
Beberapa pekan pun telah berlalu, kini Kanaya dan Bisma tengah bersiap-siap untuk berangkat ke Singapura. Kanaya memilih mengambil opsi yang ditawarkan Papa Jaya yaitu bekerja jarak jauh, dan tentu akan bertanggung jawab terhadap seluruh laporan keuangan di Jaya Corp. Lagipula, saat suaminya sibuk dengan program kedokteran di sana, Kanaya bisa menggunakan waktu sepenuhnya untuk bekerja.
Sekarang, keduanya tengah mengemas koper-koper mereka dan akan mengambil penerbangan esok hari.
“Cek lagi yang kurang apa Mas? Biar aku bisa tambahkan lagi perlengkapan kamu yang kurang,” ucap Kanaya.
Bisma pun mengangguk dan segera mengecek koper besar yang sudah disiapkan istrinya. Memastikan barang-barang yang dia butuhkan telah siap.
“Sudah siap semua Sayang … makasih banyak yah,” sahut Bisma.
“Iya … sama-sama, Mas,” balas Kanaya.
Setelah koper milik suaminya rampung, barulah Kanaya menyiapkan koper untuk dirinya sendiri. Hanya membawa pakaian seperlunya saja dan membawa Macbook miliknya.
“Untuk pekerjaan kamu jangan lupa Sayang … file-file data yang dibutuhkan, sehingga tidak kesusahan. Bekerja jarak jauh itu susah, jadi lebih baik dipersiapkan semuanya,” ucap Bisma yang memperingatkan istrinya.
“Iya Mas … ini aku juga Hardisk eksternal untuk semua file dan data aku butuhkan, selain itu aku juga butuh koneksi internet saja sih Mas,” balasnya.
“Iya … untuk koneksi internet jangan khawatir. Di apartemen nanti kan sudah tersedia fasilitas Wifi-nya. Nanti kamu bekerja normal saja, lagian aku juga akan banyak acara di sana,” sahut Bisma.
***
Keesokan Harinya …
Kanaya dan Bisma telah berada di Bandara Internasional Soekarno - Hatta, bersiap dan menunggu waktunya boarding (para penumpang hendak naik ke pesawat). Tentu ini adalah kali pertama keduanya bepergian setelah empat tahun lamanya. Memilih benar-benar berada di Ibukota dan tidak pernah keluar kota selama empat tahun terakhir untuk menunggu Aksara.
Sayangnya, waktu selama itu pun tidak membuahkan hasil karena jejak Aksara nyatanya juga tidak ditemukan.
__ADS_1
“Aku sebenarnya berat meninggalkan Jakarta, tetapi aku juga ingin menemani kamu,” ucap Kanaya.
“Iya Sayang … aku tahu bagaimana perasaanmu. Tidak apa-apa, nanti jika ada kabar tentang Aksara, kita akan kembali terbang ke Jakarta,” sahut Bisma.
Kanaya pun mengangguk, ya jika selama di Singapura, nyatanya mereka mendapatkan kabar mengenai keberadaan Aksara, maka mereka berdua bisa kembali terbang ke Jakarta lagi. Lagipula, jarak Singapura - Jakarta hanya dua jam penerbangan udara, sehingga bisa dengan muda dicapai.
Perhatian - perhatian …
Penumpang pesawat udara dengan penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno - Hatta menuju Changi, Singapura dipersilakan untuk memasuki pesawat.
Rupanya sudah terdengar boarding attension dari pihak bandara, kemudian Kanaya dan Bisma pun mengambil antrian dan segera membawa hand bag dan ransel mereka. Keduanya mengantri, menunjukkan tiket yang kembali diperiksa, dan kemudian berjalan memasuki pesawat.
Hingga akhirnya keduanya kini sudah sama-sama berada di dalam pesawat. Kanaya menghela nafasnya sembari menunggu pesawat akan take off (mengudara).
“Jangan dipikirkan Sayang … janji, jika selama di Singapura dan siapa tahu ada kabar dari Aksara, kita akan kembali terbang ke Jakarta," janji Bisma.
Perlahan Kanaya pun menganggukkan kepalanya dan mulai menatap suaminya itu, "Iya Mas … sekarang kita fokus ke Singapura dulu saja. InsyaAllah, jika nanti Allah menghendaki dan Aksara akan segera ditemukan sudah pasti kabarnya akan sampai kepada kita. Aku akan selalu mendampingi kamu," sahut Kanaya.
Pernah merasa orang terkasihnya, bahkan kehilangan putra semata wayangnya, Kanaya tidak ingin kehilangan lagi. Dia akan mendampingi suaminya, kemana pun suaminya pergi dia akan turut menyertai. Kanaya benar-benar berada dalam fase berpasrah sepenuhnya kepada sang Pencipta.
Hingga akhirnya pramugari memberikan instruksi agar para penumpang mulai mengenakan sabuk pengaman karena pesawat terbang akan segera lepas landas. Kanaya lantas mengenakan seat beltnya dan mulai menariknya hingga kencang, kemudian tangannya bergerak menggenggam tangan suaminya.
"Pinjam tangannya ya Mas, aku takut … sudah empat tahun tidak naik pesawat," ucapnya.
Bisma pun tertawa, "Iya Sayang … jangan hanya pinjam, lagipula tanganku ini juga punyamu," sahut Bisma.
Akhirnya pesawat terbang mulai berjalan, kian lama kian kencang, dan badan pesawat perlahan-lahan mengudara. Kanaya kian menggenggam erat tangan suaminya dan beberapa kali memejamkan matanya. Rupanya sekian lama tidak menaiki pesawat membuat Kanaya benar-benar takut.
__ADS_1
"Sudah Sayang … sudah aman. Lagipula kita hanya dua jam berada di pesawat. Dulu saja belasan jam di pesawat terbang, kamu tidak takut kok. Sekarang kok takut gini sih," balas Bisma.
"Praktis sudah 4 tahun aku tidak naik pesawat, Mas … hidupku benar-benar aku habiskan di Jakarta dan menunggu Aksara. Semoga saja waktunya tidak akan lama lagi. Semoga ya Mas," ucap Kanaya.
"Iya Sayang … selama empat tahun terakhir kita menunggu Aksara dan hanya mengitari Ibukota dan kota-kota di sekitarnya saja. Ya nikmati perjalanan kali ini dan kita tetap berdoa dan memohon kepada Tuhan," balas Bisma.
Kanaya lantas memalingkan wajahnya ke arah jendela melihat birunya lautan di bawah, gumpalan awan putih yang seolah membuat pesawat itu melintasi awan-awan, dan topografi pulau-pulau Indonesia yang terlihat dari atas pesawat udara. Pemandangan yang indah, membuat Kanaya perlahan mengulas senyumannya. Di percaya bahwa semua ini dalam kedaulatan Allah semata, dalam hatinya Kanaya tetap berharap bahwa putranya akan segera ditemukan.
"Indah bukan?" tanya Bisma perlahan.
"Lama gak naik pesawat, pemandangan kayak gini terasa indah banget," sahut Kanaya.
"Nanti kita jalan-jalan di Singapura lagi yah … sekaligus mengulang memori saat kita bertemu di Singapura dulu," balas Bisma.
Kanaya pun menganggukkan kepalanya, "Ya, Singapura memiliki tempat tersendiri di hatiku. Keingat bagaimana dulu bertemu kamu lagi di Singapura, ucapanmu yang mau mengejarku di Skypark Observation Deck Marina Bay Sand dan juga Changi. Nanti kita jalan-jalan lihat Changi Waterfall ya Mas,” ajak Kanaya.
“Iya Sayang … kemana pun kamu mau pergi, kita akan pergi bersama-sama. Aku akan mengantar dan menemanimu, tentunya di sore hari,” sahut Bisma.
Pada akhirnya, perjalanan udara selama dua jam itu akan berakhir, dan awak pesawat memberitahukan bahwa pesawat akan mendarat di Changi Internasional Airport, semua penumpang diminta untuk kembali mengenakan sabuk pengaman, membuka penutup jendela, dan menegakkan sandaran.
Hingga perlahan-lahan, pesawat mengurangi kecepatannya di udara, menukik, turun, dan berputar, begitu terasa tekanan udara yang terjadi di dalam pesawat membuat hati Kanaya pun berdesir. Dari atas sudah terlihat Marina Bay Sand yang begitu ikonik dari udara. Hingga roda-roda pesawat akhirnya berjejak di tanah dan pesawat melaju begitu kencang, membuat Kanaya kembali meremas tangan suaminya.
“Akhirnya, sampai juga …,” ucap Kanaya lega.
Bisma pun tersenyum menatap reaksi istrinya itu, “Welcome to Singapura, Sayang … terima kasih sudah mau mendampingi aku selama satu bulan lamanya di sini,” balas Bisma.
Ya, pergi ke Singapura bukan hanya sekadar perjalanan, tetapi juga sebagai bukti bahwa Kanaya adalah seorang istri yang taat dan mau mendampingi suaminya itu. Sungguh, Bisma pun bahagia. Di saat dirinya rela ke Singapura sendirian, nyatanya justru Kanaya memilih untuk mendampinginya.
__ADS_1