
Puasanya rasa terasa semakin semarak apabila menyambut waktu berbuka puasa dengan jalan-jalan atau sekadar membeli camilan dan berbagai menu takjil. Ngabuburit menjadi waktu yang cocok dinikmati selama sebulan saat bulan puasa tiba. Itu juga yang sedang dilakukan Bisma dan Kanaya saat ini. Pasangan suami istri itu tampak berjalan-jalan berdua, menikmati semilir angin sore dan duduk di taman yang berada tidak jauh dari Jaya Corp.
Taman di sore itu terasa lebih ramai dengan beberapa anak kecil yang berlari-larian di taman, ada pula anak-anak kecil yang bermain bola, juga ada beberapa penjual yang menjual berbagai menu takjil mulai dari Kolak Pisang, Es Buah, hingga Biji Salak. Semua menu berbuka yang terasa manis dan menggiurkan tentunya.
Sementara saat ini Kanaya dan Bisma duduk bersama di sebuah kursi di taman itu. Kanaya terlihat bahagia, sembari mengamati anak-anak kecil yang bermain dengan begitu bahagia. Di dalam hatinya, wanita itu pun merasa tidak sabar untuk bisa bertemu dengan anaknya. Bermain dengan anaknya nanti pasti akan sangat menyenangkan.
Bisma pun perlahan menatap wajah istrinya yang sesekali terlihat sedang tersenyum, "Kamu kenapa Sayang?" tanyanya kepada Kanaya.
"Anak-anak yang bermain dan berlari-larian itu terlihat sangat bahagia. Mereka seolah tidak memiliki beban hidup. Jadi pengen segera lahir babynya, pengen bermain sama si baby nanti." ucapnya sembari mengelus perutnya perlahan.
"Sabar Sayang … kurang lebih 2 bulan lagi. Itu pun babynya masih kecil, nunggu dia berusia 2 tahun baru bisa lari-lari seperti itu." sahut Bisma.
Kanaya pun tertawa, "Aku enggak sabaran ya Mas? Abis gimana, kadang seneng dan bahagia banget bisa melihat anak-anak yang bermain dengan begitu bahagianya seperti itu." balasnya lagi.
"Perasaan yang wajar, Sayang. Hanya saja kan kita juga harus bersabar. Sebab di dalam sini babynya juga terus bertumbuh. Organ-oragn tubuhnya semakin sempurna dan kuat, saraf-sarafnya juga berkembang, otaknya juga. Jadi, sabar saja." ucap Bisma yang menjelaskan perkembangan bayi dan juga meminta istrinya untuk bersabar.
"Iya Mas … aku akan bersabar kok. Abis ini kita jalan-jalan sebentar ya Mas. Aku pengen beli Biji Salak itu boleh?" tanya Kanaya yang ingin membeli Biji Salak yang memang dijajakan di area taman itu.
Bisma pun mengangguk, "Boleh… mau beli apa lagi? Yang kamu pengen beli aja, aku akan belikan buat kamu." ucapnya.
"Wah, Ayah baik banget deh. Bunda maunya apa mau dibeliin nih, Nak." ucapnya sembari tertawa.
“Kamu bisa aja Sayang … padahal ya, aku pengen apa pun tinggal minta sama aku. Sudah pasti aku akan membelikan semua yang kamu mau. Minggu depan, kita mulai belanja bersama buat si Baby yuk Sayang? Takut mepet nanti waktunya.” ucap si calon Ayah yang mengajak istrinya untuk mempersiapkan berbagai keperluan di bayi.
Kanaya pun mengangguk setuju, “Oke … pas weekend saja ya Mas. Nanti aku buat list catatan dulu apa aja yang mau dibeli. Biar enggak usah bingung-bingung lagi.” jawab Kanaya dengan antusias.
Memang para calon orang tua baru akan merasa begitu senang setiap kali mereka berbelanja mempersiapkan berbagai barang yang dibutuhkan oleh sang baby. Melihat berbagai pakaian bayi yang lucu-lucu, berbagai pilihan perabotan untuk bayi, dan juga lainnya sangat dinantikan oleh para calon orang tua. Itu juga yang dinantikan Kanaya dan juga Bisma.
__ADS_1
“Mau jalan-jalan sekarang?” tanya Bisma yang kali ini sudah berdiri. Pria itu mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan istrinya.
Tanpa bicara, Kanaya pun tersenyum dan mengulurkan tangannya dalam genggaman suaminya. Perlahan wanita hamil itu bangkit berdiri, dan mulai berjalan di samping suaminya. Sebatas menikmati sore sebelum kembali ke apartemen mereka berdua.
“Anginnya enak ya Mas? Semilir rasanya …” ucapnya dengan menghirupi udara yang begitu segar sore itu.
“Iya, semilir. Sudah tidak panas juga. Jadi, rasanya adem.” jawab Bisma yang dengan setia menggenggam tangan istrinya itu.
Menikmati jalan sore bersama, sekalipun hanya sekian menit rupanya cukup merilekskan keduanya yang sudah seharian penuh bekerja dengan profesinya masing-masing. Kemudian Kanaya berhenti di tempat penjual yang menjual Biji Salak. Dengan cepat, dia meminta dua gelas Biji Salak tentu saja minuman manis ini akan dia nikmati di apartemen bersama dengan suaminya nanti.
Sementara, ketika penjual usai membungkuskan dua gelas Biji Salak, Bisma segera mengeluarkan dompetnya dan membayar Biji Salak itu.
“Kembaliannya Mas …” ucap Bapak penjual Biji Salak itu.
“Sudah, buat Bapak aja, Pak. Sehat selalu ya Pak.” sahut Bisma dengan menganggukkan kepalanya dan kemudian berpamitan dengan penjual Biji Salak tersebut.
Hati Kanaya rasanya benar-benar hangat melihat kebaikan hati suaminya itu, Bisma memang sosok yang baik dan tulus. Semua itu terlihat dari bagaimana pria itu berperilaku setiap harinya. Dalam hatinya, Kanaya berdoa kiranya nanti bayi yang masih berada di dalam kandungannya akan mewarisi segala karakter yang baik dari Ayah Bisma.
Saat adzan berkumandang, tanda berbuka telah tiba. Bisma pun menuju ke meja makan yang berada bersebelahan dengan dapurnya. Pria itu tersenyum melihat bagaimana istrinya dengan perutnya yang sudah begitu buncit terlihat menata beberapa makanan di meja makan dan menyiapkan peralatan makan.
“Hei, Bumilku sibuk banget ya?” tanya Bisma begitu mendekati istrinya itu.
“Bukan sibuk, sok sibuk sih Mas sebenarnya.” jawabnya sembari tertawa.
Usai menyapa istrinya, Bisma pun menuju ke dapur, dia berinisiatif membuatkan Yogurt Stroberi yang dikhususkan untuk Ibu hamil dan bisa dikonsumsi dingin dengan menggunakan es batu. Pria itu membuatkan minuman itu untuk istrinya, menyajikannya dengan sedikit es batu yang bisa membuatnya terasa lebih segar. Setelahnya, dia membawa segelas yogurt stroberi itu ke meja makan.
“Kamu minum yogurt ini dulu sebelum minum yang lainnya, Sayang … yogurt stroberi kesukaan kamu.” ucapnya menaruh yogurt itu di meja yang berada di depan istrinya.
__ADS_1
Kanaya pun mengangguk, “Makasih Ayah … iya, pasti aku minum yogurt nya dulu. Makasih ya sudah dibuatin.” ucapnya dengan tersenyum menerima yogurt itu. “Mau buka puasa sekarang Mas?” tanyanya kepada suaminya itu.
“Iya … sudah saatnya berbuka kan?” tanya Bisma perlahan.
“Iya … sudah. Ayo, Mas … kamu yang berdoa berbuka puasa.” ucapnya sembari tertawa. Bahkan kali ini, dia meminta suaminya itu untuk berdoa berbuka puasa.
Bisma pun mengangguk dan tersenyum, “Iya … yuk.” ucapnya. Kemudian pria itu mulai melantunkan doa berpuasa sejenak, dan mengakhirinya dengan kata Amin.
Setelahnya, Kanaya pun mulai mengisi piring kosong milik suaminya dengan sedikit nasi putih, capjay seafood, dan juga ayam goreng bawang. “Silakan Mas …” ucapnya mempersilakan suaminya itu untuk menyantap menu berbuka mereka.
“Makasih Bunda Naya …” Bisma mengucapkan terima kasih kepada istrinya itu, karena telah menyajikan berbagai makanan di dalam piringnya.
Setelahnya Kanaya memilih meminum yogurt yang sudah dibuatkan suaminya terlebih dahulu, barulah mengisi perutnya dengan nasi dan sayuran.
“Makan yang banyak Sayang …” ucap Bisma sembari mengunyah makanan dalam mulutnya.
“Ini sudah banyak kok, Mas … banyak banget malahan. Aku aja sudah gendut lagi.” ucapnya sembari memegangi kedua pipinya yang memang kembali chubby.
Sekalipun beratnya tidak sebanyak 89 kilogram, tetapi Kanaya cukup mengalami kenaikan berat badan yang drastis pada kehamilannya kali ini. Sehingga bagian pipi dan pahanya juga menjadi lebih mengembang.
“Enggak masalah Sayang … kamu tahu enggak Sayang?” tanya Bisma perlahan.
“Hmm, apa?” sahut Kanaya dengan cepat.
“Dulu aja waktu kamu gendut, kamu tetap cantik kok. Jadi jangan memikirkan semua itu. Cintaku tidak ditentukan oleh berat badanmu. Kecantikan yang alami itu terpancar dari hati.” ucap Bisma dengan begitu meyakinkan.
Sementara Kanaya pun tertawa, “Gombal …” Sebab baginya kali ini, suaminya itu seolah berbicara gombal dan hanya menenangkan hatinya saja.
__ADS_1
“Serius … untuk apa juga aku gombal. Aku serius. Kamu gemuk pun, kamu tetap cantik. Itu semua karena aku memandang kamu dengan hatiku, bukan hanya dengan mataku. Kamu selalu cantik bagiku.” ucap Bisma lagi-lagi dengan menunjukkan wajah seriusnya di hadapan istrinya itu.
Sebuah ucapan yang membuat Kanaya pun tersenyum dan meyakinkan dirinya bahwa suaminya memang memujinya, bukan sekadar mengucapkan rayuan gombal semata.