Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Menyambut Ramadhan


__ADS_3

Satu minggu berselang, rupanya ada satu momen istimewa yang baru kali pertama akan disambut dan dirasakan oleh Bisma dan Kanaya yaitu menikmati momen Ramadhan sebagai suami dan istri. Sekaligus, bulan Ramadhan ini akan menjadi bulan puasa Bisma dan Kanaya pertama dan bisa beribadah di bulan Ramadhan bersama-sama. Sudah tentu, bulan yang penuh rahmat ini bukan sekadar menjalankan sebuah tradisi bagi umat Muslim, tetapi juga menjadi bulan penuh fitri untuk Bisma dan Kanaya.


“Besok hari pertama puasa Ramadhan, Mas … mau kita jalan-jalan sebentar?” ajak Kanaya kepada suaminya itu.


“Kamu mau jalan-jalan kemana Sayang?” tanya Bisma kepada istrinya itu.


Kanaya tampak berpikir, kemana tempat yang ingin dia datangi bersama suaminya itu. “Keliatannya ke Masjid Istiqlal, Mas … mau?” tanyanya lagi kepada suaminya.


Bisma pun tersenyum, “Kenapa kamu ingin ke Istiqlal?” tanya Bisma lagi. Bukan bermaksud banyak bertanya, tetapi pria itu sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari istrinya itu.


“Wisata religi dan nanti sholat bersama di sana sebentar. Mau?” jawab Kanaya mengatakan keinginannya itu.


Bisma kemudian mengangguk, “Iya … boleh. Selama bulan Ramadhan, kamu kerja sampai jam 15.00 sore kan? Besok aku jemput dan kita bisa jalan-jalan sebentar ke Istiqlal dan juga sholat bersama. Jangan lupa membawa mukena ya besok.”


“Siyap … Mas Dokter. Makasih ya udah mau nurutin mauku.” ucap Kanaya sembari tersenyum kepada suaminya itu.


***


Keesokan harinya, kurang dari jam tiga sore Bisma sudah berdiri di lobby Jaya Corp. Sebagaimana rencana yang sudah disusunnya dan juga Kanaya bahwa hari ini, mereka akan sedikit berwisata religi di Masjid Istiqlal, Jakarta. Oleh karena itu, sehabis dari tempat praktiknya, Bisma segera bergegas untuk menjemput istrinya di Jaya Corp.


Sama seperti biasa, begitu keluar dari lift, dan Kanaya tersenyum melihat suaminya yang sudah setia menunggunya. Wanita hamil itu terasa begitu senang setiap kali melihat suaminya yang setia menunggunya. Nyaris tiap hari, Bisma yang datang terlebih dahulu dan menunggu Kanaya di dalam lobby.

__ADS_1


“Jadi jalan-jalan hari ini Bumilku Cantik?” tanya Bisma begitu istrinya sudah berada di hadapannya.


“Jadi dong.” jawab Kanaya terlihat begitu antusias.


Bisma segera menautkan jari-jemarinya dan menggenggam tangan Kanaya, “Yuk, mumpung sudah sore. Ya, walaupun matahari masih terik, tetapi enggak apa-apa ya?” tanya Bisma kepada Kanaya.


Dengan cepat Kanaya pun mengangguk, “Iya, asal sama kamu, panas terik aku enggak keberatan kok.” jawabnya sembari tertawa mengikuti langkah kaki suaminya menuju ke mobil mereka yang terparkir di depan Jaya Corp.


Membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk sampai di Masjid Istiqlal. Masjid yang merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara itu berdiri dengan megah. Selain itu, letak Istiqlal yang berdampingan dengan Gereja Katedral justru membuat bangunan ini menjadi simbol kerukunan antar umat beragama di negeri ini. Mulailah Kanaya mengenakan sebuah kerudung yang hanya menutupi rambutnya, kemudian dia berjalan-jalan dengan Bisma memasuki kawasan Masjid Istiqlal.


“Kamu kangen jalan-jalan di Hagia Sophia saat kita ke Turki dulu ya Sayang?” tanya Bisma sembari mereka berjalan-jalan bersama.


“Iya … kangen, Mas. Tidak perlu sampai ke Turki. Di sini pun ada sebuah Masjid yang memiliki nilai sejarah dan juga kemegahan yang sangat indah. Aku pengen Sholat di sini dan kamu imami.” ungkapnya dengan menunjukkan semburat merah di wajahnya.


Dengan cepat Kanaya pun mengangguk, “Iya mau … yuk, wudhu, Mas … mumpung sepi dan belum jadwal Sholat kita bisa sholat bersama sebentar.” ungkapnya.


Kemudian keduanya mengambil wudhu, lantas Bisma mengimami istrinya dalam sebuah sholat yang hanya dilakukan oleh keduanya di masjid yang sangat luas itu. Luasnya masjid dan mereka hanya berdua membuat keduanya hanya seperti debu. Pun demikian dengan manusia, yang sesungguhnya hanyalah debu di hadapan Allah.


Usai menjalankan sholat bersama, Kanaya lantas mencium punggung tangan suaminya itu. Bahkan wanita hamil itu tampak meneteskan air matanya. “Terima kasih, Mas.” ucapnya dengan menundukkan wajahnya dan mencium punggung tangan suaminya.


Bisma lantas mengusap lembut puncak kepala istrinya, membelainya dengan penuh sayang. “Sama-sama Istriku.” jawab Bisma dengan suaranya yang begitu lembut.

__ADS_1


Setelahnya, keduanya sama-sama berjalan keluar dari area masjid dan kemudian berjalan-jalan di luaran masjid Istiqlal. “Kamu apa mau ikut puasa besok Sayang?” tanya Bisma kepada istrinya itu.


"Kalau aku mau ikutan puasa boleh enggak Mas?" tanya Kanaya kepada suaminya itu.


"Sebenarnya dalam hal medis, tidak ada larangan bagi Ibu hamil untuk puasa. Hanya saja jika terjadi hal-hal seperti dehidrasi, tiba-tiba mimisan karena perubahan hormon selama kehamilan yang membuat pembuh darah di hidung melebar, pergerakan janin berkurang, dan kehamilan dengan risiko tinggi maka sebaiknya batal puasa. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Bisma lagi kepada Kanaya.


Bukan bermaksud supaya Kanaya mengikuti kemauannya, tetapi Bisma ingin bahwa Kanaya bisa memutuskan untuk dirinya sendiri. Pilihan seorang ibu tentu yang terbaik, mereka tidak hanya memutuskan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk janin yang mereka kandung.


"Euhm, aku ikut puasa sekuatku saja boleh enggak Mas? Kalau berhalangan aku batal puasa." jawab Kanaya yang terlibat penuh pertimbangan.


Bisma lantas menatap wajah istrinya itu, "Enggak puasa dulu gak apa-apa Sayang. Kehamilan kamu sudah memasuki Trimester Tiga. Ya ini, menurutku. Sebab kamu membutuhkan nutrisi lengkap dan seimbang buat kamu dan bayi kita. Temani aku berbuka saja. Kalau sahur, aku sendirian gak apa-apa." kali ini Bisma mencoba mengutarakan pendapatnya.


Ada rasa ragu dalam diri Kanaya, dalam hatinya ini adalah bulan Ramadhan pertamanya bersama sang suami. Rasanya Kanaya ingin menikmati indahnya Ramadhan bersama suaminya. Akan tetapi, apa yang disampaikan oleh suaminya sangat benar. Sehingga Kanaya pun akan menuruti apa yang menjadi saran dari suaminya tersebut.


"Ya sudah, aku batal puasa dulu Ramadhan kali ini, tetapi tahun depan kita jalankan ibadah puasa bersama-sama ya Mas." ucapnya dengan tersenyum kepada suaminya.


Bisma pun mengangguk, "Iya … tahun depan dan tahun-tahun yang akan datang kita akan selalu menyambut dan menjalankan puasa Ramadhan bersama."


Kanaya tampak mengerucutkan bibirnya, “Padahal sebenarnya sih aku pengen menemani kamu ibadah puasa kali ini. Ini bulan Ramadhan pertama bagi kita berdua.” ucapnya. Entah, ada rasa yang seolah mengganjal di hati karena merasakan tidak bisa turut menjalankan ibadah puasa Ramadhan bersama suaminya itu.


“Masih banyak waktu untuk kita berdua, Sayang … lagipula hanya tinggal 2 bulan lagi kita sudah akan bertemu dengan baby kita. Walaupun tahun ini kamu batal puasa, tetapi Ramadhan ini tetap akan menjadi bulan penuh rahmat dan juga penuh cinta bagi kita berdua.” ucap Bisma dengan begitu lembut, seolah setiap ucapan yang dia ucapkan terasa menyejukkan hati Kanaya.

__ADS_1


Akhirnya Kanaya pun mengangguk, “Iya Mas … baiklah. Aku akan tetap merayakan bulan Ramadhan itu dengan penuh syukur karena bisa memiliki kamu dalam hidupku. Segala berkah yang dikaruniakan Allah benar-benar membuatku tersanjung.” ucapnya sembari menatap wajah suaminya itu.


__ADS_2