Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Dari Lidah Turun ke Hati


__ADS_3

Orang berkata bahwa masakan yang enak bisa mengubah perasaan seseorang, ‘dari lidah turun ke hati’. Sama seperti sore ini, Bisma yang terlebih merumput bersama Kanaya di taman yang berada di serambi rumah keluarganya bersama dengan baby Aksara.


“Tadi serius kamu yang masak sendiri Sayang?” tanya Bisma sembari mengawasi baby Aksara yang tengah merangkak di rumput itu.


Perlahan Kanaya pun mengangguk, “Iya, bumbunya aku lihat di internet kan. Abis itu diajarin sama Bunda Hesti juga. Gampang kok, Mas … kenapa kamu enggak yakin ya kalau yang masak itu aku?” tanya Kanaya sembari menyipitkan matanya menatap pada wajah suaminya.


Bisma tertawa, pria itu kemudian menggelengkan kepalanya, “Enggak … aku itu heran. Masakan kamu tadi enak pake banget. Katanya ya Sayang, bikin orang jatuh cinta itu dibuatin makanan yang lezat katanya dari lidah turun ke hati,” ucap Bisma kepada istrinya itu.


“Lah, aku sendiri enggak jago memasak. Berarti istilah dari lidah turun ke hati itu enggak berlaku bagi kamu dong, Mas?” tanya Kanaya merespons ucapan suaminya.


Dengan cepat Bisma menggelengkan kepalanya, “Enggak perlu kamu masakin, Sayang … yang penting kamu selalu mencintaiku dan mendampingiku saja sudah cukup. Lagipula, cintaku padamu enggak bersyarat kok. Enggak mengharuskan kamu memasak,” ucap pria itu lagi.


Mungkin Bisma tidak seperti para suami kebanyakan yang menyukai jika istrinya telaten di dapur dan bisa mengolah berbagai jenis masakan. Bagi Bisma, cukuplah Kanaya mencintainya dan mendampinginya. Lagipula, Kanaya memang menjadi wanita karir yang sibuk, karena itulah dia tidak memaksa istrinya untuk berjibaku di dapur.


Mendengarkan apa yang disampaikan oleh Bisma, Kanaya justru tertawa, “Duh, kok aku ini kasihan ya, Mas … masak saja enggak jago. Harus belajar, lihat internet baca resep dan langkah-langkahnya dulu, baru bisa praktik. Mungkin aku termasuk kategori bukan istri idaman, karena aku enggak jago masak,” balas Kanaya dengan tertawa.


Ya, Kanaya tengah menertawakan dirinya sendiri. Dia mengakui bahwa dirinya bukan wanita yang jago memasak. Dia tak perlu menyembunyikan kelemahannya itu kepada suaminya.


Bisma kemudian menggelengkan kepalanya, “Akan tetapi, kamu itu Ibu idaman kok, Sayang … kamu mau bangun lebih pagi membuatkan MPASI untuk Aksara. Setiap malam kamu mau bangun untuk pumping ASI kamu yang penuh, kamu begadang menidurkan Aksara. Sekalipun di luar sana kamu adalah seorang Direktur Keuangan, di rumah kamu tetap seorang Bunda yang baik dan hebat untuk Aksara. Tuh, lihat saja, Aksara sampai chubby kayak gitu. Liat tuh paha dan lengannya, bikin gemes banget kan,” balas Bisma sembari memegangi paha dan lengan Aksara yang terlihat gemoy.


Lagi-lagi Kanaya justru tertawa, “Katanya sih kalau bayinya minum ASI ekslusif lebih gemuk ya Mas? Bener enggak sih?” tanyanya kepada suaminya.

__ADS_1


Bisma kemudian diam, tampak berpikir sebelum menjawab, “Katanya sih Sayang … ASI memang bisa menambahkan berat badan bayi ya, tetapi kalau aku memandangnya sih ASI lebih untuk sistem imunnya bayi. Biar dia kuat dan sehat saja. Melihat bayi-bayi yang sakit itu rasanya sedih banget. Dia enggak bisa berkata jika dirinya baru sakit. Mau mengeluh juga enggak bisa, makanya bayi itu kalau sakit bawaannya rewel, karena dia sendiri enggak bisa mengatakan keluhannya. Bahasa bayi itu ya dari air matanya kalau dia baru sakit.”


Yang diucapkan Bisma memang benar adanya. Bayi yang belum bisa berbicara, belum bisa mengutarakan isi hatinya, hanya bisa menangis tiap kali mereka sakit. Oleh karena itu, saat bayi merasa demam dan terkena influenza misalnya, mereka cenderung akan lebih banyak menangis.


“Ya, kalau aku, chubby dan gemuknya bayi itu relatif ya Sayang … yang jauh lebih penting adalah bayinya sehat. Aku juga berharap dan selalu berdoa, Aksara akan sehat. Sebab, dia minumnya saja ASI ekslusif dari Bundanya, MPASI-nya juga homemade buatan Bundanya, jadi ya berharap dia akan selalu sehat dan kuat,” lanjut Bisma bercerita kepada Kanaya.


Kanaya pun mengangguk, “Iya sih, aku setuju … jadi ya anggap aja Aksara yang chubby dan gemoy ini bonus saja ya, Mas … yang penting dianya tumbuh sehat dan optimal,” jawabnya.


Setelah itu, Kanaya segera memangku Aksara, membawa si bayi yang sedari tadi dengan fase merangkak itu ke dalam pangkuannya. Membersihkan area tangannya yang kotor dengan tissue basah, “Aksara tumbuh sehat dan kuat ya Sayang … Bunda enggak masalah kok tiap pagi bangun lebih pagi untuk buatin MPASI buat Aksara, asalkan Aksara sehat. Semoga MPASI yang Bunda buat juga enak rasanya ya Sayang, biar kayak orang-orang dari lidah turun ke hati. Semoga Bunda selalu ada di hati kamu ya Anakku,” ucap wanita itu sembari mencium kedua pipi Aksara.


“Iya Bunda … Aksara selalu sayang Bunda,” sahut Bisma dengan menirukan suara anak kecil.


Hingga Kanaya dan Bisma pun sama-sama tertawa. Terkadang hanya menemani Aksara bermain sembari mengobrol dan melempar candaan saja keduanya sudah begitu bahagia.


“Yahh, baru enak-enak merumput udah hujan ya Sayang … sekarang masuk dulu ya, kita berteduh. Jangan sampai Baby Aksara masuk angin ya,” ucap Kanaya dengan terus menggendong Aksara memasuki rumah Bunda Hesti dan Ayah Tirta.


“Baru di taman terus hujan ya, Nay?” tanya Ayah Tirta yang tahu bahwa sejak tadi Kanaya, Bisma, dan Aksara tengah duduk-duduk menikmati sore di taman yang ada di serambi rumah.


“Iya Yah, baru merumput malahan gerimis,” jawab Kanaya masih dengan menggendong Aksara.


Lantas Bunda Hesti pun mendekati Kanaya, mengulurkan tangannya untuk meminta menggendong Aksara, “Sini Aksara ikut Eyang aja yuk, Ayah sama Bundanya mau mandi dulu enggak?” tanya Bunda Hesti kepada Kanaya.

__ADS_1


“Sudah mandi kok Bunda, niatnya abis ini mau pulang ke rumah. Soalnya besok harus kembali bekerja,” sahut Kanaya.


“O … jadi kalian tidak menginap saja di sini?” tanya Bunda Hesti kepada Kanaya dan Bisma.


Enggan menjawab, Kanaya kemudian menatap wajah suaminya terlebih dahulu, seolah melihat apa yang hendak diputuskan oleh suaminya itu.


“Besok kami harus kembali bekerja tuh Bunda, minggu depan saja kami menginap di sini, Bunda,” jawab Bisma yang sejujurnya tidak enak menolak permintaan dari Bunda Hesti.


Hingga akhirnya Bunda Hesti pun mengangguk, “Iya, baiklah … enggak apa-apa. Yang penting kalian bertiga sehat, bahagia, saling menyayangi, Ayah dan Bunda sudah senang. Namun, beneran yah minggu depan tidur di sini. Eyangnya kan juga pengen nih bobok sama Mas Bayi,” ucap Bunda Hesti dengan tertawa.


“Kok Mas Bayi, Bunda?” tanya Kanaya. Sebab, Bunda Hesti memanggil Aksara dengan panggilan yang khas yaitu Mas Bayi.


Bunda Hesti pun tertawa, “Aksara kan cowok dan anak sulung, jadi kan dipanggil Mas. Sapa tau nanti Aksara punya adik kan, jadikan dipanggil Mas Bayi saja. Nanti kalau sudah bertambah besar, dipanggilnya Mas Aksara, bagus kan?” jawab Bunda Hesti dengan tertawa.


Setelah itu, Bunda Hesti menatap pada Kanaya, “Kamu kalau mau hamil lagi enggak apa-apa loh, Naya … nanti melahirkannya sama Bunda saja. Biar Bunda yang menolong persalinanmu,” ucap Bunda Hesti dengan tiba-tiba.


Kanaya pun menggigit bibir bagian dalamnya, tidak mengira Bunda Hesti akan mengatakan demikian. Kanaya pun tersenyum, “Aksara belum ada satu tahun, Bunda … lagipula dulu Dokter Indri bilang karena melahirkan secara Caesar, setidaknya bisa hamil lagi setelah tiga tahun. Biar Aksara agak besar dulu, Bunda,” jawab Kanaya dengan sehalus dan sesopan mungkin supaya tidak menyinggung perasaan Bunda Hesti.


Bunda Hesti pun tertawa, “Iya-iya … Bunda sampai lupa kalau kamu melahirkannya Caesar. Katanya punya anak dengan jarak dekat itu enak, jadi capeknya sekalian. Akan tetapi, ucapan Bunda ini jangan dimasukkan ke dalam hati ya. Bunda cuma bercanda, intinya kamu dan Bisma saling mencintai sampai tua nanti, sampai maut yang memisahkan,” balas Bunda Hesti.


Ya, sebagai seorang Ibu, Bunda Hesti pun ingin anak-anak hidup bersama hingga tua nanti. Saling menyayangi hingga maut yang memisahkan.

__ADS_1


Kanaya dan Bisma mengangguk, “Amin,” sahut keduanya bersama-sama.


Sebab, bukan hanya Bunda Hesti yang menginginkan mereka langgeng sampai tua nanti, tetapi baik Kanaya dan Bisma pun juga mengharapkan bahwa pernikahan mereka akan bertahan hingga tua nanti, hingga menutup mata.


__ADS_2