
Pagi ini menjadi pagi yang indah, sangat indah untuk Bisma dan juga Kanaya. Bagaimana tidak? Usai mengarungi malam panjang penuh nektar cinta sebagai pasangan suami dan istri. Ini adalah pagi pertama bagi mereka berada dalam satu tempat tidur yang sama, sama-sama membuka mata dengan pandangan yang tertuju pada pasangan, dan juga pagi pertama dengan status sebagai pasangan suami dan istri.
Kanaya yang bangun terlebih dahulu, benar-benar tidak mengira bahwa kini dia tidur tidak sendiri. Ada suaminya yang berbaring di sisinya. Sudah pasti, suaminya adalah pria pertama baginya. Pria pertama yang berbaring di sisinya, berbagi ranjang dengannya. Saat membuka mata, hal pertama yang dia lihat tentu adalah wajah tampan suaminya dengan alis hitam yang simetris di sisi kanan dan sisi, hidung yang mancung, dagunya dengan sisa-sisa cukuran jambang di sisi. Pria tampan yang baik hati adalah penggambaran dari seorang Bisma.
Usai puas menatap wajah suaminya, Kanaya pun tiba-tiba menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, teringat kembali bagaimana aktivitasnya semalam. Aktivitas yang baru dia coba seumur hidupnya. Kegiatan malam yang benar-benar gila. Tak kuasa membayangkan semuanya, Kanaya justru menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya, menyembunyikan rasa malu yang tercetak jelas di wajahnya dengan selimut hotel yang berwarna putih itu.
Akan tetapi, baru sesaat dia menyembunyikan wajahnya, Bisma bergerak dan tangannya berusaha menurunkan selimut yang menutupi kepala Kanaya itu. “Pagi Istriku …” sapanya dengan suara serak khas bangun tidur. “Kamu kenapa kok selimutnya sampai ke atas kepala? Semalam saja, selimut kamu tersingkap loh.”
Ya ampun, perkataan pagi yang membuat Kanaya semakin malu. Wajah merah padam di balik selimut berwarna putih itu. Seolah dirinya mati kutu, dan dia benar-benar tidak menyangka jika selimut yang dia kenakan pun tersingkap.
“Pagi Dokter …” sahutnya perlahan, tetapi Kanaya justru masih enggan menurunkan selimut yang menutupi wajahnya.
Sapaan yang kembali ada settingan awal bahwa Kanaya masih saja memanggilnya Dokter, padahal semalam Kanaya tanpa sadar memanggil Bisma hanya dengan namanya, dan sekarang dia kembali pada settingan awal.
“Kok panggilnya Dokter lagi sih? Jadi manggilnya Bisma cuma semalam aja ya?” Bisma menggeliat, dia kemudian mengubah posisinya dengan bersandar di head board, pria itu tersenyum dan berusaha menarik selimut tebal berwarna putih itu yang menutupi wajah Kanaya.
“Kamu mau aku periksa? Walau pun aku Dokter Spesialis Anak, aku juga bisa loh memeriksa orang dewasa.” ucapnya sembari mengecupi kening Kanaya dari luar selimut itu.
“Ya ampun … diperiksa apa coba? Aku sehat-sehat kok.” sergah Kanaya dan wanita tiba-tiba saja siaga dengan ulah suaminya itu.
Hingga perlahan, Kanaya membuka selimutnya dan menatap suaminya yang sudah duduk bersandar head board. Memberikan senyuman malu-malu kepada suaminya itu.
Satu tangan Bisma terulur guna membawa Kanaya dalam pelukannya, “Pagi pertama sebagai suami istri. Masyaallah … indahnya.” ucap pria itu sembari mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya.
Ucapan penuh syukur merasakan momen bahagia sebagai pengantin baru yang membuat sang Dokter memuji kebesaran Allah. Momen bahagia yang dilaluinya dan direguk manis dengan wanitanya yang sah dan juga halal tentunya. Bisma tersenyum dan menatap Kanaya, “Mau mandi sekarang? Mau barengan atau antri mandi?” tanyanya kepada Kanaya.
__ADS_1
“Hmm, mandi sendiri ya … aku duluan, badan aku lengket semua.” ucapnya.
Dengan mempertahankan selimutnya di depan dada, Kanaya beringsut, berusaha turun dari tempat tidur, tetapi wanita itu memekik saat merasakan telapak kakinya yang bergetar saat baru menyentuh lantai. Otot-otot bahkan sendi-sendi di sana seolah kehilangan kekuatannya untuk berdiri menopang badannya sendiri.
Menyadari bahwa itu pengalaman pertama dan bisa membuat wanita kesakitan dan otot kakinya seolah lemas, Bisma pun beranjak. Dengan sigap dia menyingkap selimut yang semula masih dipegang Kanaya, membiarkan tubuh polos istrinya itu terpampang nyata. Pria itu dengan sigap menggendong Kanaya ala bride style masuk ke dalam kamar mandi.
“Sakit banget ya?” tanyanya dengan sorot mata yang menatap Kanaya.
Tidak perlu menjawab, kedua bola mata Kanaya yang berkaca-kaca cukup menjadi bukti bahwa semuanya itu memang mendatangkan rasa sakit bagi istrinya.
“Maaf ya … nanti kalau sudah sering udah enggak akan sakit kok.” ucapnya kemudian menurunkan Kanaya di depan wastafel di kamar mandi.
“Bohong … aku gak mau lagi, sakit banget.” sahut Kanaya dengan cepat.
Kanaya justru terkekeh geli pada reaksi suaminya itu, tidak menyangka bahwa suami yang dulu adalah temannya itu ternyata bisa juga kocak dan bercanda, kepribadian yang baru Kanaya ketahui setelah menjadi istri seorang Bisma.
“Jadi maunya dipanggil Abang nih? Abang Bisma?” Tanya Kanaya dengan wajah menahan tawa.
“Kamu panggil apa pun aku pasti mau … kalau bisa jangan panggil Dokter lagi. Panggil Abang, Hubby, Mas, atau apa pun boleh.” ucapnya.
“Oke deh, aku pikirkan dulu mau memanggil kamu apa … kok kamu masih ada di sini sih? Enggak keluar? Aku mau mandi … malu.” ucapnya sembari membawa kedua tangannya untuk menutupi bagian dadanya.
Bisma justru tertawa, “Tidak perlu ditutup-tutupi, aku udah lihat semuanya.” balasnya dengan senyuman nakal di wajahnya.
“Eh, ya ampun … nakal banget sih Pak Dokter ini.” gerutu Kanaya kepada suaminya itu.
__ADS_1
Alhasil Bisma nyatanya lebih memilih berduaan dengan Kanaya di kamar mandi. Menunaikan ritual mandi bersama untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri. Usai membersihkan badannya, pria itu kemudian keluar terlebih dahulu dari kamar mandi dan merapikan tempat tidurnya. Saat menarik selimut, guna merapikannya, pria itu tiba-tiba tersenyum, saat melihat noda merah layaknya kelopak bunga di sana. Bahkan pria itu tampak menggelengkan kepalanya, sungguh terkejut saat istrinya ternyata masih tersegel rapat. Original. Seketika, hatinya kembali membuncah dengan kebahagiaan membayangkan bahwa dirinyalah yang pertama untuk Kanaya.
“Kenapa kok senyum-senyum?” tanya Kanaya yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia melihat bagaimana suaminya itu senyum-senyum sendiri.
Perlahan Bisma berjalan dan mendekap erat tubuh istrinya itu dari belakang. Harum wangi dari sabun dan shampoo yang terasa begitu manis di indera penciuman Bisma, membuat pria itu memejamkan mata dan menghirupi wangi yang menguar dari tubuh dan rambut istrinya itu.
“Makasih, Istriku …” ucapnya sembari tersenyum.
Kanaya pun mengernyitkan keningnya, “Buat?”
Mengusapkan dagunya di pundak istrinya, “Buat kamu yang ternyata masih segelan.” ucapnya dengan berbisik lirih di depan telinga istrinya.
Dengan cepat Kanaya menyingkut perut suaminya itu, “Ya ampun … masih dibahas sih.” sahutnya dengan cepat.
Bisma lantas membalik badan Kanaya, hingga sekarang keduanya saling berhadap-hadapan. “Jujur saja, aku pikir … aku enggak akan pernah merasakan rasanya membuka segel. Sebab, aku tahu bahwa kamu sebelumnya gagal dalam pernikahan sebelumnya. Dan, setelah semalam, aku jadi seolah mendapat jackpot tahu enggak. Masyaallah … nikmatnya. Terima kasih buat kejutannya semalam.”
Kanaya hanya berdiri dan memandang wajah suaminya itu, “Kalau ternyata segelku udah terbuka bagaimana?” tanya dengan memandang wajah suaminya.
“Tidak masalah, Naya … aku mencintaimu, aku menerimamu dengan segala konsekuensinya. Asalkan itu dirimu, itu sudah cukup bagiku.” balasnya dengan penuh kesungguhnya.
“Akan tetapi, saat tahu bahwa aku menjadi pria yang pertama bagimu, rasanya dadaku melimpah dengan
kebahagiaan. Mungkin saja detak jantungku berdetak melebihi ambang batasnya, nadiku pun juga. Aliran darah ke arteriku juga berdesir kian cepat. Terima kasih, Istriku … Aku cinta kamu, Naya.”
Tidak dipungkiri bahwa pikiran Bisma begitu realistis. Di saat dirinya benar-benar menerima Kanaya dengans segala konsekuensinya, justru dia merasakan indahnya kado istimewa pernikah. Pria itu lantas bergumam, “Semalam benar-benar indah … nikmat mana lagi yang kudustakan? Tidak ada. Semuanya nikmat.”
__ADS_1