
Bisma pun mencoba mencerna apa yang hendak diceritakan oleh Kanaya. Berusaha membuka lebar-lebar telinganya terlebih dahulu, dan dia juga berjanji akan mendengarkan cerita Kanaya dahulu. Tentunya dia pun akan memberikan responsnya setelah mendengar cerita istrinya itu.
"Jadi mau cerita apa?" tanya Bisma yang kini benar-benar fokus hanya memandang pada Kanaya.
Tanpa banyak berbicara, Kanaya kemudian menyerahkan sebuah amplop berwarna putih dari saku celananya. "Tolong, baca ini dulu Mas ..." Pintanya kepada Sang Suami.
Satu tangan Bisma pun terulur untuk menerima amplop berwarna putih itu dan mulai membukanya. Pria itu pun cukup tercengat ketika mulai membuka kertas berukuran A4 yang berada di dalam amplop itu, meneliti keseluruhan tulisan tangan yang tertera di sana dan pandangan Bisma langsung jatuh pada nama pengirim surat di bagian paling bawah surat itu.
Darren?
Samar-samar Bisma tampak menghela napasnya, dan matanya mulai bergerak membaca surat tersebut dari awal. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit bagi Bisma untuk menyelesaikan membaca surat itu.
"Kenapa bisa ada surat ini?" tanya Bisma perlahan dan menaruh kertas putih berukuran A4 itu di atas meja.
"Tadi Sandra datang ke Jaya Corp waktu makan siang, rupanya dia abis dari Rumah Tahanan, dan dia menitipkan surat ini." jawab Kanaya dengan jujur.
Perlahan Bisma melihat Kanaya, "Sandra datang ke Jaya Corp? Apa dia melukai kamu?" tanyanya lagi.
Kanaya pun menggelengkan kepalanya, "Tidak ... dia tidak melukai atau berkata kasar padaku. Dia hanya memberikan surat ini dan kemudian pergi."
Melihat suaminya yang diam dan beberapa matanya melihat pada surat yang diberikan Darren itu, perlahan Kanaya menggerakkan tangannya guna menggenggam tangan suaminya.
__ADS_1
"Mas, apa kamu marah? Aku cuma ingin jujur dan membagi semuanya denganmu. Aku tidak ingin terlambat berkata jujur, dan menyimpan semuanya sendiri. Aku sedang belajar untuk bisa benar-benar jujur padamu." ucap Kanaya saat ini.
Bisma pun tersenyum, "Iya ... terima kasih, sudah jujur padaku. Hanya saja ..." ucapan pria itu seolah menggantung saja di udara, dan kini dia justru kembali menghela napasnya.
"Hanya saja apa, Mas?" sahut Kanaya dengan cepat.
"Hanya saja, kenapa aku merasa kali ini Darren terlihat begitu serius dalam suratnya. Semua kata yang dia rangkai menunjukkan kalau dia serius denganmu." Lagi, Bisma beralih melihat wajah istrinya, "Apa kamu masih memiliki dendam kepada Darren?" tanyanya perlahan.
Mendengar pertanyaan itu, Kanaya tidak bisa menjawab. Mungkin jika sebatas trauma atau ingatan di masa lalu kembali mungkin rasanya memang menyesakkan. Akan tetapi, waktu sudah cukup lama berlalu.
Kedua tangan Bisma kini bergerak untuk menggenggam kedua tangan Kanaya, dirinya pun beringsut guna bisa menatap wajah istrinya itu. "Jika kamu masih memiliki dendam, aku minta lupakan. Kata orang, cara terbaik untuk balas dendam adalah kita hidup dengan bahagia. Membungkam semua perlakuan buruk dari seseorang dengan bahagia. Lupakan semua, lagipula aku tahu, Darren bisa sampai berada di penjara karena laporan yang kamu buat kan?"
Sungguh, Kanaya tidak menyangka bahwa suaminya akan mengatakan semuanya itu. Juga, bagaimana suaminya bisa tahu terkait laporannya perihal penggelembungan perusahaan.
Kepala Kanaya pun mengangguk samar. "Iya, aku yang melaporkannya. Walaupun aku tidak berniat menggunakan itu untuk balas dendam, aku hanya berusaha menguak kasus yang merugikan perusahaan sekian Milyar. Aku pun tidak menyangka bahwa Tim SPI Auditor akan membawa masalah itu hingga ke Direktur Utama." cerita Kanaya pada akhirnya kepada Bisma.
"Lalu, Darren pernah minta maaf sama kamu?" tanya Bisma lagi.
Seolah mengumpulkan kembali ingatannya, Kanaya akhirnya bercerita lagi kepada suaminya. "Hari saat Darren ditangkap, saat itu dia berdiri di hadapanku untuk meminta maaf dan mengatakan keinginan rujuk denganku. Jawabanku sudah jelas, Mas ... aku menolaknya."
Bisma pun mengangguk, "Baiklah ... aku senang karena kamu bisa jujur. Hanya saja sebagai suamimu, aku tidak suka saat ada pria lain yang menulis hendak mengejarmu." kali ini pun Bisma berbicara dengan jujur dan tidak menutupi perasaannya.
__ADS_1
"Maaf ..." Kanaya berbicara dengan menundukkan kepalanya. Merasa tidak enak hati dengan suaminya.
***
Keesokan harinya, di siang hari saat jam praktiknya di Rumah Sakit telah usai. Tanpa sepengetahuan Kanaya, pria itu memilih langsung mengunjungi Rumah Tahanan. Merasa bahwa semua ini harus segera diselesaikan dan dia ingin menyelesaikannya dengan gentle.
Memasuki Rumah Tahanan, Bisma pun mengisi daftar kunjungan dan mengatakan ingin menemui Darren Jaya Wardhana. Petugas Rutan pun mempersilakan Bisma untuk menunggu terlebih dahulu dan akan ada petugas yang menjemput Darren dari sel tahanan.
Bisa dibilang ini adalah pertemuan pertama bagi keduanya bertemu muka dengan muka. Bisma sudah menyusun semua kata yang harus dia katakan di otaknya, dan dia harus bertindak tegas. Sekian menit menunggu, akhirnya datangnya seorang pria yang mengenakan baju tahanan berwarna oranye menyala. Bisma pun berdiri ketika pria itu datang.
"Selamat siang Pak Darren, saya Bisma, suaminya Kanaya." ucap Bisma yang memperkenalkan dirinya.
"Saya tahu." balas Darren dengan menunjukkan wajah datarnya. "Untuk apa Anda datang kemari?" tanya Darren kepada Bisma.
"Saya sudah membaca surat yang Anda titipkan kepada Sandra untuk Istri saya. Tujuan saya kemari untuk menegaskan bahwa sekuat apa Anda berusaha, tidak akan celah untuk Anda. Kanaya akan selamanya menjadi milik saya, dan saya akan menjaganya dengan hidup bahkan nyawa saya." ucap Bisma dengan serius.
"Apa Anda merasa tidak yakin dengan diri Anda sendiri?" Darren bertanya dengan menyeringai menatap Bisma.
Bisma pun menggelengkan kepalanya, "Justru saya datang kemari karena saya terlalu percaya diri bahwa Kanaya akan selamanya berada di sisi saya. Apa pun yang terjadi, saya akan melindungi dan menjaganya. Oh, iya ... jangan lupakan. Beberapa tahun lalu, saat dia kesakitan dan menjadi korban perundungan, masih beruntung karena Kanaya tidak melaporkan Anda ke pihak kepolisian. Kalau Anda tidak lupa, kapan pun saya bisa memproses semua itu dan membuat Anda semakin lama mendekam di Hotel Prodeo ini."
Setiap kata dan ucapan yang Bisma keluarkan terkesan penuh ancaman. Bisma berpikir bahwa dia harus menghentikan Darren. Tindakan konyol bagi seorang pria dan sekaligus mantan suami yang berkeinginan untuk kembali mengejar mantan istrinya yang kini sudah menjadi milik Bisma.
__ADS_1
Menyelesaikan masalah antar dua pria tidak harus dengan baku hantam, tetapi Bisma adalah saksi bagaimana Kanaya larut dalam kesedihan, hingga berbaring di Rumah Sakit karena obat pencahar. Semua itu dan rekam medis yang masih dia miliki bisa dia gunakan untuk membuat Darren bertekuk lutut dan melupakan niatan konyolnya jauh-jauh.