Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Dua Garis Lagi


__ADS_3

Dirawat dengan begitu baik oleh Bisma, membuat Kanaya tidak lagi merasakan demam. Suhu tubuhnya lebih stabil hari ini. Bisma adalah Dokter Spesialis Anak, tetapi saat Kanaya sakit, pria itu seolah-olah berubah menjadi Dokter Pribadi bagi istrinya. Pria itu sangat telaten dan juga begitu sabar.


“Istirahat dulu saja, Sayang … tadi aku sudah ke apotek buat belikan kamu test pack. Besok pagi, kita cek bersama yah?” ucap Bisma kali ini.


Kanaya menganggukkan kepalanya secara samar. Jika mengingat masa periode menstruasinya, memang terasa sudah lama dirinya tidak mendapatkan tamu bulanan. Hanya saja, Kanaya merasa tidak siap sekarang. Terlebih baru dua bulan dirinya kembali bersama dengan Aksara. Kanaya pikir, bisa menghabiskan waktu bersama Aksara untuk menukar waktu mereka selama empat tahun yang hilang.


“Mas, cuma aku takut,” aku Kanaya kali ini.


“Takut kenapa?” balas Bisma.


“Takut hamil,” aku Kanaya dengan jujur.


Bisma lantas melihat istrinya itu. Sudah pasti Kanaya memiliki pemikirannya sendiri mengenai ketakutannya jika hamil lagi. Di saat seperti inilah, Bisma akan menjadi pendengar yang baik dan memberikan telinganya untuk mendengarkan keluh kesah dari istrinya itu.


“Kenapa kamu takut? Sini cerita sama aku,” balas Bisma. Respons Bisma begitu baik, karena dia memberi waktu kepada istrinya untuk bisa bercerita dengannya terlebih dahulu. Memberi waktu bagi Kanaya untuk berbagi dan menyampaikan pemikirannya terlebih dahulu.


“Aku takut karena belum siap … baru dua bulan, kita kembali hidup berkumpul dengan Aksara. Aku pikir, aku bisa menghabiskan banyak waktu untuk menebus waktu-waktu yang hilang selama empat tahun ini. Jika aku kembali hamil, bagaimana dengan Aksara?” cerita Kanaya kali ini kepada suaminya.


Pemikiran yang logis dan wajar, terlebih untuk Kanaya yang memang sudah terpisah begitu lama dari putranya sendiri. Sehingga kali ini, Kanaya ingin menghabiskan waktu dan menciptakan momen indah bersama dengan Aksara. Jika dirinya hamil, justru yang dia sedihkan adalah Aksara. Mungkinkah Aksara bisa menyayangi adiknya.


“Tidak apa-apa, Sayang … semua pemikiran itu wajar kok. Hanya saja, memiliki anak itu kan juga anugerah. Itu tanda jika Allah mempercayai kita dengan kehadiran seorang anak lagi,” ucap Bisma kali ini.


Pria itu begitu bijaksana. Anak-anak adalah titipan dan karunia dari Allah. Bahkan banyak pasangan yang menunggu bertahun-tahun lamanya untuk mendapatkan keturunan, tetapi jika Allah memang belum berkehendak, maka semuanya itu tidak akan terjadi.


“Apakah Aksara mau memiliki adik?” tanya Kanaya kali ini.

__ADS_1


Bisma lantas menggenggam tangan Kanaya, “Kita beritahukan dengan baik dan pelan-pelan. Sama seperti kamu yang membutuhkan waktu, Aksara pun juga. Hanya saja, jangan takut … kamu hamil dan bersuami. Sudah pasti suamimu ini akan bertanggung jawab penuh,” ucap Bisma kali ini dengan serius.


***


Keesokan paginya …


Kanaya dan Bisma terbangun dengan perasaan harap-harap cemas. Bisma sudah memberikan dua buah testpack kepada istrinya itu. Juga sebuah gelas takar untuk menampung urine. Bisma memang sengaja membangunkan Kanaya dan meminta istrinya itu untuk melakukan tes memprediksi kehamilan terlebih dahulu.


“Ayo Sayang … dites dulu, biar kita mendapatkan kepastian,” ucap Bisma kali ini.


“Aku takut,” balas Kanaya.


“Yuk, aku temenin,” ucap Bisma kali ini.


Kanaya pun menganggukkan kepalanya dan segera menuju ke kamar mandi. Dia melakukan instruksi dari suaminya dengan menampung sedikit urine di gelas takar, kemudian memasukkan testpack ke dalam gelas takar itu. Beberapa menit Kanaya menunggu dengan cemas. Hingga testpack itu berubah, tercetak jelas dua garis merah di sana.


“Ada kehidupan baru di dalam perutku ya Tuhan,” gumamnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Lantas, Kanaya mencuci terlebih dahulu testpack itu, kemudian segera keluar dari kamar mandi.


“Mas,” Kanaya memanggil suaminya itu dengan bibir yang bergetar. Rasanya sudah ingin menangisa saja wanita itu.


“Iya, bagaimana Sayang? Jangan dipikirkan hasilnya. Apa pun itu, aku tidak masalah. Lagipula, semalam aku hanya menerka,” balas Bisma. Pria itu juga menunggu dan ingin tahu apa hasil dari tes yang baru saja dilakukan istrinya itu.


Hingga kemudian, Kanaya mengeluarkan dua buah testpack berbeda merek itu dari dalam saku celananya, dan menyerahkannya kepada Bisma.

__ADS_1


“Dua garis merah, Mas,” ucap Kanaya kali ini.


Wanita itu segera menghambur dalam pelukan suaminya. Kejutan di pagi hari yang membuatnya seakan tak percaya, tetapi semuanya ini nyata.


Bisma pun balas memeluk tubuh Kanaya. Pria itu sedikit menitikkan air matanya melihat dua garis merah yang tercetak jelas di testpack istrinya itu.


“Alhamdulillah Ya Allah … akhirnya hamba dipercaya lagi kali ini,” ucap Bisma yang dada yang membuncah dengan kebahagiaan.


Keduanya saling berpelukan dan menikmati momen bahagia dan penuh hari ini untuk beberapa saat lamanya.


Bisma kemudian membantu Kanaya untuk duduk di tepi ranjang, “Tebakanku benar kan … untung semalam aku tidak memberikanmu obat saat kamu demam. Ibu hamil tidak boleh mengonsumsi obat tanpa pengawasan Dokter,” ucap Bisma kali ini.


“Kamu kan Dokter,” sahut Kanaya dengan cepat.


Bisma pun tertawa mendengar ucapan istrinya itu, “Aku Dokter, Sayang … cuma Dokter Spesialis Anak. Bukan Dokter Kandungan. Jadi, aku tidak tahu menahu tentang obat yang aman untuk Ibu hamil,” ucap Bisma kali ini.


“Jadi, kamu senang tidak Mas?” tanya Kanaya kali ini.


“Ya, tentu … aku sangat senang,” balas Bisma.


Kanaya pun merasa lega karena jujur kehamilannya kali ini sama sekali tidak direncanakan. Dia juga tidak mengira setelah tujuh tahun, baru kali ini bisa kembali hamil. Padahal Kanaya juga tidak memasang kontrasepsi selama ini.


“Nanti kita beritahu Aksara ya Mas … semoga Aksara tidak keberatan memiliki adik,” balas Kanaya kali ini.


Ya, mereka harus segera memberitahu Aksara karena anak sulung juga harus dipersiapkan untuk menjadi seorang Kakak. Bukan hanya pasangan suami istri yang mempersiapkan diri untuk menyambut seorang bayi, tetapi anak sulung juga harus dipersiapkan untuk menjadi seorang Kakak yang menerima dan menyayangi adiknya. Dengan demikian bisa mengantisipasi terjadinya Sibling Rivalry dan membuat hubungan harmonis antara Si Kakak sebagai Sulung dengan Si Adik sebagai bungsu.

__ADS_1


Perlahan Bisma pun menganggukkan kepalanya, “Iya … nanti kita beritahu Aksara. Kita juga harus mempersiapkan Aksara menjadi seorang Kakak untuk adiknya. Selisih usia mereka cukup banyak tujuh tahun. Semoga saja tidak terjadi gap yang terlalu jauh karena perbedaan mereka. Selain itu, kita juga harus belajar karena aku adalah anak tunggal di keluargaku, kamu juga. Jadi, kita harus mempersiapkan diri untuk mengasuh Aksara dan Adiknya nanti. Membantu saat terjadi konflik di antara keduanya. Semoga saja kita bisa menjalani peran sebagai orang tua yang baik bagi Aksara dan Adiknya,” ucap Bisma kali ini dengan sungguh-sungguh.


__ADS_2