
“Dua minggu lagi kamu akan memberikanku jawaban kan Nay …,” sebuah kalimat yang diucapkan oleh Bisma benar-benar tidak mampu membuat Kanaya berkata-kata. Bahkan otaknya terasa sangat sukar untuk mencerna ucapan pria yang berprofesi sebagai Dokter di hadapannya itu.
Perlahan satu tangan Bisma terulur, dia memindahkan koper di tangan Kanaya ke dalam tangannya, dengan maksud mendorongkan koper itu. Kemudian pria itu menunduk, melihat tangan Kanaya yang kosong, pria itu dengan cepat menautkan tangannya dalam genggaman tangan Kanaya, “Ayo, aku antar sampai ke pintu keberangkatan,” ucapnya sembari menarik tangan Kanaya, sehingga dua kaki gadis itu pun bergerak melangkah mengikuti Bisma.
Entah dorongan dari mana, tetapi Bisma terlihat begitu tenang saat menggenggam tangan Kanaya. Sementara Kanaya sendiri, hanya mau mengikuti derap langkah pria yang kini berjalan di depannya itu. Berniat protes pun, rasanya tidak bisa.
Hanya beberapa meter saja, mereka berdua berjalan dan sekarang, Kanaya telah tiba di depan pintu keberangkatan dengan papan besar yang memuat sejumlah daftar kedatangan dan keberangkatan pesawat itu, Bisma kemudian melepaskan genggaman tangannya, “sekarang, kamu boleh masuk, Nay … jangan sampai ketinggalan pesawat. Dua minggu lagi, kita akan bertemu lagi.” ucap pria itu sembari mempersilakan Kanaya untuk segera memasuki pintu keberangkatan dan melakukan cek.
Dengan perlahan, Kanaya mendorong kopernya dan memasuki pintu keberangkatan itu, tetapi beberapa langkah Kanaya berjalan, Bisma kembali memanggil nama Kanaya, “Naya … safe flight ya … take care. See U.” Bisma mengucapkan perkataannya sembari melambaikan tangannya kepada Kanaya.
Di sisi lain, Kanaya hanya menganggukan secara pias dan kemudian dia terus berjalan. Dia tidak mengetahui jika di belakangnya ada Bisma yang masih berdiri di tempatnya, menunggu hingga punggung wanita yang dicintainya tidak terlihat lagi. Dalam hatinya, pria itu hanya berharap waktu dua minggu saat kuliahnya libur, dia bisa pulang ke Jakarta dan bisa mengenalkan Kanaya kepada kedua orang tuanya.
Aku tahu, kamu masih ragu, Nay … tetapi, aku yang akan berusaha dan membuktikan bahwa seorang janda pun layak untuk mendapatkan cinta, bukan hanya luka. Sampai jumpa lagi, Nay … kali ini, kita akan benar-benar bersua di Jakarta.
__ADS_1
...🍁🍁🍁...
Beberapa hari setelah Kanaya tiba di Jakarta, Kanaya cukup dibuat kaget dengan kiriman beberapa bunga di kantornya. Gadis itu rasanya begitu malu, saat harus menerima kiriman beberapa bunga. Ada bunga Mawar Merah, Tulip, dan juga Krisan. Dalam hatinya, Kanaya berpikir siapakah orang yang mengirimkannya bunga secara misterius. Akan tetapi, Kanaya tidak bersuka hati begitu saja, gadis itu justru memasang mode siaga, karena kurir pun tidak menyebutkan siapa orang yang secara tiba-tiba mengiriminya bunga.
Hingga sore, setelah jam kerja telah usai, Kanaya berniat untuk pulang tepat waktu. Akan tetapi, dia cukup terkejut saat melihat Darren yang seolah menunggu di depan mobilnya. Pria itu membawa seikat Mawar Merah di tangannya dan tersenyum kepada Kanaya. Di satu sisi, Kanaya hanya memasang wajah datarnya, sekadar membalas senyum dari mantan suaminya itu pun tidak. Hingga perlahan Darren sedikit melangkah kakinya, dan kini pria itu berada tepat di depan Kanaya, “Bagaimana kabarmu, Nay?” Tanya sembari menyerahkan seikat Mawar Merah di tangannya.
Akan tetapi, Kanaya hanya menatap Darren, gadis itu seolah tidak bergeming dengan seikat Mawar Merah yang disodorkan pria itu, “Ada apa?” Tanya Kanaya, gadis itu terlihat begitu tidak bersahabat, cara bicaranya pun terkesan ketus.
“Kamu sudah menerima semua bunga dariku? Jadi bunga apa yang kamu sukai?” Tanya Darren sembari menatap wajah Kanaya.
Anggukan disertai senyuman ditunjukkan pria itu kepada Kanaya, “Ya, itu dariku. Jadi, bagaimana Nay? Apa kamu mau memaafkanku dan kita bisa memulai semua dari awal.”
Bagi Kanaya, ucapan Darren tak ayal hanya bualan semata. Bagaimana bisa, hatinya berbalik dalam sekejap. Bahkan sebelum kasus korupsinya pun, pria di hadapannya itu masih saja menabuh genderang perang dengannya. Bagi Kanaya, apa pun yang dilakukan Darren sekarang ini sangat tidak logis.
__ADS_1
Kanaya menggelengkan kepalanya, “Sorry to say, sayangnya aku tidak pernah ingin rujuk denganmu. Dalam mimpi pun aku tidak mau.” Kanaya menjawab dengan menatap tajam kedua bola mata Darren.
“Ayolah Nay … aku benar-benar serius. Aku menyadari setiap kesalahan yang pernah kulakukan. Aku menyadari jika sebenarnya aku cinta kamu, Nay.” pengakuan cinta itu akhirnya keluar begitu saja dari mulut seorang Darren Jaya Wardhana.
Kanaya justru hanya berdecak sembari menggelengkan kepala, “Ckck … sayangnya aku sudah menutup semua pintu. Begitu mudahnya kamu berkata cinta setelah semua luka yang kamu berikan padaku. Bagiku, cinta itu tidak buta dan tidak tuli. Kedua mataku ini yang menjadi saksi bagaimana kamu memperlakukan aku dahulu dengan begitu kejam, dan telingaku ini juga menjadi saksi bagaimana kamu merundungku hampir setiap hari selama 60 hari lamanya. Cinta tidak buta dan tidak tuli. Bahkan jika orang akan benar-benar menjadi bodoh karena jatuh cinta, maka aku akan menolaknya. Kembali padamu adalah salah satu yang kutolak dalam hidupku.” jawabnya dengan begitu tegas.
Berusaha meyakinkan Kanaya, Darren pun kembali menyodorkan seikat Mawar merah itu kepada Kanaya, “sekalipun aku berusaha, Nay? Apa tidak mungkin satu pintu terbuka?” Tanyanya kepada Kanaya.
“Tidak, kembali dengannya hanya akan membenamkan diriku kembali ke dalam lumpur hidup. Aku tidak sudi.” sahut Kanaya dengan cepat.
Di saat Darren hendak kembali berbicara, ternyata ada seorang petugas kepolisian yang mendatangi Jaya Corp tanpa mengenakan seragam. Dengan cepat, beberapa polisi yang menyamar itu, seolah menyergap Darren dengan tiba-tiba, “Maaf … Pak Darren, Anda kami tangkap. Karena hasil penyidikan kasus suap yang dilakukan oleh wakil direktur Anda ternyata ada sangkut pautnya dengan Anda. Silakan ikuti kamu ke kantor kepolisian sekarang juga.”
Jantung Kanaya berdegup dengan kencang melihat penangkapan seorang Darren di depan matanya, tidak menyangka bahwa kasus yang melihat wakil direktur pemasaran dan juga salah satu kepala daerah itu juga berimbas kepada Darren. Polisi yang dalam penyamaran itu dengan segera memborgol tangan Darren, hingga seikat Mawar yang digenggamnya pun jatuh begitu saja ke tanah. Bahkan beberapa kelopak bunganya juga perlahan terlepas dan terhempas ke tanah, dan kemudian polisi menggelandangnya ke kantor kepolisian.
__ADS_1
Darren pun tak mengelak dan tak membela dirinya, saat polisi memborgol tangannya, pria itu justru menatap wajah Kanaya. Dalam diam, tetapi wajah pria yang dulu bersikap arogan itu tanpa mengiba. Di satu sisi, Kanaya berusaha diam dan seolah hanya menjadi seorang penonton yang tertegun melihat adegan dramatis di hadapannya. Namun, dalam hatinya Kanaya tentu akan segera menghubungi Papa Jaya, bagaimana pun Papa Jaya dan Mama Sasmita harus tahu situasi penangkapan yang dilakukan pihak kepolisian terhadap Darren.