
Bergerak dengan penuh irama, membelai dengan bibirnya dan sapuan lidahnya yang justru membuat sang istri bergerak gelisah di atas sana. Bisma bisa melihat bagaimana tubuh Kanaya yang terlihat begitu menegang di atas sana. Pria itu lantas memutar kembali ingatannya, ingatan bahwa istrinya terlihat tidak berpengalaman dalam ciuman, puncak buah persiknya yang begitu ranum dengan warna pink kecokelatan, dan juga sekarang tubuhnya yang tidak rileks sama sekali. Membuat Bisma kembali mengukung Kanaya, membiarkan kedua sikunya untuk menahan berat bobotnya sendiri, pria itu kembali mendaratkan kecupannya di bibir Kanaya.
“Kenapa kamu tegang, Sayang?” satu pertanyaan yang dilontarkan oleh pria itu karena terlihat dengan jelas bahwa tubuh polos yang ada di bawahnya menegang dengan sempurna.
Sementara Kanaya hanya bisa memejamkan matanya, tanpa berani untuk menatap wajah suaminya itu. Hingga akhirnya Bisma pun mengambil keputusan bahwa dirinya akan bergerak pelan tanpa harus menyakiti Kanaya. Memberikan kelembutan dan meyakinkan Kanaya bahwa semua akan baik-baik. Pria itu kembali mencium Kanaya, ciuman yang lembut, namun juga kasar di waktu bersamaan. Ciuman yang dalam, tetapi juga memburu di waktu yang juga bersamaan. Bergerak seirama mengikuti instingnya, hingga dia menggerakkan satu jarinya menyentuh inti tubuh wanita, satu sentuhan yang membuat Kanaya kian meremas rambut suaminya itu. Satu sentuhan yang membuat Kanaya bagai tercekat tenggorokannya. Dan, satu sentuhan yang membuatnya menggigil kedinginan bagai diterpa salju.
Merasa bahwa Kanaya telah siap, Bisma pun merapatkan dirinya perlahan. Berusaha menghentak dan membenamkan dirinya sepenuhnya dalam cawan surgawi yang dimiliki oleh istrinya itu. Akan tetapi, saat pria itu berusaha dan menggeram, cawan surgawi yang dia tembus nyatakan masih begitu rapat. Membutuh tiga hingga lima kali hentakan guna membuatnya menyatu sepenuh. Itu pun, belum sepenuhnya dia bisa memasuki istrinya.
Perasaan yang benar-benar gila, hentakan yang membuat Kanaya menangis bahkan merintih. Sebagai seorang pria, Bisma sangat tahu betapa susahnya dia menyatukan dirinya dengan Kanaya, pria itu lantas membuka matanya dan menatap wajah Kanaya.
“Sakit?” tanyanya perlahan. Pria itu melihat bagaimana wajah Kanaya yang terlihat merah lantaran kesakitan, dengan air mata yang berlinangan begitu saja dari sudut matanya. Membuat Bisma perlahan menciumi kedua pelupuk mata Kanaya. "Tahan sebentar ya," pintanya kali ini.
Rasa sakit yang seolah dirasakan Kanaya dari ujung kepala hingga ujung kakinya itu membuatnya terisak dan merengkuh tubuh Bisma dengan begitu kuatnya.
Menahan sejenak, sebelum mulai menghentak dengan alunan simfoni surgawi, Bisma pun tersenyum, “Katakan Sayang, kalau aku yang pertama bagimu?”
Tidak mampu menjawab, Kanaya hanya bisa mengangguk dan terus berderai air matanya.
__ADS_1
“Oh, ya Tuhan Naya …” pria itu menggeram ketika memasukkan sesuatu di bawah sana yang seolah menarik dirinya untuk kian bergerak dan melanjutkan jedanya.
Hingga perlahan pria itu kembali bergerak seirama. Gerakan seduktif yang membuatnya lepas kendali hingga hilang kesadarannya. Gerakannya yang untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya cawan surgawi milik istrinya itu. Perasaannya kian membuncah saat mengetahui fakta bahwa dirinyalah yang pertama bagi istrinya. Sebuah fakta yang tidak dia ketahui sebelumnya bahwa istrinya masih bersegel, utuh, tanpa cacat dan cela. Hanya statusnya saja yang adalah seorang janda.
“Pegangan aku Sayang … atau kamu bisa gigit pundak aku.” ucapnya dengan suara paraudi tepi telinga Kanaya.
Menjeda aktivitasnya sejenak, Bisma lantas kembali melanjutkan hujaman demi hujaman yang berbalut kenikmatan. Hentakan yang menimbulkan decakan yang memenuhi kamar itu. Hingga Kanaya yang semula menangis, kini tangisannya pun telah reda, isakan justru berganti menjadi suara yang merdu di telinga Bisma. Suara yang membuat pria itu bagai terlecut lagi semangatnya.
“Bisma …,” dipanggilnyalah nama suaminya itu disertai dengan mengcengkeram di punggung Bisma. Panggilan layaknya wanita itu tengah mendesis karena ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya.
“Hmm, ya Sayang …” sahut Bisma, dengan semakin bergerak, menghentak, seolah tidak ada hari esok untuk mereguk manisnya nektar percintaan yang kali ini dia cicipi. Sisi primitif yang dimiliki pria itu justru kian membuat pria itu ingin mencoba sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Pria itu kian menghujam disertai dengan geraman, hingga gerakan kian cepat, cepat, dan cepat. Mendesak, dan mengabaikan semua yang ada di sekelilingnya. Tak peduli bagaimana Kanaya yang terengah-engah dan merintih, yang ada justru itu menjadi lecutan semangat bagi seorang Bisma.
“Ya Tuhan, Naya … I Love U. You are the one and only for me.” ucap pria itu ketika menjatuhkan tubuhkan di atas tubuh Kanaya dengan napas yang memburu. Meledak merasai warna-warni kembang api yang seolah hanya dirinya dan Kanaya yang mampu melihatnya.
Puncak dari sebuah penyatuan yang membuat waktu di sekitarnya berganti, hanya keduanya saja yang bergerak seirama, merasakan manisnya sebuah cinta, dan juga mengisi tangki air cinta mereka dengan nektar yang baru saja mereka reguk manisnya.
__ADS_1
Menstabilkan deru napasnya perlahan, Bisma pun turun, pria itu membawa Kanaya dalam dekapannya. “Bagaimana bisa Sayang? Hmm.” tanyanya sembari membelai lengan polos milik istrinya itu.
“Hmm, apa?” tanya Kanaya yang tidak tahu dengan ucapan suaminya yang ambigu.
“Bagaimana bisa kamu terus menyebut dirimu sebelumnya seorang janda, tetapi faktanya kamu masih original. Semua ini original? Aku tahu sendiri, bagaimana susahnya memasukimu dan semua rasa ini benar-benar meledak.” tanya Bisma perlahan.
Pertanyaan yang membuat Kanaya malu, tak mampu menjawab. Wanita itu kini hanya bisa membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya dengan satu tangan yang melingkari pinggang suaminya itu.
“Oh ya Tuhan … beruntungnya aku. Saat aku siap menerima semua konsekuensi dari menikahi seorang janda, ternyata kamu justru memberiku kejutan tak terkira. Terima kasih My Lovely Kanaya, I Love U So Much.”
Memang sebuah perkataan yang sangat logis, Bisma pikir dia tidak akan pernah bisa merasakan bagaimana merasakan menembus cawan surgawi seorang gadis karena pikirnya dengan status Kanaya. Akan tetapi, di luar dugaan, pria justru hampir gila, meledak, bagaimana kembang api yang bertaburan di angkasa, menghempaskan percikannya di udara hingga terciptakan warna-warni di langit.
Sementara Kanaya hanya berusaha, mengumpulkan kembali energi, dirinya yang begitu lemas dan rasa sakit seolah panas menjalar dari pangkal paha hingga ke seluruh kakinya. “Kamu yang pertama, dan kuharap menjadi yang terakhir bagiku, Suamiku. Pak Dokter, I Love U.” ucapnya dengan begitu lirih karena wanita itu seolah benar-benar kehilangan hampir seluruh tenaganya.
Bisma mengeratkan pelukannya dan menghujani puncak kepala istrinya dengan ciumannya, “Kamu juga yang pertama buatku dan yang terakhir. Aku cinta kamu, Naya, Istriku.”
Saat kedua insan sama-sama mengetahui bahwa mereka adalah yang pertama dan berharap akan menjadi yang terakhir, tiada ada lagi rasa yang bisa mewakili perasaan keduanya. Yang ada hanyalah rasa cinta, rasa syukur, dan hati yang bergemuruh riuh saat menjadi kado istimewa pertama dalam pernikahan mereka. Kado yang mereka buka berdua dan mencicipi rasanya untuk kali pertama. Keduanya yang sesaat sama-sama pecah, dan terhempas adalah wujud dari kebahagiaan yang mereka rasakan berdua, kado istimewa di malam pernikahan mereka.
__ADS_1