
Pasangan bulan madu itu memutuskan untuk berada di Istanbul kurang lebih empat hari di sana mereka memanfaatkan waktu untuk menikmati beberapa wisata romantis di Istanbul.
Istanbul sendiri adalah kota terbesar sekaligus provinsi yang paling padat di Turki. Sebelumnya, Istanbul menjadi ibukota kerjaan Ottoman, sebelum akhirnya dipindahkan oleh pendiri Turki yakni Mustafa Kemal Attaturk ke Ankara. Di Istanbul salah satu tempat yang memukau adalah tamannya yang indah dan bersih. Pemerintah kota Istanbul benar-benar mentata setiap taman kota dengan indah lengkap dengan berbagai macam bunga dan juga air mancur.
Destinasi pertama yang mereka kunjungi adalah Blue Mosque. Masjid yang dibangun pada tahun 1616 ini memiliki keunikan tersendiri karena memiliki warna biru, juga masjid ini menggabungkan arsitektur Timur Tengah dan Romawi. Masjid yang memiliki nama resmi Masjid Sultan Ahmed ini menjadi tempat pertama yang dikunjungi Bisma dan Kanaya.
“Kita sholat sejenak di sini Sayang?” ajak Bisma kepada istrinya itu.
“Iya Mas, kita sholat bersama.” sahut Kanaya.
Bisma pun lantas mengimami istrinya dan keduanya sama-sama bersujud terlebih dahulu di rumah Allah dengan hati yang penuh syukur. Usai sholat bersama, Bisma pun mencium kening istrinya itu saat Kanaya mencium punggung tangan suaminya itu. Ketika mereka keluar dari masjid yang begitu unik dengan warna birunya yang dominan itu, Kanaya lantas bertanya kepada suaminya.
“Apa yang minta kepada Allah dalam sujudmu tadi, Mas?” tanya sembari terus berjalan di sisi suaminya itu.
Bisma tersenyum, tangannya dengan segera menggenggam tangan Kanaya, “Pertama, aku bersyukur karena Tuhan memberikanku tulang rusuk dan itu adalah kamu. Aku bersyukur memilikimu sebagai tulang rusukku. Kedua, aku meminta supaya Allah juga menganugerahkan kepada kita keturunan. Semoga saja doaku dijabah sama Allah.” jawab pria itu dengan sungguh-sungguh. Bisma kemudian menoleh guna melihat wajah istrinya, “Kamu sendiri, apa yang kamu minta?” tanyanya kini kepada Kanaya.
“Sama seperti kamu, aku juga bersyukur memiliki kamu sebagai suamiku. Rasanya kali ini Tuhan benar-benar menaruh busur berwarna-warni itu di dalam hidupku. Terima kasih sudah menerimaku sepenuhnya.” ucap Kanaya dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.
Dengan cepat Bisma merangkul bahu istrinya itu, “Aku menerimamu seutuhnya dan sepenuhnya.” sahut pria itu sembari mencuri ciuman dipuncak kepala Kanaya.
“Kita tidak perlu menunda momongan kan Sayang?” tanya Bisma perlahan kepada Kanaya.
__ADS_1
Wanita itu pun menggelengkan kepalanya, “Tidak … aku siap untuk menjadi ibu dari anak-anakmu, anak-anak kita. Sesuai izin Allah saja Mas.” jawab Kanaya. Dirinya memang telah siap menjadi ibu dari anak-anak mereka, tetapi dalam semua usaha dan rencana manusia, yang terjadi tetaplah kehendak Allah semata. Maka dari itu, Kanaya pun lebih memasrahkan semuanya kepada Allah.
“Terima kasih ya, semoga tidak perlu menunggu waktu lama, di dalam sini akan bersemi buah cinta kita berdua.” jawab pria itu sembari mengusap lembut perut Kanaya yang masih rata itu.
Usai dari Blue Mosque, keduanya kemudian menuju Dolmabahce Palace yang merupakan sebuah istana dari kesultanan Turki pada tahun 1856 - 1922. Istana ini berada di garis pantai selat Bosporus. Yang membedakan istana ini dengan istana yang lainnya adalah gaya arsitektur Dolmabahce Palace yang lebih kental dengan budaya Eropa. Budaya dari Ingrris dan Perancis dapat ditemukan di setiap sisi gedung.
Di tempat ini Bisma dan Kanaya, seolah takjub dengan lampu kristal gantung khas Bohemian. Katanya koleksi lampu gantung kristal yang ada di Dolmabahce Palace merupakan lampu gantung terbesar di dunia.
“Wah, lampu kristalnya bagus banget ya Mas.” ucap Kanaya seakan begitu takjud dengan lampu kristal gantung yang dia lihat.
Bisma pun mengangguk, “Iya bagus banget. Katanya ini lampu gantung terbesar di dunia, Sayang. Indah kan?”
Anggukan dari Kanaya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Bisma itu, “Sorenya kita ke tepi selat Bosporus lagi ya Mas?” ajaknya kali ini kepada suaminya itu.
Dengan cepat Kanaya menggelengkan kepalanya, “Enggak … lihat dari teras kafe aja Mas. Kalau lihat di kamar hotel, justru enggak jadi. Sudah 2 hari di kamar hotel terus, sekarang jalan-jalannya dong. Sapa tau semua ini bisa menginspirasiku untuk menulis novel lagi nanti kalau aku ada waktu.” ucap Kanaya yang saat ini sudah memiliki konsep di dalam otaknya untuk menuliskan sebuah novel dengan latar kota Istanbul ini.
“Aku tunggu novel terbarunya, Bu Novelis.” ucapnya sembari tertawa.
Mengisi sore, Bisma dan Kanaya berjalan-jalan di tepi selat Bosporus. Hari sudah tidak terlalu terik, tetapi angin di tepian selat Bosporus itu begitu kencang, “Kamu yakin enggak apa-apa kena angin sekencang ini?” ucap pria itu dengan melepaskan mantel tebal yang dia kenakan dan memakainya untuk Kanaya.
“Kan aku juga sudah memakai jaket ini Mas, buat kamu saja supaya enggan masuk angin.” sahut Kanaya dengan berusaha melepaskan mantel milik suaminya itu.
__ADS_1
Akan tetapi, dengan cepat Bisma mencegahnya, “Pakai saja Sayang … kamu pasti kedinginan. Jangan terlalu lama ya di sini.” Bisma mengingatkan karena angin yang terlampau kencang bisa membuat istrinya itu mengalami perut kembung hingga masuk angin.
Angin yang cukup kencang, rupanya bisa mengibarkan rambut panjang Kanaya, hingga rambutnya beterbangan tertiup angin. Kali ini Bisma berinisiatif untuk merapikan rambut istrinya yang berantakan itu. Namun, dengan cepat tangan Kanaya mencegahnya, “Eh, jangan Mas …” sergahnya saat Bisma hendak menelisipkan untaian rambut istrinya itu ke belakang telinganya.
Mengerjap, Bisma pun lantas bertanya, “Kenapa? Ini rambut kamu berantakan.” sahutnya.
Kanaya lantas membawa untaian rambutnya ke sisi kanan seluruhnya, “Buat menutupi hasil karya kamu di leherku.” ucapnya sembari berbisik dan menyentuh lukisan abstrak berwarna merah di lehernya.
Bisma pun justru terkekeh, “O … aku kira kenapa. Lukisannya indah banget ya Sayang … karya seni paling mahal di dunia itu.” ucapnya sembari menggerakkan matanya menatap wajah Kanaya, kemudian beralih menatap tanda merah di leher istrinya itu.
Kanaya kemudian memukul dada suaminya itu, “Ternyata Pak Dokter ngelesnya pinter banget ya.” sahut Kanaya sembari tertawa.
“Sekolah tinggi-tinggi kalau enggak pinter ngeles buat apa Sayang, cuma aku keliatannya Dokter yang begitu lulus spesialisasi langsung menikah.” celetuknya sembari tertawa.
Sama halnya dengan Bisma, Kanaya pun tertawa, “Lagian kamunya sih ngebet nikah. Cuma pacaran 6 bulan dan itu pun jarak jauh, justru lulus kuliah terus nikah. Abis dapat Ijazah langsung Ijab sah ya Pak?” godanya kepada suaminya.
“Lama tidaknya berpacaran itu tidak menjamin sebuah hubungan akan berlanjut hingga ke pernikahan, Sayang … lebih baik serius, komitmen, dan langsung akad.” jawab pria itu dengan enteng.
Sementara Kanaya pun geleng-geleng kepala mendengar jawaban suaminya itu, “Kamu kalau kayak gini, gak kayak Dokter Spesialis Anak loh Mas.” satu ucapan yang sukses membuat Bisma mengernyitkan keningnya.
“Lalu, aku ini kayak Dokter yang gimana Sayang?” tanyanya kepada istrinya itu.
__ADS_1
Dengan cepat Kanaya menjawab, “Dokter cintanya aku.” ucapnya sembari menutupi wajahnya yang bersemu merah dengan kedua tangannya.