Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Upaya Stimulasi 2


__ADS_3

Menjelang sore, Bisma pulang dari Rumah Sakit dengan melihat istrinya yang sedang bermain Container Play dengan Aksara. Pria itu mengulas senyuman, rupanya Kanaya memang benar-benar mengambil waktu setengah hari bekerja untuk memprioritas Aksara kali ini. Pria lantas memilih memasuki kamar terlebih dahulu membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, karena sudah menjadi kebiasaan sejak Aksara masih bayi, Kanaya tidak akan mengizinkan Bisma untuk menyentuh Aksara apabila pria itu belum membersihkan dirinya. Terlebih Bisma banyak bersentuhan dengan anak-anak yang sakit, jadi lebih baik untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum memegang dan menyentuh Aksara.


Hingga kurang lebih 15 menit berlalu, Bisma kemudian bergabung dengan Kanaya dan Aksara.


“Halo Aksara,” sapanya sembari memangku sejenaknya putranya itu.


“Yayah, main Yah,” ucap Aksara.


Kanaya lantas tersenyum, “Aksara sedang mainan Ayah,” ucapnya yang berusaha memperbaiki susun kalimat yang diucapkan Aksara.


Bisma pun mengangguk, “Iya, Aksara seru banget sih main sama Bunda. Aksara senang tidak?” tanyanya kepada putranya itu.


“Ya, ceneng,” jawab Aksara dengan cepat.


Bisma kemudian mencium kedua pipi putranya itu, “Bertumbuh yang baik ya Nak … Ayah dan Bunda akan berusaha semaksimal mungkin untuk tumbuh kembangmu,” ucap Bisma sembari mengusap puncak kepala putranya itu.


Kanaya kemudian menatap wajah suaminya, “Mau dibuatkan minuman?” tanyanya.


“Air putih saja, Sayang,” jawabnya.


Kanaya kemudian mengangguk dan berdiri, mengambilkan segelas air putih untuk suaminya. Akan tetapi, saat Kanaya kembali ke kamar bermain rupanya suaminya dan Aksara tidak ada. Sehingga Kanaya mencari-cari ke ruangan yang lain sembari meneriakan nama suaminya dan Aksara.


“Ayah … Aksara … kalian di mana?” teriak Kanaya.


 Mencoba mencari di dalam kamar tidak ada, turun ke bawah ke ruang tamu juga tidak ada. Akhirnya, Kanaya mendengar teriakan dan tawa dari suami dan putranya itu dari tempat yang tidak jauh dari ruang tamu. Rupanya Ayah Bisma dan Aksara sedang merangkak bersama di taman yang ada di serambi rumah.

__ADS_1


“Ya ampun, kalian ini bikin jantung Bunda copot deh. Bunda nyariin kalian kemana-mana,” ucapnya sembari mendekati suaminya dan membawakan segelas air putih.


Memang setelah beberapa saat mencari ke berbagai ruangan dan tidak ada sosok suami dan anaknya membuat Kanaya begitu kebingungan. Wanita itu pun tampak terengah-engah lantaran menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Akan tetapi, saat melihat suami dan anaknya yang tengah bermain bersama membuat Kanaya begitu lega.


Bisma lantas menghampiri Kanaya dan menerima air minum dari tangan istrinya, tetapi nyatanya pria itu tidak meminumnya terlebih dahulu, melainkan menempelkan bibir gelas itu ke bibir istrinya.


“Kelihatannya kamu yang lebih membutuhkan air minum ini deh Sayang,” ucapnya.


Kanaya pun membolakan kedua matanya, “Habis, kamu tahu-tahu bawa Aksara pindah tempat. Aku cariin kemana-mana, bikin aku panik aja sih. Kalau sampai terjadi yang tidak-tidak, aku pasti bakalan panik banget dan mungkin saja aku akan gila,” ucap Kanaya dengan tiba-tiba.


Melihat ruat wajah istrinya, Bisma lantas membawa jari telunjuknya tepat di depan bibir Kanaya. Mengisyaratkan kepada istrinya itu untuk tidak berkata yang bukan-bukan.


“Ssstts, jangan bicara yang bukan-bukan Sayang … kita bertiga akan selalu bersama,” ucap Bisma.


Kanaya pun mengangguk, “Amin … kuharap pun demikian,” jawabnya.


Setelahnya, Bisma lantas meneguk sisa air putih dalam gelas yang semula sudah diminum Kanaya. Pria itu kemudian kembali mengajak Aksara merangkak, memang terapis kemarin juga menganjurkan untuk mengajak Aksara merangkak supaya jembatan antara otak kanan dan otak kirinya kian terasah dengan baik. Bisma tidak keberatan berkeringat lagi padahal dirinya sudah mandi, asalkan bisa menstimulasi Aksara.


“Nak, merangkak yuk … ambilkan Ayah bola yang berwarna hijau itu dong,” instruksi Bisma kepada putranya.


Kali ini yang merangkak bukan hanya Aksara, tetapi juga Bisma. Ya, pria itu turut menemani Aksara untuk merangkak, setidaknya Aksara sedang di tahap imitatif yaitu menirukan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Supaya Aksara mau merangkak, ya Bisma juga turut merangkak.


Aksara pun merangkak, mengambil bola berwarna hijau dan kemudian melemparkannya kepada Ayahnya, “Yayah, ola … ola,” ucapnya.


“Iya Nak, Bola. Bolanya menggelinding kan Nak? Yuk, merangkak lagi kita kejar bolanya. Ayo, Aksara merangkak sama Ayah,” ucap Bisma yang lagi-lagi seolah merangkak di belakang Aksara.

__ADS_1


Suasana taman di serambi rumah itu terdengar riuh dengan kata dan tawa dari Bisma dan Aksara. Kanaya pun tersenyum, tidak mengira suaminya benar-benar sosok Ayah yang baik dan mau menstimulasi Aksara dengan maksimal.


Menjelang petang, mereka bertiga beristirahat dan Kanaya mulai menyuapi makan malam untuk Aksara.


“Gimana Mas Aksara tadi senang main sama Ayah?” tanyanya.


“Ya, ceneng,” jawab Aksara dengan singkat.


“Besok main lagi sama Ayah dan Bunda mau?” tanya Kanaya lagi.


Aksara kemudian mengangguk, “Yaa, main-main,” jawabnya.


Bisma lantas mengusapi puncak kepala Aksara, “Ayah dan Bunda juga senang main sama Aksa. Sekarang Aksa makan yang banyak biar sehat, yuk … sambil Ayah bacakan buku untuk Aksa ya,” ucap pria itu yang tampak mengambil sebuah Board Book untuk anak-anak dan mulai membacakannya untuk Aksara.


Waktu yang berkualitas itu terus terbangun hingga waktunya Aksara tertidur, keduanya sama-sama turut menidurkan Aksara. Saat Aksara telah terlelap, Kanaya lantas menatap wajah putranya yang telah terlelap itu, “Aku harap semua usaha kita untuk menstimulasi Aksara ini akan menghasilkan hasil yang maksimal ya Mas. Aku sayang banget sama Aksara,” ucapnya.


Bisma kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya Sayang … aku pun sama sepertimu. Aku sangat sayang sama Aksara. Semoga saja keterlambatan bicaranya bisa segera diatasi, kosakatanya bertambah, dan dia bisa menemukan bahasa itu. Tugas kita kan mendampingi dia, memfasilitasi kebutuhannya, dan menjadi orang tua yang selalu untuknya, aku sangat berharap semuanya membuahkan hasil,” ucap Bisma dengan sungguh-sungguh.


Kanaya kemudian tampak menghela nafasnya perlahan, “Berproses memang sakit, Mas … aku pernah mengalaminya. Bagaimana dulu aku yang sangat gemuk bisa mengubah bentuk tubuhku ke sekarang ini. Aku bela-belain jogging untuk membakar lemak, mengonsumsi kalori yang selalu ditimbang setiap harinya, tidak jarang aku tidur dengan perut yang sakit karena lapar, tetapi semua terbayar saat bisa mendapati bentuk tubuh seperti sekarang ini. Aku harap Aksara juga, dari banyak stimulasi bahkan dia kecapekan karena harus merangkak ke sana ke mari, semoga saja akhirnya dia bisa berbicara dan berkomunikasi dengan baik nantinya,” harapnya kali ini.


“Benar Sayang … semua yang namanya proses itu membutuhkan usaha. Dulu kamu berproses, dan sekarang kita berdua dampingi Aksara untuk berproses. Selama ada usaha, ada keinginan kuat, yakinlah pintu akan dibukakan bagi kita,” sahut Bisma.


Kanaya pun turut mengangguk, “Iya, kita melewati ini bersama-sama ya Mas. Bagaimana pun Aksara tetap pribadi yang unik, kita terus mendorong dia saja. Aku yakin pelan-pelan nanti sampai akhirnya dia bisa berkomunikasi dengan baik dan lancar kepada kita,” sahut Kanaya.


Sebagaimana harapan adalah sebuah sauh, demikian pula Kanaya dan Bisma yang sama-sama menaruh harapannya. Tidak masalah jika harus mengalami kesakitan selama berproses asalkan mencapai hasil akhir sesuai dengan mereka harapkan.

__ADS_1


__ADS_2