Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Indahnya Kota Istanbul


__ADS_3

Usai transit di Dubai International Airport, keduanya kembali memasuki pesawat untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Istanbul, Turki. Perjalanan kali ini menjadi perjalanan udara terjauh yang mereka tempuh. Kendati demikian, keduanya berharap bahwa rasa bahagia yang akan mereka dapatkan selama di Turki akan sebanding dengan perjalanan jauh yang mereka tempuh.


Kanaya dan Bisma masih harus menempuh perjalanan udara selama 4 jam 45 menit untuk tiba di Istanbul, Turki. Rasanya memang sangat lelah, tetapi berlibur ke kota Istanbul dan beberapa kota di Turki sudah menjadi pilihan bagi keduanya. Maka dari itu, Kanaya dan Bisma pun sepakat untuk menjalani perjalanan honeymoon mereka berdua dengan bahagia.


Setelah begitu tiba di Istanbul, dengan cepat mereka memesan taksi dari bandara yang mengantarkannya ke sebuah hotel dengan view Selat Bosporus, Golden Horn, dan sebuah menara tua yang bernama Galata. Rasanya unsur kebudayaan Asia dan Eropa begitu kental di Istanbul ini.


"Capek Sayang?" Tanya Bisma saat keduanya kini telah sama-sama berada di dalam kamar.


Kanaya pun mengangguk, "Iya … capek banget. Boleh enggak kalau aku tidur sebentar? Rasanya kepalaku berputar-putar karena naik pesawat dalam durasi yang sangat lama." Ucapnya sembari memegangi kepalanya yang terasa pening.


Bisma pun mengangguk, "Iya …  ganti bajumu terlebih dahulu. Mandi kalau perlu, abis itu tidurlah."


Kanaya pun mengangguk, dia kemudian mengguyur badannya sejenak di kamar mandi. Tidur dalam keadaan badan yang sudah bersih, membuat Kanaya begitu cepat terlelap. Bahkan ketika Bisma usai mandi, istrinya itu sudah terlelap terlebih dahulu di tempat tidur dengan memeluk guling di sana.


Bisma mendekat, kemudian dia mengecup kening istrinya itu. "Tidurlah Naya Sayang … kamu pasti kelelahan." Usai mengatakan itu, Bisma lantas berbaring di sisi Kanaya. Pria itu memeluk Kanaya dari belakang dengan kedua tangannya yang melingkari pinggang Kanaya.


Perjalanan udara yang sangat panjang memang membuat keduanya begitu kelelahan. Bisma pun tidak membutuhkan waktu lama langsung tertidur. Terlebih dengan memeluk Kanaya dan menghirupi aroma yang wangi dari istrinya itu membuat tidur Bisma kian nyenyak rasanya.


Tidak terasa nyaris hampir setengah hari keduanya sama-sama terlelap. Hanya dengkuran halus yang terdengar. Hingga menjelang sore, barulah keduanya sama-sama terbangun.

__ADS_1


"Mas … aku tidurnya lama banget ya?" tanya Kanaya yang begitu bangun telah melihat suaminya itu tersenyum ke arahnya.


"Gak apa-apa kamu juga pasti capek kok. Mau jalan-jalan atau di kamar aja?" tanyanya kepada Kanaya.


Kanaya lantas memegangi perutnya, "Aku lapar … mau makan di luar Mas? Sambil lihat-lihat Istanbul di malam hari."


Bisma pun mengangguk, "Iya boleh … ayo."


Menyusuri jalanan yang dipenuhi dengan berbagai street food dan kafe yang bertebaran di pinggir jalan. Kali ini Kanaya dan Bisma memilih menikmati malam di kafe Galata, kafe ini merupakan salah satu kafe yang terkenal di pinggir Selat Bospuros, satu-satu selat yang berada di dua benua sekaligus yaitu Asia dan Eropa. Kafe Galata terletak di teras tiga lantai sebuah bangun tua, dengan Selat Bosporus dan menara Galata sebagai pemandangannya. Keduanya memilih duduk di teras yang berada di lantai tiga dengan menikmati makan malam dan menikmati semilir angin yang berhembus di kota Istanbul.


“Kamu ingin makan apa Sayang?” tanya Bisma kepada Kanaya.


Kofte biasanya menjadi makanan utama yang kerap disajikan bersamaan dengan nasi. Sebuah hudangan yang disuguhkan dalam jamuan makan bersama keluarga dan teman. Kofte mirip dengan steak berukuran kecil yang dibuat dengan daging ayam, sapi, atau kambing. Kemudian digiling dan dicampur dengan aneka rempah, setelah itu dipanggang, direbus, dan digoreng.


"Kamu tidak ingin makan Dondurma?" Tawarnya kepada Kanaya.


Dondurma adalah Es Krim Turki, biasanya penjualnya akan melakukan atraksi saat menjajakannya untuk menarik pelanggan. Dondurma memiliki tekstur yang lengket seperti permen karet.


Kanaya pun menggelengkan kepalanya, "Anginnya kenceng banget ini Mas… aku takut kalau makan Es Krim nanti malahan pilek. Ya, walaupun suamiku Dokter, tetapi aku harus sehat kan." guraunya kepada suaminya itu.

__ADS_1


Bisma pun mengangguk, "Ya, tapi kalau kamu mau aku periksa juga tidak masalah kok. Manfaatkan aku sebaik mungkin. Kamu bisa periksa gratis, karena penyakit umum, aku juga bisa mendiagnosisnya." sahut Bisma sembari tertawa.


Kurang lebih 15 menit, makanan yang mereka pesan pun tiba. Bermandikan cahaya bulan dan bintang di langit malam, angin semilir yang menyentuh kulit, dan pesona Selat Bosporus yang memukau, hanya berada di teras kafe, tetapi justru terkesan begitu romantis keduanya. Di bawah angkasa gelap yang bermandikan sinar bintang dan bulan, Bisma menatap wajah Kanaya dengan senyuman yang tak lekang, pria itu tampak memperhatikan bagaimana Kanaya memakan makanannya, bagaimana wanita itu merapikan anakan rambutnya, seolah di hadapannya hanya ada Kanaya yang menjadi objek penglihatan di kedua retinanya.


“Kenapa kamu tidak pesan menu yang lain Mas? Kan aku bisa nyincip.” ucap Kanaya sembari tertawa. Biasanya jika memesan menu makanan yang berbeda, bisa saling mencicipi.


“Ah iya … aku sampai lupa. Baiklah, mulai besok aku akan memesan menu makanan yang berbeda, supaya kita bisa saling mencicipi.” ucapnya sembari mengiris daging sapi di atas piringnya kemudian menyuapkannya kepada istrinya itu.


Kanaya tersenyum, lantas membuka mulutnya. Menerima suapan pertama dari suaminya itu, “Makasih Mas …” jawabnya sembari menutup mulutnya dengan satu tangan.


“Jadi officially, kamu panggil aku, Mas ya?” tanyanya lagi kepada Kanaya.


Anggukan samar terlihat jelas diberikan oleh Kanaya, wanita itu lantas tersenyum, “Aku sedang belajar untuk memanggil kamu dengan sebutan itu. Walaupun kita teman SMA, tetapi memanggil langsung namamu, rasanya tidak pantas. Jadi, aku panggil Mas saja ya.” ucap Kanaya kali ini.


Ya, mungkin usia mereka sama, hanya berbeda bulan kelahiran saja. Kendati demikian, sebagai seorang istri rasanya tidak pantas, jika memanggil suaminya hanya dengan namanya saja. Terasa tidak sopan. Kanaya pun sedang belajar untuk memanggil suaminya dengan panggilan yang lebih pantas tentunya.


“Iya gak apa-apa … penting jangan panggil Dokter aja sih. Dokter kan itu hanya profesi saja, kalau menjadi suamimu itu bukan profesiku. Menjadi suamimu itu sudah merupakan takdir dari Allah.” jawab Bisma dengan tenang. Baginya, menjadi suami dari Kanaya adalah takdir yang sudah Allah gariskan untuknya.


“Iya Mas, kamulah takdirku ….” jawab Kanaya sembari tersipu malu dan menundukkan kembali wajahnya. Ungkapan yang mengatakan bahwa suaminya adalah takdir baginya cukup membuat Kanaya berdesir, tidak mengira di tempat yang indah ini dengan Selat Bosporus sebagai viewnya dan Menara Galata yang kuno dan berdiri tegap itu, dia mengakui bahwa Bisma adalah takdirnya.

__ADS_1


__ADS_2