
Usai akad yang dilanjutkan dengan resepsi yang sesungguhnya tidak terlalu mewah karena keduanya memang sepakat untuk tidak membesar-besarkan pernikahannya. Akan tetapi, justru tamu hilir mudik berdatangan begitu saja. Pernikahan yang mengusung tema outdoor itu dari sore hari hingga menjelang malam seolah tamu tidak pernah sepi. Seingatnya, keduanya hanya menyebar beberapa undangan, tetapi yang datang justru di luar dugaan. Lebih dari dua kali lipat, tamu yang datang.
Hingga menjelang jam 20.00, barulah pesta pernikahan itu benar-benar usai. Sekalipun capek, tetapi baik Kanaya dan Bisma masih sama-sama menunjukkan senyuman dan terlihat begitu berbahagia. Rasa bahagia benar-benar mengalahkan rasa capek dan letih menjalani akad dan sekaligus resepsi yang didatangi oleh tamu undangan yang cukup banyak.
“Sekarang kalian istirahat saja, pasti kalian kecapean setelah sepanjang hari menggelar akad hingga resepsi.” ucap Ayah Tirta yang melihat Bisma dan Kanaya tampak begitu kecapean.
“Iya Ayah … acaranya juga sudah selesai. Ayah dan Bunda akan menginap di sini atau langsung pulang?” tanya Bisma kepada Ayah dan juga Bundanya.
“Kami akan langsung pulang saja. Istirahat di rumah.” jawab Bunda Hesti.
Sebelum pulang, tampak Bunda Hesti yang memeluk Kanaya, gadis itu sudah resmi menjadi menantunya. Seorang menantu yang dianggapnya sebagai seorang anak perempuan, memeluknya dengan hangat. “Terima kasih ya Naya, sudah mendampingi Bisma. Doa Bunda dan juga Ayah, kalian berdua selalu berbahagia, kompak membina rumah tangga. Sejatinya dalam berumahtangga, hal yang sulit adalah membinanya. Memulai sebuah hubungan itu lebih mudah daripada membina. Memulai mungkin hanya memerlukan waktu satu hari, tetapi membina rumah tangga membutuhkan waktu seumur hidup. Kami harap kalian berdua saling menyayangi, menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Pernikahan kalian berdua langgeng sampai maut yang memisahkan.” Sebuah nasihat yang sangat indah dan menyentuh hati Kanaya dan Bisma tentunya.
Mendengar nasihat dari ibu mertuanya, Kanaya pun tersenyum, “Terima kasih juga Bunda dan Ayah sudah menerima Naya … sudah menyayangi Naya. Terima kasih karena Naya benar-benar diterima di keluarga ini. Naya kembali merasakan memiliki orang tua yang lengkap.” ucapnya dengan rasa penuh syukur.
Ya Kanaya benar-benar bersyukur karena setelah cukup lama hidup tanpa orang tua, kemudian mengenal Bisma dan mengenal Ayah Tirta dan Bunda Hesti yang menerima dan menyayanginya. Anugerah yang selalu Kanaya syukuri.
Tidak berselang lama, giliran Papa Jaya dan Mama Sasmita yang menghampiri Kanaya dan Bisma, “semoga selalu berbahagia, Naya dan Bisma. Papa dan Mama pun juga mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Langgeng sampai maut memisahkan ….” ucap Papa Jaya dan juga Mama Sasmita bersamaan.
__ADS_1
Kanaya pun memeluk Papa Jaya dan Mama Sasmita bergantian, “terima kasih ya Papa dan Mama, sudah mendampingi Naya di hari bahagia ini.” ucapnya benar-benar tulus.
“Apa yang kamu inginkan Nay? Papa dan Mama ingin memberikan kado pernikahan untuk kalian berdua.” tanya Papa Jaya kepada Kanaya.
Dengan cepat Kanaya pun menggelengkan kepalanya, “Ah tidak Pa … tidak usah. Doa yang Papa dan Mama berikan untuk Naya dan Bisma pun melebihi hadiah dalam bentuk apa pun. Doa dari orang tua itu lebih berharga dari apa pun juga.” jawab Kanaya dengan sungguh-sungguh. Sebab Kanaya sangat tahu, bahwa doa dari orang tua akan didengarkan oleh Allah. Oleh karena itulah, Kanaya hanya meminta doa dari Papa Jaya dan Mama Sasmita untuk pernikahannya.
“Jangan begitu Nay, kami ini orang tuamu juga. Orang tualah yang paling berbahagia di saat anaknya menikah dan orang tua ingin memberikan hadiah yang spesial di hari pernikahan anaknya.” kali ini giliran Mama Sasmita yang berkata kepada Kanaya.
“Tidak Ma … cukup sayangi Naya seperti ini sudah cukup bagi Naya.” jawab Kanaya dengan sungguh-sungguh. Baginya disayangi dengan begitu tulus adalah sebuah hadiah yang tiada terkira.
Kanaya menatap sekilas kepada Bisma, saat Bisma perlahan menganggukkan kepalanya, Kanaya pun mengulurkan tangannya untuk menerima amplop yang didalamnya ada tiket perjalanan bulan madu untuk keduanya. “Terima kasih Pa, Ma ….” ucap Kanaya sembari tersenyum kepada Papa Jaya dan Mama Sasmita.
Usai memberikan hadiah itu dan mereka berpamitan satu sama lain, Bisma kembali menggenggam tangan Kanaya, membawa pengantinnya itu menuju salah satu presidential suite room yang sudah dipesannya. Keduanya berjalan dengan tenang dan tentunya bahagia.
Begitu tiba di kamar mereka, Kanaya segera melepas heels yang dia kenakan. Membiarkan telapak kakinya merasakan dingin lantai dari kamar hotel tersebut. Setelahnya, Kanaya duduk di depan sebuah cermin rias, dia berusaha melepaskan reroncean bunga melati dan mawar di kepalanya. Membersihkan wajahnya dengan kapas pembersih yang sudah diberikan micellar water, menghapus paes dan sisa-sisa riasan di sana.
Bisma yang saat itu duduk di belakang Kanaya, perlahan berjalan mendekat dan mencoba membantu melepaskan bunga-bunga dan aksesoris yang masih berada di rambut Kanaya, melepaskannya satu demi satu, setelah pria itu lantas tersenyum, “Akhirnya sah juga menjadi suami dan istri. Pasangan yang halal.” ucapnya sembari menatap pantulan wajah Kanaya dari cermin besar yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Pria itu kemudian sedikit menunduk dan mencium pipi lembut Kanaya.
Cup.
“Aku cinta kamu, Naya ….” ucapnya dengan begitu lembut.
Hati Kanaya begitu berdesir mendengar pengakuan cinta dari Bisma. Sesungguhnya Kanaya benar-benar tidak menyangka bahwa pria yang baik hati ini adalah jodohnya, dan mendengar ungkapan cinta dari seorang Bisma membuat Kanaya amat sangat bahagia. Dia tahu pasti, bahwa Bisma memang mencintainya dan dia pun mencintai Bisma. Keduanya saling mencintai satu sama lain.
Kanaya pun tersenyum dan mengangguk, “iya … aku juga mencintaimu.” Akhirnya, ungkapan cinta itu didengar juga oleh Bisma. Ungkapan cinta yang tentu saja membuat pria itu tersenyum.
Selepasnya, Kanaya menengadahkan wajahnya guna melihat wajah Bisma, “Euhm, rasanya hari-hari bisa dijalani dengan baik, aku tentu sangat bahagia,” ucap Kanaya yang sungguh-sungguh.
Bisma pun mengangguk setuju, “iya … aku juga sama. Sekarang, kamu mau bersih-bersih mandi dulu atau nanti sekalian?” Tanya pria itu yang tentunya mengirimkan kode kepada sang istri di malam pertama mereka.
Sementara di satu sisi, wajah Kanaya kian bersemu merah, detak jantungnya kian terpacu. Kanaya pun kemudian dengan cepat berdiri, “Aa … aku mandi dulu. Awas jangan macem-macem.” kali ini Kanaya berkata sembari langsung lari menuju kamar mandi. Dengan kain jarik yang masih melilit di kakinya, membuat Kanaya kesusahan berlari. Akan tetapi, gadis itu seolah justru lari terbirit-birit memasuki kamar mandi, meninggalkan suaminya yang tertawa mengamati pergerakannya.
Bisma hanya tertawa melihat istrinya yang begitu sigap langsung berlari ke kamar mandi. Dalam hatinya dia bergumam, “Ya Allah … ternyata menjadi pengantin baru sebahagia ini.”
__ADS_1