimana seharusnya bersikap. Untuk mencairkan suasana, Darren kembali membuka suaranya.
“Terima kasih,” ucapnya kali ini.
Apabila dulu, usai pergulatan panas di ranjang, Darren akan mengucapkan ‘I love you’, kali ini dia hanya mampu mengucapkan terima kasih saja.
Sandra mengangguk, “Iya,” jawabnya singkat dan tak mampu lagi berbicara.
Apakah ada perasaan malu? Ya, tentu saja Sandra malu.
Namun, sentuhan Darren masih sama seperti sebelumnya. Hanya satu sentuhan, sudah cukup membuatnya limbung. Hanya satu kecupan dibibir, sudah cukup membuatnya terombang-ambing hingga terbawa arus.
Menyadari bahwa kini yang tersisa adalah kecanggungan semata, maka Sandra berniatan untuk berpamitan. Lain waktu, dia akan mengunjungi Darren di rumah tahanan.
"Baiklah, aku pamit ya Darren," ucapnya dengan mencoba bangkit dari tepian brankar yang Darren tempati.
Akan tetapi, Darren seolah menahan tangan Sandra, membuat wanita itu enggan bergerak hingga dia kembali menoleh Darren.
"Ada apa?" tanyanya perlahan.
__ADS_1
Darren kian menarik tangan Sandra, membuat wanita itu menunduk dan melabuhkan sebuah kecupan di pipinya. "Hati-hati di jalan … makasih sudah menjengukku. Makasih untuk hari ini," ucapnya dengan berbisik di sisi telinga Sandra.