Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Jangan Terpengaruh


__ADS_3

Mau tidak mau, Bisma dan Kanaya pun mengikuti Papa Jaya untuk menuju ruangannya. Sepanjang perjalanan dari Lobby menuju ruangan CEO ketiganya sama-sama diam. Hanya punya sepatu yang menyentuh lantai saja yang terdengar. Sudah tentu, baik Papa Jaya, Kanaya, dan juga Bisma larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Begitu sudah sampai di ruangannya, barulah Papa Jaya bersuara. "Silakan duduk." ucapnya mempersilakan Kanaya dan Bisma untuk duduk.


Setelahnya, Kanaya dan Bisma sama-sama duduk. Keduanya masih diam dan seolah menunggu Papa Jaya untuk kembali berbicara.


"Sorry Nay, sudah membuatmu terseret dalam kekacauan ini." ucap Papa Jaya dengan menghela napas yang begitu berat.


"Maksud Papa apa?" tanya Kanaya yang sebenarnya tidak tahu dengan apa maksud Papa Jaya.


Perlahan Papa Jaya menatap Kanaya, "Jika akan yang membuat masalah dalam karir Sandra itu adalah Papa. Ya, Papa yang menghubungi agensi model miliknya dan meminta supaya untuk sementara waktu tidak memberikan job pemotretan kepada Sandra. Papa ingin dia menyadari kesalahannya, apa yang sudah dia lakukan ke kamu itu termasuk kejahatan cyber, Nay … bahkan kita bisa melaporkannya ke pihak berwajib dengan menjeratnya dengan undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik." penjelasan Papa Jaya kepada Kanaya dan juga Bisma.


Baik Kanaya dan Bisma pun sama-sama mengangguk, mencoba memahami latar belakang kenapa Papa Jaya bertindak demikian.


Setelah mendengar penjelasan Papa Jaya, Bisma pun tampak mulai berbicara. "Pa, Bisma sebenarnya sudah mengumpulkan semua bukti tentang Sandra. Semua bukti digital sudah Bisma kantongi. Hanya saja, Bisma memberi satu kali lagi kesempatan kepada Sandra. Sekali lagi dia mencoba mengusik Kanaya, sudah Bisma pasti bahwa Bisma yang akan menjebloskannya ke balik jeruji besi." ucap Bisma dengan begitu serius.


"Papa juga sudah memiliki semua buktinya, Bisma. Lagipula, Papa tidak akan bertindak tanpa memiliki semua bukti-bukti tersebut. Tidak apa-apa, anggap ini sebagai bentuk gertakan kepada Sandra. Jika dalam keadaan ini, dia bisa menyadari kesalahannya dan menjadi orang yang lebih baik, itu adalah baik juga bukan." ucap Papa Jaya kepada Kanaya dan Bisma.


Mendengar penuturan Papa Jaya dan juga suaminya barusan, Kanaya pun tersenyum getir. "Kenapa harus balas membalas, dan gertak menggertak. Sesungguhnya Kanaya tidak suka dengan situasi ini." ucap Kanaya.

__ADS_1


"Sebab kalau Papa hanya diam, yang ada Sandra akan semakin gencar melancarkan aksinya terhadapmu. Apa kamu membutuhkannya pengawal pribadi mungkin? Yang bisa menjagamu." tawaran dari Papa Jaya untuk Kanaya.


Akan tetapi, Kanaya dengan segera menggelengkan kepalanya, "Tidak Pa … kalau hanya Sandra, Naya sama sekali tidak takut. Lagipula ada Mas Bisma yang akan selalu menjaga Naya." ucapnya sembari memandang sekilas pada suaminya.


Bisma pun mengangguk, "Benar Pa … Bisma akan selalu memastikan untuk menjaga Kanaya dengan hidup Bisma sendiri. Kami bisa melewati semua ini." sahutnya dengan penuh keyakinan.


Mendengar ucapan Kanaya dan Bisma, akhirnya Papa Jaya pun mengangguk, "Baiklah … yang penting kalian jangan takut. Papa selalu ada buat kalian. Kalau ada apa-apa jangan segan untuk menghubungi Papa, kalian sudah Papa anggap seperti anak Papa sendiri." imbuhnya dan sekaligus meminta Kanaya dan Bisma untuk tidak segan kepadanya.


"Oh, iya Nay … sekaligus Papa minta tolong jika Gisell ingin curhat ya, dia cocok dan nyaman denganmu." lanjut Papa Jaya yang kini telah mengganti topik pembicaraannya.


Kanaya pun mengangguk, "Iya Pa … Naya akan jadi telinga buat Gisell."


Setelah beberapa saat diam, akhirnya Bisma kembali berbicara, "Baik Pa … kalau sudah, Bisma izin ke Rumah Sakit."


"Iya … tolong jaga Naya selalu." ucap Papa Jaya.


Padahal tidak perlu Papa Jaya memintanya untuk menjaga Kanaya, sudah pasti Bisma akan selalu menjaga Kanaya. Sebab, prioritasnya sekarang adalah Kanaya. Ditambah istrinya juga sedang mengandung buah cinta mereka. Karena itulah tak ada alasan bagi Bisma untuk tidak menjaga Kanaya.


"Aku antar ke luar Mas … tasku juga masih ketinggalan di mobil." ucap Kanaya yang turut melangkah di sisi suaminya itu.

__ADS_1


Bisma pun tersenyum dan mengizinkan istrinya itu untuk kembali keluar dan mengambil tasnya yang masih berada di dalam mobil. Begitu telah sampai di dalam mobil, Kanaya memilih duduk sejenak di kursi belakang tempat tasnya berada, wanita itu memejamkan matanya dan menyandarkan kepala di kursi.


"Kenapa Sayang?" tanya Bisma yang tampak khawatir.


Dengan cepat Kanaya menggelengkan kepalanya, "Sebentar Mas … cuma agak pusing aja kok."


Membiarkan istrinya duduk sejenak, Bisma pun turut memasuki mobilnya. Tangannya mengusap-usap puncak kepala istrinya itu. "Sudah … tidak usah terlalu dipikirkan. Ada aku. Kamu jangan takut yah." Pria itu berkata dengan suara yang begitu lembut.


Membuat Kanaya yang masih memejamkan mata itu pun mengangguk, "Iya … ada kamu. Jadi aku tidak perlu takut."


Bisma pun tersenyum, dia percaya bahwa saat ini istrinya secara mental jauh lebih baik dan tentunya percaya bahwa ada dirinya yang akan selalu menjadi perisainya. Pria itu lantas mendekat, menyapu sisi wajah istrinya dengan napasnya yang beraroma mint. Mendekatinya dan menyentuhkan ujung hidungnya di pipi istrinya itu. Menggerakkan ujung hidungnya perlahan. Seolah itu menjadi salah satu cara bagi Bisma untuk menenangkan istrinya itu.


"Tidak perlu terlalu dipikirin. Aku akan selalu melindungi kamu. Semangat ya Naya Sayang." ucapnya sembari membelai sisi wajah istrinya itu.


Perlahan Kanaya membuka matanya dan tersenyum melihat suaminya yang bersikap begitu manis. "Makasih Mas… ya sudah. Aku turun ya. Makasih udah jagain aku. Nanti sore, jangan lupa jemput aku ya." Pintanya kepada suaminya itu.


Bisma pun mengangguk, "Iya … nanti jam 4 sore aku ke sini, nanti sore pemeriksaan kandungan lagi. Aku jemput ya…"


Barulah Kanaya sadar, bahwa nanti sore akan ada pemeriksanaan kandungan rutin setiap bulannya. Perlahan Kanaya pun mengangguk, “Iya … aku tunggu nanti sore ya Mas. Makasih Mas buat semuanya.”

__ADS_1


Usai mengatakan itu, Kanaya segera turun dari mobil dan dia melambaikan tangannya kepada suaminya itu. “Hati-hati Mas …” ucapnya sembari menunggu hingga mobil suaminya itu keluar dari Jaya Corp.


__ADS_2