
Saat hidup bersama dengan seseorang, menjadi keseharian dari orang tersebut, perlahan-lahan semua bagian hidup orang itu pun akan terbuka. Sama halnya dengan Bisma yang sebenarnya tidak menyangka, istrinya itu pun bisa bersikap begitu lucu seperti malam ini.
“Yakin, cita-cita kamu mau jadi istri dan ibu dari anak-anaknya Mas Dokter ini?” tanyanya sembari tersenyum dan mengedipkan matanya beberapa kali.
Sementara Kanaya masih tertawa, menutup mulutnya dengan satu tangan, takut bila dia tertawa terbahak dan justru mengganggu mertuanya.
“Iya … diizinkan enggak Mas Dokter?” tanyanya.
Sudah pasti jenis pertanyaan Kanaya sekarang adalah pertanyaan retoris yang tidak membutuhkan jawaban, karena tanpa Kanaya bertanya pun, Bisma dengan senang hati akan membiarkan wanita yang kini duduk di sampingnya itu untuk menjadi pendamping hidup dan juga menjadi ibu dari anak-anaknya nanti.
“Aku izinkan, tetapi ada syaratnya.” ucap pria itu sembari mengembalikan buku angkatan tahunan itu kepada istrinya. “Mau tahu enggak syaratnya?” tanyanya lagi.
Kanaya pun berhenti tertawa, dan menatap wajah suaminya itu, “Apa syaratnya?”
Bisma justru kian mendekat dan mengikis jaraknya dengan istrinya itu. Satu tangannya bergerak, guna menyentuh bibir istrinya yang begitu ranum dan sangat menggoda itu. “Kiss me …” ucap pria itu sembari tersenyum.
Sementara Kanaya hanya tersenyum, dan begitu malu setiap kali suaminya itu mulai bersikap nakal. Kanaya pun menggelengkan kepalanya, “Besok saja ya, ini di rumah Ayah dan Bunda, takut kalau ketahuan.” ucapnya yang merasa tidak enak. Rasanya tidak nyaman, jika harus melakukan hal-hal sebagai pasangan suami istri di rumah mertuanya.
Bisma pun tertawa, pria itu kemudian berdiri dan mengunci pintu kamarnya, kemudian dia meredupkan lampu utama dari kamar itu, kemudian hanya menyalakan lampu tidur. “Kalau gini sudah aman.” ucapnya sembari kembali duduk di kursi sofa tepat di sebelah Kanaya.
“Ya ampun, Mas Dokter ini … sejak kapan sih kamu nakal gini?” tanya Kanaya, dia begitu malu dengan akal suaminya itu.
__ADS_1
“Sejak sama kamu lah Sayang … emang sapa lagi yang bisa dinakalin.” ucapnya sembari menunggu istrinya itu akan memberikan apa yang dia mau.
Kanaya sigap dengan mendorong perlahan dada suaminya itu, “Baru hamil muda, Mas … emang boleh? Jangan ya, kan janinnya belum tahu kuat atau enggak. Lebih baik konsultasi dulu sama Dokter Kandungan. Berarti benar kata Ayah tadi, mending kamu jadi Dokter Spesialis Kandungan kok, jadi kan bisa periksa aku langsung dan berikan advice yang benar.” sergahnya kepada suaminya itu.
Seakan tidak menerima penolakan, Bisma lantas mengangkat pinggang istrinya itu dan mendudukkannya di atas pahanya, tangannya bergerak untuk menelisipkan untaian rambut istrinya itu ke belakang telinga. “Cuma main-main saja Sayang … aku tahan kok.” ucapnya dengan suara yang begitu parau dan dalam.
“Kiss me, please …” ucap pria itu kembali meminta kepada istrinya untuk menciumnya.
“Just a kiss, nothing more?” tanya Kanaya perlahan.
Pria itu pun mengangguk, “Ya, just a kiss.” ucap pria itu.
Maka, Kanaya pun mengikis wajahnya, gadis itu tersenyum, dan kemudian menyapa bibir suaminya itu. Mengecupnya dengan begitu lembut, menggoda dua lipatan bibir itu dengan kedua bibirnya sendiri. Membiarkan bibir dan lidahnya menari-nari, menyapa dengan penuh cinta, seolah memuaskan dahaga dari suaminya itu.
Saat bibir bertemu dengan bibir, lidah bertemu dengan lidah, bisa dipastikan bahwa yang terjadi setelah adalah decakan yang keluar dari keduanya. Ditambah tangan pria itu yang mengusap-usap punggung dan meraba halusnya kaki milik istrinya, justru membuat Kanaya semakin melingkarkan tangannya di leher suaminya itu.
Bagai tersulut api, Kanaya justru mengalihkan bibirnya itu, lantas mendaratkan kecupan-kecupan yang memberikan sensasi hangat nan basah di leher suaminya. Kecupan yang membuat Bisma menyandarkan kepalanya ke bagian sofa, seolah dia memberi akses kepada istrinya itu untuk melakukan apa yang dikehendaki hatinya.
“Bikin satu di sini boleh?” tanya Kanaya sembari menunjuk bagian leher suaminya itu. Rasanya, Kanaya pun seakan gila, dan ingin meninggalkan lukisan abstrak di leher suaminya itu.
“Jangan di leher Sayang … akan kelihatan kalau aku memeriksa pasien besok, selain leher saja.” ucapnya dengan napas yang seakan terengah-engah dan kedua tangannya memegangi pinggang istrinya. Menggerakkan pinggang itu, justru menyulut gelora bagian tubuhnya yang lain.
__ADS_1
Wanita itu membuka kancing kemeja yang dikenakan suaminya itu, melihat bagaimana suaminya yang masih memejamkan matanya. Wanita itu lantas tersenyum, saat berhasil membuka tiga kancing teratas dari kemeja yang dikenakan suaminya itu. Menciumi area leher hingga dada suaminya itu, meninggalkan jejak hangat dan basah dengan kecupan dan sapuan lidahnya. Kemudian dia sedikit menggigit dan menghisapnya, hingga tercipta lukisan abstrak berwarna merah di dada suaminya.
Bisma seakan menahan napas, kemudian sedikit membuka matanya, dan melihat istrinya itu. “Sejak kapan sih istriku jadi nakal kayak gini?” tanyanya sembari tangannya bergerak membelai wajah, rahang, hingga leher istrinya itu.
“Sejak menjadi istrinya Pak Dokter.” ucapnya sembari tertawa.
Usai mengatakan itu, Kanaya lantas mengancingkan kembali kancing baju suaminya dan mencerukkan kepalanya di dada suaminya itu, “Main-mainnya sudah ya Mas … besok saja kalau sudah di apartemen kita ya?” tanya sembari masih dalam posisi dalam pangkuan suaminya itu.
Bisma pun tertawa, dan mengacak rambut istrinya itu, “Nanggung banget Sayang … lanjut yuk. Aku pelan-pelan kok.” ucapnya sembari menatap puncak kepala istrinya yang masih berada di dadanya itu.
“Periksa dulu ke Obgyn ya Mas, aku takut kenapa-napa. Masak untuk buah hati sendiri enggak bisa nahan sih Mas? Besok deh, besok kita perika lebih cepat lebih baik kan.” ucap Kanaya.
Seolah wanita itu tertawa dalam hati, mungkinkah suaminya akan benar-benar bisa menahannya? Jujur saja, dia ingin bermain-main sekarang ini. Sekaligus ingin tahu apakah suaminya bisa sedikit saja menahan, bila Obgyn berkata bahwa semuanya aman, maka dia tidak akan ragu untuk berbagi rasa dengan suaminya itu.
Seakan gemas, Bisma justru menggigit hidung istrinya itu. Kemudian kembali mengangkat istrinya itu dan mendudukkannya di atas tempat tidur. "Sekarang tidur saja Sayang ... gak apa-apa, aku tahan kok Sayang. Asalkan kamu dan calon baby kita sehat-sehat di dalam sini." ucapnya dengan mengecup kening istrinya itu.
Kanaya tersenyum, memejamkan matanya saat suaminya itu benar-benar membuktikan bahwa suaminya bisa menahan semuanya. Kemudian wanita itu menangkup wajah suaminya, dan melabuhkan satu kecupan di bibir suaminya.
Cup.
"Makasih Mas Dokter ... I Love U." ucapnya sembari tersenyum menatap suaminya itu.
__ADS_1
Bisma yang usai mendapatkan kecupan pun juga tersenyum dan mencubit pipi istrinya itu, "Nakal ya kamu ... tidur sekarang, atau aku bakalan minta pertanggungjawaban karena sudah menggoda aku." ucapnya sembari merebahkan dirinya di samping istrinya.