Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Malam Hari di Singapura


__ADS_3

Sepulang dari Pulau Sentosa, Kanaya, Bisma, dan Aksara kembali pulang ke apartemen. Hari sudah berganti menjadi gelap. Ketiganya kembali menaiki Sentosa Express dari Sentosa Merlion menuju ke Vivo City. Kemudian dilanjutkan dengan menaiki MRT menuju ke tempat apartemen mereka.


“Kita naik MRT ya Aksara?” ucap Kanaya sembari menggandeng Aksara menuju stasiun dan menunggu kereta api listrik.


“Iya Bunda … tidak apa-apa. Aksara justru senang,” jawabnya sembari mengamati di kanan dan kirinya yang begitu ramai dengan penumpang.


“Aksara capek tidak? Mau Ayah gendong?” tawar Bisma.


Hal itu dikarenakan hari sudah malam dan mereka sudah berjalan-jalan cukup lama di Sentosa Merlion. Sehingga Aksara pun kecapekan pastinya. Lagipula, sekalipun Aksara sudah besar, tetapi Bisma yakin bahwa dia masih kuat untuk menggendong putranya itu.


Akan tetapi, Aksara dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak Ayah, terima kasih … Aksara tidak capek kok. Nanti kan di apartemen bisa kembali bobok,” jawabnya.


Bisma pun tersenyum, anaknya yang sudah berusia 7 tahun itu terlihat dewasa dan aktif bergerak. Untuk itu, Bisma pun menganggukkan kepalanya.


“Baiklah … tetapi jika Aksara capek, beritahu Ayah yah … Ayah pasti akan menggendongmu,” ucap Bisma.


“Aksara sudah besar Ayah,” balasnya.


Rupanya Aksara sudah merasa bahwa dirinya sudah besar dan tidak memerlukan digendong lagi oleh Ayahnya. Alih-alih digendong, Aksara lebih memilih untuk terus berjalan kaki.


Saat MRT tiba, mereka mulai menaiki MRT tersebut dan berhenti di Quarke Clay. Dari Quarke Clay mereka berjalan kaki lagi kurang lebih sepuluh menit, barulah mereka tiba di apartemen mereka.


“Maaf ya Nak … di sini untuk kemana-mana kita naik transportasi publik dulu. Kalau di Jakarta, kita memiliki mobil. Akan tetapi, di sini kita tidak memilikinya,” ucap Bisma.


Apa yang diucapkan Bisma benar. Mereka hanya tinggal sementara saja di Singapura dan mereka akan menggunakan transportasi publik selama di sana. Sementara di Jakarta, ke mana-mana bisa menaiki mobil, tetapi tidak saat mereka di Singapura. Apalagi pemerintah Singapura membatasi warganya untuk memiliki mobil pribadi dan lebih mengedepankan transportasi publik.


“Iya Ayah, tidak apa-apa. Kata Bu Lisa, berjalan kaki bisa membuat sehat kok Ayah. Sendi kita bergerak, jadinya sehat deh,” sahut Aksara lagi. Kali ini Aksara teringat dengan nasihat dari Bu Lisa yang sering mengajak anak-anak di Panti Asuhan untuk berjalan kaki supaya mereka lebih sehat.


Mendengar ucapan Aksara, Bisma pun tersenyum. "Apa yang dikatakan Bu Lisa benar Aksara. Dengan berjalan kaki, sendi-sendi kamu bergerak, aliran darah bisa lebih lancar juga, jadi kita lebih sehat. Ayah senang, ternyata kamu masih mengingat ajaran dari Bu Lisa," balas Bisma.

__ADS_1


Setibanya di apartemen, Aksara berganti dengan baju yang bersih dan kemudian Kanaya membuatkan susu hangat untuk putranya itu.


“Diminum dulu, Nak … biar sehat dan juga hilang capeknya,” ucap Kanaya.


Segelas susu hangat itu pun diminum Aksara dengan perlahan. Usai meminum susu, Aksara menaruh sendiri gelasnya di dapur dan sekaligus mencucinya. Tinggal di Panti Asuhan untuk waktu yang lama memang membuat Aksara lebih mandiri. Di usia yang masih kecil, dia bahkan sudah bisa mencuci peralatan makannya, menyapu, dan juga menata tempat tidurnya sendiri. Itu karena Bu Lisa juga mengajarkan kemandirian untuk anak-anak yang berada di Panti Asuhan.


“Bunda dan Ayah, Aksara tidur dulu yah. Selamat malam,” ucapnya yang segera memasuki kamarnya sendiri yang berada tidak jauh dari kamar Kanaya dan Bisma di dalam apartemen itu.


Kanaya menatap putranya yang memasuki kamar itu, lantas wanita itu pun tersenyum, kendati demikian hatinya begitu haru.


“Kita kehilangannya untuk waktu yang lama … sekarang lihatlah putra kita sudah begitu mandiri. Dia bahkan sudah bisa mencuci piring dan tidur sendiri,” balas Kanaya.


“Tidak apa-apa, Sayang … setiap anak akan mengalami proses pertumbuhan, dan Aksara kita sudah melewatinya. Jadi, tidak apa-apa. Sekarang tugas dan tanggung jawab kita adalah mengasuh dan membesarkan Aksara,” balas Bisma,


Pasangan suami istri itu kita juga masuk ke dalam kamar mereka. Keduanya sama-sama duduk di sofa. Hari masih jam 21.00 Waktu Singapura (Zona waktu di Singapura selisih satu jam dengan Zona Waktu Indonesia Barat (WIB), jika di Singapura jam 9 malam, di Indonesia bagian Barat sedang jam 8 malam).


Bisma lantas menaruh kepalanya di bahu istrinya, “Sayang, aku kangen,” aku Bisma dengan tiba-tiba.


“Iya … sudah lama kita tidak melakukannya,” balas Bisma pada akhirnya.


Ah, barulah Kanaya tahu dengan apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Perlahan Kanaya pun melirik wajah suaminya itu.


“Maaf … kita sedang fokus ke Aksara,” jawabnya.


Bisma pun kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya … tidak apa-apa Sayang. Sekarang, aku sih sudah lega Sayang. Ya, walaupun Aksara sudah kian besar dan juga kenangan yang dia buat bersama kita belum banyak karena sudah banyak waktu yang terlewatkan,” ucap Bisma.


“Iya Mas … aku juga sudah lega sekarang. Bisa menatap dia, memperhatikan dia, memeluk dia, rasanya ini mimpi yang menjadi kenyataan banget,” ucap Kanaya.


“Kita buat banyak kenangan indah bersama Aksara kita ya Sayang … biarkan kenangannya dengan keluarga Ayah Radit-nya ada, kita tidak perlu menghilangkan itu, kita buat kenangan bersama Aksara. Berbagi momen dengan putra kita,” ucap Bisma kali ini.

__ADS_1


Begitulah pendapat Bisma, untuk membuat kenangan indah bersama putranya, dirinya tidak harus menghapus kenangan indah Aksara bersama dengan keluarga Raditya. Biarkan keluarga itu tetap tumbuh dan bersemi bagaimana pun mereka telah mengisi hari-hari Aksara dan memberikan kasih sayangnya untuk Aksara.


“Iya Mas … jadi, kita buat kenangan indah bersama dengan Aksara. Jadi, nanti hari Sabtu kita ke Singapore Zoo ya Mas?” ajak Kanaya kali ini.


“Iya, boleh Sayang … nanti ajak Aksara lihat panda di sana. Kita spent waktu dulu buat Aksara,” sahut Bisma.


“Aku senang … senang banget. Mas Bayiku sekarang kian besar, rasanya memang banyak momen terlewatkan, tetapi juga aku bersyukur dia tumbuh sehat dan bahagia,” jelas Kanaya sekarang ini.


Bisma lantas merangkul bahu istrinya itu, dan mengusapi pundaknya dengan lembut. “Aku pun juga bersyukur … sangat bersyukur. Sekarang aku memiliki kamu sebagai istriku dan Aksara sebagai putraku. Keluarga kita telah kembali utuh. Ayah, Bunda, dan Aksara,” ucap Bisma.


Memang tidak ada kebahagiaan yang begitu indah dan berarti selain memiliki keluarga yang utuh. Keluarga yang saling mengisi tangki air cinta mereka, saling bergandengan tangan dan membuat berbagai momen indah bersama.


...🍃🍃🍃...


Dear Bestie,


Mampir juga yuk ke karya temannya Author yang berjudul Gadis Bercadar Bermata Hijau v Duda Beranak Kembar Empat karya Author Ramanda.



"Sayang, kamu yang tenang ya disana. Kamu jangan khawatir soal Anak-anak. In shaa Allah kak Bian tidak akan pernah mengabaikan anak-anak kita. Kak Bian janji, akan selalu menjaga mereka, serta akan membahagiakan mereka dengan penuh kasih sayang. Bahkan apapun permintaan mereka akan kak Bian penuhi, itulah janji Kak Bian, Acha!" Itulah janji Rio dihadapan pusara istrinya, Cindy.


Ya dia Adalah Rio Febrian Yang kini berusia 33 tahun, dan berstatuskan seorang Duda yang memiliki anak kembar Empat. Semenjak istrinya meninggal, Rio langsung berubah menjadi Pria yang amat dingin dan tak berperasaan.


Namun ia begitu hangat untuk baby quadrupletsnya dan ia amat menyayangi mereka. Sehingga apapun yang menjadi keinginan anak-anaknya maka ia pun akan mengabulkan. Hingga suatu ketika putri kecilnya mengungkapkan keinginannya.


"Daddy, bolehkah Tante yang bermata Hijau itu menjadi Momy umna?" pinta gadis kecil yang berusia empat tahun.


Akankah Rio mengabulkan permintaan putri kecilnya itu?

__ADS_1


Yuk akh ikuti ceritanya author, dan jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏.


__ADS_2