
Cinta memang memiliki kisah dan perjalanannya sendiri-sendiri. Setidaknya itulah yang dirasakan dan dipelajari Bisma dan Kanaya saat ini. Malam hari, saat bayi Aksara telah tertidur, keduanya ngobrol bersama.
“Kalau teringat pernikahan tadi, rasanya juga sedih ya Mas,” ucap Kanaya sembari menatap wajah suaminya yang saat ini tengah berbaring dan menggunakan paha Kanaya sebagai bantalnya.
Perlahan Bisma pun mengangguk, “Iya, penuh haru ya Sayang … dulu waktu pernikahanmu yang pertama bagaimana?” tanya Bisma dengan tiba-tiba kepada Kanaya.
Kanaya pun perlahan menatap wajah suaminya yang berada di pangkuannya itu, “Yakin, mau tanya? Hmm,” jawabnya sembari mencari kepastian apakah suaminya itu benar-benar ingin mendengarkan jawabannya.
Bisma kembali mengangguk, “Iya, cuma sebatas cerita saja kan tidak apa-apa. Itu pun juga kalau mau bercerita, kalau tidak ya tidak apa-apa,” sahut Bisma.
“Pernikahanku dulu pilu, Mas. Setelah akad saja sudah banyak air mata. Tidak ada malam pertama dalam pernikahanku, dia justru tidak pulang semalaman. Sehingga Mama Sasmitalah yang mengantar aku ke apartemennya. Pagi saat dia pulang, banyak bekas kissmark di lehernya. Aku yakin, malam itu dia usai bercinta dengan Sandra,” ceritanya kepada suaminya itu.
Dari cerita ini, Bisma lantas memikirkan satu hal. Oleh karena itu, dia kemudian bertanya kepada Kanaya, “Jadi, mereka sudah saling kenal sejak kalian menikah?”
Kanaya mengangguk, “Sandra dulu mantan terindahnya. Dia cantik dan badannya proporsional. Layaknya Angsa yang anggun, sementara dia juga memanggilku Kalkun karena beratku hanya nyaris 90 kilogram,” kenangnya saat menceritakan semua itu kepada Bisma.
Perlahan Bisma beringsut, pria itu kemudian duduk di hadapan Kanaya. “Itulah sebabnya, saat aku menikahimu, kamu masih utuh dan tak tersentuh?” tanyanya lagi.
“Tidak ada yang mau menyentuhku, Mas … aku hanyalah gadis gendut dan sama sekali tidak menarik. Pekerjaanku dulu sebagai author juga bukan pekerjaan yang wah, serba biasa,” sambungnya menceritakan masa lalunya kepada suaminya itu.
“Maaf, aku banyak bertanya. Pernah kamu menaruh rasa kepadanya?” tanya Bisma kali ini.
__ADS_1
“Tidak, sekali pun aku tidak pernah menaruh rasa kepadanya. Pernikahan itu dulu hanya bertahan 60 hari, dan aku yang terlebih dahulu mengajukan gugatan cerai,” cerita Kanaya. Seolah dia harus membuka kotak penyimpanan yang sudah dia sembunyikan untuk waktu yang sangat lama. Ada rasa perih saat kembali mengatakan semuanya itu kepada Bisma.
Perlahan Bisma bergerak dan memeluk Kanaya, tangannya juga bergerak perlahan dan mengusap punggung Kanaya dengan lembut, “Terima kasih. Sekali pun dulu, perjalanan hidupmu dan kisah cintamu penuh pilu, sekarang itu semua tidak akan ada lagi. Kita akan bersama selamanya. Berdua dan menjalani hari kita bersama-sama. Okey?”
“Hmm, iya … aku sudah melupakan masa laluku itu. Namun, saat itu kamu tidak malu memiliki istri sebagai seorang janda?” tanyanya lagi kepada Bisma.
“Tidak, aku tidak pernah menghiraukan statusmu sebagai janda. Toh, itu hanya status. Aku sendiri yang tahu dan merasakan karena aku yang menyentuhmu. Itu kado pernikahan terindah buatku, benar-benar tidak menyangka. Saat aku menerimamu, aku menerima kamu apa adanya, bahkan aku tidak mengharapkan rasanya itu. Namun, rupanya yang ku dapatkan melebihi apa yang aku bayangkan. Terima kasih karena sudah menjadikan aku yang pertama bagimu,” ucap pria itu dengan begitu lembut.
Kanaya pun mengeratkan pelukannya, “Ahh, jadi melow kan kalau kayak gini. Kamu sih tanya-tanya, jadi inget yang sudah-sudah,” jawabnya sembari menyeka air mata yang sudah menggenang di sudut matanya.
“Sekarang, kasihan Sandra dan dia ya Mas, mereka langsung terpisah karena Darren berada di dalam tahanan,” ucapnya tiba-tiba. Kanaya merasa kasihan dengan pasangan suami istri yang baru saja melaksanakan akad itu.
“Iya, mungkin Tuhan sudah menggariskan seperti itu. Perjalanan cinta tiap-tiap orang berbeda-beda Sayang, jadi tidak apa-apa. Mungkin usai semua badai ini, Darren benar-benar menjadi orang yang lebih baik,” ucap Bisma dengan tulus, karena dia sungguh menginginkan pria itu bisa menjadi sosok yang lebih baik dan tentunya lebih bertanggung jawab.
“Mau jalan-jalan Sayang? Keliatannya kita berdua sama-sama sibuk dengan mengurus Aksara dan bekerja, sampai lupa untuk jalan-jalan berdua. Gimana mau enggak?” tanya Bisma kepada istrinya itu.
Jika diingat-ingat memang Kanaya dan Bisma sama-sama pasangan yang sibuk. Keduanya sama-sama berkarir. Kanaya sebagai Direktur Keuangan, dan Bisma sebagai Dokter Spesialis Anak. Jam kerja yang tinggi membuat mereka berdua hanya bertemu di apartemen saja dan langsung mengurus Aksara. Praktis tidak ada waktu untuk mereka berdua.
“Aksara bagaimana Mas?” tanya Kanaya. Sebab, jujur saja setelah memiliki Aksara, dia merasa tidak bisa meninggalkan bayi kecilnya itu berlama-lama. Sekadar menitipkan di daycare saja, dirinya sudah mellow dan merindukan bayi kecilnya itu.
“Kita titipkan sebentar sama Eyang Kakung dan Eyang Putrinya kan juga enggak apa-apa. Satu hari saja, mau?” tanyanya kepada Kanaya.
__ADS_1
Kanaya belum menjawab, dia masih mempertimbangkan. Sejak Aksara lahir, dirinya memang belum pernah menitipkan Aksara kepada siapa pun, Aksara dititipkan juga hanya di daycare saat dirinya bekerja.
“Mau kemana sehari Mas?” tanya Kanaya kepada Bisma. Setidaknya jika memang ingin pergi sehari, lebih baik merencanakan terlebih dahulu tempat mana yang akan mereka kunjungi.
“Kamu pengen kemana? Ada tempat yang ingin kamu datangi?” tanya Bisma perlahan kepada istrinya itu.
Baginya kemana pun tidak masalah, asalkan bersama dengan Kanaya. Bukan sekadar refreshing dari rutinitas, tetapi juga bisa merencakan ngedate bersama istri tercinta. Untuk melepas semua penat dan menambah keharmonisan, jalan-jalan memang bisa menjadi sarana untuk ngedate dengan pasangan masing-masing.
“Wisata mangrove gitu gimana? Sehari saja kan? Pantai Indah Kapuk ada hutan mangrovenya deh, Mas.” Kanaya akhirnya mengatakan tempat yang indah dia kunjungi itu. Agaknya, jika sehari destinasi wisata yang bisa dikunjungi adalah tempat-tempat yang berada di kawasan Ibukota saja.
Bisma kemudian mengangguk, “Oke, akhir pekan nanti kita ke sana ya. Andai, bisa cuti panjang, aku akan mengajakmu lagi ke Cappadocia,” ucap pria itu dengan pandangan yang seolah menerawang. Teringat dengan perjalanannya ke Cappadocia bersama dengan Kanaya.
Kanaya justru tertawa, usai suaminya mengatakan hal itu, “Itu mah bukan jalan-jalan, tetapi bulan madu kita dulu, Mas. It’s my dream, Mas Bisma.” sahutnya dengan tertawa.
“Ya, aku tahu. Rasanya ingin kembali ke Turki lagi. Atau ke mana pun asal bersamamu, aku tidak masalah,” ucapnya dengan tertawa.
“Mungkin liburan akhir tahun nanti, pas usia Aksara sudah satu tahun, kita bisa jalan-jalan ke luar negeri lagi, Mas. Ke Paris, atau Eropa gitu. Kayaknya seru deh sambil bawa Aksara.” Kanaya berkata dan merasa perjalanan ke Eropa dengan mengajak Aksara akan terasa lebih seru.
Bisma mengangguk, “Kemana pun kamu mau, pasti aku akan membawamu ke sana. Hanya saja disesuaikan dengan jadwal pekerjaan kita ya.”
“Iya, aku tahu jika kamu akan mewujudkan apa yang aku mau,” sahut Kanaya dengan menyerukkan kepalanya di dada bidang suaminya dan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya itu.
__ADS_1
Itulah sedikit kebahagiaan yang tercipta antara suami dan istrinya. Terkadang merencanakan untuk sekadar jalan-jalan bersama. Menghindari rutinitas sejenak, dan membangun keharmonisan keluarga dengan memiliki komunikasi yang baik.
Happy Reading ^^