Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Family - After All


__ADS_3

Jika kita merasakan kesesakan dan badai cobaan melanda hidup kita, satu tempat yang tetap tersedia bagi kita, maka itu adalah keluarga. Sama seperti Kanaya dan Bisma yang saat ini tengah dalam suasana berduka karena hilangnya Aksara, ada keluarga yang selalu mendukung dan menghiburnya.


Keluarga Pradana dan Keluarga Wardhana menjadi dua keluarga yang sering mengunjungi Kanaya dan Bisma dan mensupport keduanya. Sama seperti hari ini, Bunda Hesti dan Ayah Tirta yang datang untuk mengunjungi Kanaya dan Bisma di kediamannya.


Tidak dipungkiri saat mendatangi kediaman Bisma, hati Bunda Hesti berdenyut perih, teringat sosok Aksara dan bagaimana cucu kecilnya yang berlarian menghampirinya. Kini rumah besar dan mewah itu terlihat sepi. Dalam batinnya, Bunda Hesti pun menangis, tetapi di hadapan Kanaya dan Bisma, Bunda Hesti harus menguatkan putra dan menantunya.


“Bunda dan Ayah datang …,” sapa keduanya saat membuka pintu rumah Bisma dan Kanaya.


“Silakan masuk Bunda,” sahut Kanaya.


“Kalian baru ngapain?” tanya Bunda Hesti.


Bisma dan Kanaya pun diam. Mereka memang duduk bersama di ruang keluarga, tetapi semuanya terasa kosong. Keduanya tetap saja memikirkan Aksara dan harus berapa lama lagi mereka menunggu untuk bisa bertemu dengan Aksara.


“Bunda bawakan Ikan Kuah Asam Pedas kesukaan kamu, Bisma,” ucap Bunda Hesti.


Bisma pun mengangguk, “Iya Bunda … terima kasih,” sahut Bisma.


Wajah putranya itu terlihat lesu dan lebih kurus dari biasanya. Sama halnya dengan Kanaya yang wajahnya lebih sayu dan badannya terlihat lebih kurus. Hari-hari yang mereka jalani memang sangat menyesakkan. Tak jarang, keduanya kesusahan untuk tidur, kehilangan keinginan untuk makan, dan juga kesedihan tak bertepi yang melanda hatinya.


“Bunda tahu apa yang kalian berdua alami sangat berat, tetapi jangan kehilangan harapan. Suatu hari, kita akan menemukan Aksara. Orang-orang kita tetap akan mencari Aksara sampai kapan pun,” ucap Bunda Hesti.


“Benar Naya dan Bisma. Semua orang yang kita gerakkan tetap bekerja di luar sana dan mencari keberadaan Aksara. Mungkin ada maksud dari ujian yang Tuhan berikan kali ini,” jelas Ayah Tirta.

__ADS_1


Bisma dan Kanaya pun mengangguk, “Iya Ayah … Bunda,” sahutnya.


Sekali pun hari-hari yang berjalan kian terasa berat, tetapi orang-orang yang mereka sewa tetap bekerja dan terus mencari keberadaan Aksara. Keduanya tidak kehilangan harapan di dalam hatinya, dan memiliki harapan bahwa suatu hari mereka akan bisa menemukan Aksara.


“Kemarin Ayah dan Bunda mendatangi persidangan Darren. Pria itu dinyatakan bersalah karena semua bukti yang memberatkannya. Pengadilan menjatuhkan hukuman delapan tahun penjara dan denda sebesar seratus juta Rupiah. Kemarin di persidangan, Papa Jaya juga tidak hadir,” cerita dari Ayah Tirta.


Ya, kemarin persidangan atas putusan pengadilan Darren telah digelar, dan Hakim memutuskan bahwa Darren bersalah dan pria itu harus menerima hukuman yang panjang. Delapan tahun kurungan penjara dan denda sebesar seratus juta Rupiah.


“Hukuman itu memang pasti bagi Darren,” sahut Bisma dengan cepat.


Kanaya pun turut mengangguk, “Delapan tahun itu lebih ringan, karena tuntutan tertinggi seharusnya bisa sampai lima belas tahun penjara,” sahut Kanaya.


“Delapan tahun waktu yang lama Naya dan Bisma … bayangkan dalam waktu selama itu, Darren akan terpisah dari Istri dan anaknya yang masih bayi. Kita doakan saja, pria itu benar-benar menjalani penebusan dosanya kali ini. Sementara bagi kita sendiri, waktu yang kita perlukan untuk mendapatkan Aksara tidak akan selama itu,” sahut Ayah Tirta.


“Kita lupakan sejenak masalah ini, ayo kita makan,” ajak Bunda Hesti.


Bunda Hesti merasa bahwa sudah pasti keinginan makan tidak ada. Semua makanan yang enak pun terasa hambar di lidah Kanaya dan Bisma, untuk itu Bunda Hesti membawa beberapa masakan dan akan menemani anak-anaknya makan.


“Terima kasih banyak Bunda,” ucap Kanaya.


Merasa Bisma dan Kanaya tidak ada yang bergerak, Bunda Hesti segera menggandeng Kanaya dan Bisma menuju meja makan. Bahkan Bunda Hesti mengisi piring Bisma dan Kanaya dengan nasi putih, sayuran, dan lauk pauk.


“Ayo kalian makan … bersedih boleh, tetapi jangan menyiksa diri sendiri. Kalian berdua menjadi begitu kurus. Makan yang banyak supaya kalian bisa berpikir jernih dan mendapatkan kekuatan untuk mencari Aksara,” nasihat dari Bunda Hesti.

__ADS_1


Dengan susah payah pun Kanaya dan Bisma melahap makanan yang berada di piring mereka, Bunda Hesti dan Ayah Tirta juga turut makan bersama dengan mereka. Sekalipun tinggal terpisah, tetapi Bunda Hesti dan Ayah Tirta sangat mempedulikan Kanaya dan Bisma.


“Naya … Bisma, kalian tidak ingin pindah sementara dari rumah ini?” tanya Bunda Hesti perlahan setelah Kanaya dan Bisma usai makan.


Dengan cepat Kanaya menggelengkan kepalanya, “Tidak Bunda … banyak kenangan kami bersama Aksara di sini,” sahut Kanaya.


“Itulah sebenarnya maksud Bunda … jika tinggal di sini kalian akan terus-menerus bersedih karena teringat Aksara. Tidak ingin kembali tinggal di apartemen atau tinggal bersama Ayah dan Bunda? Kita bisa menjalani hari-hari yang berat ini bersama-sama,” ucap Bunda Hesti.


Yang dikatakan Bunda Hesti ada benarnya, jika berada di dalam rumah dan semua tentang Aksara ada di sana, tentu Kanaya dan Bisma akan kesusahan untuk lepas dari kesedihannya. Untuk itu, Bunda Hesti pun menawarkan opsi lainnya.


“Tidak Bunda … kami akan tetap tinggal di sini. Iya kan Naya?” tanya Bisma kepada istrinya.


Kanaya pun mengangguk, “Benar Bunda. Rumah ini dibangun Mas Bisma untuk Aksara, jadi biarkan kami tetap tinggal di sini dan terus menyalakan lilin pengharapan kami bahwa suatu hari nanti Aksara kami akan kembali memasuki rumah ini,” jawab Kanaya.


Merasa bahwa Bisma dan Kanaya sepemikiran, Bunda Hesti pun tidak akan memberikan tekanan. Bunda Hesti sepenuhnya akan mendukung Kanaya dan Bisma.


“Baiklah … Ayah dan Bunda tidak masalah. Hanya saja, jangan menjalani semuanya seorang diri. Ada Ayah dan Bunda, kami siap menjadi tempat berkeluh kesah kalian … kami akan selalu ada untuk kalian berdua,” ucap Bunda Hesti.


Dalam setiap fase kehidupan putra dan menantunya, Bunda Hesti dan Ayah Tirta mengingatkan bahwa Bisma dan Keluarga tidak sendirian. Keluarga adalah segalanya. Keluarga menjadi sebuah payung yang akan menolong dan meneduhkan mereka berdua. Ya, family, after all.


Info:


Berdasarkan Pasal 328 KUHP, barangsiapa yang menculik anak akan dikenakan sanksi pidana berupa kurungan penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama lima belas tahun dan denda paling sedikit Rp. 60. 000. 000; dan paling banyak Rp. 300.000.000;.

__ADS_1


__ADS_2