Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti
Tujuh Bulan


__ADS_3

Waktu pun terus berlalu, hingga tidak terasa usia kehamilan Kanaya sudah menginjak usia tujuh bulan. Tentunya, kehamilan pertama adalah momen bahagia bagi Kanaya. Bagaimana tidak? Dia dikelilingi oleh orang-orang baik mulai dari suaminya, mertuanya, serta Papa Jaya dan Mama Sasmita yang begitu baik padanya.


“Sayang, dikehamilan kamu ini tadi Bunda Hesti dan Ayah Tirta bilang mau membuat acara tujuh bulanan dan juga sekaligus pengajian. Harusnya waktu kamu hamil empat bulan dulu pengajiannya, tetapi maaf Ayah dan Bunda sama-sama lupa.” ucap Bisma kali ini kepada istrinya.


Wanita hamil yang kini perutnya telah membuncit dan kian chubby pipinya itu, perlahan menatap suaminya, “Kapan Mas?” tanyanya.


“Minggu depan, pas tepat berusia tujuh bulan, tetapi pas weekend saja karena kita sama-sama sibuk bekerja. Bagaimana setuju enggak?” tanya Bisma perlahan.


Kanaya pun mengangguk, “Iya … boleh. Aku boleh minta sesuatu enggak Mas?” tanyanya terlebih dahulu kepada suaminya itu.


“Apa? Kalau aku bisa berikan pasti aku berikan.” sahutnya.


“Kan nanti acara tujuh bulanan ada pengajian kankan? bisa sekalian mengundang anak yatim dan piatu enggak Mas? Aku bisa berbagi dengan mereka.” pinta Kanaya.


Bisma pun tersenyum dan tangannya membelai perut istrinya itu, “Kalau itu sudah pasti boleh … nanti kita berikan santunan ya Sayang.”


“Iya Mas, doa anak yatim dan piatu itu justru didengar sama Allah. Berharapnya mereka juga mengirimkan doa untuk anak kita ini.” cerita Kanaya kepada suaminya itu.


“Iya benar … nanti aku akan sampaikan kepada Bunda dan Ayah juga.” ucapnya.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


Sepekan kemudian …


Sejak pagi Kanaya dan Bisma telah tiba di kediaman Ayah Tirta dan Bunda Hesti. Di rumah itu, sudah terpasang dekorasi yang mempercantik ruang tamu mereka, bahkan sebuah tenda juga dipasang di depan rumah. Beberapa kerabat juga sudah datang di kediaman keluarga Pradana.


Sementara itu, menjelang sore, Kanaya pun diminta oleh Bunda Hesti untuk bersiap di dalam kamar. “Naya, ke kamar sekarang ya. Kamu harus sedikit dimake-up dan Bunda sudah belikan terusan dress ini buat kamu.” ucap Bunda Hesti yang ternyata memang sudah membelikan sebuah terusan lace dress dengan warna ice blue untuk Kanaya.


Kanaya pun turut menaiki anak tangga dan menuju kamar suaminya yang ada di lantai dua, sama sekali tidak protes dengan semua persiapan yang sudah diatur oleh keluarga suaminya. Kanaya justru terharu karena bisa mendapatkan semua kasih sayang dari mertuanya. Sebab bagi Kanaya, mertuanya adalah orang tuanya juga.


“Kamu ganti baju dulu, dan nanti kemeja batik ini buat Bisma ya. Bunda akan panggilkan Bisma untuk mengganti bajunya juga.” ucap Bunda Hesti yang kemudian keluar dari kamar Kanaya.


“Iya Mas … masuk saja tidak dikunci kok.” sahut Kanaya dari dalam kamarnya.


Tidak menunggu waktu lama, Bisma segera mengganti bajunya dan segera turun ke luar terlebih dahulu karena Bunda Hesti sudah memintanya untuk menemui kerabat dan tamu undangan lainnya. Sementara itu, di dalam kamarnya ada seorang Make Up Artist yang datang untuk merias Kanaya. Wajah Kanaya yang memang sudah cantik, tidak menjadi kendali bagi MUA tersebut untuk memoleskan sapuan kuas brushnya di wajah Kanaya. Bahkan Kanaya pun meminta supaya dandanannya kali ini tidak terlalu mencolok, bisa menimbulkan kesan flawless saja.


Setelahnya, Bunda Hesti kembali masuk ke dalam kamar Kanaya dan menggandeng menantunya itu untuk segera turun ke tempat diberlangsungkannya pengajian. Sekalipun hanya sebatas pengajian, rupanya tangan Kanaya terasa begitu dingin. Ada rasa nervous harus mengikuti acara pengajian kehamilannya sendiri.


“Kamu nervous ya Nay? Tenang saja, ada Bunda. Ada suamimu juga. Lagian kalian hanya akan mengikuti doa dan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran saja. Permintaan kamu yang ingin mengundang anak-anak yatim dan piatu yang turut serta juga sudah dikabulkan. Mereka pasti akan mengirimkan doa-doanya untuk kamu dan si baby.” ucap Bunda Hesti yang berusaha menenangkan menantunya itu.

__ADS_1


Perlahan dengan terus menggandeng tangan Bunda Hesti, Kanaya pun berjalan menuruni anak tangga. Wanita itu tampak menunduk, ada rasa malu dan juga nervous saat ini. Terlebih banyak kerabat dari keluarga Pradana yang juga hadir kali ini. Tanpa Kanaya sadari, beberapa meter di bawah sana ada sepasang netra yang menatapnya dengan begitu lekat.


Bagaimana Kanaya berjalan, menuruni satu per satu anak tangga hingga sudah tiba di tempat pengajian seolah tak lepas dari pandangan suaminya itu. Dalam hatinya pria itu merasa kagum, sebab di hadapannya kali ini istrinya terlihat begitu cantik dan sudah menampakkan aura keibuannya. Perlahan, Bunda Hesti pun menuntun Kanaya untuk duduk di samping suaminya. Tanpa disuruh, pria itu sudah mengulurkan tangannya guna meraih tangan halus milik istrinya itu. Dengan lembut, Bisma menolong Kanaya untuk duduk di sampingnya.


“Kamu sangat cantik, Sayang … you are so pretty.” ucapnya berbisik lirih di sisi telinga istrinya itu.


“Makasih Ayah …” jawab Bisma dengan tersenyum dan menundukkan wajahnya.


Hingga akhirnya seorang pemuka agama mulai memimpin acara pengajian, memanjatkan doa untuk ibu hamil dan juga bayi dalam kandungannya. Tidak lupa salah satu perwakilan dari anak yatim piatu yang berdoa untuk Kanaya. Sungguh Kanaya begitu terharu kali ini. Bahkan wanita hamil itu tak kuasa menitikkan air matanya.


“Kenapa kamu nangis?” tanya Bisma perlahan.


Kanaya mencoba menyeka air matanya dan juga menggeleng samar, “Tidak apa-apa … aku terharu. Semua ayat-ayat yang dilantunkan, semua doa yang dipanjatkan semoga didengar oleh Allah.” ucap Kanaya.


“Iya … Allah pasti mendengar doa kita semuanya. Kamu juga sehat dan selamat hingga melahirkan nanti.” ucap Bisma sembari menyerahkan sebuah tissue yang tentu akan dibutuhkan istrinya itu untuk menyeka air matanya.


“Makasih Mas, kalau acara kayak gini aku kangen Ayah dan Ibu. Andai saja beliau berdua ada di sini, melihatku hamil, memiliki suami dan mertua yang sangat perhatian, pasti Ayah dan Bunda akan sangat bahagia. Sayangnya mereka sudah bersama-sama dengan Allah di surganya sana. Aku jadi kangen dengan mendiang Ayah dan Bunda.” cerita Kanaya saat ini.


Selain bahagia, terharu, rupanya juga sekelumit kesedihan yang membuatnya merindukan kehadiran mendiang orang tuanya yang tentu akan sangat bahagia melihat kehamilan Kanaya yang sudah berusia 7 bulan. Sayangnya, semua itu tidak bisa Kanaya rasakan karena dia adalah yatim piatu. Hanya bisa berandai-andai dan menenangkan dirinya sendiri bahwa di surga sana kedua orang tuanya akan turut berbahagia dengan kebahagiaan Kanaya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2