
Sementara itu, usai kehamilan Sandra pun kian bertambah bulan. Pada kehamilannya yang pertama ini, Sandra pun juga mengalami mual dan muntah. Badannya terlihat kian kurus, tetapi dia masih bisa melakukan aktivitasnya sebagai model. Kendati demikian, Sandra memang menghindari sessi pemotretan di pagi hari, karena di pagi hari rasa mual di perutnya terasa menyeruak dan juga dia terlihat lebih lemas.
Hari ini, Sandra akan kembali mengunjungi Darren di lembaga permasyarakatan dan juga mengabarkan perkembangan janinnya kepada suaminya itu. Setidaknya, Darren sebagai Ayah biologis dari janin yang dikandungnya harus tahu bahwa janinnya berkembang dengan baik setiap bulannya.
Menjalani kehamilan tanpa adanya seorang suami di sisinya memang terasa begitu berat, tetapi Sandra layaknya menghitung hari dan berharap bahwa Darren akan mendapatkan remisi (pengurangan masa tahanan) lagi, sehingga dirinya pun bisa segera bersama-sama dengan Darren. Ada kalanya dia merasa membutuhkan suaminya, terlebih di pagi hari ketika morning sickness menyerang. Dia juga membutuhkan suaminya untuk mengelus perutnya yang kian menyembul dan membuncit setiap harinya. Akan tetapi, semua itu tidak Sandra dapatkan, karena Darren masih berada di dalam penjara.
“Hei, Darren,” sapa Sandra begitu dia sudah bertatap muka dengan Darren.
Pria itu pun tersenyum, “Hei, gimana kabarmu?” tanya Darren kepada Sandra.
“Aku baik,” jawab Sandra sembari mengangguk.
Mata Darren kemudian turun, dan menatap pada perut Sandra yang kian menyembul ke luar itu, “Dia sudah tampak besar ya?” tanya Darren perlahan dengan menunjuk ke perut Sandra.
Wanita itu pun mengangguk, “Ya, sudah hampir 3 bulan,” jawab Sandra.
Perlahan Sandra mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah kertas foto berukuran persegi dan menyodorkannya kepada Darren, “Dia baby kita, Darren … sudah berusia 3 bulan. Beberapa minggu lagi, akan terlihat jenis kelaminnya,” cerita Sandra dengan tersenyum.
Tentu saja Sandra masih ingat bahwa mungkin saja saat babynya lahir nanti Darren akan melakukan test DNA kepada babynya, tetapi Sandra tidak akan melewati waktu untuk mengabarkan perkembangan bayi mereka kepada Darren.
Tangan Darren pun terulur dan menerima foto USG itu. Pria itu mencoba memahami apa yang tercetak di dalam kertas hasil USG itu. Tangannya meraba permukaan kertas foto perlahan.
Benarkah dia adalahnya anakku?
__ADS_1
Tidak kukira hanya permainan selama 15 menit, begitu kilat dan sebuah bayi sudah tumbuh di dalam rahim ini.
“Bayi kita akan tumbuh sehat,” ucap Sandra lagi. Dia seolah menjamin bahwa bayi dalam rahimnya akan tumbuh dengan sehat.
Darren pun perlahan mengangguk, “Ya, jagalah dia dengan baik-baik.”
Setelah itu, Darren kini kembali menatap wajah Sandra. Pipi tirusnya kini terlihat lebih chubby, badannya juga terlihat lebih mengembang. Tidak mengira bahwa Sandra pun akan mengalami kenaikan berat badan.
“Kamu ngidam apa?” tanya Darren perlahan. Akhirnya, pria itu pun bertanya istrinya itu mengidam apa.
“Entahlah, aku tidak tahu. Tidak ada yang kuinginkan secara spesifik. Hanya saja, porsi makanku jauh lebih banyak. Rasanya aku menjadi lebih cepat lapar,” jawab Sandra dengan jujur.
Ya, jika ditanya mengidam apa saat hamil, Sandra memang tidak tahu. Hanya saja, porsi makannya menjadi lebih banyak dan dia merasa kelaparan sepanjang waktu. Itulah sebabnya, berat badannya mengalami kenaikan walaupun usia kehamilannya baru menginjak tiga bulan.
“Jadi itu yang membuat badanmu lebih berisi sekarang?” tanyanya perlahan.
Sandra kembali mengangguk, “Iya, memang aku mengalami kenaikan berat badan sebanyak 7 kilogram di usia kehamilanku ini,” aku Sandra.
“Apa hamil itu merepotkan?” tanya Darren lagi. Pria yang semula irit bicara itu, akhirnya juga membuka dirinya dan menanyakan banyak hal kepada Sandra.
Sandra kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak … tidak merepotkan. Hanya saja di pagi hari, aku mengalami morning sickness,” cerita Sandra kepada Darren.
Setelahnya Sandra pun tertawa, tidak mengira dirinya akan berbicara dengan Darren dan membahas seputar kehamilan. Mengingat riwayat hubungan keduanya yang hanyalah bersifat saling menguntungkan di atas ranjang, dan sekarang mereka berdua bisa sama-sama membahas bayi mereka, Bagi Sandra itu cukup menyenangkan.
__ADS_1
“Apakah tidak masalah, jika kamu melahirkan dan aku tidak ada di sampingmu?” tanya Darren kali ini kepada Sandra.
Dia tahu bahwa hukumannya di penjara masih lama. Darren pun tidak bisa menjanjikan bisa mendampingi Sandra saat melahirkan nanti. Jika bisa meminta izin dari penjara, sudah pasti Darren akan melakukannya. Akan tetapi, dia tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum bisa dia tepati nantinya.
Mendengar pertanyaan Darren, Sandra pun tak kuasa untuk meneteskan air matanya, tidak menyangka bahwa hamil tanpa suami akan sesakit ini. Dia akan menjalani kehamilan selama 9 bulan 10 hari sendirian tanpa suami. Bahkan, saat melahirkan nanti pun suaminya juga kemungkinan besar tidak bisa menemaninya. Rasa perih itu seolah menjalar ke seluruh hatinya. Membayangkannya saja tidak bisa, bagaimana dirinya harus benar-benar menghadapinya nanti. Mungkinkah dia bisa menjalani pengalaman melahirkan itu tanpa didampingi oleh suaminya. Untuk itulah Sandra menangis, seolah dirinya tidak bisa membayangkan jika harus melahirkan pun tanpa didampingi oleh Darren.
“Jangan menangis,” ucap Darren. “Itu semua, karena aku tidak bisa menjanjikan apa pun padamu. Aku hanya bisa mendoakan supaya kamu bisa melahirkan dengan selamat, bayinya juga akan lahir sehat dan sempurna,” sambung Darren dengan menundukkan kepalanya.
Jika beberapa bulan lalu, dirinya bersikeras untuk melakukan test DNA atas bayi yang tengah dikandung Sandra. Kali ini, melihat Sandra yang meneteskan air mata, Darren pun merasa sedih. Seolah, dirinya adalah pria yang bersalah dan tidak bisa mendampingi istrinya saat hamil dan melahirkan.
Perlahan Sandra pun mengangguk, “Iya, aku akan berusaha menerimanya,” jawabnya dengan terisak.
Ya, dia akan berusaha menerimanya. Sekalipun seolah tak mampu, dan sekalipun hati kecilnya menginginkan ada sosok Darren yang akan mendampinginya, tetapi jika situasi kondisi tidak memungkinkan mau bagaimana lagi.
“Aku yakin kamu bisa melewatinya, maafkan aku,” ucap Darren kali ini. Untuk waktu yang tidak bisa dia berikan kepada Sandra, Darren pun meminta maaf kepada wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Untuk waktu kehamilan yang berharga dan kenangan yang pilu itulah, Darren meminta maaf.
“Iya, tidak apa-apa. Lagipula, aku sudah berkata sebelumnya bahwa aku akan menunggumu. Mungkin ini pembalasan dosa yang aku terima. Aku dulu layaknya wanita penggoda saat kamu menikah dengan Kanaya. Aku tidak rela melihat kamu menikah dengannya, dan sekarang agaknya Tuhan mencurahkan pembalasannya kepadaku,” sahut Sandra kali ini.
Tidak dipungkiri bahwa dia yang merupakan wanita di hati Darren, tetapi saat Darren telah menikah, nyatanya hubungan gelap keduanya masih berlanjut. Rasa-rasanya Sandra harus menerima pembalasan dari perbuatan di masa lampau.
“Sudah, itu semua masa lalu.” Darren menyahut dan menekankan bahwa semua itu adalah masa lalu. Sebuah masa lalu yang sebaiknya dilupakan saja. Tidak untuk diingat-ingat lagi.
“Tidak, hanya saja aku merasa begitu berdosa kepada Kanaya. Kadang merutukinya karena menganggapnya adalah penyebabnya semua malapetaka ini, tetapi kadang aku juga merasa bersalah karena selalu merundungnya dulu,” ucap Sandra kali ini dengan jujur.
__ADS_1
Ya, Sandra merasa bahwa Kanaya dulu yang hanya gadis gendut justru bisa menikah dengan Darren. Sementara dirinya yang sudah mengenal Darren terlebih dahulu, justru tidak bisa memiliki pria itu. Kini, saat dia bisa bersatu dan memiliki Darren, yang ada justru Darren harus membekam di balik jeruji besi. Rasanya memang sangat pilu. Seolah semesta memang tengah mempermainkan kisah cintanya bersama Darren. Di saat dia telah menjadi istri seorang Darren, nyatanya bahwa dirinya pun harus terpisah dengan pria itu. Takdir seolah tengah mempermainkan keduanya.