Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Kebesaran Hati Kanaya


__ADS_3

“Sayang, tadi ada yang nitip salam buat kamu,” ucap Bisma begitu dirinya sudah tiba di rumah.


Mendengar ucapan suaminya, Kanaya pun mengernyitkan keningnya, bertanya-tanya siapakah yang menitipkan salam untuknya. Seingatnya relasinya selama ini tidaklah banyak. Bahkan juga, bisa dihitung dengan jari. Lalu, siapa yang menitipkan salam untuknya melalui suaminya?


“Siapa Mas?” tanya Kanaya kepada Bisma.


Perlahan Bisma pun duduk menghampiri Kanaya, “Papa Jaya dan Gibran, mereka nitip salam buat kamu,” jawab Bisma dengan menatap wajah Kanaya.


“Kok bisa ketemu Papa Jaya dan Gibran? Mereka ke Rumah Sakit ya?” tanya Kanaya lagi.


Sebab, pikirnya suaminya baru saja pulang dari Rumah Sakit, sekali pun ini adalah hari libur, tetapi Bisma memang ke Rumah Sakit karena ada visiting pada bayi yang baru saja lahir.


“Iya, tadi ketemu mereka di Rumah Sakit, itu anaknya Darren sudah lahir,” ungkap Bisma pada akhirnya.


“Oh, Sandra sudah melahirkan ya? Anaknya apa laki-laki atau perempuan Mas?” tanya Kanaya kepada suaminya. Menurut Kanaya sudah pasti Bisma tahu dan mungkin saja suaminya tadi melakukan visiting kepada anaknya Sandra yang baru saja lahir.


Bisma pun sedikit menoleh ke arah Kanaya, “Anaknya cowok tadi. Tadi di ruangan pada heboh membicarakan karena Sandra melahirkan ditemani orang tuanya di luar, di dalam dia berjuang sendiri. Dokter Kandungannya tanya di mana suaminya, dijawabnya tidak ada,” cerita Bisma pada akhirnya.


Kanaya mendengar apa yang diceritakan suaminya itu, “Ah, iya … itu karena suaminya masih berada di dalam penjara. Kasihan sih Mas, soalnya kalau melahirkan itu butuh suami banget. Aku juga gak kebayang harus melahirkan sendiri, untung ada kamu yang menemaniku di sampingku,” ucap Kanaya kali ini.


“Akan tetapi, tadi sedikit ku dengar sih, dia tidak lama lagi keluar karena dapat pengurangan masa tahanan.” Lagi Bisma berbicara dan menceritakan hal itu kepada Kanaya.


Usai itu, Kanaya diam. Wanita itu tampak tengah berpikir, hingga akhirnya, dia beringsut dan menghadap suaminya, “Mas, bisa antar aku ke Rumah Sakit?” tanya Kanaya perlahan.


“Untuk apa?” sahut Bisma.


“Mau jengukin Sandra dan anaknya,” jawab Kanaya singkat.

__ADS_1


Bisma pun menyipitkan matanya untuk melihat istrinya itu, “Kamu yakin? Buat apa? Bukankah dulu Sandra termasuk dalam golongan orang yang menyakitimu termasuk suaminya?” tanya Bisma.


Apa yang ditanyakan oleh Bisma memang benar adanya, dulu Sandra pun turut memandang rendah Kanaya. Bahkan Bisma masih ingat bagaimana Sandra menyebarkan foto-foto masa lalu Kanaya dan berniat menjatuhkan reputasi Kanaya. 


“Ya, dia memang bersalah sih Mas, cuma kasihan anaknya. Bayinya kan tidak tahu apa-apa. Aku hanya mau menjenguk anaknya saja kok. Sebentar saja, boleh enggak?” tanya Kanaya.


“Kenapa kamu ingin menjenguknya?” tanya Bisma lagi. Pria itu seolah ingin mendapatkan jawaban yang lebih meyakinkan dari Kanaya.


“Apa pun masalah yang terjadi di antara orang tua, sebaiknya tidak melibatkan anak. Tidak perlu membawa-bawa anak dalam setiap masalah yang dihadapi orang tua. Sebab, kalau orang tua berkonflik dan anak-anak dibawa-bawa, justru anak yang seharusnya tidak tahu apa-apa, akhirnya juga memiliki dendam,” jelas Kanaya kepada Bisma.


Mendengarkan cerita Kanaya, Bisma pun mengangguk, “Ya, aku setuju denganmu. Sama seperti kita, sekali pun di masa lalu kamu berkonflik dengan Darren dan Sandra, kuharap saat Aksara kecil biarkan dia tumbuh tanpa mendengar masa lalu itu. Biarkan dia tumbuh sehat dan bahagia. Barulah nanti jika dia dewasa dan bisa menimbang mana yang baik dan benar, kamu boleh bercerita kepadanya. Oke?” 


Setelah itu, Bisma pun berdiri, “Ya sudah, yuk … ganti bajumu dulu, aku antarkan ke Rumah Sakit,” ucapnya.


***


Beberapa perawat dan petugas Rumah Sakit pun menyapa Bisma, karena ini memang jamnya Bisma melakukan praktik. Hari sudah menjelang sore, tetapi sang Dokter terlihat di Rumah Sakitnya.


Bisma pun mengangguk dan bersikap ramah kepada setiap petugas Rumah Sakit yang menyapanya. 


Kanaya pun perlahan melirik suaminya itu, “Dokter Spesialis Anak memang jadi idola di Rumah Sakit ya Mas?” tanyanya perlahan.


“Kenapa emangnya?” tanya Bisma.


“Semua kenal sama kamu, apalagi petugas Rumah Sakit yang Ibu-Ibu tadi. Kamu idola Ibu-Ibu yah?” tanya Kanaya lagi.


Bisma justru terkekeh, “Enggak juga, di etika profesi memang seharusnya Dokter itu bersikap ramah kok Sayang. Dulu kan ada mata kuliahnya, bahkan saat menghadapi pasien, Dokter harus ramah, menatap wajah pasiennya, tersenyum. Itu ada mata kuliahnya waktu kuliah Kedokteran dulu,” jawabnya.

__ADS_1


Sembari berjalan, Kanaya pun mengangguk mendengarkan penjelasan dari suaminya itu. Hanya saja Kanaya berpikir, sikap Bisma yang baik dan sopan itu mungkin terbentuk juga dari profesinya sebagai seorang Dokter yang harus memiliki etika profesi yang ramah dan baik.


Beberapa langkah berjalan, kini Kanaya dan Bisma sudah tiba di kamar tempat Sandra dirawat. Perlahan Kanaya dan Bisma pun mengetuk pintu kamar Sandra perlahan. Hingga terdengar sahutan dari dalam.


“Ya, masuk …”


Maka Kanaya pun perlahan membuka pintu itu, kemudian dia memasuki kamar itu dengan perlahan.


“Hai, San,” sapanya perlahan.


Melihat kedatangan Kanaya, Sandra pun mengerjap. Tidak menyangka akan melihat Kanaya dan Bisma datang ke kamarnya sekarang. 


Hingga Sandra pun mengangguk, “Oh, hai, Nay …” sapanya kepada Kanaya.


“Selamat buat kelahiran putra pertamamu ya … siapa namanya?” tanya Kanaya kini kepada Sandra.


“Ravendra, namanya Ravendra,” jawab Sandra singkat.


Setelah itu, Kanaya mengamati bayi laki-laki yang tengah terlelap di dalam box bayi yang berada di samping brankar Sandra itu. Sekilas Kanaya memperhatikan bahwa bayi itu memiliki wajah seperti Darren. Usai itu, Kanaya memberikan beberapa paper bag yang berisi kado untuk si bayi kepada Sandra.


“Ini, San … buat Ravendra,” ucapnya.


Sandra pun mengangguk, “Terima kasih ya Nay, sudah mau datang dan menjenguk kami berdua,” jawabnya.


“Iya, San … semoga kamu segera pulih dan babynya sehat selalu ya. Ya sudah, aku pamit ya, San.” ucap Kanaya yang rupanya memang tidak berlama-lama di tempat itu.


Tujuannya datang memang hanya untuk menjenguk bayinya Sandra, sehingga saat dirinya sudah melihat bayi itu dan memberikan sedikit hadiah, Kanaya pun memilih untuk segera kembali di rumah. 

__ADS_1


__ADS_2