
Tiga minggu kemudian, Bisma dengan persiapannya yang matang mampu merampungkan apotek dan tempat praktiknya sebagai seorang Dokter Anak. Bisma itu menatap dengan senyuman di wajahnya atas perubahan pada rumah yang dahulunya ditinggali Kanaya sejak kecil. Dalam lamunannya, tiba-tiba muncul bayangan saat dirinya mengantar Kanaya pulang, membiarkan dirinya menunggu dengan basah kuyub karena air hujan, dan sekarang dia berada di rumah yang sama dan akan ada kenangan yang akan dia lakukan di kediaman Kanaya ini. Rumah ini akan menjadi tempat yang dibutuhkan oleh anak-anak, di rumah ini setiap anak yang sakit akan diperiksa dan mendapatkan pengobatan. Salah satu mimpi besar seorang Dokter Bisma pun tercapai, ya dia bisa memiliki tempat praktik sendiri.
Puas dengan hasil di rumah Kanaya, kemudian pria itu bergegas pulang ke apartemennya. Setelah memiliki Aksara, rasanya Bisma tidak suka berlama-lama keluar dari apartemennya. Dia ingin selalu bermain dengan Aksara dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana bayi kecilnya yang terus bertumbuh setiap hari.
“Ayah pulang …,” ucap pria itu nyaris setiap sore.
Sementara ada Kanaya dan Bisma yang selalu tersenyum menyambut pria itu setiap sorenya.
“Wah, Ayah udah pulang …Welcome home Ayah. Mandi dulu, sebelum mandi tidak boleh pegang Aksara,” ucap Kanaya yang benar-benar meminta suaminya untuk menjaga kebersihan. Terlebih suaminya bekerja di Rumah Sakit, bisa saja banyak virus atau kuman yang menempel di badannya. Oleh karena itu, sebelum memegang Aksara memang Kanaya menyuruh suaminya itu untuk mandi terlebih dahulu.
“Ihh, Bundanya sekarang jadi galak deh. Iya-iya, Ayah mandi dulu ya … awas jangan ngintip! Nanti bintitan,” balas pria itu dengan mengedipkan satu matanya dan tertawa kepada istrinya.
Lima belas menit berlalu, dan sekarang Bisma telah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Merasa dirinya sudah bersih, maka sekarang dia berani untuk mendekati putranya.
“Sini ikut Ayah … Aksara seharian ngapain aja coba? Cerita sini sama Ayah.” Pria itu mengajak Ayahnya untuk berbicara, melakukan bonding untuk membangun kedekatan antara anak dengan ayah.
Setelah Aksara bersama Ayahnya, Kanaya kemudian menuju ke dapur hendak membuatkan segelas Teh Hangat untuk suaminya. Tidak menunggu waktu lama, Kanaya kembali dengan membawa secangkir Teh hangat di sebuah nampan dan beberapa camilan.
“Teh hangat, Mas,” ucapnya sembari menaruh secangkir Teh hangat di meja yang berada di depan suaminya.
“Makasih Bunda …” jawab Bisma seraya tersenyum.
“Seharian ini Aksara rewel enggak?” tanyanya kepada Kanaya. Setelah masa cutinya habis, dan Bisma sudah kembali bekerja, dia selalu bertanya apakah seharian ini anaknya rewel. Agaknya pertanyaan itu sudah menjadi pertanyaan wajib bagi Bisma.
Kanaya menggelengkan kepalanya, “Enggak … enggak rewel kok. Aksaranya manis kok,” jawabnya. Kemudian Kanaya mengambil tempat duduk di sisi suaminya itu, “Tumben hari ini pulangnya agak telat Mas?” tanyanya kepada Bisma.
Oleh karena Kanaya tengah bertanya, maka saat ini adalah waktunya bagi Bisma untuk berbicara kepada istrinya itu.
__ADS_1
“Aku ke suatu tempat tadi, Sayang … weekend ikut aku ke suatu tempat ya Sayang? Ajak Aksara juga,” ucapnya dengan menatap wajah istrinya.
“Kemana?” tanya Kanaya dengan wajah penuh selidik.
“Ikut aja.” Bisma menjawab dan sekarang dia tidak ingin menjelaskan semuanya kepada Kanaya karena dia ingin memberikan kejutan untuk istrinya itu.
***
Saat Akhir Pekan Tiba …
Menjelang sore, Kanaya sudah bersiap-siap. Wanita itu tampak cantik dengan mengenakan sebuah midi dress batik yang berwarna pastel. Sementara Aksara juga sudah bersiap. Wanita itu bergumam kepada Aksara sembari memakaikan sepatu berukuran newborn di kaki bayinya itu.
“Nak, Ayah mau mengajak kita kemana sih? Bunda beneran belum tau loh kemana Ayah mau mengajak kita?” Wanita itu berbicara kepada anaknya yang masih bayi dan menunjukkan wajahnya yang sedikit bingung.
“Sudah siap?” tanya Bisma yang sudah bersiap dengan kemeja dan celana bahan layaknya pria itu hendak bekerja ke Rumah Sakit saja, kurang jas dokter putih saja yang dikenakannya.
“Ikut saja, yuk …” sahut Bisma dan pria itu segera menggandeng tangan istrinya untuk mengikutinya menuju parkiran mobil di basement. Setelahnya pria itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju tempat yang akan dipakai untuk memberikan kejutan kepada Kanaya.
Sepanjang perjalanan, Kanaya hanya diam. Akan tetapi, sudah pasti Kanaya tahu kemana mobil suaminya itu melaju. Sebab Kanaya tahu benar jalanan yang mereka lewati sekarang ini.
Rupanya tebakan Kanaya benar. Mobil suaminya itu melaju menuju ke arah rumahnya dahulu. Akan tetapi, Kanaya tetap memilih diam dan menunggu apa yang sebenarnya tengah direncanakan suaminya itu. Hingga akhirnya, mobil itu berhenti di sebuah bangunan yang tidak asing bagi Kanaya. Ya, mereka sekarang berhenti di rumah Kanaya waktu dulu. Rumah orang tuanya, rumah yang menyimpan banyak memori bagi Kanaya.
Bisma membukakan pintu mobil bagi Kanaya dan tersenyum. “Ayo turun,” ucapnya.
Kanaya mengangguk, dan mengikuti suaminya itu. Wanita itu berjalan berdampingan dengan suaminya.
Membuka sebuah gerbang, lantas Kanaya menitikkan air mata saat melihat sebuah papan di depan rumahnya.
__ADS_1
‘Apotek Bunda Aksara’
“Mas, ini?” tanya Kanaya kepada suaminya.
Bisma pun mengangguk, “Iya … ini adalah hasil merenovasi rumah kamu. Apotek Bunda Aksara. Semua ini untuk kamu, Sayang,” jawabnya.
Kemudian Bisma menggenggam tangan Kanaya yang sedang tidak menggendong Aksara, membawa wanita itu masuk dan membuka sebuah pintu.
“Surprise!” teriak dari beberapa orang di dalam rumah yang sudah beralih fungsi menjadi apotek itu.
Terkejut. Kanaya tidak menyangka akan melihat mertuanya dan beberapa orang yang wajahnya cukup asing baginya.
“Kejutan buat kamu lagi, Sayang …” Bisma berkata dengan menggerakkan tangannya seolah mempersilakan Kanaya untuk masuk ke dalam.
“Lantai satu ini akan menjadi apotek dan ruang tunggu pasien. Mereka adalah orang-orang yang akan bekerja di sini. Ada satu apoteker bersertifikasi, perawat, dan cleaning service. Nanti aku akan merekrut security juga. Bagaimana kamu suka?” tanya Bisma lagi kepada istrinya.
Kanaya semula tampak diam, tidak menyangka bahwa rumahnya akan benar-benar beralih fungsi menjadi sebuah apotek dan tempat praktik untuk suaminya sebagai seorang Dokter Spesialis Anak.
“Suka Mas …” jawabnya lirih. Ada rasa terharu yang menyelimuti hatinya, tidak menyangka rumahnya sejak kecil dan penuh kenangan bersama kedua orang tuanya, kini rumah ini tanpa mengubah bangunannya hanya mengganti cat temboknya dan merenovasinya sedemikian rupa bisa menjadi sebuah apotek dan tempat praktik.
Setelahnya, Bunda Hesti meminta Aksara dari gendongan Kanaya dan menggendongnya. Kemudiannya mereka berkumpul di satu meja dengan Nasi Tumpeng di sana.
“Mulai minggu depan, rumah ini akan resmi beroperasi menjadi Apotek Bunda Aksara, dan di atas akan menjadi tempat praktikku.” Bisma berbicara, kemudian pria itu memotong Tumpeng yang berupa nasi kuning lengkap dengan berbagai pelengkapnya itu.
Potongan pertama dia berikan kepada Kanaya, “Untuk wanita yang selalu mendampingiku dan menginspirasiku untuk melakukan banyak hal,” ucap Bisma sembari memberikan potongan Nasi Tumpeng pertama untuk istrinya.
Mata Kanaya kembali berkaca-kaca, bahkan sekarang air matanya tidak bisa terbendung lagi karena buliran air mata itu sudah membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
“Terima kasih untuk Mas Bisma sekaligus Ayahnya Aksara. Pria berhati hangat yang selalu mendampingiku. Semoga rumah ini bisa menjadikan tempat untuk melayani anak-anak yang membutuhkan pengobatan dari Dokter Bisma Adi Pradana, Sp.A,” ucap Kanaya dengan menatap wajah suaminya itu.