Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Baby Aksara


__ADS_3

Kelahiran seorang bayi membawa kebahagiaan untuk seluruh keluarga. Itu juga yang terjadi pada keluarga Pradana. Ayah Tirta dan juga Bunda Hesti pun turut menunggu berlangsungnya momen kelahiran cucu pertama mereka di luar ruangan operasi.


“Kenapa lama ya, Yah?” tanya Bunda Hesti yang beberapa kali berjalan mondar-mandir.


Ayah Tirta justru tersenyum melihat istrinya yang tengah cemas itu, “Bunda ini seorang Bidan kok malahan kelihatan khawatir dan cemas seperti ini sih. Biasanya kan Bunda tenang membantu para calon Ibu melahirkan bayinya. Sekarang menunggu cucu sendiri, malahan khawatir.” gumam Ayah Tirta sembari menggelengkan kepalanya.


Bunda Hesti kemudian mengambil duduk di sisi suaminya itu, “Beda cerita lah Yah … kan ini cucu pertama. Anak kita ada di dalam sana sedang berjuang di meja operasi. Rasanya di dalam hati itu tetap berbeda.” sahut Bunda Hesti.


Beberapa saat menunggu, akhirnya pasangan paruh baya itu mendengar suara tangisan bayi.


Oekk … Oekk … Oekk …


Sontak Ayah Tirta dan Bunda Hesti pun berdiri, “Itu cucu kita … bayi Bisma dan Kanaya sudah lahir.” ucap Bunda Hesti yang terlihat tersenyum. Sementara Ayah Tirta pun mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.


“Alhamdulillah … cucu kita.” ucap Ayah Tirta. Tidak dipungkiri dia pun merasakan bahagia menyambut cucu pertamanya.


“Akhirnya Bisma menjadi Ayah, Naya menjadi Bunda, dan kita berdua menjadi Eyang untuk cucu pertama kita.” Bunda Hesti kembali berbicara. Wanita paruh baya terlihat menitikkan air matanya.


Padahal baru mendengarkan tangisan sang bayi, tetapi keduanya terlihat begitu bahagia.


Beberapa saat kemudian lampu tanda operasi berlangsung pun padam. Kanaya yang sudah tertidur karena efek obat bius mulai dipindahkan ke kamar perawatannya, dan si baby dimasukkan ke dalam inkubator untuk proses observasi selama 6 jam setelah dilahirkan.


Bunda Hesti dan Ayah Tirta sama-sama menitikkan air mata, melihat bayi laki-laki berambut hitam legam, kulitnya putih bersih, hidungnya yang mancung, dan bibirnya mungil. Mengingatkan keduanya kepada sosok Bisma waktu kecil.


“Mirip Bisma waktu kecil ya, Yah …” ucap Bunda Hesti dengan tersenyum.


Ayah Tirta pun mengangguk, “Iya … dulu kita bahagia menyambut kelahirannya, dan sekarang putra kita sudah menjadi seorang Ayah.” jawab Ayah Tirta.


***

__ADS_1


Enam Jam kemudian …


Kanaya mulai sadar dari operasi Caesar yang baru saja dijalaninya. Sebagaimana operasi Caesar pada umumnya, Kanaya merasakan sakit terutama di bagian perut yang mendapatkan luka sayatan dan juga area tulang belakang tempat disuntikkannya anestesi epidural. Kendati sudah menggunakan teknik ERACS, tetap saja ada rasa sakit yang tersisa dan harus dirasakan Kanaya.


“Mas …” ucapnya lirih begitu dia sadar memanggil suaminya itu.


“Ya Sayang, aku di sini.” ucap Bisma yang memang sedari tadi tidak beranjak dari sisi istrinya itu.


Begitu lega perasaan hati Kanaya saat mendapati ada suaminya yang setia mendampinginya dan juga menggenggam erat tangannya.


“Kamu sudah sadar?” tanya Bisma dengan lembut.


Perlahan Kanaya menganggukkan kepalanya, “Iya …” ucapnya yang masih terlihat lemah.


“Nunggu kalau kamu sudah buang angin, baru minum ya Sayang. Tahan dulu.” ucapnya memberitahu istrinya.


“Iya …” sahut Kanaya.


Bunda Hesti dan Ayah Tirta pun mendekati brankar Kanaya.


“Sudah sadar, Naya?” tanya Bunda Hesti.


Kanaya pun mengangguk, “Iya Bunda … Ayah …” sahutnya kepada kedua mertuanya itu.


“Ayah dan Bunda sejak tadi menunggu saat kamu melahirkan, beliau berdua menunggu di luar ruang operasi.” cerita Bisma kepada istrinya itu.


Kanaya pun mengangguk, matanya tampak berkaca-kaca, tidak mengira bahwa mertuanya begitu baik dan mau menunggui proses persalinannya. “Terima kasih banyak Ayah dan Bunda.” ucap Kanaya berterima kasih dengan sepenuh hati.


“Jadi, cucu Eyang Putri dan Eyang Kakung dinamai siapa nih?” tanya Bunda Hesti lagi kepada Kanaya dan Bisma.

__ADS_1


Bisma kemudian tersenyum, “Aksara, Bunda …. Namanya Aksara Adhinata Pradana.” jawab Bisma dengan begitu bangga mengucapkan nama lengkap putranya itu.


“Namanya bagus … apa artinya?” tanya Ayah Tirta.


“Seorang yang dalam hidupnya tertulis keunggulan dan melimpah dengan keabadian.” jawab Bisma.


Ayah Tirta pun mengangguk, “Bagus … karena nama itu adalah doa. Jadi jangan sembarangan memberikan nama kepada anak-anak, sematkan doa dan harapan kita untuk si bayi.” nasihat dari Ayah Tirta.


“Baby Aksara …” ucap Bunda Hesti dengan begitu lembut. “Sudah cocok, Bunda setuju.” imbuhnya lagi yang menyatakan bahwa dirinya setuju dengan nama itu.


Setelahnya perawat datang dan membawa bayi Aksara dalam sebuah box bayi.


“Permisi, Dokter Bisma dan Ibu Kanaya …” sapa perawat itu begitu memasuki kamar tempat Kanaya dirawat. “Bayinya sudah bisa dipindahkan di sini ya Bu … bayinya sehat, jika ASI-nya sudah keluar bisa segera diberikan ASI. Setelahnya, nanti saya akan menolong untuk memandikan bayinya.” ucap si perawat.


Kanaya pun menerima bayi Aksara dengan kedua tangannya, wanita itu tersenyum memperhatikan wajah buah hatinya yang merupakan perpaduan dirinya dan juga suaminya. Merasa bahwa Aksara harus kembali menerima ASI, Ayah Tirta dan Bisma pun memilih untuk keluar dari kamar terlebih dahulu, sementara Bunda Hesti masih berada di dalam kamar.


“Sudah pinter ini Cucunya Eyang Putri minum ASInya.” ucap Bunda Hesti sembari mengamati betapa pandai dan lahapnya baby Aksara yang tengah meminum ASI sebagai sumber kehidupan pertamanya itu.


“Iya Bunda … tadi waktu Inisiasi Menyusui Dini juga bisa menemukan sumber ASI-nya sendiri. Pinter ya Bunda.” jawab Kanaya dengan tersenyum.


“Rasanya Bunda dan Ayah kamu seperti kembali ke masa saat kami usai melahirkan Bisma puluhan tahun yang lalu. Tidak terasa, putra kami sekarang sudah resmi menjadi seorang Ayah.” kenang Bunda Hesti dengan mengurai senyuman di wajahnya.


“Hai Aksara … Cucunya Eyang Putri.” sapa Bunda Hesti kepada cucunya yang bernama Aksara itu.


“Sehat-sehat ya Sayang … kamu tumbuh dalam keluarga yang menyayangi kamu. Ayah Bisma, Bunda Naya, Eyang Kakung, dan Eyang Putri semuanya menyayangi kamu.” ucap Bunda Hesti lagi yang merasa begitu bahagia melihat Aksara yang masih begitu damai mendapatkan ASI dari Kanaya itu.


Kanaya pun menitikkan air matanya, “Terima kasih Bunda … untuk kasih sayang yang begitu besar ini. Terima kasih sudah menerima Naya dalam keluarga Pradana dan menyayangi Naya dengan tulus. Aksara pasti senang dan bahagia memiliki keluarga sebagai lingkungan tumbuh kembang pertamanya.” ucapnya.


Bunda Hesti pun merangkul lembut bahu menantunya itu, “Jangan sedih lagi … hidupmu akan semakin berwarna dengan hadirnya baby Aksara. Kamu sudah naik level sekarang, Nay … pengalaman menjadi seorang Ibu mengubah hidup seorang wanita.” nasihat dari Bunda Hesti.

__ADS_1


Kanaya mengangguk, “Iya Bunda … baru beberapa jam Naya melahirkan Aksara, rasanya Aksara sudah menjadi dunianya Naya.” akunya dengan begitu bahagia.


Ya, saat seorang anak lahir dia akan menjadi dunia bagi kedua orang tuanya. Pun demikian bagi seorang bayi, orang tuanya lah adalah dunia baginya.


__ADS_2