Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Kejutan Terindah


__ADS_3

"Udah ya jangan nangis lagi ... aku minta maaf." ucap Bisma yang masih meyakinkan istrinya itu untuk berhenti menangis.


Sekalipun menangis itu sehat, karena air mata yang dikeluarkan oleh seseorang bisa melegakan perasaannya dan bisa membersihkan mata, tetapi seorang ibu hamil yang bersedih dan menangis bisa juga berdampak kepada janin yang tengah mereka kandung.


Sayangnya, Kanaya justru ingin berlama-lama menangis. Terisak dengan suara lirih di dada bidang suaminya itu. Bisa dipastikan bahwa kaos yang dikenakan oleh suaminya itu basah karena air matanya.


Akan tetapi, tiba-tiba Bisma sedikit tertawa, dan tangannya mengusap rambut sebahu milik istrinya itu.


"Happy Birthday, My Lovely Kanaya." ucapnya berbisik di telinga istrinya itu.


Rupanya memang dia sengaja membuat istrinya menangis karena bisa membuat kejutan di hari ulang tahun istrinya itu. Pria itu berbicara dan menunjukkan raut wajah yang begitu serius untuk melancarkan kejutannya. Setelah itu Bisma mengurai pelukannya, bergeser sedikit di samping Kanaya dan mulai membopong begitu saja tubuh istrinya itu.


Kanaya pun tercekat dengan aksi tiba-tiba suaminya yang mengangkat tubuhnya ala bridal style dengan tiba-tiba. Refleks, Kanaya pun mengalungkan tangannya di leher suaminya. Untuk berpegangan.


Bisma berjalan dengan begitu pelan, kemudian mendudukan Kanaya di kursi yang menghadap ke kaca jendela dengan panorama Ibukota di malam hari itu. Di sebuah meja sudah tersedia Kue Ulang Tahun dan Bunga Mawar Putih.


Bisma berjalan dan memberikan sebucket bunga Mawar Putih itu kepada istrinya dengan tersenyum. Kanaya justru menampakkan wajah bingung, seharian dia berada di rumah, tetapi bagaimana suaminya bisa menyiapkan semua ini tanpa dia ketahui.


Sayangnya belum sempat dia bertanya, kini Bisma menghidupkan korek api untuk menyalakan lilin. Pria itu berjalan mematikan lampu di ruang utama, sehingga cahaya yang muncul hanya dari lilin yang tengah menyala itu. Mengangkat kue dengan kedua tangannya dan berjalan mendekat ke arah Kanaya.


"Make a wish Sayang ..." ucapnya dengan sedikit berjongkok dan meminta istrinya untuk melakukan make a wish.

__ADS_1


Kanaya pun mengangguk, dan mulai memejamkan matanya.


Semoga Mas Bisma benar-benar tulus mencintaiku. Kami berdua hidup bahagia, dan si baby bisa lahir sehat dan sempurna saat kelahirannya nanti.


Usai mengucapkan harapannya dalam hati, perlahan kedua kelopak mata milik Kanaya pun terbuka. Wanita itu menghela napasnya melihat lilin yang menghiasi kue ulang tahun itu. Hanya sekian detik, Kanaya melihat kue ulang tahun itu, kemudian dia mengalihkan sorot matanya pada pria yang tengah tersenyum dan memegangi kue tersebut.


Rasanya Kanaya benar-benar bersyukur, jika boleh meminta di setiap ulang tahunnya, dia bisa melihat senyuman dari pria yang benar-benar dia cintai itu.


"Tiup lilinnya Sayang ..." ucap Bisma yang kali ini memerintahkan Kanaya untuk meniup lilin-lilin kecil itu.


Mengangguk, Kanaya pun mulai meniup lilin-lilin di atas kue ulang tahun itu.


"Selamat ulang tahun Istriku Tercinta ... Doaku kamu selalu sehat dan bahagia. Doaku juga kamu bisa menjalani kehamilan ini dengan bahagia, tahun ini kita akan menyambut buah hati kita. Maaf ya, tadi aku sudah usil dan membuat kamu menangis. Happy Birthday Sayang ..." ucapnya.


"I Love U." ucap Bisma tepat di depan bibir Kanaya, dan pria itu kembali menyapa bibir ranum milik istrinya itu. Mengecupnya dengan begitu dalam, dan menggerakkan kedua belah bibirnya itu guna menyesap bibir Kanaya bergantian atas dan bawah.


Jika hanya sebuah ciuman singkat, maka itu tidak akan terjadi. Sebab, saat bibir dan sapuan lidahnya bergerak dan menari-nari di dalam rongga mulut istrinya yang ada justru Bisma kian jatuh dan larut, arusnya yang besar justru menghantamnya untuk semakin dalam mengecapnya, memagutnya, dan membuai di dalam sana.


Namun, perlahan pria itu mengurai ciumannya, dan ibu jarinya bergerak untuk mengusap bibir bawah Kanaya.


"I Love U So Much Sayang." ucapnya lagi.

__ADS_1


Bisma lantas mengeluarkan sesuatu dari saku celana rumahan yang dia kenakan, sebuah kotak berbegi persegi panjang dengan pita berwarna ungu dia serahkan kepada istrinya.


"Kado untuk Istriku tercinta ..." ucapnya sembari tersenyum.


Kanaya pun benar-benar tertegun dengan semua yang dilakukan suaminya itu. Pasalnya, dia sendiri pun tidak tahu bagaimana bisa suaminya menyiapkan semuanya dengan begitu sempurna dan tanpa ketahuan olehnya.


Kanaya pun lantas menerima kado itu. Menatap wajah suaminya itu, "Aku buka boleh?" tanyanya sebelum berniat membukanya.


Bisma pun mengangguk, "Iya ... bukalah."


Mulailah jari-jemari Kanaya bergerak, pertama-tama melepaskan pita ungu yang menghiasi kotak persegi itu dan kemudian melanjutkan dengan membuka kotak itu. Sebuah gelang dengan lambang infinity terlihat begitu indah di dalam kotak itu. Melihat itu, mata Kanaya pun berkaca-kaca.


Bisma perlahan mengambil gelang dari kotak itu dan memakaikannya di tangan kanan istrinya. "Angka delapan ini adalah lambang infinity. Angka yang sempurna. Angka yang tak pernah berakhir. AKu memilih ini karena cintaku padamu itu sempurna Sayang, tidak akan pernah berakhir. Dulu aku mencintaimu, sekarang aku mencintaimu, dan sampai ujung usiaku, aku akan selalu mencintaimu." ucapnya kemudian mendaratkan sebuah kecupan di punggung tangan istrinya itu.


"I Really Love U, My Lovely Kanaya." ucapnya dengan sungguh-sungguh dan dengan sorot mata yang hanya mengunci pada sosok istrinya itu.


Diperlakukan dengan begitu istimewa oleh suaminya sendiri justru membuat Kanaya terisak, dan wanita itu dengan begitu saja menghambur dan memeluk suaminya.


"Makasih buat semuanya Mas ... I Really Love U Too, My Hubby." ucapnya dengan terisak.


Bisma pun tertawa, "Kenapa jadi nangis gini sih Sayang ..."

__ADS_1


Perlahan Kanaya mengurai pelukannya, mengangkat wajahnya untuk bisa menatap wajah suaminya dan memukul kembali dada suaminya itu, "Yang bikin aku nangis siapa coba?" tanyanya sembari mengerucutkan bibirnya.


Namun, melihat bibir istrinya yang mengerucut, Bisma dengan segera mengecup bibir itu hingga menghasilkan suara, dan pria itu tertawa. "Aku yang memulai Sayang ... maaf ya, tetapi setidaknya kejutanku berhasil. Sekali lagi selamat ulang tahun ya Sayangku. Terus temani aku di akhir usiaku. Kita menua bersama, saling mencintai dan memiliki satu sama lain. I Love U."


__ADS_2