Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Pertemuan Kembali Setelah Empat Tahun


__ADS_3

Perasaan Bisma dan Kanaya begitu harap-harap cemas. Sepanjang perjalanan dari Rumah Sakit menuju Panti Asuhan Kasih Ibu, rasanya jantung Kanaya berdegup dengan begitu kencangnya. Tangan wanita itu pun berubah menjadi dingin karena begitu cemas. 


Bahkan Bisma kini menautkan tangannya menggenggam tangan Kanaya. Satu tangan yang lainnya tampak mengusapi punggung tangan Kanaya dengan perlahan. 


"Kamu gugup?" tanyanya. 


"Iya, gugup dan deg-degan banget," balas Kanaya. 


Bisma pun lantas tersenyum. Sebenarnya bukan hanya Kanaya yang gugup, dirinya pun sama. Akan tetapi, Bisma bisa lebih mudah mengatur emosinya. Sementara Kanaya begitu terlihat risau sekarang ini. 


"Santai saja Naya, tidak lama lagi kita akan tiba di Panti Asuhan Kasih Ibu," sahut Papa Jaya. 


"Iya Pa," sahut Kanaya dengan singkat. 


Hingga akhirnya mobil mewah milik Papa Jaya berhenti di sebuah Panti Asuhan. Dari depan terpasang sebuah papan nama Panti asuhan tersebut 'Kasih Ibu'. Bisma menggandeng tangan Kanaya untuk memasuki Panti Asuhan tersebut. 


"Selamat siang," sapa keduanya sembari mengetuk pintu kayu bercat putih itu. 


Tampak seorang wanita mendekati usia paruh baya, membukakan pintu sembari tersenyum kepada Bisma dan Kanaya. 


"Selamat siang," sapanya dengan ramah. 


"Apa Anda Bu Lisa?" tanya Kanaya perlahan. 


Wanita itu pun menganggukkan kepalanya, "Benar, saya adalah Bu Lisa. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya. 


Bu Lisa lantas mempersilakan Kanaya, Bisma, dan Papa Jaya untuk duduk terlebih dahulu. Begitu telah duduk, barulah Kanaya mulai bersuara apa maksud kedatangannya ke sana. 


"Begini Bu Lisa, beberapa hari lalu kami mendapatkan informasi bahwa mungkin anak kami berada di sini. Tepat empat tahun lalu, kami kehilangan anak kami. Anak laki-laki yang kami beri nama Aksara," jelas Kanaya dengan sopan dan hati-hati kepada Bu Lisa. 


"Oh, jadi Anda adalah orang tua Aksara?" tanya Bu Lisa. 


"Iya," jawab Kanaya dan Bisma membenarkan. 


"Orang tua kandung?" tanya Bu Lisa lagi. 

__ADS_1


"Benar, kami adalah orang tua kandungnya," jawab Bisma kali ini. 


Kemudian Bu Lisa tampak mengamat wajah pasangan muda tersebut. Mencari tahu mungkinkah mereka adalah orang tua kandung Aksara. Bu Lisa diam dan mengamati, tetapi memang Aksara memiliki wajah perpaduan Bunda dan Ayahnya. Mata, hidung, dan bentuk muka seperti Ayahnya, sementara bibir dan warna kulitnya yang putih bersih terlihat seperti Bundanya.   


"Boleh kami tahu, di mana Aksara hilang saat itu?" tanya Bu Lisa. 


Tentu sebagai pengurus Panti Asuhan, Bu Lisa berhak tahu. Sebab, dia tidak ingin ada orang yang datang dan mengaku-aku sebagai orang tua kandung anak-anak asuhnya di Panti Asuhan tersebut. 


"Aksara hilang saat di Daycare. Kami menitipkan Aksara di Daycare, penculiknya mengakui kepada pihak kepolisian bahwa meninggalkan Aksara di salah satu taman kota," jawab Kanaya. 


Mendengar jawaban Kanaya, Bu Lisa pun menganggukkan kepalanya. Mencoba mencerna kebenaran yang sedang diungkapkan Kanaya. Sejauh ini, jawaban Kanaya tepat karena Bu Lisa juga menemukan Aksara di taman kota empat tahun yang lalu. 


"Saat hilang, putra Anda mengenakan baju apa? Barang apa yang ada bersamanya?" tanya Bu Lisa lagi. 


"Memakai setelan berwarna merah dan navy. Dia hanya membawa tas ransel anak-anak. Namun, di dalam tas itu ada dodot susu, tempat makan, selimut, pakaian ganti, dan beberapa diapers," jelas Kanaya lagi. 


Ya Tuhan, ditanyai seperti ini oleh Bu Lisa seolah membuat Kanaya teringat hari terpahit dalam hidup saat dia kehilangan Aksara empat tahun yang lalu. 


"Ada nama yang tertulis dalam ransel itu, apa namanya?" tanya Bu Lisa lagi. 


"Sebuah name tag bernama Aksara Adhi N. Itu karena tidak ada tempat untuk menuliskan nama lengkap anak kami. Putra kami bernama Aksara Adhinata Pradhana," jawab Kanaya lagi. 


Kanaya lantas membuka hand bag miliknya dan mengeluarkan sebuah foto Aksara dalam figura kecil, menyerahkan foto itu kepada Bu Lisa. 


"Dia adalah putra kami, Aksara namanya," jelas Kanaya. 


Melihat foto anak kecil tersebut, Bu Lisa pun menganggukkan kepalanya. Ya itu memang foto saat dirinya menemukan Aksara empat tahun lalu. Mendengar cerita Kanaya dan jawaban dan yang diberikan Kanaya pun tepat, Bu Lisa akhirnya berdiri. 


"Dari cerita dan jawaban dari pertanyaan yang Ibu ucapkan, saya yakin bahwa Ibu dan Bapak adalah orang tua Aksara. Biar saya panggilkan dulu anaknya," jawab Bu Lisa. 


Tampak Bu Lisa memasuki sebuah pintu, sementara di depan itu Kanaya, Bisma, dan Papa Jaya pun harap-harap cemas. Bahkan air mata Kanaya telah berlinang dengan sendirinya. Pertemuan dalam dramatis dalam hidup Kanaya, melebihi saat dia menerima perasaan suaminya dahulu. 


"Lihatlah, Nak … ini adalah orang tuamu," ucap Bu Lisa menunjuk ke arah Bisma dan Kanaya. 


Aksara yang sudah bertumbuh, Aksara yang sudah empat tahun lamanya tidak dia jumpai. Aksara yang seakan tidak meninggalkan jejak, kini berdiri beberapa meter di hadapan mereka. 

__ADS_1


Bisma dan Kanaya bersujur, membuka tangannya lebar-lebar bersiap menerima pelukan dari putra kecilnya itu. Tampak Aksara yang tertegun seakan membeku. Putra yang bertahun-tahun menganggap dirinya sebagai itik buruk rupa itu kini telah menemukan orang tuanya. 


Perlahan Aksara terisak dan mengambil langkah kaki perlahan. Bahkan Aksara mengucek matanya yang terus menangis. Terasa begitu pilu. 


Sama halnya dengan Kanaya dan Bisma yang juga turut menangis. Tidak mengira putranya yang sangat dikasihi dan dirindukannya kini berada di hadapannya. 


"Ayah … Bunda? Kalian orang tuanya Aksara?" tanya Aksara kecil dengan terisak.


"Iya Aksara, kami adalah Bunda dan Ayahmu," ucap Kanaya dengan berlinangan air mata. 


Kanaya membuka tangannya, meminta Aksara yang sudah begitu bertumbuh itu untuk memeluknya. Benarlah ikatan hati tak bisa dibohongi. Saat kali pertama menatap Aksara, air matanya berlinangan begitu saja. Dadanya terasa sesak sekaligus lega di waktu bersamaan. 


Aksara pun yang sedari tadi menangis dan berdiri mematung perlahan pun menghambur ke dalam pelukan Bunda Kanaya. 


"Bunda," sapa Aksara disertai tangisan yang kian pecah. Bahkan anak kecil itu terisak dalam pelukan Bundanya. 


"Iya Aksara, ini Bunda," balas Kanaya. 


Kanaya pun memeluk Aksara, mendaratkan ciuman di kening dan pipi putranya itu. 


Beberapa menit terjadi seperti itu, akhirnya Kanaya mengurai pelukannya, lantas melihat suaminya yang berada dalam posisi sujud di sampingnya. 


"Dia, Ayah kamu, Aksara. Ayah Bisma," jelas Kanaya. 


Aksara pun beralih untuk memeluk pria yang adalah ayahnya itu. Lagi-lagi Aksara menangis dan terisak. 


"Ayah," panggilnya kepada Ayahnya. 


"Iya Nak, ini Ayah," jawab Bisma. 


Semua yang ada di situ pun begitu terharu melihat pertemuan kembali orang tua yang sudah terpisah empat tahun lamanya dari putranya itu. Penantian panjang mereka selama empat tahun akhirnya menemukan ujungnya, tentu ujung yang bahagia. 


"Kalian Ayah dan Bundanya Aksara?" tanya Aksara memastikan. 


Bisma dan Kanaya menganggukkan kepalanya, Kanaya pun berhambur memeluk suami dan putranya itu. 

__ADS_1


"Benar Sayang … kami adalah orang tuamu. Dulu kamu memanggil kami Yayah Ma dan Nda Aya," cerita Kanaya dengan sesegukan. 


Putra yang hilang empat tahun lamanya. Aksaranya yang dulu mengalami speech delay, sekarang keduanya bisa mendengar suara anaknya. Mendengar putranya bertanya dan meminta penjelasan bahwa mereka berdua benar-benar adalah orang tuanya. 


__ADS_2