
Sore ini rasanya Kanaya dan Bisma benar-benar berbahagia. Terlebih Kanaya saat mengetahui bahwa Bisma benar-benar membuktikan dirinya. Setahun lalu, setelah menikah Bisma memang sudah meminta izin kepada Kanaya untuk meminta izin menggunakan rumahnya sebagai apotek dan juga tempat praktiknya. Lihatlah, pria itu benar-benar mewujudkan impiannya.
Ada rasa bangga yang menyelimuti hati Kanaya melihat kesuksesan suaminya itu. Sebab, Kanaya yakin bahwa apa yang dilakukan Bisma bukan sekadar untuk berbisnis dan meraup pundi-pundi Rupiah. Kanaya yakin karena Bisma adalah seorang Dokter yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani masyarakat, melayani anak-anak yang sedang sakit dan membutuhkan pengobatan. Untuk semua itu, Kanaya merasa bangga dengan sosok suaminya itu.
“Kapan kamu mulai merenovasi rumah ini Mas?” tanya Kanaya kepada Bisma. Saat ini keduanya tengah berdua di lantai dua. Di dalam kamar Kanaya dulu, dan sekarang ruangan itu berubah menjadi tempat praktik seorang Dokter Bisma.
Suaminya itu tertawa, “Beberapa bulan yang lalu sih, hanya saja aku memang sengaja mengerjakannya tanpa memberitahu kamu. Jadi gimana, kamu benar-benar ikhlas bahwa rumah kamu ini beralih fungsi?” tanya Bisma kepada Kanaya.
“Ya, aku tulus dan ikhlas. Rasanya seperti mimpi, rumah yang dahulu menjadi tempat kami bernaung dan membangun banyak kenangan bersama mendiang Ayah dan Bunda sekarang bisa menjadi sebuah tempat yang bermanfaat,” jawab Kanaya dengan matanya mengedar memperhatikan setiap sudut ruangan itu.
Bisma lantas memeluk tubuh Kanaya dari belakang, mendekapnya dengan kedua tangan yang melingkari pinggang istrinya itu. Pria itu terdengar menghela napasnya, “Ah, rasanya aku benar-benar lega. Saat mendengar dan melihat bahwa yang empunya rumah ternyata puas dan ikhlas. Sudah pasti tempat ini akan mendatangkan berkah bukan hanya untukku, tetapi juga semua orang yang bekerja di sini, dan juga untuk anak-anak yang datang berobat ke sini.”
Kanaya pun tersenyum, “Pergunakanlah rumah ini dengan sebaik mungkin, Mas. Aku akan selalu mendukungmu. Sekalipun rumah ini beralih fungsi, aku tidak keberatan. Aku justru bersyukur karena rumah ini tentunya akan lebih terawat dan bermanfaat untuk banyak orang. Aku bangga padamu, Mas.”
Kali ini Kanaya benar-benar mengutarakan perasaannya bahwa dia bangga pada suaminya itu. Bisma tersenyum, hatinya benar-benar bahagia saat mendengar bahwa istrinya itu bangga padanya. Pria itu lantas mencuri satu kecupan di pipi istrinya.
Cup!
“Jadi, untuk setahun aku harus membayar berapa untuk sewa tempat ini?” tanya Bisma yang tentu hanya sekadar bercanda kepada istrinya itu.
Kanaya lantas membalik badannya, hingga kini dia bisa berhadapan dengan suaminya itu, “Kalau aku meminta uang sewa yang mahal?” tanya Kanaya.
Bisma mengangguk, “Katakan berapa?” tanyanya.
Senyuman tampak di wajah Kanaya, tetapi sesaat kemudian wanita itu tersenyum, “Sangat mahal. Sebab … kamu harus membayarnya dengan dirimu ini. Bayarannya cintai aku dengan sepenuh hatimu dan dampingi aku seumur hidupmu.”
Bisma tertawa, tidak menyangka bahwa itu adalah biaya dari menggunakan rumah istrinya sebagai tempat praktiknya itu. “Sudah pasti aku akan membayarnya. Aku akan berikan hidupku ini untuk mencintaimu dan mendampingimu. Aku cinta kamu, Naya …” Pria itu berbicara dengan menatap wajah istrinya itu.
Anggukan terlihat dari Kanaya, dia percaya bahwa suaminya akan mencintai dan mendampinginya. Mengisi warna-warni indah dalam hidupnya, dan sekarang mereka memiliki Aksara yang juga semakin memperindah hidup keduanya.
“Kalian ternyata di sini?” tanya Bunda Hesti yang tiba-tiba datang dan menggendong Aksara yang tengah menangis.
Refleks, Kanaya kemudian melepaskan tangannya yang semula melingkari pinggang suaminya itu. Wanita itu segera berjalan dan menggendong Aksara.
__ADS_1
“Kenapa anak Bunda kok menangis? Kamu haus sayang?” tanya Kanaya kepada Aksara yang tengah menangis.
“Iya … mungkin saja haus, Nay … kamu berikan ASI dulu ya,” ucap Bunda Hesti.
Kanaya mengangguk, dia segera menggendong Aksara. Kemudian, Kanaya duduk di sebuah kursi yang ada di ruangan tempat praktik suaminya itu. Dengan segera, dia memberikan ASI untuk Aksara. Rupanya benar, bayi itu tengah haus, karena setelah mendapatkan ASI tangisan Aksara lenyap sudah. Berganti dengan wajah yang tenang dan damai.
Bisma pun mengamati bagaimana Aksara yang tengah menemukan sumber kehidupannya itu. “Minum ASI yang banyak, Nak … biar kamu sehat dan kuat. Akan tetapi, dua tahun saja ya Nak, abis itu pindah kepemilikan lagi ke Ayah.” gumam pria itu dengan begitu nakalnya.
Hingga Kanaya pun melabuhkan cubitan di pinggang suaminya itu, “Ihh, nakal banget sih … masa sama anak sendiri gitu. Sekarang ini jadi milik Aksara.” Kanaya menjawab dengan mengerucutkan bibirnya kepada suaminya itu.
“Ayahnya puasa lama ya Sayang?” tanyanya lagi kepada Kanaya.
“Lama. Sampai Aksara S2 ya lepas ASI,” jawab Kanaya.
Bisma pun menatap istrinya itu dengan kedua mata yang membelalak sempurna, “Serius? S1 ASI itu kan 6 bulan. Kalau S2 kan 2 tahun. Aku harus puasa selama itu?” tanyanya lagi kepada Kanaya.
“Iya …” Kanaya menjawab dengan tertawa.
“Ya ampun, kamu tega banget sih Sayang.” Bisma merasa istrinya itu begitu tega kepada dirinya.
Lucu sekali, mereka memperdebatkan sesuatu yang sebenarnya memang lucu untuk diperdebatkan sebagai suami dan istri.
“Ya sudah deh. Buat Aksara, Ayahnya akan mengalah. Akan tetapi, setelah lepas S2 ASI, semuanya punya Ayah yah … buat Ayah.” Bisma lagi-lagi bersuara, tetapi suaranya terdengar posesif.
“Kamu ini kok lucu sih Mas …” Kanaya berbicara dengan sedikit menengadahkan wajahnya guna melihat suaminya yang berdiri di hadapannya itu.
Bisma juga tertawa ketika mendengar ucapan istrinya itu. “Cuma bercanda Sayang … udah, jangan dimasukkan hati ucapanku. Penting Aksara dapat ASI ekslusif saja biar dia sehat dan kuat. Nutrisinya terpenuhi.”
Kanaya kemudian mengangguk, hatinya terasa hangat dengan sikap suaminya yang memang manis dan selalu pengertian itu.
“Makasih Ayah Bisma … Aksara seneng deh.” jawabnya dengan tertawa.
Bisma kemudian mengangguk, dia memang hanya sebatas menggodai istri dan anaknya itu. Terkadang memang banyak momen yang bisa saja terasa lucu dan mengalir dengan sendirinya saat dirinya bersama istri dan anaknya. Akan tetapi, kemudian Bisma menatap wajah Kanaya.
__ADS_1
“Sayang, kalau palang merahnya masih lama?” tanyanya kali ini dengan setengah berbisik di telinga istrinya.
Kanaya kemudian membolakan kedua matanya dan menatap suaminya dengan wajahnya yang datar.
“Masih lama itu Mas … gimana? Masih banyak banget.” jawabnya dengan serius. Padahal dalam hatinya, wanita itu tengah tertawa. Akan tetapi, saat ini bermain-main dengan suaminya terasa sangat mengasyikkan.
Wajah Bisma seketika tertunduk lesu, senyuman di wajah pria itu pun hilang. “Yahh, harus puasa lagi dong yah. Berapa lama sih? Paling lama 40 hari kan ya? Padahal sudah sebulan loh Sayang?” tanyanya lagi. Sebenarnya Bisma pun menghitungnya.
Kanaya kembali mengangguk, “Itu kan bukan patokan, Mas … bisa lebih dari 40 hari.” jawab Kanaya dengan serius.
Rupanya wanita itu masih suka bermain-main dan menggoda suaminya itu. Sekaligus Kanaya ingin tahu seberapa lama suaminya bisa bersabar menunggunya.
...🍃🍃🍃...
Dear Bestie,
Aku mau promosikan karya dari teman-teman aku juga ya..
Silakan mampir, dukung, dan tinggalkan jejak yah untuk karya berikut:
Kembalinya Sang Putri karya Author Syasyi
Simpanan Brondong Tajir karya Author Thatya0316
__ADS_1