
Sudah sepekan berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda di mana Aksara berada. Hari-hari yang dihadapi Kanaya dan Bisma benar-benar kelabu. Keduanya memilih banyak diam, kendati demikian keduanya tetap saling menguatkan satu sama lain.
“Sudah sepekan Mas, bagaimana dengan Aksara kita?” tanya Kanaya kepada suaminya itu.
Bisma pun mengangguk, “Iya Sayang … sayangnya masih belum ada kabar. Papa Jaya waktu mendatangi Darren, pria itu juga tidak mengaku di mana dia meninggalkan Aksara,” jawab Bisma.
Kanaya lantas menatap wajah suaminya. Ya, dengan hilangnya Aksara tidak dipungkiri wajah keduanya kian tirus, kantong mata yang menghitam di bawah matanya. Kendati demikian, Bisma masih berusaha tegar dan selalu menguatkan Kanaya.
“Kita harus menunggu berapa lama ya Mas?” tanya Kanaya kepada suaminya itu.
Helaan nafas yang berat keluar dari hidung Bisma. Setiap kali istrinya menanyakan kapan mereka bisa menemukan Aksara, seakan tidak bisa dijawab Bisma. Yang bisa mereka lakukan adalah terus mencari dan menunggu. Semua upaya sudah dilakukan, pencarian langsung, menyewa orang-orang handal, hingga memasang iklan di surat kabar. Akan tetapi, sudah sepekan berlalu tanda-tanda di mana Aksara berada juga belum mereka terima.
“Sabar Sayang … aku tidak bisa memberi kepastian. Kita sama-sama berdoa ya, semoga kita bisa kembali bertemu dengan putra kita,” jawab Bisma.
Memang dirinya tidak bisa memberikan kepastian, tetapi harapannya masih ada dan terus berharap bahwa di hari yang baik nanti Allah akan mengumpulkan mereka dengan Aksara lagi.
Saat mereka sedang duduk bersama di taman serambi rumah itu, ternyata terdengar suara mobil yang terparkir di depan pintu gerbang mereka. Seorang security yang mereka sewa membukakan gerbang untuk tamu yang baru saja datang. Rupanya Sandra yang datang ke kediaman Bisma dan Kanaya.
“Hai Kanaya dan Bisma,” sapa wanita itu sembari menggendong Ravendra.
Seseorang yang kehadirannya sesungguhnya tidak diharapkan oleh Kanaya. Mengingat apa yang dilakukan suami dari wanita itu terhadapnya, seakan justru menggarami luka di dalam hati Kanaya.
__ADS_1
Melihat Bisma dan Kanaya yang sama-sama diam, Sandra tahu pasti bahwa keduanya pasti sangat marah kepadanya, terkait dengan kasus Darren. Akan tetapi, Sandra datang dengan niat yang berbeda. Perlahan, wanita itu menghela nafasnya sebelum mulai berbicara.
“Aku datang ke mari untuk minta maaf kepadamu Naya dan Bisma … maafkan untuk tindakan kejam suamiku, Darren. Aku benar-benar tidak tahu jika Darren sampai hati memisahkan kalian berdua dari Aksara. Aku berharap bahwa Aksara akan segera ditemukan,” ucap Sandra dengan meneteskan air mata.
Merasa bahwa Sandra sekarang juga telah menjadi seorang Ibu, sudah pasti dia bisa merasakan apa yang Kanaya rasakan sekarang ini. Oleh karena itu, Sandra datang untuk meminta maaf bagi suaminya. Dia tidak membenarkan tindakan Darren. Dia mengakui bahwa Darren telah melakukan sesuatu yang salah.
“Pergilah Sandra … mengenai suamimu, aku akan menuntutnya. Aku tidak akan memberikan hukuman yang ringan kepadanya,” sahut Kanaya pada akhirnya.
Posisi Kanaya hanyalah wanita biasa, dia bisa menaruh dendam terhadap seseorang yang dengan sengaja telah menghancurkan hidupnya. Kali ini, Kanaya sampai pada keputusannya bahwa dia akan menuntut Darren, memastikan pria itu akan mendekam untuk waktu yang lama di dalam jeruji besi.
Sandra pun mengangguk, “Lakukanlah apa yang baik menurutmu, Naya … bukankah setiap orang akan dihukum menurut perbuatannya? Aku akan menerimanya, aku tidak masalah Ravendra tidak memiliki figur Papa karena Papanya yang akan kembali mendekam di dalam penjara,” balas Sandra.
Perkataan seorang istri dan seorang ibu yang benar-benar pilu sebenarnya. Apa yang Sandra katakan pun benar, dalam tumbuh kembang putranya, Ravendra tidak akan memiliki figur Papa karena hukuman kurungan penjara yang akan dijalani Darren. Selain itu, hukuman dari seseorang yang menculik anak juga bertahun-tahun lebih lama.
“Baiklah … aku pamit Naya dan Bisma. Sekali lagi aku minta maaf. Maaf karena perbuatan suamiku telah memberikan luka yang dalam untuk keluarga kalian berdua. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku berdoa bahwa Aksara sehat dan selamat. Aku juga seorang Ibu, sehingga aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang ini,” ucap Sandra.
Wanita itu kemudian menundukkan kepalanya dan berpamitan dengan Kanaya dan Bisma. Setidaknya dia datang benar-benar untuk meminta maaf, sekalipun permintaan maafnya tidak diterima, tetapi setidaknya Sandra sudah mengucapkan bahwa dia meminta maaf untuk suaminya. Sandra juga tulus berempati kepada Bisma dan Kanaya, dan wanita itu juga berdoa semoga Aksara sehat dan selamat di luar sana.
Usai perginya Sandra, tangis Kanaya kembali pecah. Wanita itu tersedu-sedan dengan menutupi wajahnya.
“Yang aku lakukan benar tidak Mas?” tanyanya kali ini kepada suaminya.
__ADS_1
“Apakah aku wanita yang jahat karena membuat seorang anak jauh dari Ayahnya? Apakah aku jahat karena membuat Ravendra tidak memiliki figur seorang Ayah?” tanya Kanaya dengan terisak kepada suaminya itu.
Tanpa banyak bicara, Bisma merangkul bahu istrinya yang bergetar lantaran menangis. Mengusapi punggung hingga lengan istrinya itu dengan gerakan naik dan turun, “Setidaknya Darren harus membayar untuk apa yang sudah dia lakukan. Justru, menurutku … kasihan Ravendra jika memiliki figur dari seorang Ayah yang tidak benar. Mendapatkan figur yang tidak benar dalam hidup akan berakibat fatal bagi si anak sepanjang umurnya. Berharap bahwa Darren usai keluar benar-benar bertobat,” jawab Bisma.
Dalam pandangan Bisma sekarang ini, justru Ravendra akan kasihan jika dalam tumbuh kembangnya, anak itu tidak mendapatkan figur yang tepat. Anak belajar dari kedua orang tuanya, menjadikan orang tuanya sebagai cermin. Apabila cermin itu retak atau keruh, sudah pasti si anak pun tidak bisa meniru dengan baik. Lagipula, Bisma pun ingin menuntut balas untuk apa yang sudah dilakukan oleh Darren terhadapnya.
“Jadi, aku tidak jahat kan Mas?” tanya Kanaya lagi.
“Jahat dan baik itu relatif Sayang … bagi kamu jahat, belum tentu bagi orang lain tidak. Kita fokus dengan masalah kita saja. Sandra pasti bisa menerimanya,” jawab Bisma dengan yakin.
Kanaya lantas mencerukkan kepalanya di dada suaminya, bersandar sepenuhnya kepada suaminya itu, “Aku takut jika akhirnya aku menjadi orang jahat dan tidak berperasaan … tetapi, aku juga meminta keadilan untuk hilangnya putraku,” ucap Kanaya dengan masih menangis.
“Iya Sayang … aku tahu. Jika Sandra di posisi kita, mungkin dia akan melakukan hal yang sama. Sudah … jangan menangis … kamu terlalu banyak menangis,” ucap Bisma.
Ya, dalam sepekan ini berapa banyak air mata yang dikeluarkan Kanaya seolah tak mampu dia takar. Mata istrinya yang bulat dan indah itu perlahan redup, kilauannya tidak ada. Wajahnya menjadi sembab, sering kali jejak-jejak air mata terlihat di wajah ayu dan kian hari terlihat sayu itu.
“Kamu mau besok kita menyisiri taman-taman kota dan mencari Aksara?” tanya Bisma kepada istrinya itu.
Tanpa perlu ditanya, dengan cepat Kanaya pun mengangguk, “Iya … mau Mas … besok kita mencari Aksara ya Mas. Semoga saja dengan bergerak sendiri, kita bisa menemukan Aksara,” sahut Kanaya.
“Kita menyisiri dari area di sekitar Daycare ya Sayang … pelan-pelan kita akan mencari Aksara. Okey?” ucapnya.
__ADS_1
“Okey. Iya Mas … besok kita akan menyisiri dari area sekitar Daycare dan taman-taman kota ya Mas,” sahut Kanaya.
Pria itu pun mengangguk, “Iya … tetapi, jangan menangis ya. Kita akan terus mencari. Tidak peduli berapa banyaknya waktu untuk mencari Aksara, tetapi kita akan tetap melanjutkan pencarian ini. Berharap di hari yang baik, hari yang sudah Tuhan sediakan bagi kita, kita berdua bisa menemukan putra kita,” ucap Bisma.