Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Marry Me?


__ADS_3

Tiga Bulan kemudian …


Tanpa memberitahu Kanaya bahwa Bisma datang dari Singapura di sela-sela liburan karena ada tanggal merah, pria itu langsung menuju ke rumah Kanaya. Pria itu berniat mempersiapkan acara kejutan untuk Kanaya. Sebab mereka sudah menjalani hubungan jarak jauh antara Jakarta - Batam selama tiga bulan lamanya. Menunggu tiga bulan lagi saat program studinya selesai, Bisma berniat untuk melamar Kanaya secara langsung.


Memang Bisma akui bahwa dia bukan tipe pria romantis. Dia adalah pria biasa dengan kesibukan tinggi. Oleh karena itu, untuk pertama kali dalam hidup, dia akan mencoba melamar Kanaya dan bersikap seromantis mungkin. Berharap lamarannya kali ini akan berhasil.


Dengan dibantu oleh EO, Bisma memasang lampu-lampu di rumah Kanaya, memesan sebuah bunga Mawar Putih, dan juga kue yang akan melengkapi acara spesialnya malam itu. Sembari menunggu waktu Kanaya pulang dari kantor, Bisma berhasil menyulap ruang tamu di rumah Kanaya dengan lampu dan juga dekorasi bunga-bunga. Pria itu tersenyum lega melihat suasana ruang tamu yang terlihat romantis.


Menjelang waktu di mana Kanaya akan tiba di rumah, dan tinggallah Bisma seorang diri di rumah Kanaya itu. Pria itu merapikan penampilannya, dan yang lucu justru dia kini mengenakan jas putih kedokterannya yang biasa disebut “snelli” itu, tidak lupa Bisma mengalungkan stetoskop di lehernya. Merasa penampilannya sudah siap, dan seikat bunga Mawar Putih dalam genggamannya, pria itu menunggu dengan cemas, berharap kejutannya kali ini bisa menyentuh hati Kanaya.


Menjelang jam 18.00 dan hari nampak petang, ternyata Kanaya tiba. Terdengar mobil yang terparkir di garasi, dan Bisma pun berdiri. Lampu-lampu hias pun sudah dia nyalakan, tinggal menunggu wanita pujaannya untuk tiba. Dalam penantian itu, Bisma memilih memunggungi pintu. Saat daun pintu terbuka, barulah dia akan membalikkan badannya.


Sementara di luar sana, Kanaya seperti biasa memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, kemudian seolah tidak curiga, dia berjalan perlahan, tangannya bergerak untuk membuka pintu. Betapa terkejutnya dia saat melihat ruang tamunya yang telah berhias sedemikian rupa, seakan tak percaya, Kanaya menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. Hingga perlahan Bisma membalikkan badannya dan berjalan tegap dan penuh percaya ke hadapan Kanaya.

__ADS_1


Pria itu memberikan senyuman, Snelli yang dia kenakan, lengkap stetoskop di lehernya membuat Kanaya takjub bukan kepalang. Si Dokter tampan itu nyatanya sudah tiba dan sama sekali tidak memberinya kabar. Perlahan Bisma menatap Kanaya dengan begitu lekatnya, “Nay … kamu tahu, kalau pria yang berdiri di hadapanmu ini bukanlah pria yang romantis. Akan tetapi, pertama kali dalam hidup, aku berusaha bersikap romantis dan berharap semua ini bisa menyentuh hatimu.” ucap Bisma perlahan, kemudian mengambil napas sejenak guna memenuhi pasokan suplay oksigen di paru-parunya.


“Aku seorang Dokter, Nay … orang berkata bahwa profesi Dokter itu mulia, tetapi bagiku lebih mulia jika kamu yang mendampingi pria ini. Aku seorang Dokter, Nay … dalam hidupku, aku memberikan bagian dalam hidupku untuk melayani orang lain, tetapi di sepanjang hidupku izinkan aku melayanimu. Aku seorang Dokter, Nay … mungkin saja waktuku akan banyak tersita untuk pasienku nanti, dan bisa saja aku bertugas di waktu-waktu yang cukup urgent, tetapi di semua waktu yang kumiliki, aku ingin kamu yang mengisi waktu dan hari-hariku. Sebagai Dokter, stetoskop ini yang akan sering kali mengalung di leherku dekat dengan arteri karotis, tetapi kamu akan aku tempatkan di lobus hepar, hatiku yang terdalam. Jadi, will u marry me, Kanaya Salsabilla?” tanya Bisma yang kali ini justru hatinya berdegup kencang.


Sudah pasti, pria itu harap-harap cemas mendengar jawaban dari Kanaya. Pria yang sejak tadi mengutarakan kata-katanya dengan menatap wajah Kanaya yang sudah berderai air mata, kini justru pria tampan ber-snelli itu mulai menundukkan wajahnya. Jika ada satu jawaban yang dia tunggu, sudah pasti itu adalah jawaban dari Kanaya. Akan tetapi, dalam penantiannya di mana setiap detiknya seolah berjalan begitu lambat, yang terdengar justru isakan tangis Kanaya.


“Yes, I will marry u, Dokter Bisma ….” Kanaya menjawab dengan bibir yang bergetar.


Tidak bisa dibayangkan lagi bagaimana respons Bisma sekarang ini. Pria itu menghela napas panjang, merasakan lega di rongga paru-parunya, jika barusan dia berkata menempatkan Kanaya di lobus heparnya, yang terjadi justru hatinya justru bekerja melebihi ambang batasnya. Pria itu kemudian mengeluarkan satu tangannya yang sejak semula dia sembunyikan di balik punggungnya. Menyerahkan bunga yang sudah dia persiapkan sebelumnya kepada Kanaya.


Menerima bunga Mawar putih itu, Kanaya lantas memeluk Bisma, membiarkan tangisan dan isakannya pecak. Tangis air mata yang tentu menjadi bukti bahwa dirinya kini tengah berbahagia.


Bak gayung bersambut, Bisma pun merengkuh tubuh Kanaya yang bergetar karena isakan tangisannya. Memeluk dan mengusap lembut punggung wanita yang dicintainya itu. “Thanks Nay … sudah menerimaku.” ucap Bisma dengan begitu lembut.

__ADS_1


Mengurai pelukannya, kemudian Bisma mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dari saku bagian dalam Snelli berwarna putih bersih yang saat ini dia kenakan. Membuka kotak berwarna merah di sana, hingga terlihat sebuah cincin bertahtakan berlian di sana. Kemudian pria itu berlutut di depan Kanaya, dan dia menyematkan cincin yang indah itu di jari manis Kanaya. Sebuah cincin yang menjadi simbol bahwa Kanaya telah menerima dirinya dan cintanya, sekaligus bahwa mereka tinggal menghitung waktu yang dijanjikan Bisma untuk meminangkan usai dia lulus dari program spesialisasinya.


Dengan masih berlutut, Bisma pun berkata, “Cincin ini aku sematkan di jari manis sebelah kiri kamu, sebuah simbol ikatan cintaku. Sama lingkaran cincin ini yang bulat dan tak bertepi, begitu juga perasaanku kepadamu, Naya. Perasaan ini nyata, tulus, dan tak bertepi.” usai berbicara dan menyematkan cincin itu di jari manis sebelah kiri Kanaya, perlahan Bisma melabuhkan sebuah kecupan di punggung tangan gadis itu. Hingga perlahan, Bisma pun berdiri dengan masih menggenggam tangan Kanaya, “Aku cinta kamu, Naya ….”


Sudah pasti bahwa ini adalah pengakuan cinta yang begitu tulus dan jujur, kata cinta yang mulai sering diucapkan Bisma kepada Kanaya. Kata cinta yang mewakili besarnya perasaannya untuk wanita yang berdiri di hadapannya.


Tanpa berpikir panjang, Kanaya yang masih berderai air mata, menjatuhkan dirinya dalam pelukan Bisma. Gadis itu pun terisak, “kenapa sih bersamamu momen dramatis dan romantis selalu beriringan? Senang banget, membuatku menangis sampai kayak gini.” ucapnya sembari beberapa menjatuhkan pukulan ringan di dada Bisma.


Pukulan ringan yang tentunya tak seberapa, pukulan yang justru membuat Bisma tertawa dan makin mengeratkan pelukannya. “Sebab, kadang kala air mata itu mewakili perasaan bahagia, Nay … aku ingin saat kamu bersamaku, apa pun momennya, kuharap kamu akan bahagia. Terima kasih Naya, sudah mau menerima Dokter ini. Akan tetapi, Nay … sebelum kita menikah, bisa kamu mengganti kata panggilanmu buatku? Masak kamu akan terus-menerus memanggilku Dokter sih?” Tanya Bisma sembari tertawa.


Sebab faktanya selama tiga bulan menjadi jalin, Kanaya masih sama memanggil Bisma berdasarkan profesinya. Merasa enggan untuk memanggi Bisma dengan namanya saja, atau dengan panggilan sayang layaknya pasangan muda pada umumnya.


Kanaya lantas mengurai pelukannya, dia menatap wajah Bisma dengan memincingkan matanya, “aku belum terbiasa, lagipula bagaimana bisa aku memanggil Dokter ini dengan panggilan yang lain.” ucap Kanaya yang mengakui memang dirinya belum terbiasa.

__ADS_1


“Panggil Bisma aja, Nay … atau memanggilku yang lain juga boleh. Saat SMA, kamu memanggilku Adi bukan? Panggil Adi juga boleh.” ucap Pria yang seolah benar-benar meminta supaya Kanaya mengganti panggilannya.


Namun, Kanaya justru menggelengkan kepalanya, “kalau sudah waktunya tepat, aku akan memanggil kamu dengan nama kamu. Sekarang biarlah aku tetap memanggilmu, Dok. Lagian, lamaran seorang Dokter memang beda ya, lengkap dengan Snelli dan Stetoskop. Harusnya bawa tensimeter dan alat-alat kedokteran lainnya, biar makin kerasa atmosfernya.” candanya sembari kembali tertawa melihat sosok Dokter yang baru saja melamarnya tersebut.


__ADS_2