
Jika hati seorang ibu mudah iba, maka adalah benar adanya. Sama halnya dengan Mama Sasmita yang iba mendengar permintaan Darren yang ingin supaya di lain waktu Mama Sasmita datang mengunjunginya di rumah tahanan dengan bersama Kanaya. Oleh karena itulah, sepulang dari Rumah Tahanan, Mama Sasmita pun berniat untuk mengunjungi Kanaya. Dia langsung mencoba menghubungi Kanaya melalui telepon selulernya.
Kanaya
Berdering
“Halo Naya … ini Mama, Nay.” sapa Mama Sasmita begitu sambungan telepon itu terhubung.
“Iya Ma … ada apa Ma?” tanya Kanaya kepada Mama Sasmita melalui sambungan seluler itu.
Mama Sasmita pun tampak memijat pelipisnya sebelum mulai mengutarakan niatannya. Hingga akhirnya, mau tidak mau dia harus mencoba untuk berbicara kepada Kanaya. “Begini Nay, apa Mama bisa minta tolong kepadamu?”
Di seberang sana Kanaya tampak mengernyitkan keningnya, menebak-nebak kira-kira apa yang diinginkan oleh Mama Sasmita. Sebab biasanya Mama Sasmita tidak pernah meminta tolong kepadanya. “Minta tolong apa Ma?” tanya Kanaya.
“Kapan waktu bila senggang, kamu bisa menemani Mama untuk menjenguk Darren di rumah tahanan, Nay? Darren yang meminta untuk bisa bertemu kamu, dia ingin meminta maaf kepadamu.” ucap Mama Sasmita dengan merasa tidak enak.
Kanaya menghela napasnya dengan kasar, merasa malas untuk kembali bertemu dengan Darren. Akan tetapi, di seberang sana Mama Sasmita terus menerus memohon kepadanya. Maka, akhirnya Kanaya menyetujui.
“Baik Ma, tetapi cukup satu kali ini saja.” sahut Kanaya.
Mendengar bahwa Kanaya sudah menyetujui, Mama Sasmita merasa lega. Setidaknya dia akan mempertemukan Kanaya dan Darren untuk satu kali dan berharap bahwa Darren benar-benar memanfaatkan momen itu untuk meminta maaf kepada Kanaya.
__ADS_1
“Baik Naya … terima kasih ya. Nanti Mama kabarin, kalau Mama akan mengunjungi Darren lagi ya.” ucap Mama Sasmita dan kemudian mengakhiri panggilannya.
Mama Sasmita merasa lega, tetapi di satu sisi dia pun takut dengan upayanya membujuk Kanaya sekarang apakah sudah benar, karena Kanaya sekarang sudah menjadi istri pria lain. Sementara beberapa saat yang lalu, Darren terlihat begitu terobsesi dengan Kanaya dan meminta untuk kembali dengan Kanaya.
Wanita paruh baya itu tampak menundukkan kepalanya dan termenung, “Kenapa hidupmu menjadi serumit ini Darren? Andai saja sejak dulu kamu menerima Kanaya sebagai istrinya, kamu tidak akan terjerumus dalam semua ini. Wanita yang ada di samping kita bisa menuntun kita ke jalan yang benar, sekaligus bisa menjerumuskan kita ke jurang terdalam. Andai saja, sejak awal kamu mengikuti rencana Mama dan Papa yang menjodohkanmu dengan Kanaya. Sayangnya, kamu sendiri yang telah memporak-porandakan semuanya. Kanaya kini sudah bahagia bersama pria yang begitu mencintainya.” gumam Mama Sasmita yang begitu iba dengan nasib putranya saat ini. Akan tetapi, semuanya telah terlambat, semua masalah ini dipicu oleh Darren sendiri.
Sementara itu, dalam pikiran Kanaya saat ini, keluarga Jaya Wardhana sudah banyak menolognya. Maka dari itu, jika dia memenuhi permintaan Mama Sasmita untuk satu kali rasanya tidak masalah. Usai menerima telepon itu, Kanaya lantas memegangi teleponnya. Perasaannya menjadi tidak tenang lantaran dia belum berbicara dengan suaminya dan justru mengambil keputusan satu pihak.
“Kenapa bengong Sayang?” tanya Bisma yang tiba-tiba sudah memeluk Kanaya dari belakang. Pria itu yang sebelum berada di kamar mandi itu, memiliki kebiasaan langsung memeluk Kanaya dari belakang usai dirinya mandi.
Merasa suaminya yang sudah mendekapnya erat secara tiba-tiba, Kanaya langsung menggelengkan kepalanya, “Eh, sudah selesai mandinya Mas? Kaget aku.” ucapnya. Akan tetapi, Kanaya lantas menggigit bibir bagian dalamnya. Ingin jujur kepada suaminya, tetapi ada rasa takut jika ternyata suaminya itu tidak memberikan izin.
Gugup. Kanaya langsung menggelengkan kepalanya, “Dari Mama Sasmita Mas, kapan-kapan beliau ngajak ketemuan. Kangen katanya.” jawab Kanaya.
Bisma pun mengangguk, “Oh … kirain siapa. Ya sudah, ketemuan saja. Mungkin beliau juga kangen sama kamu.” ucapnya dan kemudian melepaskan dekapannya di tubuh istrinya. Pria itu berjalan menuju walk in closet dan mulai memakai baju rumahan di sana.
Rasanya begitu tidak lega sebenarnya, tetapi ada rasa ragu bahwa mungkin saja suaminya itu tidak akan memberikan izin padanya. Perlahan Kanaya pun berjalan menghampiri suaminya yang tengah berdiri di meja cermin, pria itu sedang memakai parfum dan merapikan rambutnya yang usai keramas dengan tangannya. Menyugarnya hingga beberapi air yang masih berada di rambutnya, memercik begitu saja.
“Mau minum sesuatu atau camilan?” tawar Kanaya dengan rasa gugup di dalam dadanya.
Bisma pun mengangguk dan tersenyum, “Iya boleh … kopi saja ya, gulanya 2 sendok teh. Jangan terlalu manis.” ucap pria itu sembari tersenyum ke arah Kanaya.
__ADS_1
Tidak menunggu waktu lama, Kanaya pun menaruh handphonenya sejenak di atas nakas di sisi tempat tidurnya. Kemudian dia menuju dapur untuk membuatkan kopi sesuai request dari suaminya itu. Di dapur, lagi-lagi Kanaya menjadi resah. Gugup dan menjadi merasa bersalah. Akan tetapi, melihat suaminya yang seolah tidak berubah dan tetap bersikap wajar, maka Kanaya berketetapan akan jujur dengan suaminya saat dia usai memenuhi permintaan Mama Sasmita.
Beberapa menit di dapur, Kanaya kemudian kembali menghampiri suaminya yang sudah menyalakan televisi di ruang keluarga berukuran mini itu.
“Kopinya Mas … sesuai dengan requestnya tadi, gulanya cuma dua sendok teh.” ucapnya sembari menyodorkan cangkir keramik berwarna putih dengan hiasan bunga di sisinya.
Bisma pun tersenyum dan menerimanya, “Makasih ya … kamu enggak minum sesuatu?” tanya Bisma yang melihat hanya ada satu gelas kopi di sana.
Kanaya pun menggelengkan kepalanya, “Enggak, aku minum air putih saja. Aku enggak bisa minum kopi, Mas. Asam lambung. Jadi enggak bisa minum kopi.” jawabnya dengan menatap suaminya.
Satu fakta baru yang diketahui oleh Bisma bahwa ternyata Kanaya memiliki asam lambung, pria itu lantas menatap istrinya, “Jika kamu asam lambung, kenapa dulu diet ketat untuk memiliki berat badan ideal, Sayang?”
“Kan aku dietnya dengan didampingi Dokter, Mas … enggak sembarangan diet juga.” jawab Kanaya dengan mengambil satu potong kue kastangel dan menyuapkan ke dalam mulut suaminya.
Dengan menerima suapan dari istrinya itu, Bisma pun beringsut dan menatap wajah Kanaya, “Lain kali jangan diet lagi. Kesehatan lebih penting. Orang dengan asam lambung tidak boleh sembarangan diet, bisa fatal.” ucap Bisma dengan nada khawatir.
Kanaya pun menganggukkan kepalanya, “Iya iya … Pak Dokter. Namun, jika badanku melar lagi, kamu tidak keberatannya? Dulu saja size pakaianku XXL loh.” tanyanya sembari menatap suaminya.
Bisma menggelengkan kepalanya, “Tidak masalah, aku kan bilang bahwa aku menerima kamu seutuhnya dan sepenuhnya. Cintaku tidak berkurang, sekalipun badan kamu melar. Percaya aku. Pegang ucapanku ini.” ucap Bisma dengan begitu serius.
Tidak dipungkiri Kanaya lega karena suaminya itu tidak mempermasalahkan penampilan fisiknya. Dulu, dia dibully, dirundung dengan begitu kejam, menerima kekerasan secara verbal karena fisiknya dengan berat badan bersize XXL. Oleh karena itulah, ada rasa takut jika badannya kembali melar, mungkin saja pria yang menjadi suaminya akan merundungnya juga.
__ADS_1