
Acara tujuh bulanan kali ini bukan sekadar menjadi acara pengajian saja, tetapi sekaligus menjadi acara berkumpulnya para keluarga dan kerabat lainnya. Hal itu terbukti, walaupun pengajian hampir usai. Akan tetapi, semua kerabat rupanya masih betah berada di kediaman keluarga Pradana. Sudah tentu juga bahwa Kanaya dan Bisma menjadi pusat perhatian mereka.
"Perutnya sudah semakin buncit ya? Besar sekali perutnya." tanya salah satu kerabat yang hadir di pengajian itu kepada Kanaya.
"Iya, sudah tujuh bulan juga. Jadi sudah keliatan besar." jawab Kanaya sembari tersenyum.
"Hamil ini ngidam apa Mbak Naya? Teler enggak?" tanya salah satu kerabat yang lainnya.
Dengan cepat Kanaya pun menggelengkan kepalanya, "Keliatannya belum ngidam yang aneh-aneh, dan alhamdulillah sehat. Dari awal melahirkan tidak pernah teler." jawabnya lagi.
Di tengah banyaknya kerabat yang seolah banyak bertanya pada Kanaya, Bisma pun berjalan mendekati istrinya itu. "Capek, Sayang?" tanyanya kepada istrinya.
Tidak dipungkiri bahwa Kanaya cukup lelah, tetapi dia bersikap tenang dan terus menyunggingkan senyuman di wajahnya. Wanita itu pun menatap sejenak wajah suaminya, "Lumayan sih Mas … pinggang aja yang pegel karena belum rebahan." jawabnya.
"Ya sudah, nanti kalau udah selesai rebahan aja biar capeknya hilang." ucap Bisma dengan lembut.
Rupanya pasangan yang saling berbicara dan tersenyum itu menjadi perhatian beberapa kerabat. Seolah Kanaya dan Bisma adalah objek perhatian, hingga para keluarga dan kerabat yang hadir tidak tidak segan untuk segera bersuara.
"Pengantin baru masih manis ya, masih hangat. Nanti kalau anaknya sudah lahir, sudah berubah." celetuk salah satu kerabat Bisma.
"Dunia milik berdua, yang lain ngontrak." sambung lainnya.
"Istrinya capek tuh Dokter Bisma."
Seolah para kerabat tidak segan untuk selalu menggoda Bisma dan Kanaya. Seluruh kerabat dan keluarga tertawa melihat wajah malu-malu Bisma dan Kanaya.
__ADS_1
"Sudah-sudah … jangan diledekin terus. Kasihan Bisma dan Kanaya. Mau menjadi orang tua baru malahan diledekin." ucap Bunda Hesti yang kemudian bergabung dengan para kerabat lainnya.
"Sabar ya Naya … kalau kumpul keluarga memang seperti ini. Mereka hanya bercanda kok." lanjut Bunda Hesti sembari menepuk punggung menantunya itu.
Kanaya pun mengangguk, "Iya … gak apa-apa kok Bunda. Malahan lucu jadinya." jawabnya sembari tersenyum.
Hingga ada seorang pemuda yang berjalan dan menghampiri Bisma dan Kanaya.
"Halo Mas Bisma dan Mbak Naya …" sapanya sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Eh, Hai … datang juga. Kirain karena sibuk kuliah jadi enggak datang ke mari." Sahut Bisma sembari menepuki bahu pria tersebut
Setelahnya Bisma melirik pada Kanaya, "Sayang … ini Tama. Kerabatku yang beberapa bulan lalu membantuku waktu itu." jelas Bisma menjelaskan kepada Kanaya bahwa Tama adalah kerabatnya yang membantunya menemukan alamat IP milik Sandra. Seorang pria muda yang handal dalam hal hacking.
"Oh, iya … makasih ya Tama. Sudah dibantuin." Kanaya mengucapkan terima kasih kepada Tama itu. "Sibuk apa sekarang? Sudah kerja?" tanya Kanaya lagi.
Seolah tak percaya, Kanaya pun membolakan matanya, "Mahasiswa baru? Serius?" tanyanya lagi.
"Iya Mbak … baru mau semester 2," jawabnya lagi.
"Hebat dong, baru mahasiswa dan masih baru tapi udah jago hacking. Kuliah ambil jurusan apa?" tanya Kanaya lagi.
"Teknologi Pendidikan, Mbak … sebenarnya mau ambil dan IT, tetapi malahan diterimanya di Teknologi Pendidikan." jawab Tama sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mendengar percakapan istrinya dan Tama, Bisma kemudian giliran yang membuka suaranya, "Dinikmati kuliahnya … gak perlu serius-serius. Kalau ada mahasiswi yang cantik pepet terus sampai dapat." celetuk Bisma dengan tiba-tiba. "Ada enggak yang cantik?" tanya Bisma lagi kepada Tama.
__ADS_1
"Ada sih Mas … ada satu." jawab Tama sembari senyam-senyum.
Melihat gelagat Tama yang senyam-senyum sudah cukup menjadi sinyal bahwa pria itu sedang memendam rasa suka bagi seorang temannya sekampus. "Siapa Tam?" tanya Kanaya yang terlihat kepo.
"Ada Mbak … teman satu kampus, satu jurusan juga. Cuma anaknya keliatannya cuma fokus kuliah aja." sahut Tama lagi.
Bisma pun tertawa, "Tanda-tanda kamu ditolak tuh. Baru PDKT sudah putus." ocehannya lagi yang seolah begitu bahagia bisa meledek Tama.
"Belum PDKT malahan Mas … ya berteman dulu aja. Waktu kuliah masih panjang, sapa tau nanti bisa deket." sahut Tama yang masih merasa optimistis. Berharap bahwa di waktu sepanjang kuliahnya dia bisa menjadi lebih dekat dengan teman kuliahnya itu.
"Siapa namanya, mungkin saja aku kenal." sahut Kanaya kali ini.
Bisma lantas melirik istrinya itu, "Emangnya kamu bisa kenal dari mana Sayang?" tanyanya yang seakan tak percaya.
"Namanya Khaira, Mbak … temen satu jurusan. Cantik sih, tetapi keliatannya fokusnya sekarang cuma kuliah aja." jawab Tama lagi.
"Namanya cantik, mungkin saja orangnya juga cantik." Celetuk Bisma dengan tiba-tiba.
Mendengar suaminya yang tiba-tiba berkomentar dengan memuji wanita lain, Kanaya pun mengernyitkan keningnya, "Tuh … malahan muji-muji cewek lain. Ayah kamu malahan muji-muji cantik ke cewek lain, Dik." Kanaya berbicara sembari menunduk dan mengusapi perut.
Pemandangan yang justru lucu dan menggemaskan bagi Bisma. Pria itu pun tertawa, "Ya ampun Sayang … gitu aja kamu ngadu sama baby kita loh. Kan aku cuma menerka-nerka aja. Yang pasti bagiku, kamu yang tercantik." ucapnya dengan suara yang begitu lembut.
"Abis … kamu sih, seolah pernah lihat aja temennya Tama itu." sahut Kanaya dengan cepat. Ada rasa cemburu dalam ucapannya kali ini.
Melihat pasangan suami istri itu, Tama pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Udah Mas, Mbak … jangan berantem. Kalau menurutku, Khaira itu cantik dan pinter. Dulu waktu Semester 1, dia yang mendapat IP tertinggi di angkatanku." cerita Tama lagi. “Mungkin dia terlalu fokus dengan kuliahnya, sehingga tidak tertarik dengan hubungan pacaran.” imbuh Tama yang bercerita kepada Bisma dan Kanaya.
__ADS_1
Bisma pun lantas mengangguk, “Akan tetapi aku setuju sih, dulu aku waktu kuliah juga fokus kuliah dulu kok. Toh, kalau jodoh ya enggak akan lari kemana. Harus punya target kan dalam kuliah itu. Jadi, aku dukung Khaira itu.” ucap Bisma kali ini yang justru terlihat mendukung Khaira.
Begitu melimpah kebahagiaan dalam acara kali ini. Bukan sekadar acara pengajian yang terlaksana dengan baik, tetapi juga bisa bertemu dengan kerabat dan beberapa saudara. Sekalipun capek, tetapi tidak menyurutkan senyum kebahagiaan di wajah Kanaya. Senyuman yang membuatnya kian terlihat begitu cantik di usia kandungannya yang berusia 7 bulan.