Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Kabar Kejutan dari Sandra


__ADS_3

Sementara itu, di tempat yang berbeda Sandra merasakan ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Wanita itu sepanjang hari hanya bisa berbaring di atas tempat tidurnya. Jika, dia ingat-ingat kembali, selama tiga hari belakangan dia juga merasa tidak memiliki selera makan. Perutnya terasa kembung dan juga beberapa kali wanita itu rasanya ingin muntah.


Sandra mengerjap, kemudian dia menilik pada aplikasi kalender menstruasi di handphonenya. Menghitung, apakah memang sudah waktunya dia mendekati masa haid. Akan tetapi, anehnya Sandra bukan termasuk wanita yang merasakan sakit menjelang masa haid.


Kedua bolanya menatap deretan angka dalam kalender digital itu, kemudian dia menggigit bibir bawahnya di sana. Satu tangan terangkat dan seolah menutup mulutnya.


“Apa, telat sepuluh hari? Harusnya aku sudah mendapatkan masa haid dua minggu yang lalu,” ucapnya dengan menaruh handphonenya di tempat tidur begitu saja.


Merasa telat datang bulan, ingatan Sandra berputar pada kejadian kurang lebih hampir satu bulan yang lalu saat dirinya mengunjungi Darren di Rumah Sakit dan mereka berakhir pada permainan kilat 15 menit di atas brankar Rumah Sakit. Kembali Sandra menggigit bibirnya, “Ah, waktu itu … bagaimana jika ada sesuatu di dalam sini?” Tangannya merayap guna memegang perutnya yang masih rata.


Untuk mendapatkan kejelasan dari badannya yang terasa tidak enak layaknya terkena masuk angin dan juga rasa mual yang terkadang menyeruak, maka Sandra akan membeli test pack dan akan melakukan tes sendiri keesokan harinya.


***


Keesokan Hari …


Pagi menjelang siang, Sandra memasuk benda pipih berbentuk persegi panjang berukuran kecil ke dalam sling bagnya. Kemudian, dia segera menuju Rumah Tahanan tempat Darren ditahan di sana.


Sekalipun badannya merasa tidak enak, tetapi ada kabar serius dan sangat penting yang harus diketahui Darren hari ini. Sandra tidak akan menunda-nunda lagi, karena Darren wajib tahu dengan apa yang terjadi kepadanya.


Hingga akhirnya, begitu sampai di Rumah Tahanan dan juga Sandra menunggu Darren dengan gelisah, berharap pria itu bisa menerima kabar yang akan dia sampaikan.


“Hei, Darren …” sapanya begitu telah melihat kedatangan Darren.

__ADS_1


Apabila sebelumnya, Darren menunjukkan wajah datarnya, tetapi pria itu terlihat sedang tersenyum di sana.


“Hei, Sandra … kamu datang lagi?” tanya Darren kali ini dengan intonasi suara yang lebih ramah.


Sandra pun mengangguk, “Iya … kamu baik kan?” tanyanya lagi.


“Ya, aku baik. Ada apa?” Darren akhirnya pun bertanya kepada Sandra kenapa dia datang menemuinya.


Sandra mengumpulkan keberaniannya dan juga menatap wajah Darren dengan begitu lekat, “Darren, aku positif.” Satu pengakuan itu meluncur begitu saja dari bibir Sandra.


Di sisi lain, Darren seolah membeku. Dia benar-benar tidak mengira jika Sandra datang dan mengatakan bahwa dirinya tengah positif. Darren pun teringat pada kegiatan panas yang tidak sengaja terjadi di Rumah Sakit hampir satu bulan yang lalu. Pria itu perlahan menatap kedua bola mata Sandra, “Bagaimana bisa?” tanyanya perlahan.


“Bisa, saat aku mengunjungimu di Rumah Sakit. Saat itu, we are making love together for 15 minutes. I hope, you remember,” ucap Sandra dengan menatap Darren.


“You playing just with me?” tanya Darren dengan setengah berbisik.


Sandra pun mengangguk, “Ya, aku bermain hanya bersamamu. Aku tidak pernah main-main dengan pria mana pun.”


Dari jawabannya, Sandra seolah menegaskan bahwa dia bercinta hanya dengan Darren saja, dirinya sudah tidak bermain dengan pria lain mana pun, lagipula memang Sandra berkeinginan untuk menunggu Darren. Akan tetapi, apa yang terjadi di Rumah Sakit kala itu, tampaknya justru mengubah skenario yang sudah dia susun sebelumnya.


“Jadi, itu anakku?” tanya Darren perlahan.


Lagi-lagi Sandra mengangguk, “Iya, anakmu.”

__ADS_1


Darren pun mengusap wajahnya dengan kasar, tidak menyangka bahwa dirinya akan menjadi seorang Ayah. Sayangnya, bagi Darren sekarang ini, apa yang disampaikan Sandra terjadi di saat yang tidak tepat. Jika, semua pria akan merasa bahagia saat hendak menjadi seorang Ayah, tetapi Darren justru merasakan yang sebaliknya. Posisinya yang masih berada di balik jeruji besi, membuatnya kalut.


“Kamu tidak bahagia, Darren?” tanya Sandra lagi kepada Darren.


“Ah tidak, tidak. Bukan begitu. Hanya saja, aku kebingungan dengan semua yang terjadi,” sahut Darren.


Sandra pun memincingkan matanya, menatap dengan tajam pria yang duduk di hadapannya saat itu, “Kenapa bingung? Harusnya kamu bingung saat kamu tidak bisa menahan hasratmu saat kita berada di Rumah Sakit dulu,” jawab Sandra dengan ketus.


Darren kemudian mengangguk, “Maafkan aku, San … pasti sulit buatmu. Akan tetapi, aku akan bertanggung jawab jika dia benar-benar anakku. Dengan catatan, usai aku bebas dari sini aku akan melakukan test DNA atasnya.”


Apa yang diucapkan Darren menyakiti harga diri Sandra. Dirinya bisa positif, itu karena peristiwa tak terelakkan yang mengalir begitu saja. Lantas, saat Sandra datang dan menyampaikan kabar bahwa dirinya sedang berbadan dua justru Darren seolah meragukan kebenaran benih yang telah bersemai di dalam rahimnya kini. Ada rasa sakit yang menyeruak di dalam hatinya.


“Padahal aku hanya bermain denganmu, Darren … bisa-bisanya kamu meragukan asal muasal benih di dalam rahimku,” ucapnya dengan kedua bola mata yang tampak berkaca-kaca.


“Bukan begitu, Sandra … hanya saja, aku hanya ingin memastikan kebenarannya. Lagipula, aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu. Aku akan bertanggung jawab atasmu dan atas anak itu.” Darren berbicara kali ini dengan tegas. Sekalipun, yang terjadi bisa saja sebuah kesalahan, tetapi dia tetap akan bertanggung jawab untuk risiko yang sudah terjadi kali ini.


Ya, Darren akan menikahi Sandra dan bertanggung jawab atas Sandra dan anaknya. Hanya saja, untuk menegaskan segala sesuatunya, Darren tetap akan bersikeras untuk melakukan tes DNA jika dirinya telah bebas dari Rumah Tahanan nanti.


“Jika, test itu membuktikan bahwa bayi ini memang anakmu, kamu lah yang akan menyesal, Darren.” Sandra berbicara kali ini.


Akan tetapi, Darren justru menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku tidak akan menyesal, tetapi jika benar bahwa bayi itu anakku, justru aku akan bahagia. Juga, artinya keraguanku kepadamu pun tidak terbukti. Jadi, test DNA nanti bisa membuktikan dua hal yaitu dia adalah darah dagingku dan juga kamu yang benar-benar hanya bermain denganku. Sebab, jika kamu hanya bermain denganku, kupastikan bahwa aku akan berusaha memulihkan seluruh perasaanku yang pernah redup untukmu.” ucapnya dengan begitu panjang lebar dan penuh penekanan.


Sementara Sandra hanya bisa menerima apa yang diucapkan dan menjadi rencana dari Darren. Setidaknya, kali ini ada jalan baik ya terjadi, yaitu Darren akan menikahinya dan bertanggung jawab atasnya. Itu sudah cukup untuk saat ini.

__ADS_1


__ADS_2