Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Sinyal


__ADS_3

Di saat hati melimpah dengan syukur, di saat pikiran merasa lega karena beban yang selama ini memenuhi pikirannya seolah telah terangkat, yang tersisa adalah rasa syukur dan lega yang melimpah di dalam hati. Bisma dan Kanaya yang masih duduk di sofa pun, berjalan bersama menengok ke kamar Aksara.


Kedua orang tua itu memandang wajah putranya yang terlelap, lantas Kanaya memdaratkan kecupannya di kening Aksara.


“Selamat tidur, Putranya Bunda … I Love U,” ucap Kanaya.


Sama halnya dengan Bisma yang turut mencium kening putranya itu, “Mimpi yang indah, Aksara … Ayah sayang kamu,” ucap Bisma.


Usai memastikan bahwa Aksara telah tidur terlelap, keduanya berjalan kembali menuju kamar mereka. Begitu masuk ke dalam kamar, rupanya Bisma segera mendekap tubuh istrinya itu dari belakang. Pria itu menyibak juntai rambut istrinya, hingga memperlihatkan garis leher sang istri yang jenjang dan melabuhkan kecupan-kecupannya yang hangat dan basah di sana.


“I Miss U,” ucap Bisma kini.


Akan tetapi, kenapa suara Bisma itu terdengar serak dan dalam. Suara bariton pria itu yang begitu khas nyatanya bisa membuat Kanaya meremang.


Kanaya lantas mengangkat tangannya dan mendaratkannya guna membelai sisi wajah suaminya itu, mengusapnya perlahan dengan telapak tangannya yang lembut.


“I Miss U too, Mas Dokter,” balas Kanaya.


Bisma tersenyum, pria itu kini menghujani ciuman di tengkuk sang istri yang tentu saja, itu bukan hanya sekadar ciuman. Akan tetapi, juga sebuah sinyal yang diberikan sang suami bahwa pria itu tengah menginginkan istrinya.


Kanaya memejamkan matanya, membiarkan suaminya melakukan apa pun yang dia suka. Kemudian, Kanaya berbalik dan menatap wajah suaminya. “Kunci pintunya dulu, Mas,” ucap Kanaya.


Bisma pun mengangguk, dia segera mengunci pintu kamarnya dan kembali berjalan menghampiri sang istri. Lantas Bisma duduk di tepian tempat tidur, sementara Kanaya masih berdiri merapikan rambutnya dan kini wanita itu justru mencepol rambutnya hingga tinggi. Kanaya berjalan ke arah tempat tidur, langsung mendaratkan pantatnya di pangkuannya suaminya.

__ADS_1


Tanpa permisi, wanita itu tersenyum dan melabuhkan bibirnya yang hangat di atas bibir suaminya. Saat bibir bertemu dengan bibir, maka yang terjadi selanjutnya adalah saling mencium, saling mencumbu, saling memagut, seolah keduanya balas berbalas dan menyalurkan perasaannya kali ini bagi satu sama lain.


Bahkan Kanaya yang selama empat tahun menyadari bahwa emosinya yang lebih mendominasi, sekarang wanita itu seolah memberikan lampu hijau untuk sang suaminya. Saat Kanaya mencium, Bisma pun memagut bibir sang istri. Menghisapnya, mencecap lipatan bibir istrinya atas dan bawah secara bergantian. Bisma menghela nafas, saat tangan sang istri mulai meraba telinganya, meraba lehernya, dan juga memberikan remasan di rambutnya. Seakan Bisma benar-benar melayang kali ini.


Menjeda sejenak ciumannya, Kanaya menatap Bisma, tetapi tangan wanita itu mencari tepian kaos yang dikenakan oleh suaminya dan membuat bagian atas suaminya polos. Kanaya tersenyum, tangannya bergerak di area dada bidang suaminya itu.


“Kamu nakal,” ucap Bisma dengan tiba-tiba sembari mengigit telinga istrinya.


“Nikmati saja, Mas … selama ini kamu yang selalu memulai dan memberikan yang terbaik. Sekarang, nikmati saja,” ucap Kanaya.


Bahkan kini Kanaya mendorong dada suaminya, hingga pria itu terjatuh terlentang di atas ranjang. Kanaya pun menindih suaminya itu dan kembali mencium bibir suaminya. Tak ingin menyia-nyiakan bibir suaminya yang manis dan hangat, tetapi bibir itu juga yang selalu memotivasinya dan mengucapkan kata-kata cinta kepadanya.


Tangan Kanaya menyasar turun dan meloloskan celana yang digunakan suaminya. Kanaya bisa merasakan inti tubuh suaminya yang sudah menegang. Kanaya lantas membawa tangannya, menggenggam pusaka suaminya. Memberikan remasan di sana, naik dan turun, Bisma benar-benar memejamkan mata dan beberapa dirinya meracau.


“Sudah, sudah cukup … sekarang kamu,” ucap Bisma sembari mengecup bibir Kanaya.


Bisma dengan cepat meloloskan setiap pakaian yang dikenakan oleh istrinya, hanya kurang dari satu menit, istrinya sudah tampil polos mutlak di hadapannya. Bisma menidurkan Kanaya dengan perlahan, pria itu kini melabuhkan kecupan mulai dari kening, turun ke kelopak mata, ujung hidung, bibir, dan dagu. Setelahnya Bisma kembali melu-mat bibir Kanaya, memberikan sensasi dengan permainan bibir dan lidahnya. Pertemuan bibir yang membuat decakan yang begitu syahdu.


“Ssstts, jangan kenceng-kenceng mendesahnya, nanti Aksara bangun,” ucap Bisma.


Kanaya pun mengangguk dengan nafas terengah-engah. Kali ini wajah bukan hanya malu, tetapi sudah bergairah di sana. Sebab, pada saat suaminya menyentuhnya, sudah dipastikan bahwa sentuhan itu tidak pernah gagal.


Terlebih sekarang saat telapak tangan Bisma dengan kelima jarinya menangkup dan memberikan remasan di buah persik miliknya. Itu benar-benar membuat Kanaya tersulut dan bergerak dengan gelisah. Hanya permainan tangan yang memberikan belaian, usapan, remasan, dan memilinnya dengan memutar. Ya Tuhan, itu saja membuat Kanaya serasa sesak nafas.

__ADS_1


Bisma lantas menurunkan wajahnya, membawa satu buah persik milik istrinya untuk raib dan tenggelam dalam rongga mulutnya. Segeralah pria itu mencumbu dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana, usapan dengan lidahnya yang basah nyatanya membuat Kanaya melayang. Wanita itu merespons dengan meremas rambut Bisma dan menekannya untuk memperdalam apa yang dia lakukan. Bahkan kali ini, Kanaya membawa satu tangan dan menaruhnya di buah persik yang lainnya. Respons alamiah dari sang istri, tetapi bagi Bisma tentu saja dirinya merasa jumawa karena membuat istrinya itu terbang.


Tentu saja, tangan Bisma bergerak cepat dan kian membuat Kanaya terombang-ambing. Hingga samar, Kanaya merasa dirinya mengalami pelepasannya kali ini. Sesuatu yang basah dan lembab di bawah sana. Bisma lantas mengangkat wajahnya, meninggal buah persik milik sang istri dengan ujungnya yang bengkak dan basah karena ulahnya. Lantas Bisma membawa jarinya, menjelajahi lembah di bawah sana. Hanya dengan ujung jarinya, Kanaya di atas terlihat menggeliat.


“Ah, Mas … aku tidak tahan,” aku Kanaya kali ini.


Bisma pun mengangguk, dia segera memasukkan perlahan pusakanya memasuki cawan surgawi milik sang istri. Pusaka yang tegang itu disambut dengan sensasi yang erat, hangat, dan basah. Hingga Bisma memegangi pinggang Kanaya, dan pria itu perlahan-lahan memberikan hujaman. Mendesakkan pusakanya masuk dan keluar dalam gerakan seduktif yang begitu sensual. Jangan lupakan tangannya yang masih bermain dengan buah persik milik sang istri yang membuat Kanaya memejamkan matanya dan kian meremas sprei di bawahnya.


Saat Bisma masuk dan memberi dirinya, di saat yang sama Kanaya menyambut dengan menerimanya. Gerakan dengan begitu padu. Nafas keduanya sama-sama memburu, hingga Bisma bergerak kian cepat. Menusuk di dalam dengan semakin dalam, bahkan pria itu membawa satu kaki Kanaya dan mendaratkannya di bahunya, pria itu bergerak dan memperdalam gerakan seduktifnya.


“Ah, astaga,” racau Bisma kali ini dengan kian menghujam dalam.


Sementara Kanaya sendiri hanya bisa memejamkan matanya, ingin mende-sah, tetapi khawatir jika justru mengganggu Aksara yang tertidur. Terlebih kali ini suaminya bergerak dengan begitu cepat dan dalam.


Kanaya merasakan sesuatu yang kian tegang dan menghunus masuk di bawah sana. Sementara Bisma beberapa kali memejamkan matanya dan menengadahkan wajahnya ke atas. Ini adalah sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang membuat gelenyar asing, tetapi keduanya seakan sulut menyulut dan siap terbakar di sana.


Hingga Bisma menggeram, rahangnya mengeras, saat pria itu merasakan remasan dari otot-otot cawan surgawi milik Kanaya. Dengan nafas yang kian memburu, Bisma bergerak kian cepat, nafasnya kian kacau. Hingga di batas akhir, dirinya benar-benar meledak sekarang.


“I Love U,” ucap Bisma dengan merubuhkan tubuhnya di atas tubuh Kanaya.


Kanaya yang terengah-engah, merengkuh tubuh suaminya dan memeluknya dengan begitu erat. Hubungan yang benar-benar puas kali ini. Tidak ada ketakutan, tidak ada beban, mereka fokus untuk mengisi tangki air cintanya, memenuhi diri keduanya dengan cinta, memuaskan satu sama lain.


“I Love U, Mas Dokter,” sahut Kanaya kini.

__ADS_1


Kelegaan itu terasa. Sinyal itu nyatanya berubah menjadi sinyal cinta yang membawa keduanya terombang-ambing dalam gelora cinta.


__ADS_2